Me VS Crazy CEO

Me VS Crazy CEO
Syndrom mertuangitis


__ADS_3

Hari ini setidaknya Ica tidak harus buru buru bangun, tidak harus takut datang terlambat ataupun kena omelan layaknya orasi bung Tomo dari artis tok tok. Hanya saja kupingnya benar benar diganggu oleh suara campursari, ahhh Minggu pagi... Hari dimana emak emak ngadain arisan sambil menyiangi kutu dari kepala masing masing, hari dimana emak emak bertukar teman nasi ddngan tetangga, hari dimana hampir semua istirahat dari kegiatan mencari sesuap nasi, dan hari dimana bapak bapak ngadain kerja bakti sambil ngopi bersama. Gang ini tak pernah sepi, seakan LA pindah ke Menteng.


Ica menutup kepalanya dengan bantal, menarik dan menenggelamkan badannya di dalam selimut sehangat dekapan suami orang. Kepalanya masih berdenyut karena semalam tak bisa tidur cepat. Asal yang lain tau, Ica begitu tersiksa berada di kamar yang ada di tengah tengah, kamarnya dihimpit oleh kamar 2 pasang suami istri yang tengah usia produktif, produktif bekerja dan produktif menghasilkan keturunan. Suara suara laknat milik teh Mira dan ka Novi menggema bebas memenuhi kamar Ica di sisi kanan dan kiri, dan berhasil membuat tubuh Ica berkeringat walaupun tidak sedang berlari, menggigil walaupun tidak sedang demam, dan jantungnya yang berdegup kencang walaupun bukan sedang ujian Nasional, untung saja imannya setebal novel 2 ribu halaman. Gadis ini bahkan menyumbat telinganya dengan headset hingga pukul 2 malam, heran saja, mereka tak ada capenya padahal sudah seharian beraktivitas tapi masih prima di atas ranjang, pantas saja ranjang pengantin sering bobrok, jangankan ranjang, Ica saja sudah ingin menggedor gedorkan kepalanya sendiri ke arah tembok.


Belum lagi suara racau dan menjijikkan abang abangnya yang seperti kucing terjepit engsel pintu. Ia bersumpah jika nanti menikah, tidak ingin melakukan malam pertama di rumah ini.


Teriakan Momo dan Robi benar benar seperti alarm alami untuknya, belum lagi suara suara bising tetangganya. Dari sebelah kanan rumah masih bersama DJ engkong Rojak dengan gaya andalannya musik perjuangan, dari sebelah kiri musik dangdut koplo dengan biduan dangdut ka Gina. Lengkap sudah penderitaan Ica.


"Momo !!! peterrrr !!! berisik oyyy, atau tante lempar duit nih segepok !!" pekik Ica melongokkan kepalanya di kaca jendela kamarnya. Jika Ica sudah tak waras, mungkin ia akan melengos ke kamar mandi mengambil air bekas rendaman bajunya dan menyiramkannya pada kedua keponakannya beserta kedua tetangganya.


Kedua batita itu tergelak melihat Ica sepaket dengan rambut singanya dan mata yang masih menyesuaikan dengan cahaya pagi hari, "hahahaha, ateu Ica kaya singa !"


"Bukan Mo, tapi kaya olang gila !" jawab Robi.


"Nih singa gila mau nangkep Momo sama Robi !! aummm !!!" Ica mencoba meraih raih kedua keponakannya dari jendela.


"Laliiiiii singa ngamuk !" teriak Momo sambil tertawa.


Di baringkan lagi pun percuma, jiwanya sudah terkumpul semua, Ica bangun dan membereskan ranjangnya.


"Huuuu ! cewek pemalesan amat, kalo dah kawin mau gimana, jam segini belum ada nasi, mau makan apa ?!" ujar Galih yang sudah duduk di meja makan.


"Makan rumput ! ya dikasih makan nasi lah ! ga usah ribet yang jualan banyak, orang kaya mah bebas ! makan tinggal pesen !" jawab Ica melengos ke belakang.


Di rumah ini selalu dibiasakan sudah terhidang nasi beserta keluarganya sedari pagi buta, beginilah kehidupan di kampung, tak ada waktu untuk bermalas malasan.


"Mah, Ica mau jalan nanti," ijinnya.


"Kemana?"


"Mau ketemu Kara, "


"Oh iya, apa kabar Caramel?" tanya ibunya.


"Alhamdulillah baik, " jawab Ica yang menyendok nasi di depannya.


"Kayanya nambah cantik si Kara ya Ca ?!" tanya Galih.


"Pasti lah, dan pastinya ga akan mau sama cowok kaya loe bang, " jawab Ica.


"Sue loe !" Galih melemparkan kerupuk pada Ica.


Ica melirik Riski dan teh Mira, juga bang Dante dan ka Novi.


"Gue ga bisa tidur semalem, " sarkas Ica.


"Ngapain ? Jihad ngajak begadang?" tanya Riski.


"Bukan, gue risih sama suara guguk kejepit malem malem. Berisik !! kuping dde Ica ternodai ya Allah !" jawab Ica, membuat muka keempat orang di depannya gugup.


"Hahahahaha !" Galih tergelak.


"Wajar peakk ! gue mah udah halal ! jatohnya pahala, " jawab Riski.


"Tapi gue yang tersiksa bang, gue ditengah tengah bisikan syaitan...lain kali pada di selotip mulutnya !" sarkas Ica.


"Loe yang oon, ntar kalo dah married juga ngerasain !" jawab ka Novi.


"Gue jadi pengen married !" jawab Galih.


"Married tuh sama ayam pak Urip, bensin aja sering minta, gimana mau nafkahin anak orang, " sahut Ica


"Ehh gini gini gue mampu buat nafkahin anak gadis orang, loe nya aja yang ga tau, " jawab Galih tak terima.

__ADS_1


"Uda, digigit nyamuk nakal ya ?!" Ica melirik leher sang kaka ipar yang terdapat kissmark di beberapa bagian. Sontak pandangan seisi meja makan pun beralih pada Dante, bang Dante tertawa seraya menutupi properti pribadi milik ka Novi itu, leher kekar dimana biasanya sang istri membenamkan wajahnya disitu, memberikan kecupan kecupan penuh g4irah.


"Nyamuk kepalanya gede !" jawab Galih.


"Ga usah mau ! kamu belum nikah !" jawab bang Dante.


"Parah ka Novi, garangggg !" jawab Galih.


"Haduhhh, kayanya ga aman nih anak 2 melajang terus !" jawab mamah.


"Noh, kawinin aja bang Galih duluan ! " tunjuk Ica.


"Kenapa jadi gue, loe lah ! yang sering denger kan loe !" jawab Galih.


"Terus gimana sama Jihad ?" tanya ayah Ica yang sedari tadi hanya menjadi penyimak setia. Seketika Ica langsung diam.


"Nah kan, langsung diem !" jawab Riski.


"Udah ngajak ke rumahnya, tapi ntar aja, Ica masih takut. Takut kaya mertua mertua keji di tv tv !" jawab Ica sekenanya.


"Hahahah, apalagi tau kalo pacar anaknya bar bar kaya loe !" jawab Galih.


"Dasar korban sinetron azab !" kekeh Riski.


"Sembarangan !"


"Ga usah jadi orang lain, bersikap saja sewajarnya, tunjukkan pribadi kita yang sebenarnya tanpa mengurangi tata krama dan kesopanan, kita keluarga biasa biasa saja, tak punya apapun yang bisa dibanggakan, selain nama baik dan attitude," jawab ayah Ica.


Ica mengangguk setuju. Umurnya sudah 23 tahun, di lingkungannya jika gadis sudah lewat dari umur 20 tahun, bisa dipastikan..pertanyaan yang terlontar dari mulut tetangga adalah kapan nikah? apalagi jika ada lelaki yang bertandang ke rumahnya.


***************


Ica dijemput oleh Jihad, memakai mobilnya, mereka janjian di cafe Keanu, disana juga sudah ada yang lain.


Bukan hanya Ayu, Arial, Keanu, Raka dan Erwan saja terkejut melihat perubahan Ica, sedangkan Kara hanya menyunggingkan bibirnya. Inilah Ica, memang saat masih SMA, Ica selalu tampil cuek dengan penampilannya, tapi bukan berarti dia tak pernah feminim. Termasuk sekarang, apalagi setelah diangkat menjadi karyawan kantoran, yang mengharuskan penampilannya sopan, rapi dan anggun.


"Loe ga salah makan kan Ca?" tanya Arial.


"Kenapa ? alhamdulillah makan gue masih nasi, meskipun cuma sama tumisan sama tempe !" jawab Ica.


"Hahahaha, kaget ya ? kan sekarang Ica punya sugar daddy, " jawab Kara.


Mereka duduk di satu meja panjang.


"Beda, " jawab Raka.


"Ga usah niat jadi orang ketiga loe !" sarkas Jihad di muka Arial seakan tau isi pikiran Arial.


"Tapi dulu loe suka gue kan Ca ?" tanya Arial dengan pedenya, ditertawai yang lain.


"Kayanya sih, " Ica tergelak. Arial masih mengeluarkan senyum sejuta watt nya, tak percaya gadis bar bar dan nyablak yang dikenalnya semasa SMA bisa secantik ini sekarang.


"Ngapain loe senyum senyum ka, lagi jadi model iklan pasta gigi ?" tanya Ica.


"Cih, pedesnya masih sama kaya dulu !" decih Arial.


"Makanya cuma daddy gue ini yang tahan banting, " Kara menepuk nepuk pundak Jihad.


"Pawangnya Ica," timpal Erwan.


"Gue jadi penasaran, gaya pacaran loe berdua kaya gimana?" tanya Arial.


"Ga usah kepo, nanti loe yang rugi...gaya pacaran gue mah liar kaya kuda Sumbawa !" jawab Jihad sekenanya.

__ADS_1


"Njirr !" umpat Arial.


"Milo kemana ? tumben telat ?!" tanya Jihad.


"Iya Ra, ka Milo kemana ?" tanya Ica.


"Ga tau, tadi sih udah sampe, tapi ijin keluar bentar, " jawab Kara.


"Beneran loe kerja di perusahaan Jihad, Ca?" tanya Arial.


"Iya, ka Rial..."


"Kenapa, mau nyusul juga ?" tanya Raka, dikekehi Erwan dan Keanu.


"Engga jadi, gue takut bodyguardnya Ica !" tunjuk Arial pada Jihad.


Mereka menoleh saat melihat Milo datang bersama ayah dan kedua orangtua Kara.


"Ibu, Ayah, papah?!" seru Kara menyambut ketiganya. Ica dan yang lain ikut berdiri dan salam.


"Ko ga ngasih tau mau kesini juga?" tanya Kara terkejut. Tiba tiba Milo berlutut di depan Kara, membuat gadis itu menautkan dahinya.


"By, di depan orangtua kita, sama temen temen, sekali lagi aku mau lamar kamu untuk jadi ibu dari anak anakku, menikahlah denganku Caramel ?" Kara membekap mulutnya terkejut.


"So sweet, " gumam Ica terdengar oleh Jihad seraya tangannya mencubit cubit gemas lengan Jihad, membuat Jihad mengernyit, "so sweet sih so sweet tapi jangan tangan aku juga yang dicubitin,"


Kara menerima lamaran Milo, di depan orang orang terdekatnya.


"Setelah ini kita mau kemana bee?" tanya Ica.


"Cie, so romantis panggilannya !" ledek Ayu.


"Romantis gimana, gue panggil bee, dia kadang panggil gue bubble kadang bakwan !" ketus Ica.


"Muka loe mungkin mirip udang yang ada di bakwan, " tawa Arial.


"Sat !!! sini gue cincang loe ka, " umpat Ica.


"Aku mau ngajak kamu ke satu tempat, " jika memintanya secara baik baik sangatlah susah, maka Jihad akan membawanya. Ica sedikit aneh, hari ini Jihad lebih pendiam tidak seperti biasanya. Apa yang laki laki ini rencanakan untuknya.


Rencana Jihad untuk mengenalkan Ica pada keluarganya memang sudah sejak lama ia rencanakan, tapi selalu gagal, Ica selalu memiliki alasan untuk mengulur waktu, dengan kejadian Milo tadi, Jihad jadi terpikir ide yang sama. Kenapa perempuan maunya dipaksa ? pikirnya.


Jihad melesatkan mobilnya masuk ke perumahan elite, selama mengenal Jihad, Ica baru sekali bertandang ke rumah lelaki itu, bertemu dengan ibu dan adik Jihad, bertemu dengan ayah Jihad pun saat di rumah sakit, waktu Kara masuk RS karena kejadian penculikan oleh Gladys, dan sialnya Ica malah menyebutnya karyawan bank.


"Ini..." tunjuk jemari Ica ke arah rumah Jihad.


"Rumahku, " jawab Jihad. Ica sedikit terkejut, pasalnya ia tak memiliki persiapan.


"Iya tau, masa rumahnya Gubernur Jakarta. Kita ga bawa oleh oleh dulu gitu, atau bawaan apa kek ?! ko ga bilang dulu mau ke rumah kamu ?!" cerocos Ica.


"Kita bukan abis plesiran, ga mesti bawa oleh oleh. Lagian kalo kamu ga dipaksa gini, kamu selalu ngulur waktu dan nolak !" jawab Jihad.


"Bentar bee, jangan dulu masuk !" ucap Ica panik.


"Kenapa?" mobil Jihad sudah masuk sempurna di carport rumahnya yang megah. Deretan mobil milik keluarga Jihad berjejer sempurna dan rapi menandakan si empunya rumah sedang berkumpul di dalam. Oh Tuhan ! jangan sampai Ica mendadak pingsan nantinya, atau memalukan di dalam sana. Oksigen...mana oksigen...


"Aku kena siyndrom mertuangitis..!" jawab Ica.


Jihad tertawa, "Heh bakwan ! mana ada penyakit begituan, "


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2