Me VS Crazy CEO

Me VS Crazy CEO
Dansa campuran


__ADS_3

Jihad membantu Ica dalam posisi duduknya, malam ini harus mereka habiskan lagi di rumah sakit.


Jihad sudah dengan stelan jas dan kemejanya, sedangkan Ica masih dengan pakaian rumah sakitnya.


"Curang, masa kamu pake jas. Aku ?" tunjuk Ica pada dirinya sendiri.


Rencana mereka adalah candle light dinner hari ini.


"Kostum terbaik, " jawab Jihad tersenyum tampan.


Lelaki itu mulai menyalakan lilin angka 27 yang tertancap di sebuah kue tart ukuran tak terlalu besar. Jihad menggendong Ica duduk di sofa di ruangannya, dengan setia tiang infusan menemaninya kemanapun Ica pergi.


Tangan yang masih tertempel infusan itu meraih kue tart dan membawanya tepat di depan keduanya yang duduk bersampingan tapi saling menghadap.


"Barakallah hubby, " ucap Ica.


"Makasih, " Sejak tadi pagi ucapan untuk Jihad silih berganti, tak jarang juga yang mengirimkan hadiah dan kue ke rumah, dan ke RS, semua itu belum ia buka. Untuk saat ini Jihad tidak membutuhkan itu semua, ia hanya ingin berdua saja dengan Ica.


"Semoga kedepannya aku bisa semakin dewasa lagi, semakin disayang istri, bisa jadi imam yang baik..."


"Aamiin, " ucap Ica.


Fuhhhhh....


Bukan Ica dan Jihad jika hanya lempeng lempeng saja, keduanya saling berebut makanan kesukaan keduanya, kadang sesekali akur lagi saling suap suapan.


"Biasanya kalo di restoran mahal tuh dansa gitu bang, " ucap Ica, menyenderkan kepalanya di dada Jihad.


"Emang bisa ?" tanya Jihad.


"Kan ga boleh banyak gerak dulu..ga boleh cape cape," lanjut Jihad memilin milin ujung rambut Ica.


"Tapi kan harus bahagia, ga boleh stress, " kilah Ica.


Jihad merogoh ponselnya, ia memutar memilih lagu paling romantis menurutnya, bukan lagu luar yang tidak dimengerti Ica, ia memilih lagu i'm falling in love, milik Melly Goeslow.


Ia membantu Ica berdiri.


"Injek kaki ku !" pintanya.


"Hah ?" beo Ica. Jihad menuntun Ica untuk menginjak kedua kakinya yang ditutupi sandal.


Sejenak Ica tertawa, "atasnya keren, bawahnya sendal jepit !"


Jihad merengkuh memeluk pinggang Ica lalu memutar lagu menaruh ponselnya di meja. Saat lagu diputar suasana romantis menjalar memenuhi ruangan VVIP ini, Jihad sedikit menunduk menempelkan kedua kening mereka, hingga hembusan nafas terasa di masing masing wajah mereka. Tangan Ica sontak dikalungkan melingkar di leher Jihad.


Andai saja aku pengantinmu, bahagia pasti di hati, rengkuh aku bersamamu, malam ini milik berdua....


Dan ku tlah jatuh cinta, ku wanita dan engkau lelaki, perasaanku berkata i'm falling in love.


Sang cinta mendekatlah, malam menyanggupi jadi saksi, hati kecilku berkata i'm falling in love...

__ADS_1


Sedikit sedikit kaki Jihad menggeser membawa beban tubuh Ica, tak tau gerakan dansa apa, hanya mengalun begitu saja. Keduanya terdiam dalam waktu yang lama, sampai tatapan keduanya bertemu, dan melempar tawa kecil.


"Tau ngga ?!" tanya Jihad setengah berbisik.


"Apa ?!"


"Dibalik musibah itu ada hikmah," Ica mengerutkan dahinya.


"Oon nya ga ilang ilang aduhhh tobat !" protes Jihad membuat Ica memberenggut kesal dibanding menjawab malah memaki, Ica mencubit pinggang Jihad.


"Mungkin dengan kejadian ini, Allah tuh masih mau liat kita pacaran, mesra mesraan, romantis romantisan tanpa ada gangguan dari anak, katanya puas puasin deh pacaran setelah menikahnya sebelum nanti sibuk ngurusin anak, sebelum nanti hectic sama anak..." jawab Jihad, Ica tersipu malu.


"Soalnya Allah tau kalau kita saling suka dari lama, tapi dikasih barengnya baru sekarang sekarang," tambah Ica.


"I'm falling in love..." ucap Jihad memecah keheningan berteman lagu romantis.


"Untuk kedua kalinya, sama perempuan yang sama.."


"Jangan dibikin melow atuh bang, " jawab Ica.


"Maaf kamu harus puasa, " tiba tiba saja ucap Ica, topik random yang cukup panas untuk malam romantis dan melow.


"Cinta bukan cuma pasal se* ks semata..." jawab Jihad.


"Kamu tuh kebanyakan ga enakan sekarang, sejak jadi istri..." kembali lanjutnya.


"Kebanyakan maafnya, lebaran belum lewat," tak membiarkan Ica membuka mulut untuk membalas pernyataannya.


"Dan kamu masih nyebelin kaya dulu, masih banyak omong kaya dulu. Tapi sekarang lebih posesif sejak jadi suami.." kini keduanya malah saling berbalas membandingkan diri mereka yang dulu.


"Dan kamu masih ceroboh kaya dulu, masih se oon dulu ! coba ga ngeyel jangan ngampus, ga akan pingsan di kampus, "


"Dan kamu masih se bosy dulu ! nyuruh nyuruh kaya lagi ngejajah, galakk !" tapi keduanya tertawa dan saling berpelukan.


"Kita kapan sih romantisnya, bang ?!" imbuh Ica menumpukan dagunya di pundak Jihad.


"Kayanya kalo lagi tempur aja kita romantis, lebih tepatnya kamu yang kebanyakan diem menikmati," jawab Jihad, Ica sontak memukul dada Jihad berulang kali, wajahnya memerah karena malu.


"Apa ?! bener kan ?" Jihad mengangkat kedua alisnya.


"Ga gitu ! masa iya kalo lagi begituan mau ngomongin harga cabe !" jawab Ica.


"Boong, buktinya kamu yang suaranya paling keras, mau aku praktekin suara kamu ?!" Ica membekap mulut ember Jihad, sekali ember tetap ember. Jihad gemas dan cekikikan.


"Jangan ngomongin yang vul gar vul gar, anak kecil nih !" sengit Ica.


"Anak kecil apa ? anak kecil yang bisa diajakin bikin anak kecil ?" tanya Jihad menggoda Ica, sejurus kemudian perempuan ini tertawa.


Tapi kemudian Ica memasang wajah murung, "kenapa?" tanya Jihad.


"Berarti setahun ke depan harus di KB kan ?" tanya Ica Jihad mengangguk.

__ADS_1


"Apa berarti selama kadar hCG aku masih tinggi selama itu juga aku bakalan banyak ngeluh ? aku bakalan nyusahin kamu dong ?!" tanya Ica.


Jihad mendongakkan dagu Ica yang wajahnya tertunduk.


"Aku ga ngerasa di bebanin, aku ga ngerasa disusahin, karena kamu orangnya, jangan stress..jangan cape cape..inget kan kata dokter apa, biar kadar hCG nya cepet turun, kita survive bareng bareng, pasti bisa !"


Jihad mengecup kening Ica lama, ternyata kehamilan anggur tak se asam manis nama buahnya.


"Aku mau pulang, " jawab Ica.


"Tunggu dokter bilang boleh, baru kita pulang, " jawab Jihad. Ica turun dari kaki Jihad yang mulai terasa kebas.


"Kamu berat," Jihad membawa Ica kembali ke ranjang.


"Udah malem, tidur..ga boleh tidur kemaleman."


Ica mengangguk, Jihad membereskan bekas makan mereka berdua, membuka jas dan kemeja menggantinya dengan t shirt agar lebih nyaman.


"Bang, kelonin aku..." pinta Ica manja, Jihad sudah seperti bapak yang mengantar anaknya untuk tidur, menepuk nepuk punggung Ica agar tertidur setelah sebelumnya Ica mengeluhkan sakit pinggang.


Jihad bangun dan meraih laptopnya, sejak Ica masuk RS pekerjaannya sudah menumpuk, ia ingin mencicilnya, agar nanti tak terlalu padat menyita waktunya. Ia ingin agar selalu memiliki waktu untuk mengurus Ica.


Ica mengerjap, merasakan haus di tenggorokannya saat tengah malam, melihat sudah tak ada Jihad si sebelahnya. Matanya mengedar dan terfokus pada seseorang yang tengah tertidur menengadahkan kepala di sofa dengan mulut terbuka sedikit, sedangkan layar laptop masih menyala.


"Kebiasaan, " Ica sedikit terenyuh tak tega, Ica bangun dengan perlahan, ia turun dan mendorong tiang infusan. Menutup laptopnya, membawa selimut menutupi badan Jihad, mengatupkan mulut yang sedikit terbuka itu, dan mengecup rahang tegasnya.


"Sleepwell daddy, "


Kembali ia mendorong tiang infusan, tapi baru saja akan naik kembali ke atas ranjang, perutnya serasa dikocok hebat, membuatnya berlari tergesa mendorong tiang infusan dengan sesekali terbanting banting menubruk dinding, dan akhirnya muntah di kamar mandi. Membuat orang yang baru saja ia kecup terbangun karena terkejut.


Huwekkk !!!


Jihad masih sangat pusing karena bangun yang sekaligus. Ia memijit tengkuk Ica, membantunya kembali ke ranjang.


"Keganggu ya ?!" Ica meringis.


"Cuma kaget doang, ya udah tidur lagi, "


"Sama kamu ya, kamu juga keliatan cape, kerjaan tinggal dulu ya bang..please, jangan menyita waktu istirahat kamu."


Jihad tersenyum mengangguk, "iya aku ngantuk juga ! kalo ditawarin mah mau mau aja, kan enak tidur sambil peluk guling hidup !" jawabnya berseru.


"Bang, please..kalo kamu lelah bilang sama aku...jangan paksain diri kamu, cape bisa bikin kita stress ujung ujungnya hubungan kita yang jadi taruhannya, " ucap Ica sebelum benar benar memejamkan matanya.


"Libatkan aku dalam pekerjaan kamu, biar aku bisa bantu, biar aku bisa sama sama rasain betapa pusingnya kamu !"


Jihad mengangguk, "tidur yukk tidurr...aku butuh kehangatan nih !" Jihad sudah meringsek duluan di selimut Ica.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2