Me VS Crazy CEO

Me VS Crazy CEO
Modus


__ADS_3

Setiap hari selama trimester pertama ini, Jihad disibukkan dengan ngidam Ica yang merepotkan, terkadang ia seperti dikejar s3tan, terkadang seperti suami yang dibuang, tapi juga menjadi suami idaman.


Juwita dan pak Muni sesekali ikut terkena imbasnya.


Kehamilan kembar ini membuat bentuk perut Ica lebih besar dari kehamilan dengan hanya satu janin.


Ia mengeluarkan hampir seluruh dress yang tergantung di lemari, demi mencari baju yang pas.


"Ihh, udah kaya orang busung lapar !" ia kembali melihat ke arah cermin yang menampakkan satu badan full, mengusap perutnya.


"Kalo orang busung lapar, bagian badan yang lainnya kurus bu, " jawab bi Denok, siapa lagi yang membereskan kekacauan yang dibuat ibu hamil satu ini, jika bukan bi Denok. Dialah orang yang paling berjasa selama ini.


"Maksudnya, aku bengkak semuanya gitu bi ?" bibirnya sudah lencang depan.


"Ga apa apa atuh bu, makin denok.." jawabnya tersenyum, seraya tangannya memasang kembali ke gantungan dan merapikannya ke dalam lemari.


"Kalo kata orang, perempuan hamil itu semakin keliatan cantiknya bu, "


"Masa sih bi, yang ada perutku makin maju, kaya badut teletubbies !" ketusnya, bi Denok tertawa mendengar gerutuan ibu hamil satu ini.


"Yang ini gimana bi ?" tanya Ica memperlihatkan dress bermotif bunga bunga kecil berwarna biru dongker.


"Bagus bu, "


"Ahh, bibi mah dari tadi bagus terus !" cibirnya kembali bercermin. Mengantar makan siang saja seperti akan mendatangi peragaan busana saja.


"Ya udah lah yang ini aja, lagian aku cape gonta ganti baju terus, cuma anter makan siang doang, terus lanjut ngampus !" Ica menyambar tas nya dan menyampirkannya di pundak. Menjadi ibu hamil plus mahasiswi itu benar benar melelahkan, untung saja seminggu ke belakang ia sudah tidak pernah lagi mual muntah. Membuat aktivitasnya menjadi lancar, selancar meminum air putih.


Ica meraih paper bag merah berisi makan siang untuk Jihad.


"Bi, aku berangkat ya ! "


"Hati hati bu, " jawab bi Denok.


"Oke, " Ica berjongkok demi mengambil sepatunya. Deretan sepatu sniker dan flatshoes yang sering ia pakai tertata di rak sepatu dekat garasi. Sementara highheels ia pensiun dini kan sementara sampai ia melahirkan nanti.


"Pak, ke kantor abang dulu ya !" pinta Ica.


"Siap bu, " jawab pak Mulya.


Sepanjang jalan Ica terkadang meringis merasakan getaran yang dibuat oleh si kembar dari dalam sana. Mungkin mereka sedang bermain main.


Pak Muni memarkirkan mobilnya di halaman kantor.


"Pak kalo mau ngopi, ngopi aja dulu. Mungkin saya aga lama di dalam !" ucap Ica menurunkan kedua kakinya dari dalam mobil.


"Iya bu."


Ica berjalan masuk, tersenyum pada resepsionis yang terlebih dahulu tersenyum padanya.


"Siang bu, "


"Siang, " Ica berjalan menuju lift. Ia ingat dulu saat pertama kali masuk ke kantor ini, berharap ia bisa menjadi karyawan disini seperti resepsionis tadi, selalu tampil modis dengan segudang pakaian mahal.

__ADS_1


Pintu lift terbuka, tapi bukan karena ia yang sudah sampai di lantai dimana Jihad berada, melainkan ada beberapa orang yang akan masuk juga ke dalam lift.


"Evi, "


"Ica, " Evi tampak aga berbeda dari terakhir kali mereka bertemu. Lebih kusut, kurus, dan kuyu, seperti tak terawat.


"Vi, loe ga apa apa kan, loe sakit ?" tanya Ica.


Evi menggeleng, dengan senyum yang dipaksakan, "ga apa apa, "


Matanya melirik ke arah perut Ica yang sudah lumayan besar.


"Udah gede Ca, berapa bulan ?" tanya Evi.


"5 Vi, " jawabnya tersenyum.


"Wow, selamat ya Ca," wajahnya kembali menyendu.


"Vi, loe ga apa apa kan ?" tanya nya mengusap bahu Evi tampak khawatir.


"Ca, gue duluan !" pintu lift terbuka, Evi keluar dari lift tanpa say goodbye pada Ica seperti dulu. Entah hanya perasaan saja atau memang benar, Evi terlihat berubah, apa karena sudah lama tak bertemu. Sejak menemukan Ica yang pingsan gara gara sakit, itulah terakhir mereka bertemu.


Tubuh kurus Evi menghilang dari pandangan Ica bersama tertutupnya pintu lift.


Ica berjalan menuju ruangan Jihad, sepanjang melewati koridor kantor beberapa karyawan yang melihatnya menyapa, kini mereka tau siapa Ica.


Ica mengetuk ruangan Jihad dengan menenteng paper bag.


"Masuk, " hingga saat membuka pintu ruangan disana Jihad sedang bersama pak Muni dan Juwita.


"Hay Ca, " sapa Juwita, si pengantin baru.


"Hay ka Juwi. Pak Muni sehat ?" tanya Ica.


"Alhamdulillah bu, "


"Hm, ibu negara udah datang Waktunya mengakhiri rapat. Mulih mulih pak !" seloroh Juwita, Ica tertawa, "kalo belum selesai ga apa apa ka Juwi, santai aja, mau sambil rebahan diselingi gosipan juga boleh ! gue tungguin !"


"Engga lah Ca, udah selesai ko. Udah waktunya makan siang,"


"Kalo gitu gue sama pak Muni keluar Ji, " diangguki Jihad.


"Oke, thanks Ta, pak Muni !" jawab Jihad menutup map berkasnya.


Ica menaruh paper bag di meja depan rak buku.


"Masak apa ?" tanya Jihad.


"Aku tadi minta bi Denok masak ayam Taliwang, lagi pengen yang ada bumbu sama aroma bakarnya !" seru Ica.


"Oh, " Jihad duduk di samping Ica membuka jasnya, melihat iatrinya membuka kotak makan siangnya.


"Bang, aku ga lama ya. Soalnya di kampus ada 2 mata kuliah. Lagi pun di jalan macet kalo jam segini !"

__ADS_1


"Yahhhh, padahal mau kangen kangenan sama twin. Hay sayang...mau ikut kuliah sama momy ?!" Jihad merosot dari kursi dan mengusap perut Ica, juga menempelkan telinganya di perut Ica.


Nyuttt...


Nyuttt...


"Eh, mereka nyaut yank !" seru Jihad tertawa renyah, dan mengusap kembali perut Ica demi mendapatkan respon dari kedua jagoannya.


"Udah bang geli, jadinya pengen pipis akunya !"keluh Ica memukul pundak Jihad.


Tapi Jihad malah tak menggubrisnya dan semakin mengajak kedua calon buah hatinya bermain.


"Awas..awas..aku pengen ke air ih !" Ica mendorong kepala Jihad. Ica tetaplah Ica yang terkadang keluar sifat bar barnya.


"Tenaga bumil emang ga main main !" kekeh Jihad yang bisa tersingkir dengan sekali dorong, saat tengah asyik bermain dengan anak anaknya.


*****


"Bang, tau Evi ?!" tanya Ica.


"Divisi umum ?" tanya Jihad masih mengunyah makanan. Ica kembali mengambil dan menyendok nasi, "iya..ko beda ya !"


"Hm, aku ga bilang sama kamu. Evi memang berubah, kredibilitas bekerjanya merosot tajam. Sering ijin, sering keliru, sering bermasalah juga,"


"Ko bisa, setauku dulu Evi tuh cekatan. Teliti, jarang salah. Malahan dia selalu bimbing aku dari awal kerja, "


"Ada masalah mungkin, "


"Ko masih dipertahanin ?"


"Karena aku menghargai, dia temen pertamamu di divisi umum, orang yang sering bantu kamu, setidaknya aku mau ucapin makasih dengan mempertahankan dia, kerja dia dulu juga berhak dapet reward, " terang Jihad.


"Tapi kalo bikin rugi, ga bisa juga kaya gitu bang, " jawab Ica.


"Kayanya lagi ada masalah dia, tenang aja...Tio selalu back up. Dia mau bertanggung jawab katanya ! kita lihat 2 bulan ke depan, kalo masih gitu kita panggil, " Ica menghembuskan nafasnya kasar.


"Sampe segitunya mas Tio ? Evi kenapa sih, tampilannya aja kucel, dia kurusan sekarang, " Ica menjatuhkan punggungnya di sandaran.


"Udah jangan jadi pikiran, biar aja. Mungkin cuma butuh waktu aja, dia lagi ada masalah, " Jihad memegang tangan Ica yang masih memikirkan temannya itu.


"Aku mesti ke kampus bang, udah telat !"


"Yakin ga mau ngapa ngapain dulu gitu ?!" Jihad menaik turunkan alisnya.


"Engga tertarik, " jawab Ica membuat Jihad merengut.


"Yank itu apa!" tunjuk Jihad ke atas, sontak Ica mendongak tapi sedetik kemudian Jihad mendaratkan bibirnya di leher Ica dan memegang kedua tangannya.


"Ihhh !"


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2