Me VS Crazy CEO

Me VS Crazy CEO
Extra part 2


__ADS_3

Ica dan Kara duduk melantai, menikmati rujak colek yang baru mereka buat. Tetap saja kalo sifat rakjelnya sudah mendarah daging, status nyonya apapun yang mereka sandang, sifat asli mereka akan keluar juga pada akhirnya.


"Males gue Ra, kalo ikut bang Ji ke acara formal, ga bisa selonjoran atau ongkang-ongkang kaki ! Mana makanan, minumannya ga ada yang porsi manusiawi lagi !" Kara tertawa, Ica tetaplah Ica dengan sifat uniknya, ia paham betul siapa Ica.


Si manusia perut karet, yang kalo makan mesti bikin kenyang. Si manusia modelan rebahan, yang kalo ada di acara lama mesti sambil selonjoran atau lesehan, heran saja acara formal modelan apa yang tamunya duduk lesehan sambil ngusap perut karena kekenyangan. Bukan dengan high heels dan berdiri selama berjam-jam sambil nyeruput wine yang ga jelas rasanya, terus dengerin orang haha hihi ngomongin bisnis ditemani makanan seuprit yang menurutnya porsi mpus' milik Ganesha.


"Masa iya ngasih makan para pelaku bisnis kelas jetset kaya Ganesha ngasih makan si White Lady (nama kucing Ganesha)."


"Idih loe nya aja perut karet, perut Indonesia yang mesti diisiin nasi baru kenyang !" jawab Kara.


"Ntar kalo bang Ji gelar acara kaya begitu, gue siapin kue tampah Ra, bertampah-tampah biar kenyang ! gue siapin ketoprak, gado-gado sama nasi pecel ! Sekalian sama gerobak-gerobaknya gue bawa !" omelnya memijit kakinya yang pegal akibat terlalu lama berdiri di acara grand opening cabang usaha salah satu partner bisnis Jihad.


"Loe kalo mau protes, sana sama orangnya Ca, percuma kalo protes disini, event organizernya ga akan denger !"


"Momy !! White lady mana mii ?!" tanya Ganesha.


"Tadi momy liat di deket kolam renang sayang, coba liat !" jawab Ica.


Tak lama, Ganesha berteriak.


"Momy !!!"


"Astaga, apa lagi sih !" belum ia rehat dengan emosinya, di rumah harus menghadapi anak-anaknya yang super duper menguras tenaga.


"Iya sayang momy datang !"


Lendra dan Dewa sedang memegang dan memaksa kucing persia berbulu putih milik Ganesha untuk berburu hamster milik Ganesha juga.


"Allahu !!!" Kepala Ica serasa akan meledak.


"Lendra NO !!!" Kara menatap tajam pada anak tunggalnya.


"Dewa, white lady ga akan suka si uprit sayang," jawab Ica. Bocah itu berusaha mendorong-dorong kucing putih itu.


"Ayo lady, gigit si uprit !" titah Dewa.


"Abang Dewa jangan dipaksa, lagian si lady ga akan mau makan si uplit, makanannya kan bukan tikus !" seru Ganesha si bocah penyayang binatang, lain halnya dengan Dewa yang terkesan sarkas dan lebih suka hero dan peperangan.


"Bukan Lendra mih, Dewa aja maksa..lagian Lendra cuma ikut seru-seruan aja !"


"Tapi di rumah nenek kucing tuh berburu tikus. Ini masa si lady ga suka tikus gemuk kaya si uprit ! Kamu aneh lady !" teriak Dewa.


"Abang yang aneh, " sarkas Ganesh.


"Hahaha, kamu yang aneh Wa, udah tau tuh kucing ga mau kamu paksa di sun sun gitu sama hamster !" tawa Lendra.


"Pegangin yang bener Len, si upritnya," pinta Dewa memaksa.


"Meowww, " lady mengeong pasrah. Oke karena rumah nenek di kampung, maka kucing-kucing yang ada disana adalah kucing ras kampung yang sehari-hari makannya tulang ikan asin dan nyuri ikan milik tetangga, jangan samakan dengan si lady milik Ganesh yang ras murni persia asli dengan makanan pelet dan ikan tuna.


"Oh aku tau !!!" Dewa berlari ke arah meja makan dan membuka penutup lauk di atas meja makan lalu mengambil salah satu menu kegemaran Ica yang tak boleh dilupakan kalo lagi makan, IKAN ASIN yang tinggal sepotong.


"Mpus !!! Lady !!!" Dewa menunjukkan sepotong ikan asin pada Lady dan melemparnya sembarang, tapi memang si lady kucing mahal nan angkuh kayaknya kembaran tuannya, ia hanya melengos tak peduli.

__ADS_1


"Hahahahah !" gelak tawa Lendra menggema memenuhi ruangan belakang.


"Abang Dewaaa !!!!! Itu ikan asin momy, cuma tinggal satu kamu lempar ke rumput ?!" bukan cuma Ganesh yang kesal akan tingkah Dewa tapi momynya ikut kesal sampai-sampai keduanya mengejar Dewa.


"Opsss !" Dewa berlari sambil kegirangan.


"Enaknya kita apain abang Dewa, Ganesh ?" tanya Ica.


"Ampun momy !" pekik Dewa.


"Digelitikin sampe ngompol momy," jawab Ganesh.


"Lempar aja ke kolam mom Ica !" usul Lendra.


"Lendra, kamu bukannya bantuin aku !" ketus Dewa.


"Oh iya lupa Wa, abisnya seru ! Yu buruan ngumpet Wa, aku biasanya ngumpet di ruang kerja papih kalo mamih marah-marah kalo aku kebanyakan makan burger, atau rusakin make up mamih !" jawab Lendra, tak sengaja membuka aibnya sendiri, bocah itu menatap mata Kara yang sudah menyipit dan tajam.


"Oh, jadi kaka yang tempo hari patahin lipstik limited mamih ?" tanya Kara.


"Oke, " diokei Dewa, mereka memang satu frekuensi dalam keusilan.


"Dewa aku ikut ngumpetttt !!!!" Lendra berlari menyusul Dewa. Keduanya bersembunyi di ruang kerja milik Jihad dan menguncinya.


*****


Satu tahun berlalu....


Ica dan Kara mengerutkan dahinya.


"Loh ? Emang si gemoy mau kemana ? Ko misah Ta sama loe ?" tanya Ica.


"Sebenernya Zahra bukan anak gue, Ca..Ra. Zahra anak adek sepupu gue Salwa, kemaren Zahra dititip karena Salwa lagi KKN di luar pulau lanjut nyusun skripsi, dua anak cowoknya di Aceh bareng suami sama mertuanya. Berhubung Zahra lebih deket sama omanya yang disini, itu loh neneknya Zahra yang suka anter jemput Zahra kalo gue absen,"


Kara dan Ica beroh singkat sambil mengangguk-angguk.


"Jadi Zahra tk disini, selanjutnya Zahra pindah lagi ke Aceh, besok Zahra dijemput umi sama abinya !"


"Yaaa ! Zahra bakalan pindah, padahal gemes banget gue, anak itu pinter deh Ta," ujar Kara.


"Hooh, Ganesh juga sedih kayanya nanti !" tambah Ica.


Dari kejauhan gadis bertubuh gemoy dan berkucir satu itu tampak berlari menuju Meta, terlihat sangat terurus karena perawakannya yang gemoy dan nampak menggemaskan meskipun hidup jauh dari kedua orangtuanya selama setahun ini.


"Hay sayang, " Ica mengusap pipi chubby Zahra.


"Tante bunda, " panggilannya untuk Meta.


"Iya sayang,"


"Berarti hari ini Zahra pamitan sama temen-temen ya, umi udah pulang ya tante bun ?" tanya Zahra.


"Udah nak, besok umi sama abi jemput Zahra,"

__ADS_1


"Yeeee ! Zahra kangen umi sama abi, kangen abang Al Fath, sama abang Al Rayyan, sama ummah sama abba juga," Seru Zahra.


"Sayangnya tante, kita pisah dong !" Kara tiba-tiba dilanda sedih, pasalnya Zahra adalah anak yang menggemaskan walaupun terkadang ia selalu bermasalah dengan Dewa yang menjadi rivalnya.


"Peluk sun dulu tante Ica dong sayang, pasti bakalan kangen Zahra deh, maafin Dewa yang selalu berantem dan usil sama Zahra,"


"Iya tante ga apa-apa," jawab bocah bermata bening dan bulat itu.


****


"Anak-anak, hari ini ada teman kita yang mau pamitan nih. Aduh ko ibu sedih banget ya !" ujar Bu Diana.


Anak-anak tk itu saling menoleh, "siapa ?"


Zahra maju ke depan atas permintaan bu Diana.


"Zahra, sini maju nak,"


Zahra berpamitan di depan kelas, seketika Cyara dan teman-teman yang lainnya menghambur memeluk bocah gemoy itu termasuk Ganesh.


"Zahla, jangan lupain Ganesh ya...nanti kapan-kapan main ke sini, atau nanti aku yang minta daddy buat main ke lumah kamu !" ucap Ganesh.


"Iya Ganesh, jangan lupain aku juga !"


"Zahra, aku pasti kangen!" ujar Cyara.


"Sama,"


"Cih, si gendut mau pergi. Pergi aja yang jauh ! Biar aku ga ada yang recokin, lagian cuma berantemin aku doang kalo disini, menuhin kota Jakarta aja !" decih Dewa.


"Dih, anak kaya kamu pasti banyak musuhnya. Aku ga pernah mau minta maaf atau maafin kamu !" jawab Zahra melotot.


"Siapa juga yang mau minta maaf sama anak cewek doyan berantem kaya kamu ! Anak cewek galak !" belum apa-apa mereka sudah ingin saling meraih satu sama lain dan gontok-gontokan.


"Awas aja ! Kalo kamu mau ikut main ke rumahku, aku bakalan nyuruh umi sama abiku buat usir kamu !"


"Ogah banget main ke rumah kamu, pasti jelek ! Jangan sampe aku ketemu kamu lagi !" ucap Dewa


"Stop ! Dewa, minta maaf hayooo ! Masa temennya mau pamitan kaya gitu,"


"Zahra, masa mau musuhan. Kan ada pepatah mengatakan seribu teman lebih baik dari pada satu musuh, itu artinya kita ga boleh punya musuh, sayang..."


"Ayo maafan, " pinta bu Diana pada keduanya yang ogah-ogahan.


.


.


.


.


Hayo, ada readers yang tau sama umi Salwa dan abi Zaky ngga ? Nah ini dia si gemoy Zahra, anak ketiga mereka....jangan berharap mimin kasih cerita mereka dalam waktu dekat ya guys, soalnya mimin tukang php 🤣🤣 mimin mau garap dulu kisah si aa natckalnya bunda Nara.

__ADS_1


__ADS_2