Me VS Crazy CEO

Me VS Crazy CEO
Love you like crazy


__ADS_3

Mata Ica mengilat seperti garpu yang ia pakai untuk menusuk potongan daging di piringnya jika tersorot cahaya lampu, bening bening bikin silau, perempuan memang menakutkan jika sedang dalam mode marah, tak bisa digambarkan lagi, banteng marah ? raksasa buto ijo yang siap menalan manusia hidup hidup ? perpaduan dari keduanya.


Jihad menjelaskan panjang lebar pada Catherine, jika ia sudah menikah. Jika sejak menjejakkan kakinya kembali di London ia memang sudah menitipkan hatinya pada seorang wanita, makanya ia jadi lelaki tak berhati saat di London.


"Bilang juga sama dia ! kalo masih ngeyel, nanti ku sembur pake jampean mak Ovi, biar minggat ! " pekik Ica dari ruang makan.


Mamah Vivi mengulum bibirnya ingin tertawa.


"Dia ga akan ngerti mak Ovi siapa, makanya kamu kesini !" jawab Jihad.


"Males banget, " ketusnya.


"Kata dokter apa Ca ?" tanya mamah Vivi. Ica menaruh sendok dan garpu nya lalu merogoh tas selempangnya.


"Nih mah, lucu kan mah ! padahal Ica belum tau mukanya, tapi kayanya mereka bakalan lucu, " seru Ica.


"Ya allah lucunya calon cucu cucu mama, alhamdulillah. Semoga kalian sehat sehat ya Ca, lancar sampai persalinan, tanpa kekurangan suatu apapun, "


"Aamiin mah,"


Ica melongokkan kepalanya demi melihat Jihad dengan bule London, ia sesekali melihat tampilan dirinya.


"Bule London mau di bandingin sama bule Depok, cih !" gumam Ica berdecih.


"Ya jelas gue ga pede lah !" ia merengut.


"Abang setia, Ca.." ucap mamah mengusap usap punggung Ica seraya beranjak.


"Mamah mau kemana ?"


"Nemenin yang di depan, ga pantes ditinggal berdua, " jawab mamah Vivi, akhirnya mau tak mau Ica ikut mengekor ke depan.


Matanya bahkan sudah menunjukkan aura permusuhan yang begitu sengit pada si bule.


Bawaan ibu hamil atau memang bawaan seorang Ica, jika radar tak sukanya berbunyi beep ! maka ia akan menjadi pribadi yang menyebalkan.


Ica is back, the bar bar is back !


"Mau ngapain dia kesini ? mau gangguin laki orang ? atau mau ngemis ngemis laki orang ?!" Ica duduk menyilangkan kakinya.

__ADS_1


"Ga usah cry cry deh, itu cuma alligator tears doang, ga mempan !" mungkin jika Kara ada disini, ia akan menertawakan bahasa Inggris Ica yang belepotan kaya lagi makan piscok lumer.


Demi apa, si bule bahkan hanya melongo tak mengerti apa yang Ica sampaikan.


"Dia ga ngerti yank, "


"Biarin ! sengaja !!" kilahnya pada Jihad.


"Sorry, i don't know !" cicit Catherine.


"Kalo di dunia ini peluk laki orang cuma cukup sama kata maaf, mungkin jumlah kasus perselingkuhan bakalan membludak di Indonesia ! kalo orang salah cukup sama kata maaf, penjara penuh ! ga perlu ada pengadilan, ga perlu ada sidang, cukup kata maaf !" Ica tak bisa mengontrol emosinya saat ini.


"Sayang, dia udah minta maaf," jawab Jihad langsung di balas tatapan sengit dari Ica, mamah Vivi hanya menyunggingkan senyumnya, tak berkutik.


"Hormon kehamilan bang, emosinya suka meledak ledak. Coba bujuk istrinya," bisik manah Vivi.


"I'm so sorry, " Catherine menatap sendu dan menunduk, menumpahkan air matanya.


"Heuhhh !" Ica menggeram.


"Suruh jangan mewek deh bang, aku ga suka liat orang mewek ! suruh pulang deh dia ! jadi mual aku nya !" omel Ica berdiri dan berbalik menuju kamar, melihat perempuan yang menjadikan air mata sebagai senjata, paling tidak disukai oleh Ica.


Akhirnya Catherine mau pulang ke negaranya, diurus oleh pak Muni ia bisa kembali ke London. Cintanya harus kandas sebelum berkembang, setidaknya ia pernah berjuang.


"Jadi cewek ko sampe segitunya, pake nyusul nyusul, kaya ga ada cowok lain aja !" omelnya lagi menyayangkan tindakan Catherine. Apa menurutnya laki laki di London sudah menjelma jadi jelek semua ? sampai harus ngejar cowok Indo.


Ia masih kesal mengingat dimana moment Jihad dipeluk oleh perempuan lain, tidak seperti saat dipeluk Kara, Ayu, ataupun mamah.


Ada rasa panas di dadanya, bikin sesak nafas. Rasa kesal itu memancing air matanya untuk keluar. Baru kali ini Ica menangis untuk hal sereceh ini. Padahal dulu sejatuh apapun ia, jiwanya tetap tahan banting, tidak serapuh ranting kering begini.


Ia duduk di tepian ranjang, karena dirasa lelah ia merebahkan badannya di ranjang, berbalik menyamping memunggungi pintu masuk.


Ceklek


Pintu kamar terbuka. Jihad membuka jaketnya, dan menyampirkannya di kursi.


Ia kemudian ikut merebahkan badannya di samping Ica, dengan hati hati dan pelan pelan tangan Jihad memeluk perut Ica merapatkan badannya hingga dapat menyesapi aroma badan Ica yang menenangkan. Ica sontak berontak, tapi jelas tenaganya tak cukup kuat untuk melawan.


"Lepasin !" sengitnya.

__ADS_1


"Masih marah ya ?"


"Jangan lama lama marahnya momy, masa daddy harus jauh jauhan sama utun twins," kekehnya.


"Ga usah ngerayu, ga lucu bang !" Ica melepas pelukan Jihad dan langsung bangun begitupun Jihad.


"Kenapa ga sekalian aja anterin pacar bulenya !"


"Jadi selama ini aku cuma di boongin. Bilangnya nungguin tapi ternyata di luar udah punya pacar ! aku emang bo*do bang, tapi aku ngerti dia ngomong apa !"


Jihad tak sekalipun menyela ucapan Ica, ia sangat tau watak Ica sejak dulu. Ia tau harus bagaimana menghadapi kemarahan Ica.


"Dia pake ngingetin kenangan yang dulu dulu waktu kuliah, iya !! masa kuliah kalian emang indah, terus kenapa ?! aku berasa jualan kacang tau ngga ! dipamerin gitu biar apa ? biar kamu balik lagi sama dia atau biar kamu jadiin dia madu aku ? ogah ! naji*s ! sampe lebaran mo*ny3t pun aku ga akan sudi !" matanya bahkan sampai memerah, dan kemudian meleleh lah air mata Ica, Jihad hanya perlu bersabar, ia sedang menghadapi amukan emosi hormon kehamilan Ica yang meluap luap.


"Siap siap ngadepin hormon kehamilan Ica, yang kuat ya sulung ! harus sabar. Wanita hamil itu butuh di sabarin sama di lembutin, " Itulah kata kata mamah Vivi padanya sebelum menyusul Ica ke kamar. Beberapa kali Jihad menghembuskan nafasnya panjang demi mendengar uneg uneg Ica yang kesemuanya hanya ketakutan Ica, tidak seperti kenyataan yang terjadi.


Bahkan kecepatan bicara Ica saja bisa disetarakan dengan kecepatan angin.


"Udah marahnya ? cape ngga ? aku ambilin minum ya ?" tawar Jihad tersenyum.


Ica memukul mukul dada dan lengan Jihad.


"Aku marah aja kamu masih bisa senyum senyum. Perut aku masih rata aja kamu udah bisa nostalgiaan sama mantan terindah, apalagi kalau perut aku udah buncit nanti sama si kembar !" Ica sesenggukan memukul mukul dada Jihad seraya menyenderkan puncak kepalanya di dada Jihad, ternyata lelah juga marah marah seperti ini. Bisa bisanya Ica menyebut Catherine dengan sebutan mantan terindah, Jihad hampir saja meledakkan tawanya.


"I love you, " bisik Jihad mengusap kepala Ica, yang langsung ditepis Ica.


"Bulshittt ! ga percaya lagi sama kamu," gumamnya tapi tangannya sudah melemah, Ica tak lagi melawan saat Jihad kembali mengusap kepalanya lembut.


"Love you like crazy !" bisiknya lagi. Tak ada jawaban atau respon dari Ica, Jihad memiringkan kepalanya dan dengan pelan melihat wajah Ica, rupanya bumil ini sampai tertidur.


Jihad tertawa tanpa suara.


"Love momynya twins, jangan marah marah lagi ya sayang, " bisik Jihad membaringkan Ica di ranjang dan menyelimutinya sampai sebatas perut.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2