
Sepanjang siang ini, mulut Ica bak cerobong kereta api, mony*onk dan berasap. Bagaimana ceritanya, pendengarannya yang ia jaga dengan baik sejak lahir bisa disalahkan oleh orang yang baru ia kenal 4 hari.
"Kesel gue ! kalo lagi ga pake rok span, udah gue gares ! nih kaya somay ini ! hap !!!" meja kantin menjadi saksinya, betapa Ica sangat kesal.
"Sabar Ca, " Ica sampai melupakan jika Jihad sudah menunggunya di ruangannya.
"Astatang gue lupa !" Tio tertawa, kosa kata baru yang ia dapat dari juniornya ini.
"Kenapa Ca?" tanya Evi, Ica beranjak sambil tergesa.
"Gue ada janji sama seseorang, " jawab Ica setengah berlari.
"Sampe lupa kan gue, dudul banget sii !" Ica mengetuk ngetuk kepalanya.
Ica memutuskan untuk melewati ruangan divisinya, divisi umum. Untuk mengambil barangnya yang tertinggal, terdengar suara musik dari dalam sana, Ica yang terburu buru sampai harus berhenti karena penasaran.
"Siapa tuh, biasanya kalo jam makan siang kosong nih ruangan, kaya kamar mayat !" Ica melongokkan kepalanya ke dalam. Dilihatnya sosok perempuan yang sering sinis dan judes padanya tengah berjoget joget ria di depan ponsel yang tengah merekamnya.
Ica mengulum bibirnya, "kalah gue sama emak emak, " gumamnya.
"Serius banget, sampe lupa makan siang ! goyang terusss, sampe mamposss ! " gumam Ica menggidikkan bahunya. gadis itu berlalu menuju lift untuk naik ke lantai ruangan Jihad.
"Tok..tok..tok...!"
"Masuk, "
Ica masuk, "sorry !" Ica menunjukkan kedua jarinya di udara.
"Darimana dulu ?" Jihad melihat arlojinya, dua kotak makan sudah terhidang di meja. Jihad selalu menyuruh ob untuk membeli 2 porsi makan siang, jika keduanya tidak keluar kantor.
"Bee, " Ica menunduk, ia merasa menyesal dengan kejadian raoat yang tertunda gara gara laporan yang tertukar dan salah itu.
"Hm, " Jihad mengajaknya duduk di sofa.
"Maaf gara gara aku yang salah ngasih, rapatnya jadi tertunda !" ucap Ica, meskipun Ica masih ragu apa benar salahnya.
"It's oke, jadi pelajaran buat kamu. Jangan diulangi, " jawab Jihad santai.
"Sebagai permintaan maaf, makan siang kali ini kamu suapin aku !" kesempatan untuk Jihad meminta Ica menyuapinya.
"Oke, " Ica segera membuka kotak makan, ia pun sebenarnya sudah lapar. Jika hanya menyuapi saja, Ica ahlinya, di rumah pun ia seeing menyuapi Momo dan Robi.
****************
Ica kembali bekerja, siang ini ia sangat sibuk, sambutan yang sangat hangat untuk karyawan baru sepertinya.
"Vi, nih ! tinggal minta bu Andar buat revisi. Udah gue kerjain, " ucap Ica menggeser kursinya pada Evi yang berada di sebelahnya.
"Oke, " jawab Evi.
Evi bangkit dan berjalan menuju meja bu Andar.
"Permisi bu, " bu Andar yang sedang serius tok tok an tergelonjak kaget.
"Apa sih ?!" bentaknya pada Evi.
"Ini bu, laporan yang mau di revisi, " ucap Evi hati hati.
"Sini !!" rebutnya. Ia mematikan ponselnya lalu kembali bekerja, Evi menggidikkan bahunya.
__ADS_1
"Gila aja lagi kerja maen begituan, kalo ketauan pak Fajar atau sampe ke pak Muni, auto di out dari sini !" bisik Evi pada Tio dan Ica.
"Apaan?" tanya Ica dan Tio yang melongokkan kepalanya.
"Bu Andar, main tok tok an !" ucap Evi cekikikan geli sendiri, wanita seumuran bu Andar terbilang centil untuk bermain aplikasi yang viral diantara anak anak muda.
"Emang kenapa? suka suka Vi, siapa tau kan jadi artis ! dia kan janda, siapa tau dapet jodoh ! " jawab Tio.
"Biar ga stress kali, janda ? ko bisa?" tanya Ica kepo.
"Suaminya digaet biduan kampung," bisik Evi.
"Ya ga apa apa kalo di luar jam kerja, lah ini lagi kerja malah fokus sama tok tok, joget joget kaya singa laut, geli gue liatnya, " lanjut Evi, forum ghibah di ruang ini terbentuk oleh ketiga orang ini.
"Tadi juga gitu sih, pas lagi istirahat..tuh orang sampe lupa makan siang. Ga laper apa ?!" bisik Ica, makin digosok makin sip.
Tio semakin menggeser kursinya.
"Kalo sampe pak Fajar tau, pasti kena sp, apalagi kalo sampe pak Muni tau, auto out dari sini !" Evi membuat gerakan minus di lehernya.
"Lagi ngapain kalian ?!" suara itu bak petir di siang cerah. Si korban yang sedang di ghibahi tiba tiba datang.
"Mampossss ! " Ica dan kedua lainnya gelagapan sampai salah menggeser kursi hingga malah berdempetan dengan Ica.
"Awww, tangan gue kejepit " ucap Tio.
"Anu bu, ini lagi ngajarin Ica !" jawab Evi, Ica melongo..."gue?!" sebagai sorang junior, ia selalu jadi kambing hitam. Ternyata bergosip di saat si korbannya berada satu ruangan dengan mereka, merupakan olahraga paling ekstrem di dunia, menantang maut.
"Tio, ini coba serahkan sama pak Fajar, " pintanya, lalu berbalik kembali ke mejanya, pandangan Ica dan Evi mengikuti langkah kaki perempuan 40 tahun itu.
Ketiganya mengelus dada lega, "hufff, njirrr ! berasa jadi tersangka tau ngga gue, kaget sumpah !" ucap Ica, Tio tertawa seraya menatap laporan yang sudah dikerjakan bu Andar.
"Ko gini sih ?!" tanya Evi.
"Iya, salah.." jawab Ica.
"Jangan jangan yang kemaren juga salah dia lagi, " tuduh Ica suudzon.
"Bu Andar, " panggil Tio.
"Ada apa lagi Tio ?!" kesalnya.
"Maaf bu, coba ibu liat kembali, ini semua tidak seperti seharusnya, malah lebih betul pekerjaan Evi dan Ica."
Jelas saja jika dibandingkan dengan para juniornya bu Andar tak terima, ia lantas merasa kesal.
"Maksud kamu lebih pintar karyawan karyawan baru gitu, dibanding saya yang senior ?!" tanya nya berkacak pinggang.
"Ini bukan masalah senior atau junior bu, tapi melihat bukti dan faktanya memang seperti itu, " jawab Tio merasa tertantang.
"Dikasih tau malah nyolot, " decak Ica, jika biasanya ia yang menjadi pemeran utama, kali ini ia cukup jadi penonton saja para seniornya berdebat, sebagai anak bawang ia hanya bisa menyiram percikan api dengan bensin.
"Gue pegang Tio, " ucap Evi.
"Gue ga ada pilihan, ga apa apa salah, emak emak selalu menang !" jawab Ica.
"Ada apa ini ?!" tanya pak Fajar.
"Pak Fajar, ahhh pak Fajar ngapain sih datang, kan jadi ga seru berantemnya !" ucap Evi.
__ADS_1
"Parah sih, loe usir aja pak Fajar !" pinta Ica.
"Ini pak, " tunjuk Tio pada pak Fajar menyerahkan hasil kerja bu Andar dan milik Ica bersama Evi.
"Hemmm, "pak Fajar menggelengkan kepalanya.
"Ica, " panggil pak Fajar, sontak Ica tersentak kaget di tengah asyik menonton pertengkaran mereka.
"Saya pak, "
"Kemarin saat memberikan berkas apa yang disuruh oleh bu Andar ?" tanya pak Fajar.
"Map merah pemberkasan, map biru buat rapat !" jawab Ica, wajah bu Andar mendadak pucat.
"Iya bu, saya juga denger, " jawab Evi. Pak Fajar menggelengkan kepalanya, "bu Andar bisa kita bicara sebentar, di ruangan saya ?!" bu Andar mengangguk.
"Sabar mas Tio, " jawab Evi.
"Ini nih kalo kebanyakan gaya !" jawabnya.
"Omg !!!" ucap Evi, gadis itu menemukan akun tok tok milik bu Andar, rupanya selama pak Fajar marah marah tadi ia langsung otewe buka aplikasi tok tok mencari akun milik senior nya itu, beberapa post ternyata saat jam kerja, termasuk saat kesalahan kemarin terjadi.
"Kamvretttt ! gue disemprot cuma gara gara tok tok an !" ucap Ica.
"Ga bisa dibiarin ini, gue sampe ga enak sama pacar gue, gara gara ini kan rapatnya ketunda !" sejurus kemudian Ica membekap mulutnya.
"Ups ! maksud gue gue sampe ga enak sama atasan !" ralatnya, saat melihat Tio dan Evi mengerutkan dahinya.
"Ga bisa dibiarin ini, gue cincang juga nih senior !" Ica hendak masuk ke ruang pak Fajar.
"Eh Ca..Ca...Ca... !" tahan Evi dan Tio yang menahan Ica.
"Gue kasih komentar jelek di akunnya baru nyaho !!!"
"Ca sabar Ca sabar..." mereka sudah di luar ruangan.
"Ada apa ?!" tanya Jihad, ternyata ia bersama Juwita dan pak Muni hendak turun ke lantai bawah.
"Eh pak Alvian, " tunduk Evi dan Tio, tangan Evi menekan tengkuk Ica agar kepala Ica menunduk di hadapan bos besarnya. Juwita tertawa.
"Awas ! minggir ! perlu gue ajak sparring !" kesal Ica.
"Ada apa Ica ?" tanya Juwita.
"Masa ya ka Juwi, maaf maaf bu Juwita maksud saya..."
"Dahlah ! cuma gara gara tok tok gue jadi kambing item, gue bakar sekalian tuh hape !" Ica ngomel ngomel tak jelas dan masuk kembali ke ruangan, tak memperdulikan ketiga atasannya yang bertanya.
"Si oon, ada atasan nanya malah ditinggal, emang cari mati !" gumam Tio.
Juwita mencondongkan kepalanya ke arah Jihad, "cewek loe Ji !" bisiknya.
.
.
.
.
__ADS_1