Me VS Crazy CEO

Me VS Crazy CEO
Kesabaran dan keikhlasan


__ADS_3

Kecewa ? jelas, tapi tak tau harus kecewa pada siapa, sedih ? jangan ditanya lagi, tapi dibandingkan ia, Ica dan Jihad jelas lebih sedih. Seharusnya sebagai seorang ibu, mertua, ia harus menjadi sosok penguat untuk keduanya.


Mamah Vivi memeluk putra sulungnya ini, "yang kuat, ini mungkin ujian untuk kalian, " mamah Vivi tak kuasa menahan butiran air matanya.


"Maaf sudah mengecewakan mamah, Ji belum bisa memberikan cucu dalam waktu dekat, " bisiknya. Mamah Vivi menggeleng tak setuju.


"Bukan mamah yang harus kamu tenangkan. Tapi Ica, istrimu...mamah baik baik saja Ji," jawabnya, tak disangka akan semudah ini bicara pada ibunya.


"Mamah pulang dulu, untuk beritahu papah, nanti mamah kesini bareng papah ! " ucap ibunya menepuk nepuk dan mengusap punggung anaknya itu.


"Yang sabar, mamah tau dan yakin bang Ji pasti bisa, " jawabnya selalu menyebutnya dengan sebutan bang Ji jika sedang mengandalkannya.


Jihad mengantar ibunya sampai parkiran, "hati hati, pak !" ucapnya pada supir keluarganya itu.


Jihad kembali ke dalam, hanya tinggal bicara pada Ica saja. Tapi justru ini lebih sulit dibandingkan pada mamah. Ica tengah tertawa mendengar cerita Riski tentang Momo yang terjadi akhir akhir ini. Tapi seiringnya Jihad yang masuk, beberapa perawat masuk ke dalam membawa sejumlah alat tes kesehatan.


"Kalo gitu kita pamit ya, udah malem juga soalnya," Riski dan teh Mira pamit begitupun ibunya Ica.


"Iya, hati hati bang bawa mobilnya, mah hati hati, " tangan Ica terulur memegang tangan ibunya begitupun ibu Ica yang memberikan kekuatannya untuk Ica, ia bahkan sudah menumpahkan tangisannya dengan menggenggam tangan putrinya. Padahal Riski sudah mewanti wantinya untuk tak menangis.


"Ica jaga makan, cepet pulih nak !" kecupan kening seorang ibu tiada tandingannya jika dibandingkan dengan suplemen manapun. Ketiganya keluar dari ruangan.


Jihad melemparkan senyumannya yang paling manis pada Ica.


"Dih, jelek !" Ica mengusap kasar wajah Jihad membuat Jihad tertawa.


"Cukuran gih bang, kasar banget !" pinta Ica merasai sekitaran jambang, kumis, dan jenggotnya mulai ditumbuhi bulu pendek.


"Biar kamu kegelian, " bisiknya menjawab, bukan hanya Ica yang tertawa, tapi para perawat itu ikut mengulum bibirnya malu sendiri melihat kemesraan Ica dan Jihad.


"Suhu, tekanan dar4h normal !" ucap seorang perawat dan yang lain mencatat.


Jihad sudah meminta sebelumnya pada dokter untuk melakukan anestesi (pembiusan) di ruangan, agar Ica tertidur saat masih di ruang rawat agar ia tak tegang dan panik.


"Itu apa sus ?" saat pintu terbuka dan dokter yang masuk dengan stelan siap operasinya.


"Cuma suntikan antibiotik sayang, " jawab Jihad cepat mendahului suster. Lagi lagi aneh, Ica tak mendebatnya.


Suntikan diberikan pada Ica untuk menurunkan kesadarannya. Benar saja selang 15 menit Ica sudah tak sadarkan diri.


Ranjang Ica di dorong menuju ruangan operasi, Jihad memantapkan dirinya, setelah ini ia yang harus berjuang membuat Ica kembali ceria. Ia tau betul sang istri sangat menginginkan kehamilan ini.


"Berjuang bakwan, " gumamnya di luar ruangan. Jihad melirik jamnya, sudah pukul 9 malam.

__ADS_1


Mola Hydatidosa atau kehamilan anggur adalah pembentukan plasenta (ari ari) yang abnormal saat kehamilan. Seringkali janin tidak terbentuk. dengan tanda tanda nya mual muntah parah, pend4r4han pada trimester pertama, perut terlihat lebih membesar dari usia kehamilan, keluar gumpalan gumpalan menyerupai anggur, dan nyeri pang gul. Jika tidak segera ditangani maka akan menyebabkan kanker. Setidaknya harus menunda kehamilan 1 tahun agar mengurangi risiko mengalami kehamilan anggur kembali ( sumber. alodokter.) penjelasan dokter tadi cukup membuat Jihad bergidik ngeri jika tidak segera ditangani.


Proses kuret sudah selesai, Ica kembali dibawa ke dalam ruang rawatnya. Kini Ica sudah bersih, tak ada apapun di dalam rahimnya. Mungkin setelah ini mereka harus kembali berjuang.


Jihad duduk di samping Ica, sampai Kara menelfonnya.


"Hallo Ra, "


"Hallo Ji, Ica gimana sekarang ? operasinya udah selesai?"


Jihad mengernyitkan dahinya, darimana Kara tau, sedangkan ia sendiri belum memberitahu siapapun selain keluarganya dan Ica.


"Darimana tau ?"


"Ica," Jihad terkesiap kaget, Ica tau??


"Ica tau Ra ?!"


"Loe kenal dia berapa lama Ji ? Ica cuma pesen sebelumnya katanya loe suruh buka galeri ponsel Ica, gue sama ka Milo turut berduka ya Ji...ga apa apa nanti insyaallah kalian masih bisa kejar setoran bikin kesebelasan ! semangat daddy !!!" ucap Kara.


"Udah dulu ya dad, Milo cerewet nyuruh mulu tidur !"


"Oke, " Jihad tertawa mendengus.


Ia melirik Ica yang masih terlelap, tersentil dengan ucapan Kara, Loe kenal dia berapa lama Ji ?


"Maafin aku, bukan maksud buat ga bilang, tapi aku bingung mau bilang apa," ucap Jihad mengusap punggung tangan yang masih terpasang selang infusan.


"Aku lupa kalau kamu memang kuat, " kembali lanjutnya.


Jihad meraih ponsel Ica di meja, membuka file galeri ponsel, ia menscroll menemukan video yang tadi Ica buat saat dirinya meninggalkan Ica untuk menelfon keluarganya. Jihad memutar videonya, terlihat di dalam video dengan tangan yang sudah terinfus, dan wajah pucatnya Ica merapikan rambutnya,


"Udah rapi belum ya "


Jihad tertawa kecil


"Bang, aku udah tau kondisiku. Aku denger karena kamu sama dokter ngomongnya kenceng, percaya sama aku...kalo aku baik baik aja. Maaf buat kamu, buat mamah Vivi, buat papah belum bisa ngasih keturunan dalam waktu dekat."


Wajah Ica murung,


"Tapi bisa kita coba lagi, nanti !" kembali ia mendongakkan kepalanya.


"Harusnya nanti malem aku kasih langsung, kita bisa rayain bareng bareng. Sebenernya aku udah reservasi restoran atas nama kamu, happy birthday sayang !!! selamat ulang tahun yang ke 27 tahun. Umur kamu makin tua, cukuran sana biar keliatan masih muda."

__ADS_1


kekeh Ica, tapi bukannya ikut tertawa, Jihad malah semakin menunduk memalingkan wajahnya dari ponsel.


"Wish u all the best, aku sedang berusaha jadi yang terbaik buatmu, dan kamu memang yang terbaik. semoga tetap menjadi Alvian Jihad yang humble, bersahaja dan bijak, kurangi emosi sama cemburuannya ya ! bikin aku ga nyaman."


"Semoga apa yang belum kamu raih dan dapatkan, bisa kamu dapatkan di tahun ini ! Aamiin, "


Jihad melirik Ica yang masih terdiam membisu tak bergerak sama sekali.


"Coba buka laci meja deh, ini bukan hadiah sii, soalnya kamu bisa beli yang lebih mahal dari itu, semiga dengan itu kamu bisa lebih tau waktu lagi, jangan telat makan, kesehatan itu penting, love you.." video berdurasi 3 menit lebih itu terhenti.


Jihad membuka laci meja di sampingnya, sebuah kotak beludru biru, ia membukanya...sebuah arloji merk Ro lex berwarna silver.


Yup ! nanti malam pukul 00.00 WIB. Jihad berulang tahun ke 27 tahun, dan Ica ingat itu.


Bolehkah lelaki menangis ? benaknya, karena saat ini ia sudah sesenggukan dalam hati.


Ia memeluk Ica yang masih tetap terlelap, tak terhitung sudah berapa kali ia mengecup kening dan pipi Ica saat itu.


"Terimakasih sayang, " bisiknya.


Kara kembali menelfon tapi kali ini video call yang ia lakukan. Terlihat wajah ceria tapi penampilan kusut seperti habis di acak acak.


"Daddy !!! happy birthday !!!!"


"Hadiahnya nyusul ya !"


"Thanks Ra, itu rambut loe berantakan tuh !" jawab Jihad.


"Ini nih pelakunya !" ujar Kara


"Ica masih belun sadar ya ?!" tanya nya menyendu. Jihad memperlihatkan Ica yang masih menutup matanya.


"Semangat dad ! buat Ica, nanti aku datang ke rumah deh, kalo dah balik dari RS, "


"Kuat bruh, ntar loe kejar target kalo Ica dah pulih, " kekeh Milo.


"Thanks Mil, "


Keduanya sudah mematikan panggilan, ulangtahun kali ini ia diberikan hadiah terindah oleh Allah, Ica dan sebuah pencapaian barunya, kesabaran dan keikhlasan.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2