Me VS Crazy CEO

Me VS Crazy CEO
Bocah hilang


__ADS_3

Orang ganteng, kaya dan terpandang memang selalu jadi tranding topic yang tak pernah membosankan untuk digosipkan, makin digosok makin sip, begitupun kabar tentang kehidupan Jihad. Desas desus jika pak Alvian sudah memiliki calon istri sontak membuat seisi kantor dibuat heboh.


"Patah hati gue, ilang deh satu list orang orang ganteng nan tajir di dunia !"


"Kandidat calon mantu idaman emak gue sold out, "


"Sedih gue, gue mau nangis guling guling aja, "


"Yang mana sih ceweknya? secantik apa ?!"


"Gue mau belajar jadi pelakor aja lah kalo gini caranya, "


Apa jadinya jika mereka tau kalau perempuan yang baru saja melintas dan mendengar obrolan mereka lah tersangka yang mereka cari cari.


"Ngeri andayyyy, " gumam Ica menenteng tasnya dan merapikan kemejanya.


"Ca !!!!!! loe yang tabah ya, loe mendingan insyaf deh, loe cewek jangan jadi mau pelakor, " tepukan di pundaknya membuat Ica kebingungan dengan tingkah Evi.


"Apa sih Vi ?"


"Pak Alvian kan mau nikah, pak Alvian pasti ga bilang ya ? mendingan loe putuskan hubungan loe sama pak Alvian, mau gumanapun kalo cuma simpanan ga akan kuat statusnya dimata hukum ataupun agama," Evi membawa Ica duduk seraya berbisik. Rupanya Evi benar benar menganggap serius ucapan Ica tempo hari yang menyebutkan jika ia adalah sugar baby nya pak Alvian.


Ica tertawa lepas melihat Evi yang khawatir akan dirinya.


"Ca, loe jangan gini dong. Kita jalan jalan aja, mau ngga ? biar loe ga stress ?! loe cuti aja deh, biar ga ketemu terus pak Alvian !" Evi mengajaknya untuk keluar dari kantor. Baru juga Ica datang dengan orang tengah digosipkan dengan hebohnya. Hanya saja mereka berpisah di bassement. Ica terharu dengan rasa peduli Evi untuknya.


Jihad melihat Evi menarik narik Ica untuk keluar dari kantor.


"Eh, tunggu tunggu Vi, gue ga apa apa !" tawa Ica.


"Loe jangan gini Ca, gue sedih buat loe, gue ijinin ntar, gue traktir juga deh !" jawab Evi.


"Tunggu tunggu Vi, " Ica masih tergelak, apalagi saat Jihad menegur keduanya, dan melihat wajah Evi yang menatap tajam pada Jihad.


"Ini sudah jam masuk kantor, kalian berdua mau kemana ?" tanya Jihad berjalan bersama pak Muni.


"Pak, saya mau mengajukan cuti untuk Humaira Khairunisa.." jawab Evi.


Jihad mengerutkan dahinya, "cuti ?"


"Engga pak, maaf temen saya sedikit oleng, loe sarapan apa sih Vi ?" Ica menarik Evi untuk menjauh.


"Gue tau loe lagi nutupin patah hati Ca, tapi loe mesti move on !" jawab Evi.


"Ada apa ini Ica ?" tanya pak Muni.


"Ica, ke ruangan saya !" pinta Jihad, bukan Ica yang menjawab tapi Evi.


"Pak, maaf bukan saya lancang..bisa kita bicara sebentar, " pinta Evi pada Jihad.


"Iya ada apa ?"


******************


Ica masih tergelak melihat wajah masam Jihad, pagi pagi sudah disemprot karyawannya gara gara keusilan kekasihnya ini.


Jihad maju ke depan Ica dan menggetok kepala kekasihnya ini dengan pulpen,

__ADS_1


"Dasar bocah,"


"Maaf deh, aku kira Evi ga senekat ini, lagian dia percaya percaya aja aku bilangin."


"Ini mah pengen cepet cepet dihalalin kalo kaya gini, pengen cepet cepet dibuat hamil, " jawab Jihad, menarik pinggang Ica.


Ica memukul dada Jihad.


"Ga sabaran !" jawab Ica.


"Ya udah aku kerja dulu, bukannya kamu masih punya kerjaan juga, katanya sibuk...sibuk banget ?!" lirih Ica.


"Sibuk, sibuk manjain sugar baby, " jawab Jihad menyatukan keningnya dan kening Ica dengan posisi berpelukan.


Ceklek.


Ica terkejut, tapi lelaki ini anteng anteng saja dengan posisinya.


"Astaga !" kekeh Juwita menutup mulutnya.


"Bee, ihhh lepas !"


"Ketuk dulu Ta, " ucap Jihad kalem tak mau melepaskan Ica, sedangkan Ica sudah berontak minta dilepas.


"Sorry, kelepasan...loe berdua bikin gue jadi kangen si dia kan !" jawab Juwita.


" bentar ya Ca, gue pinjem calon laki loe bentar. Ji, sebaiknya loe liat ini deh ?!" tunjuk Juwita pada Jihad.


Jihad melepaskan pelukannya di pinggang Ica.


"Iya,"


*********************


"Ca, kenapa loe ga ngomong ! kan gue jadi malu ! pak Alvian marah ga ya sama gue, Ca? gue takut dipecat tau ngga ?!" seru Evi mondar mandir tak jelas.


Ica tertawa, "hayoo lohhhh ! calon laki gue marah besar ! loe mesti sogok dia biar marahnya ilang, dia seneng lontong sayur kuahnya yang pedes !"


Evi menoyor Ica, "itu mah menu sarapan kesukaan loe !"


"Cieeee !!! ada apa ini, kayanya seru ?!" Tio tanpa permisi mengalungkan tangannya di bahu Ica. Ica mencebik kesal, menepis tangan Tio yang seenaknya, sedangkan wajah Evi sudah kusam melihat itu.


"Ga ada apa apa, " sarkas Ica.


"Eh gue denger pak Alvian mau nikah ya ? wahhahahaha berarti saingan gue berkurang sweety, " ia menaik turunkan alisnya.


"Saingan apa ?" tanya Evi.


"Saingan cowok keren single di kantor ini, " tawanya membuat Ica menyunggingkan bibirnya sebelah.


"Kepedean !"


"Sudah ghibahnya ? kapan mau kerja ?" tanya bu Andar, ketiganya langsung diam dan kembali ke tempat duduk masing masing.


******************


Sepulang dari kantor Jihad mengajak Ica bertemu dengan salah satu teman W.O nya di sebuah mall,

__ADS_1


"Ini W.O yang sama kaya Milo sama Kara?" tanya Ica.


"Iya, " jawab Jihad, Ica mengangguk anggukan kepala, lucu saja mereka bersahabat sampai sering tidur bersama, saat menikah pun hampir bersamaan dengan W.O yang sama, begitu soulmatenya hubungan Ica dan Kara. Ica terkikik mengingat kejadian semalam, yang sempat mengganggu mp Kara dan Milo.


"Usil, " desis Jihad.


Keduanya berjalan menuju cafe tempat janjian dengan teman W.O.


Yang namanya perempuan jika sudah masuk mall, mata dan kaki sering tak sinkron, matanya seakan memiliki kaki sendiri, berjalan jalan melihat barang barang yang dipajang. Tanpa sadar Ica melirik ke dalam toko tas, dan berdecak kagum melihatnya, sementara tangannya sudah terlepas dari lengan Jihad.


Saat sadar Ica celingukan melihat gandengannya hilang.


"Loh, bee ?! kemana tuh orang ?!" peribahasa candaan gandengan digondol kucing sepertinya benar adanya untuk Ica.


"Apa bener gandengan gue digondol kucing ?" gumamnya.


"Bakwan ??!" Jihad yang baru sadar pun mencari cari Ica seperti ayah mencari anaknya yang hilang di tengah tengah mall. Jihad menepuk jidatnya jika benar terjadi, ia terlalu fokus dengan sambungan telfonnya sampai lupa jika Ica tertinggal.


"Ck, udah kaya anak ilang !" Jihad masuk terlebih dahulu ke dalam cafe menemui temannya.


"Loh bruh, katanya mau sama calon istri..kemana calonnya ? ga jadi ?" tanya temannya itu.


"Jadi, sebentar...calon istri gue ilang !" jawab Jihad mencoba menelfon Ica.


"Hah?!!" meledaklah tawa Ruli.


Sudah sama sama dewasa tapi kelakuan seperti anak tk.


"Gimana ceritanya, bisa kaya gitu ?!" tanya Ruli, heran sebenarnya mereka pasangan kekaaih atau bukan.


"Bakwan ! kamu dimana ?" tanya Jihad, belum sempat menjawab panggilan sudah terputus.


"Yahh..yahh...hape gue lowbath !!" gumam Ica.


"Gimana bro ?" tanya Ruli.


Jihad menggaruk tengkuknya tak gatal.


Ditengah pencarian Ica kesana kemari, terdengar suara keras dari ruang informasi menggema begitu keras.


"Panggilan untuk calon istri pak Alvian Jihad Kurniawan, Humaira Khairunisa dengan ciri ciri memakai mini dress hitam bercorak putih, ditunggu kehadirannya di cafe Star****," Ica membatu, seketika orang orang yang berada di mall tersebut melirik setiap wanita yang memakai mini dress hitam bercorak putih.


"Nyari sih nyari tapi ga gini juga !" decak Ica, mata setiap orang yang Ica lewati melirik ke arah gadis ini seakan melucuti setiap inci penampilannya. Baru kali ini Ica merasa malu.


Suara yang diinfokan menggema beberapa kali.


Ica masuk ke dalam cafe yang diinfokan, dan menemukan makhluk menyebalkan berjuluk calon suaminya tengah duduk manis dengan secangkir kopi bersama Ruli.


"Bee, nyebelin banget sih ! orang orang jadi pada liatin...dikira bocah ilang !!" Ica menghempaskan pan*tat nya di kursi sebelah Jihad.


"Nah kan, gampang ! ga usah repot repot nyari sampe kaki pegel !" jawab Jihad.


"Ga gitu juga, orang orang pada ngetawain, dikira aku punya utang...dicariin !"


"Suruh siapa hapemu mati, apa harus nanti kalo ke mall aku sediain borgol biar ga lepas ?" tanya Jihad.


Ruli tertawa melihat kelakuan absurd keduanya.

__ADS_1


__ADS_2