
Ica sudah tampak cantik dengan dress berwarna biru seperti konsep warna pesta Kara dan Milo. Rambutnya terkepang rapi menampakkan leher jenjang yang mulus. Ditambah dress itu terbuka, tanpa bagian lengan dan pundaknya sebelah.
Ica masuk ke dalam ruangan Kara.
"Karaaaa !!!!" pekik mereka grasak grusuk, tampilan cantik mereka, tak membuat sifat bar bar mereka berkurang.
"Oyyy, ga usah dorong dorong juga !" ujar Ayu.
"Uluhhhh bebebs gue cantik banget hari ini, mau jadi ratu sehari !" ucap Ica duduk di sebelah Kara yang sudah memakai siger di kepalanya. Kebaya pengantinnya pun menjuntai menyapu lantai.
"Kalo bisa gue pengen pake sendal jepit aja Ca, kaki gue sakit, takut jatoh juga !" jawab Kara kaku.
"Hahaha, masa atasnya udah W.O.W bawahnya sendal jepit."
Terdengar acara sudah dimulai.
"Tangan loe dingin Ra, " ujar Ayu, menggenggam tangan Kara yang sudah dipenuhi Hena dan juga sarung tangan tipis brukat.
"Deg degan ngga?" tanya Ica.
"Jantung gue udah lepas dari tadi Ca, ga liat apa gue udah jadi frankenstein ?! ga punya jantung ?!!" Kara sudah tak bisa menjabarkan lagi perasaannya saat ini.
"Pengantin perempuan bisa masuk sekarang bersama para bridesmaid, " pinta salah satu perempuan berbaju sopan, berjas dan celana bahan, sepertinya itu adalah salah satu anggota W.O.
"Sini gue bantu !" ucap Ica menggenggam tangan sahabatnya ini. Kara berdiri, para bridesmaid melingkupinya.
"Ko gue takut ya girls," wajah Kara panik bukan main.
"Kita disini Ra, " jawab yang lain saling memeluk, Ica melihatnya ikut gugup, disaat seperti ini apa ia bisa membuat candaan karena sebentar lagi pun, inilah yang akan ia rasakan. Perasaan yang Kara rasakan saat ini, akan ia rasakan sebentar lagi. Vanya dan Amel berjalan di belakang Kara, menjaga langkah dan gaun Kara. Sedangkan Ica merangkul Kara dari samping bersama Ayu. Mereka menarik nafas, jangan sampai hal absurd keluar dari mulut mereka. Goyangan kembang goyang di atas mahkota Kara memperpendek jarak ruang aula dan koridor yang ia lintasi.
"Oke merpati sampai !" ucap perempuan tadi yang mengekor pada penjaga yang ada di pintu aula.
Grand Aula terbuka lebar menampilkan ruangan yang terselimuti hiasan pernikahan dengan banyaknya orang dan di tengah tengahnya ada Milo yang sudah menjabat tangan ayahnya.
"Ca, Yu gue takut ! "
"Jangankan loe, gue juga jadi berasa mules ! itung itung latihan, " jawab Ica.
"Loe kaya mau lahiran aja Ca, pake acara mules segala !" jawab Amel.
"Loe berdua bisa pada ngunci ga sih mulutnya !" guman Ayu.
"Ini sebenernya kita mau nganter penganten buat ijab kabul apa mau ngajakin penganten perempuan ngerumpi ?!" bisik Vanya di belakang.
Terlihat jelas ketakutan di wajah Kara. Apalagi saat semua mata tertuju pada mereka.
Kara menghentikan langkahnya.
"Ra, " panggil Ica,
"Elah pake shock segala !" Ica menggenggam lembut tangan sahabatnya itu.
"Liat gue ! ini harinya loe sama ka Milo, relax..." Kara menoleh pada Ica, so so an menenangkan Kara, padahal ia pun sudah panas dingin, apa kabar nanti...saat ia yang menikah ? mungkin sudah tepar duluan. Kara mengangguk, bahkan tangannya sudah gemetar. Ica mengantarkan temannya itu sampai ke tempat yang seharusnya.
Ica duduk di tempat para bridesmaid, di sebrangnya para bridesmaid laki laki, ia bahkan sampai melupakan Jihad. Laki laki itu ? jangan ditanya sudah gagah dan tampan, ia mengedip genit pada Ica, jika tak malu mungkin Ica sudah melempar bunga bersama potnya pada nyi Blorong di depannya ini. Bisa bisanya kelilipan disaat situasi seperti ini.
Di tengah tengah saat Milo melafalkan ijab kabulnya masih sempat sempatnya lelaki ini mengucapkan kata i love you untuk Ica, teman temannya malah sudah menyenggol nyenggol bahu terbuka Ica.
"Daddy sweet banget, ngajakin ijab barengan sama ka Milo itu, Ca !" bisik Vanya.
"Gue mah entar aja, " jawab Ica.
"Kenapa, takut mules lagi ?" tanya Vanya dikekehi kedua lainnya.
__ADS_1
Kata sah menggema di dalam ballroom ini.
*********************
Ica bagian di depan menyambut tamu bersama ketiga lainnya, sedangkan Kara masih sibuk bersama keluarga besar, kolega Milo dan mertuanya, ia celingukan mencari dimana Jihad berada, rupanya Jihad pun begitu, ia disibukkan dengan para kolega bisnisnya.
"Laper gue, Va...loe yang ambil makanan sono !" pinta Ica.
"Ogah ahh, di dalem penuh ! males gue !" jawab Vanya.
"Tau gini tadi sebelum masuk ballroom gue masukkin dulu plastik tuh makanan," dumel Ica penuh penyesalan.
"Si peak ! gini nih kalo otaknya mojok di kantin, " jawab Ayu. Seakan sudah hafal tabiat Ica yang tak bisa dipisahkan dengan makanan, Jihad melirik jam di tangannya, memastikan Ica tak ada di stand makanan manapun.
"Tuh bojo pasti belum makan lagi, " ia mengambil sepiring puding dan dimsum untuk Ica.
Aroma makanan itu menyeruak ke penciuman Ica.
"Sabar ya perut, kita tunggu pertolongan Tuhan !" gumam Ica, ditertawai yang lain.
"Nih pertolongan Tuhan datang, " Jihad menaruh makanan itu di depan Ica.
"Huwaa !!! daddy mah tau kalo baby nya lapar, " seru Ica.
"Tau lah ! apa sih yang aku ga tau, daleman kamu tadi pagi aja tau, item kan ?" tebak Jihad.
"Cih, kenapa ga sekalian ukurannya kamu hafalin !" jawab Ica melahap dimsum dari garpu yang Jihad pegang, seperti ikan yang melahap makanan.
"Hm, kalo gini gue ga mau jadi orang ketiga antara mereka lah Yu, suka mupeng !" ucap Vanya diangguki Amel mereka masuk ke dalam.
Jihad duduk di samping Ica dan Ayu, tak lama Erwan menyusul Ayu mengajaknya makan.
"Tinggal kita ya sekarang ?" tanya Jihad, Ica mengangguk.
"Jangan dong, biar cepet cepet masuk kamar, " ujar Jihad menjawab seenaknya.
"Kamar..kamar...otak kamu perlu dicuci pake air zam zam !" jawab Ica.
"Mamah, papah !" tunjuk Ica segera menelan pudingnya. Jihad berbalik,
"Mah, pah !" sapa Jihad. Ica membungkuk hendak salam, tapi Jihad menahannya.
"Bentar itu mulut kamu ada flanya, " Ica gelagapan mencari tissue, hendak menghapus jejak jejak manis fla di tepian bibirnya.
"Sini biar aku aja, mau pake tissue apa pake yang lain?" tanya Jihad.
"Yang lain apa?"
"Pake bibir, " kekeh Jihad.
Ica mencubit pinggang Jihad yang langsung mengaduh.
"Hm, pah ! kayanya belum nikah aja mamah udah berasa jadi nyamuk, " goda tante Vivi.
"Iya mah, "
Tak berselang lama keluarga Ica pun datang.
"Bee, rombongan tukang bubur naek haji datang tuhh !" tunjuk Ica pada keluarganya.
"Haduhhh ! orang orang dateng tuh paling banyak 2 sampe 3 orang, ini satu pohon keluarga dibawa semua !" keluh Ica.
"Daddy !!!" teriak Momo.
__ADS_1
"Hmm, selir gue tuh !" tuduh Ica pada keponakannya yang kecil kecil saja sudah tertanam bibit pelakor menurut Ica.
Momo sudah tak canggung lagi naik ke gendongan Jihad.
"Sudah kepingin ini, " goda tante Vivi.
"Gimana macet?" tanya Ica.
"Lumayan, bukan Jakarta namanya kalo ga macet, "
"Sayang, aku anter mamah papah dulu ke dalem ya ?!" ujar Jihad padahal Momo masih di gendongannya.
"Tapi Momo ?!"
"Momo biar bareng aku aja, " jawab Jihad.
"Biar saja sayang, " tante Vivi mengusap punggung Ica lembut
"Di dalem masih aga penuh sama kolega om Braja, mau langsung nemuin Kara ?" tanya Ica pada keluarganya.
"Bentar deh, abis macet macetan, masa sekarang mesti pepet pepetan lagi," jawab Riski.
"Allahu ! loe kira pesta khitanan anak pak Kades? ini CEO bruhhh ga mungkin desek desekan, ga usah malu maluin !" jawab Ica.
Mereka masuk ke dalam hotel duduk di tempat yang sudah disediakan,
"Wedaann, ini pesta kaya gini ngabisin berapa duit ?" decak kagum Galih menggandeng cem cemannya yang katanya secantik selena gomes.
"Yang pasti gaji loe 2 taun plus bela belain ga jajan ga beli pulsa ga akan cukup !" jawab Ica ditertawai yang lain.
"Emang nyo sia Milo tuh, anak raja ma?" tanya uda Dante. (emangnya siapa Milo itu, anak raja mana)
"Anak pengusaha ternama !" jawab Ka Novi.
Acara berlangsung meriah, keluarga Ica dan Jihad duduk bersama dengan Ica yang naik ke atas panggung menyanyikan satu buah lagu untuk sahabatnya ini.
"Suara Ica bagus, " puji tante Vivi.
"Oh iya, mah pah...mamah ayah, Ica sebenarnya ada satu permintaan Ica, dia ingin mengadakan private party di Bali untuk pernikahan kita, " ucap Jihad mewakili Ica.
"Kalo mamah sama papah sih ikut kalian saja, hanya mungkin nanti mamah papah akan mengundang beberapa kolega saat acara, untuk pestanya sendiri silahkan, " jawab ayah dan ibu Jihad, keluarga Ica hanya manut saja, toh mereka tak punya kolega bisnis dimanapun selain tetangga dan tukang kredit panci.
Uda Dante berbisik pada istrinya ka Novi.
"Apo rancak nyo di Bali, rancak k padang, bisa mancaliak jam gadang, bisa mancaliak batu malin kundang atau kalau nio manjadi malin kundang bisa juo !" ka Novi tertawa. (apa bagusnya di Bali, bagusan di Padang, bisa liat jam gadang, bisa liat batu malin kundang atau jadi mau jadi malin kundang pun bisa juga.)
"Di Bali banyak bule uda, di Padang ada apo ?" tanya ka Novi. ( Di Bali banyak bule uda, di Padang ada apa?)
"Di Padang ado sapi, bisa buek randang," jawab uda. (Di Padang ada sapi, buat dibikin rendang.)
"Ini mereka berdua ngomongin apa sih bang, gue suka gagal fokus kalo uda ngomong !" gumam Galih.
"Kagak tau, ngomongin harga minyak kali, ga tau ngomongin rendang !" jawab Riski, tawa ka Novi pecah melihat kebingungan adik adiknya ini.
"Loe berdua kang minyak !" jawabnya.
Sudah diputuskan jika pernikahan Ica dan Jihad bulan depan.
.
.
.
__ADS_1
.