Me VS Crazy CEO

Me VS Crazy CEO
Ultah Momo


__ADS_3

Sedetik kemudian Ica baru sadar,


"Maksud loe, mmm..."Ica bergumam dengan kerlingan mata menunjuk ke arah bagian bawah miliknya, sedangkan Kara sudah memukul kepala Ica dengan salah satu buku yang ia bawa dari bawahnya.


"Pukkk !!"


"Sadar kan loe, kan gue udah cerita sebelumnya, masa masih belum paham !"


"Ya engga lah Ra ! ngapain juga mesti sakit !"


"Bodo amat !!!" Kara sudah enggan menjelaskannya, astaga di depan Jihad dan suaminya ia harus berdebat pasal hal yang tabu untuk dibicarakan, what the f*uck.


"Panas muka gue !!!" Kara berbalik pergi. Milo masih memegang perutnya ngilu tertawa.


"Ra !!! cih si Kara !" dengus Ica.


"Serah loe Ca, gue mau pulang aja lah ! ga jadi ngajak jalan, " pekik Kara.


"Jalan Ra ?! ikut !!!" Ica berlari, jika sudah bersama Kara, maka Jihad ataupun Milo serasa hanya dianggap patung.


"Shittt ! gue ditinggal !" umpat Jihad.


Milo kembali memegang perutnya yang kram, padahal ia pun ditinggal oleh Kara.


*****************


Setelah Kara mendapatkan sesuatu yang diinginkannya, mereka akhirnya berpisah, Kara dan Milo pulang. Sedangkan Ica dan Jihad masih berada di mall.


"Besok Momo ultah, cari kado apa ya !" gumam Ica mengetuk ngetuk dagunya. Pikirannya meneliti dan mengingat apa yang kiranya belum bocah itu miliki. Semua jenis boneka dari kartun yang tengah happening mana yang belum ia miliki ? secara bocah cerewet itu hampir setiap minggu merengek pada ayahnya untuk membeli mainan di pasar kaget.


"Momo ultah sayang ?" tanya Jihad, Ica mengangguk.


"Iya, besok minggu ke rumah deh, bang Riski ngadain syukuran kecil kecilan, Momo minta tiup lilin !" jawab Ica.


"Oke, " jawab Jihad singkat.

__ADS_1


Mumpung mereka masih berada di mall, Ica langsung masuk ke dalam toko mainan, ia memilih milih barang apa yang cocok ia hadiahkan, tahun lalu ia berikan satu set alat masak masakan, padahal menurut Ica harganya mahal, lebih baik dibelikan satu set perlatan masak yang nyata.


"Si Momo apa yang belum punya ya ?" gumam Ica melirik dari ujung rak ke ujung lainnya.


"Mendingan kasih yang bermanfaat, kaya alat tulis gitu, Momo ultah yang ke 3 kan ?!" usul Jihad.


Kenapa tidak terpikirkan sejak tadi olehnya, otak cetek bin dangkal jika sudah berurusan dengan hal yang berbau tabu, memang harusnya di sterilkan dulu, bikin pikiran dan hati konslet saja.


"Iya bener bee, ko baru kepikiran ya !"


"Apa segitu berharganya aku, sampe otak kamu se konslet ini pas tau aku ilang, jadinya ga bisa mikir ?" tanya Jihad membungkuk mensejajarkan wajahnya dan Ica.


"Cih, emang lagi buntu aja ! ga usah geer !" Sembur Ica, mengetuk jidat Jihad.


"Oke, yuuu let's go...daddy ! berburu kado buat Momo !" ajak Ica berseru yang sudah mengaitkan lengannya di lengan Jihad.


Ica melebarkan senyuman, mengangkat paper bag yang berisikan kado merah muda berpita. Akhirnya ia akan selamat dari omelan keponakan cerewetnya, heran saja teh Mira memberikannya makan apa sih setiap hari, seakan mulut kecilnya itu tak pernah berhenti bicara, ditambah kepolosannya mencerminkan prinsip jika buah tak jatuh jauh dari pohonnya. Like father like daughter. Gen ayahnya, Riski lebih dominan di DNA Momo.


***************


"Anak loe yang ulang tahun gue yang sakit pipi tiap taun," keluh Galih mengambil sebatang rokok dan menyalakannya di depan teras.


"Ntar ada uang rokok buat loe, " jawab Riski. Lihatlah bocah cilik yang sedang menjadi princess sehari itu, sudah memakai gaun pesta merah muda dengan blink blink glitter di sekitarnya. Jangan lupakan mahkota kecil yang disematkan diatas pucuk kepalanya. Like a princess fairy tale.


"Woww !!! anak ayah udah cantik, kaya princess Elsa !" Riski berseru memuji kelucuan Momo.


"Bukan ! Elsa tuh biluuu, Momo kan walna ping ! Momo kaya aulola !" debatnya pada sang ayah.


"Oh ayah salah ya ?! oke deh aurora !" ralat ayahnya mengusap lembut rambut sepunggung Momo.


"Si Aurora anak mana, Lih ?" tanya Riski.


"Mana gue tau ! anak gang haji Irit kali !" jawab Galih.


"Cih bapak bapak mana tau aurora ! makanya berbaur lah kalo anak main !" teguran teh Mira, duduk di pinggiran kursi yang diduduki suaminya Riski.

__ADS_1


"Lagian si aurora aja ga tau ! fix masa kecil kalian kurang tontonan," tambah teh Mira.


"Ngapain nontonin film anak cewek teh, yang ada tuh robot...tontonan gue sekarang mah pa*ha sama s3l4ng*k4ngan cewek ! " sanggah Galih terkekeh.


"Kawin sono loe ! bikin dosa terus !" Riski mendorong kepala adiknya itu. Ica baru saja pulang dari aksi kaburnya, ia malas saja jika harus kebagian jadi pengganti pompaan balon.


"Nih anak satu lagi, bisa banget kaburnya !" semprot Galih pada Ica yang baru saja datang. Ica tertawa diatas penderitaan Galih, tahun ini ia lolos dari penyakit tahunannya, yaitu sakit pipi.


"Apaan sih ! sekali kali berkorban buat keponakan tercinta, bang ! nih gorengan ! gue masuk dulu, mau mandi !" Ica melengos, setelah sebelumnya memberikan sebungkus gorengan yang masih hangat ke tangan Galih, sebenarnya ia hanya berjalan jalan saja ke depan gapura seraya jajan, daripada berdiam di rumah malah disuruh tiup balon.


Sedikit sedikit para pasukan krucil mulai berdatangan membawa bodyguardnya masing masing, yang ultahnya bocil yang ribetnya emak emak, ikut dandan penuh totalitas kaya mau datang ke kondangan, mulai dari si Fajar tetangga samping seumuran Momo, yang sudah rapi dengan kemeja lebarannya tahun kemarin bersama bu Endang, disusul teman Momo yang lain dengan membawa bingkisan berwarna warni. Ditaksir isinya tak akan jauh dari sabun, pasta gigi, dan mainan, atau alat tulis juga sendal. Biar Momo lebih rajin lagi mandinya.


ka Novi yang biasa membawakan acara 17an di lingkungan rt, bertindak sebagai pembuka acara, ultah Momo. Ica ? jangan ditanya lagi, ia lebih memilih berdiam diri di belakang layar bersama piring piring sajian untuk para tamunya Momo.


Tap...tap...tap...


"Assalamualaikum !"


Hampir semua mata menoleh pada sumber suara, wajah rupawan dengan gaya hedon, sudah dipastikan bukan akamsi (anak kampung sini).


"Daddyyyyy !!" pekik Momo, si little princess ini sontak menyambut Jihad saat teman temannya akan memulai ritual lagu selamat ulang tahun untuknya.


Para emak emak refleks merapikan penampilannya, begitu jika orang tampan lewat.


"Maap maap, daddy aku mau lewat !" ucapnya permisi di tengah tengah kerumunan tetamu, mengajak Jihad masuk menjadi tamu VIP nya.


"Siapa Ca ?" tanya Teh Mira. Ica yang sedang mengunyah kue cucur melongokkan kepalanya, ia lalu tersenyum kecut, sepertinya sudah tak aman membawa Jihad ke rumah, ia berasa tersingkir sekarang.


"Daddy nya Momo !" jawab Ica masam, teh Mira tertawa melihat Ica tersingkir oleh Momo.


"Sono teh ke depan, masa anaknya ultah, emaknya malah ngurusin makanan, biar ini Ica sama mamah aja yang urus !" pinta Ica, teh Mira mengangguk lalu berjalan melewatinya untuk bergabung masuk.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2