Me VS Crazy CEO

Me VS Crazy CEO
Idung kamu pesek


__ADS_3

"Genit, "


"CEO gila, "


"Laki laki mesum,"


Ica menyipitkan matanya, saat lagi lagi dengan tak tau waktu dan kondisi, Jihad nyelonong masuk ke kamar mandi, seakan dirinya adalah bayi kelaparan yang haus dan segera mencari sumber hidupnya, ia melepas kembali pakaiannya dan mengerjai Ica di dalam kamar mandi. Berujung dengan mandi bersama, Ica sudah benar benar lelah digempur habis habisan, dan dengan tanpa dosanya Jihad hanya membawa koper miliknya.


Ica masih mendekap erat handuknya, duduk di sofa kamarnya. Jihad masih anteng saja memakai pakaiannya.


"Nih, pake aja dulu punyaku !" bukan karena ketidaksengajaan, justru Jihad dengan sengaja tidak membawa koper milik Ica.


"Tapi t shirtmu kegedean, lagian kan kamu ga pake bh, terus aku mau pake apa ?" sungutnya.


"Ga usah pake kalo gitu, pakai aja t-shirt doang," jawabnya enteng. Itu artinya Jihad memang sengaja tidak membiarkan Ica untuk keluar dari kamar.


"Kamu jahat ih !" Ica menatap kilat lelaki ini yang justru malah tertawa.


"Kamu gemesin ih !" jawabnya. Jihad memberikan t shirt miliknya dan celana boxer miliknya, membuat Ica mau tak mau meraih kedua helai pakaian itu, daripada harus handukkan seperti ini, hanya akan mengundang s3tan lewat lagi, s3tan mesum dalah tubuh Jihad.


"Wowww ! hebatnya loe Ji, kissmark loe sepanjang jalan kenangan !" pujinya pada dirinya sendiri. Sontak menuai gerutuan Ica.


"Yang ada kamu ga waras, aku udah kaya macan tutul, " gerutu Ica.


"Tambah sexy neng, " Jihad mengedipkan matanya genit.


"Aku udah kaya orang orangan sawah tau ngga !" sengaknya melihat badannya terbalut kaos milik Jihad yang kebesaran.


Jihad meraih handuk untuk mengeringkan rambut Ica.


"Cup !" Ia mengecup pipi Ica dari arah belakang.


"Suttthh ! kalo ga bisa berenti ngomong sumpel lagi nih pake bibir ?!" ancamnya.


"Ga lucu ! aku lapar !" bibir Ica sudah mengerucut dari tadi.


"Tunggu, aku udah ngehubungin layanan pesan antar, bentar lagi juga datang !"

__ADS_1


Benar saja tak sampai 5 menit kemudian, pintu kamar mereka diketuk.


"Tuh udah dateng, tunggu sebentar," Jihad melangkahkan kakinya menuju pintu.


Jihad kembali di depan Ica dengan satu meja dorong penuh menu makanan seperti akan berpesta saja.


Mata Ica berbinar melihatnya, perutnya sudah benar benar keroncongan, tenaganya juga terkuras habis tak bersisa.


"Jadi mau ikut Kara ?!" Ica menggeleng.


"Capek !" jawab Ica singkat, ia tengah khusyuk makan, seakan tak ingin menyia nyiakan waktunya barang semenit saja.


"Ya udah kalo gitu, kita terusin aja di kamar. Makan yang banyak biar ada tenaga buat perang lagi !"


"Plukk !!!" kulit pisang mendarat mulus di dada Jihad yang tertutup kaos.


"Pahala, " imbuh Jihad.


"Kamu mau bikin aku cepet mabok ?!" ketus Ica melahap kembali makanannya.


"Iya, biar cepet tumbuh yang di dalem sana, biar ga ketuaan pas dipanggil daddy," jawab Jihad mengusap pipi gembul Ica.


"Ku gendong, " Ica menatapnya dengan alis menukik tajam, ada saja jawaban lelaki ini. Dari dulu selalu tak mau kalah.


****************


"Ini gimana ngilanginnya sii ?!" Ica duduk di depan jendela dengan cermin kecil di tangannya, ia arahkan di sekitar leher, tulang se lang ka nya, parah, parah..ckckck.


Jihad menumpukkan dagunya di atas kepala Ica, dan memeluknya dari belakang setengah membungkuk.


"Ini seriusan aku ga dikasih baju ? ish tega kamu mah !" ketus Ica merotasi bola matanya.


"Udah bagus kaya gitu, nanti ga usah beli banyak banyak baju piyama, kalo mau tidur gini aja," lihatlah si dewa mesum ini, yang pasti ia adalah suaminya sekarang.


"Yang bener ngomongnya ! mau kujepret pake karet nasi uduk !" Ica bicara lewat pantulan cermin kecil itu sambil matanya yang melotot mengilat.


"Mau berenang ?!" tawar Jihad. Kebetulan memang Jihad memesan kamar khusus untuk pasangan honeymoon, jadi kamar ini dilengkapi dengan sebuah kolam untuk berenang berendam tepatnya, memang tidak besar. Termasuk kamar Kara dan Milo.

__ADS_1


"Biar badannya ga pegel pegel, soalnya airnya anget, " Ica memicingkan matanya, ini bukan akal akalan lelaki ini kan ?


"Terus aku pake apa ?" tanya Ica.


"Nanti aku ambilin koper kamu, di kamar," jawabnya.


"Boleh, "


Jihad masuk kembali dengan menyeret koper Ica. Ica berseru, akhirnya pakaianya disini juga, betapa tidak enaknya ia setengah telanjang begini dari sore.


"Aku tunggu di situ !" tunjuk Jihad pada sebuah kolam berendam yang cozy dan menambahkan kesan romantis, memang tempat yang cocok untuk pasangan honeymoon. Ica mengangguk, ia meraih sport br*a hitamnya dan legging senada, mengikat rambutnya lalu membuka pintu menuju kolam. Kolam berendam dengan tepiannya dihiasi batu batu sungai kecil dan sebuah pohon kamboja dengan bunga yang bisa dihitung jari. Jangan lupa lampu taman yang temaram di beberapa sudut. Air hangat menyembur dari salah satu dinding kolam.


Jihad sudah masuk ke dalam kolam dengan bertelanjang dada, menunggu Ica disana. Dari situ langit malam dapat terlihat jelas, seperti Tuhan sengaja membuat malam ini amat berkesan, mengundang semua bintang untuk hadir diantara mereka.


Ica duduk di tepian kolam hanya memasukkan kedua kakinya saja, Jihad yang menyadari kehadiran Ica mendekat menaruh badannya diantara kedua kaki Ica, menengadahkan kepalanya dan menaruhnya di pa ha Ica. Suasananya mendukung, pelan pelan tangan Ica menelusuri leku kan wajah Jihad. Mulai dari alis tebal yang selalu menukik tajam jika mendengar Ica menyebut nama Raka, hidung mancung yang selalu mengendus aroma tubuhnya tanpa permisi, tulang rahang tegasnya yang selalu mengeras jika sedang kesal, tapi itu jarang terjadi selama Ica mengenalnya, Ica mengingat ingat kapan Jihad pernah marah padanya? bahkan sejak SMA lelaki ini tak pernah marah hebat padanya, selain kesal karena tingkah absurd Ica. Ica tersenyum saat sampai di garis tepian bibir Jihad, bibir merah yang rakus mengecup, mencecap dan selalu berhasil membawa Ica melayang meraup kenik ma tan bersamanya.


Sedangkan lelaki ini, masih menikmati sen tuhan lembut Ica.


"Pulang dari sini, pasti kamu sibuk lagi ya bee, " ucap Ica membuka obrolan. Jihad membuka matanya


"Iya, makanya dipuas puasin dulu manja manjaannya. Ya walaupun nanti di rumah juga bisa. Tapi ga akan bisa sepuas disini," jawabnya meraih tangan Ica dimana jari tengah dan manisnya sudah terpasang cincin darinya dan mengecupnya. Ica memang sudah menjadi miliknya sekarang, mereka tak akan terpisahkan selain sang pemilik hidup memanggil keduanya.


Jihad memutar badannya menghadap Ica, meraih kedua sisi pinggang Ica dan menurunkannya untuk ikut masuk ke dalam kolam.


"Biar otot otot kamu relax, biar pegel pegelnya berkurang !" ucapnya, Jihad mengalungkan tangan Ica ke lehernya, hingga Ica dapat mengusap usap tengkuk kekar miliknya. Menyatukan kedua dahi dan hidung mereka. Sementara tangannya sudah erat memeluk pinggang Ica hingga tubuh keduanya menempel.


"Idung kamu pesek, " tawa Jihad, Suasana yang awalnya sudah mulai pinky pinky redup, malah kembali terang benderang.


"Penghinaan, " sungutnya, menjauhkan wajah keduanya.


"Kata bu Susi juga kalo laki laki nyebelin gini mesti ditenggelamkan," omelnya, lalu melompat lompat menekan pundak Jihad agar lelaki itu tenggelam. Tapi yang ada malah Jihad tertawa tawa atas usaha Ica yang kepayahan tak berhasil membuatnya tenggelam.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2