
Ica menatap sebuah rumah berlantai 2 tidak terlalu megah, namun lengkap fasilitasnya. Cocok untuknya dan Jihad membangun keluarga bahagia sesuai impiannya, di rumah ini lah nantinya Ica dan Jihad akan membina biduk rumah tangga dengan segala ujian, dan kebucinan.
Flashback on
Tidak ada barang apapun yang akan dibawa, hanya koper pakaian dan barang pribadi saja.
"Baru juga mau merajut tali kasih sama mantu ! udah pergi aja, " omel mama Vivi memainkan ujung rambut Ica, berharap Jihad dan Ica berubah pikiran untuk tidak segera pindah.
"Biar cepet beres mah, besok besok Ji, ga janji ada waktu banyak, buat urus pindahan, " jawab Jihad.
"Mamah bisa sering main ke rumah, atau Ica yang sering main kesini buat nemenin sama belajar masak," Ica pun sudah tak segan menggelayuti lengan mamah Vivi.
"Ji, apa ga sebaiknya Ica berenti kerja aja, biar kegiatannya cuma kuliah aja ?" tanya mamah Vivi.
Ica saling berpandangan dengan Jihad.
"Ntar Ji, yang galau di kantor mah, ga ada yang nemenin !" kekeh Jihad.
"Cih, bucin ! jadi mau kerja apa mau pacaran ?" tanya mamah Vivi.
Ica dan Jihad memasuki mobil, meninggalkan rumah kedua orangtua Jihad, untuk memulai membangun menara rumah tangga. Suka dan duka dirajut berdua tanpa harus melibatkan keluarga siapapun.
Flashback off
Terhitung sudah sebulan mereka disini, "Sayang, nanti siang jadi ikut reuni ?" tanya Jihad. Seharusnya acara reuni diadakan 2 minggu yang lalu tapi karena gedung sekolah yang sedang mengadakan penilaian akreditasi tahunan, makanya acara reuni diundur.
"Jadi dong ! " Ica menyodorkan sepiring nasi goreng, yang sudah mahir ia buat atas resep mamah Vivi.
Secangkir kopi dengan creamer favorit Jihad juga sudah terhidang di depannya. Menu sarapan Jihad tak jauh dari nasi goreng, sandwich atau sosis dan telur. Tapi Jihad suka itu, lelaki itu tidak pilih pilih pasal makanan, apapun yang disajikan Ica akan ia lahap, bahkan mungkin jika hanya nasi dan garam saja.
"Maaf ya, ga bisa nemenin. Ternyata pertemuan dengan klien ga bisa di undur atau di jadwal ulang, soalnya klien yang ini aga sedikit ruwet !" Jihad terlihat menyesal.
"Ga apa apa, kan bisa jemput pas pulangnya !"
"Hati hati jangan nakal, aku bakal tau kalo kamu macem macem !" ucap Jihad sarat akan ancaman, seraya memasukkan nasi ke dalam mulutnya.
***********
Ica memakai dress berwarna pink dusty, memakai beberapa perhiasan yang diberi Jihad, meskipun tidak mencolok, karena memang Ica tak senang dengan apapun yang berlebihan. Yup ! jabatan Jihad membuat Ica setidaknya merubah penampilannya, tidak mungkin seorang istri CEO berpakaian layaknya gelandangan, bisa malu 7 turunan.
Dengan diantar pak Wahyu, supir yang senantiasa menemani Ica kemanapun ia pergi, Ica menyusuri jalanan menuju gedung sekolah smp nya dulu.
"Pak, nanti saya turun aja di warung depan. Bapak pulang aja, biar nanti suami saya yang jemput, " jawab Ica.
"Baik bu, " jawab pak Wahyu.
Ica turun, ia melihat wajah wajah lama yang terlihat banyak perubahan.
"Ica ?!!" tunjuk Meli.
"Mel !!"
"Ini beneran loe kan Ca ?" seorang perempuan berjilbab yang tampak lebih gendut dari terakhir terlihat.
"Ica, beda banget loe ! cantik sumpah !!! udah sukses sekarang ?" tanya Meli mengusap lengan Ica dari bahu hingga ke jari, meneliti Ica seakan Ica barang antik di museum.
"Makasih, loe sentuh sentuh gini dibeli ngga nih? barang pecah belah nih, pegang artinya beli ?! " seloroh Ica membuat Meli rertawa.
"Btw anak anak yang lain udah pada ngumpul ?" tanya Ica.
"Udah ada Jali tuh sama Ulfa !" ajak Meli ke dalam sekolah.
"Li, ini !!" kedua temannya yang lain sampai pangling melihat perubahan Ica.
"Ya ampun Ca, zero to hero ! apa jangan jangan ini sewaan atau kw ya Ca ?!" seloroh Jali seperti dulu.
"Heh peakkk ! enak aja kalo ngomong, sewaan...gue nyuri di laundry sama toko perhiasan ! " jawab Ica, keempatnya tertawa. Ketiga orang inilah yang menemani Ica setelah Kara pindah. Mulai dari saling berbagi jajanan, ataupun berbagi penderitaan.
__ADS_1
"Bagi gue dong Ca, tips and trik jadi cantik gini !" senggol Ulfa.
"Mau tau ? gue ajak ke gunung Gede, mau ?" tanya Ica.
"Pesugihan atau susuk maksud loe ? Najiss !" tanya Jali mencebik.
" Mau lah gue, ga apa apa ntar yang gue tumbalin si Jali !" jawab Ulfa.
"Sue anj44yyyy !" cibir Jali.
"Btw kerja dimana sekarang loe Li ?" tanya Ica.
"Li tuh Jali apa Meli ?" tanya Meli. Keempatnya duduk diantara keramaian para alumni yang sama sama sedang melepas rindu.
"Loe berdua deh, kangen gue sama loe pada !" jawab Ica.
"Gue kerja pabrik karet Ca, " jawab Jali.
"Cocok ! mulut loe elastis kalo bully orang !" jawab Ica.
"Gue di hotel, " jawab Ulfa.
"Gue ibu rumah tangga, " jawab Meli.
"Pantes badan loe melarr, kalo ibu rumah tangga kebanyakan nanggung dosa makan bangk4iii sudara sendiri, alias ghibah, makanya loe lebar !" seloroh Jali yang sontak dihadiahi pukulan telak di bahunya dari Meli.
"Njirrr ! kurang aj4rr, ga tau kalo emak emak dah ngamuk, mulut sama idung pesek loe dijadiin rujak cingur !" sarkas Meli.
"Kamvreeettt !" umpat Jali.
"Loe sendiri di mana Ca ?" tanya Ulfa.
"Gue kuliah, sambil kerja. " jawab Ica singkat, tak ingin menyebutkan kalau bosnya adalah suaminya sendiri, ia tak mau disebut sombong, biar mereka tau dengan sendirinya jika memang sudah waktunya ketauan.
"Ca, Revan masih single tuh ! kayanya karma udah nyakitin loe deh Ca, makanya tiap punya hubungan ga pernah langgeng !" Meli tertawa menunjuk seorang lelaki berkemeja yang sedang sibuk menjadi panitia.
"Enak aja, gue mah ibu yang baik hati, versi versi ibu peri gitu !" jawab Meli menaik turunkan alisnya.
"Preeet ga caya gue !" jawab Ulfa.
"Percaya sama Meli mah musyriik Fa, percaya mah sama Allah, " timpal Ica.
"Dih, udah bertaun taun mulut loe bertiga masih sama aja ! pedes, bar bar !" decih Meli.
"Sama !!!!" sarkas ketiganya tertawa.
Acara dimulai dengan kata sambutan dari perwakilan alumnus, lalu perwakilan sekolah dan selanjutnya halal bi halal.
Mereka bernostalgia, saat band lawas sekolah dulu ikut meramaikan acara, dan mengajak menyanyi bersama.
"Mel, gue ke toilet dulu !" ijin Ica, diangguki Meli yang masih asyik bernyanyi mengenang masa lalu.
"Perlu gue anter ngga Ca ?" tanya Jali.
"Gue bukan nene nene jompo mesti loe bopong Jal, " tolak Ica.
"Kalo aja mau gue ajarin caranya cebok ?!" sontak kepalanya di dorong Ulfa dan Meli.
Langkah Ica menyusuri lorong gedung sekolah, ingat ingat lupa.
"Kalo ga salah ini deh jalan ke toilet !" gumam Ica.
"Ke toilet belok kanan Ca, " Ica tergelonjak kaget, menoleh ke arah belakangnya. Manusia yang paling enggan ia temui, kini malah sedang berjalan mendekat ke arahnya.
"Hay Ca, apa kabar ?" tanya Revan. Wajahnya masih sama seperti dulu hanya saja ditumbuhi jambang di sekitar wajahnya.
"Baik, " jawab Ica singkat, ia kembali berbalik sesuai tujuannya ke toilet, tapi tak disangka sepulangnya dari toilet ternyata Revan masih menunggu Ica di tempat tadi.
__ADS_1
Ica awalnya heran tapi ia menganggap seolah olah Revan tidak ada, bisa saja ia hanya kepedean jika Revan tengah menunggunya.
"Ca, loe kesini sendiri ?" tanya Revan membuka obrolan.
"Menurut loe ?" tanya Ica sinis, Revan mendengus, "loe masih semanis dulu Ca, tetep sinis kaya Ica yang dulu, galak galak gemesin," aku nya, membuat Ica membuat gerakan seolah ingin muntah.
Apa tuh maksudnya, mau rayu atau apa, pikir Ica.
"Loe juga masih sama kaya dulu, suka gombal gombal ga jelas, apa loe masih playboy kaya dulu ?" tanya Ica to the point, mulut Ica memang selalu tanpa saringan jika radarnya terhadap orang orang menyebalkan berbunyi.
Tak disangka Revan malah tertawa, "loe mahal Ca, nyesel gue dulu nyia nyia in loe, loe setia ga gampang di dekati sama cowok lain. "
"Re, maaf ini memang reuni tapi bukan waktunya buat nostalgia masa masa yang sudah lalu. Masa lalu pahit ada untuk menjadi pengingat, tapi bukan untuk terus disimpan. "
"Oke oke...sorry, gue masih ngerasa bersalah sama loe Ca, " jawab Revan.
"Tenang aja gue orangnya pemaaf ko, " jawab Ica ingin pergi, sebelum pertanyaan Revan membuat langkahnya terhenti.
"Loe masih sendiri Ca ?"
"Sendiri ataupun sudah punya pasangan bukan urusan loe, tapi sekedar informasi buat loe, gue sudah menikah, " jawab Ica melanjutkan langkahnya.
"Beruntung cowok yang dapetin loe Ca, " gumam Revan menatap kepergian Ica.
Acara sudah berakhir, tapi Jihad belum menunjukkan batang hidungnya. Ica sampai harus menunggu di warung tempatnya tadi turun. Menyesal pak Wahyu ia suruh untuk pulang. Jali sudah pulang bersama kekasihnya, Meli dan Ulfa sudah dijemput suami dan pacarnya. Kini tinggal Ica sendiri. Ditambah kakinya yang lecet sedari tadi karena sepatu hak tingginya.
Seseorang turun dari motornya, "Ca, nunggu jemputan ?" tanyanya.
"Iya, " jawab Ica merotasi bola matanya.
"Gue temenin ya, disini sepi, warung juga tutup, takut ada orang jahat ! disini rawan kejahatan Ca, " jelasnya.
Ica berfikir dan menimang nimang, ia tak tau kapan Jihad sampai sedari tadi ponselnya tak bisa dihubungi.
Revan duduk di samping Ica, yang sontak menjauh memberi jarak. Ia hanya tersenyum.
"Atau mau gue anter ?" tanya Revan, jelas saja Ica menggeleng.
"Ga usah, bentar lagi juga laki gue nyampe !" jawab Ica ketus.
"Ya udah gue temenin aja loe disini deh," jawabnya, Ica menggidikan bahunya tak peduli. Bukan moment ini yang ingin Ica lewati, apalagi jika sampai Jihad tau.
"Ca, inget ga dulu..moment ini pernah kita alamin juga ! waktu jamkosnya pak Danu, kita bolos malah kejebak karena ban motor ku yang bocor ?!" kekeh Revan.
"Ga tau, lupa !" sungguh Ica tak mau mendengar apapun yang diucapkan Revan apalagi tentang masa lalu keduanya. Ditambah rasa pusing dan mual yang tiba tiba mendera membuat Ica hilang fokus pada ucapan Revan.
"Huweeekkk !!!" Ica melimpir ke arah samping warung memuntahkan kembali isi perutnya.
"Eh, Ca ! loe kenapa ?" tanya Revan panik, refleks lelaki ini memijat tengkuk Ica, membantunya mengeluarkan isi perutnya. Ica terlihat menolak dengan menggidikan bahunya tapi Revan kekeh membantunya.
"Loe sakit Ca ?!" tanya Revan, memegang ujung rambut Ica agar tak terkena muntahan, Ica menggeleng.
"Gue anter pulang ya ?! kalo sakit ngapain harus datang sih ?" baru saja berkata bahkan mulutnya masih basah, sebuah bogeman mentah mendarat mulus di rahang Revan.
"Jangan sentuh istri gue !!!"
"Ji ! "
"Huweekkk !!" Ica begitu tersiksa dengan rasa mualnya, hingga tak bisa melerai dan menengahi Jihad yang memb abi buta menyerang Revan.
.
.
.
.
__ADS_1