Me VS Crazy CEO

Me VS Crazy CEO
Obrolan abang


__ADS_3

"Bisa kita bicara sebentar ?" tanya Riski.


"Minggir dulu bentar, gue cuma mau ngobrol doang sama cowok loe, " ucap Riski pada Ica.


"Ga usah ngadi ngadi deh bang, ini gue mau nonton ! jangan sampe nanti bioskopnya keburu udahan, " sela Ica, baru saja akan ngapel harus direcoki abang abangnya. Begini amat nasibnya.


"Boleh bang," jawab Jihad, tak sedikit pun terdapat raut wajah gugup ataupun takut. Apa yang harus ditakutkan toh Riski sama sama manusia yang makannya masih nasi, bukan logam.


"Bentar ya, " Riski keluar diekori Jihad.


Ica sebenarnya penasaran, tapi niatnya untuk menguping ditahan oleh Galih.


"Mau kemana? ini urusan cowok, loe diem !" Galih ikut keluar. Jangan sampai Jihad di keroyok 2 kaka absurdnya. Ah tidak, yang ada kedua kakanya babak belur oleh Jihad.


Riski duduk di kursi di depan teras rumahnya, bersama Jihad di sampingnya sedangkan Galih berdiri seraya mengawasi Ica.


"Ica bukan berasal dari keluarga yang kaya, jadi gue ga tau apa yang loe sukai dari adek gue itu, Ica..adek gue yang paling tangguh, dia ga pernah ngeluh tentang masalah hidupnya, dia ga pernah merengek minta sesuatu. Dia sering ngerasain kepahitan hidup, gue berharap loe ga mainin hatinya, Ji..sebagai seorang abang yang terkenal usil. Bukan gue tidak peka dengan setiap masalahnya, ini adalah sebuah permintaan seorang abang buat adeknya...kalo loe emang beneran sayang sama Ica seperti apa kata ka Novi, buat dia seneng, Ica ga butuh harta melimpah, ntar dia sawan kalo dikasih kaya..cukup jadi sayap pelindungnya dan jadilah orang yang selalu ingin dilihatnya setiap hari."


"Saya menyukai Ica dan menyayangi Ica bukan karena harta atau karena ada sesuatu dari Ica, saya memang serius, bahkan saya menunggu Ica sejak masih SMA, jadi abang ga perlu khawatir. Laki laki itu yang dipegang ucapannya, saya tidak akan berjanji untuk apapun, tapi abang bisa percaya saya, " jawab Jihad.


Bang Riski berdiri, dan menepuk pundak Jihad, kemudian masuk ke dalam rumah.


"Kapan kapan kita mabar, kalo loe menang..gue kasih tau si Ica tuh takutnya apaan biar loe gampang ngadepin dia kalo lagi kumat gilanya !" Galih pun menepuk pundak Jihad dan masuk.


"Ngomong apaan bang ?" tanya Ica saat Riski masuk ke dalam rumah.


"Baliknya jangan malem malem, disini lagi musimnya wewe gombel !" jawab Riski, membuat Ica manyun, dan Galih tertawa.


"Loe ga diapa apain kan bee?" tanya Ica melihat setiap inci tubuh Jihad.


"Engga, diapain emangnya ? " kekehnya.


"Ga dikeroyok atau dipalakin kan ?" tanya Ica khawatir. Jihad tertawa, ia menyamakan tingginya dengan tinggi Ica, wajahnya tepat di depan wajah Ica.


"Kalo ciuman disini, bakalan di grebek terus di arak ngga kira kira ?" tanya Jihad, tersenyum menyeringai.


"Ck, dasar CEO gila !" Ica menepuk jidat Jihad.


"Ga usah macem macem, mau ditimpuk warga ?!"


"Ya udah jadi ngga? nanti keburu malem, sekalian aku mau ajak kamu ke satu tempat, " Jihad melirik arlojinya.


"Aku ? kamu ?" Ica tergelak.


"Kenapa? masa masih loe gue ? kasalll, kaya tembok yang belum di aci, " jawab Jihad.


"Geli bee, " gumam Ica, Jihad menggandeng tangan Ica menuju dimana mobilnya berada, seperti anak tk yang berjalan bersama.


Bukan film romantis yang suka bikin baper, ataupun film horor yang bikin si perempuan berteriak histeris sambil meluk meluk si lelaki yang mereka pilih, tapi film aksi, film favorit keduanya. Tanpa kedua genre film itu pun suasana romantis dapat tercipta, tergantung orangnya. Teh Mira dan bang Riski saja romantis dan bikin si Momo di kamar mandi, bukan pas lagi nonton film romantis melainkan saat yang satu kebelet kencing dan yang satu tanggung cuci piring.


"Bee, tadi bang Riski ngomong apa ?" tanya Ica di jajaran bangku ke4 dari belakang. Tangan Ica tak lepas di genggam Jihad. Jika uang kertas, mungkin sudah lepek karena di genggam terus.


"Bukan apa apa, cuma nitipin anak tuyul katanya, jangan sampe kelaperan !" kekeh Jihad.


Ica mengerucutkan bibirnya, "ck!" Jihad menoleh, dan mengusap pipi Ica dengan punggung tangannya, ia begitu terpesona dengan gadis yang sudah menancapkan namanya begitu dalam di hatinya sejak SMA ini. Dulu keduanya tak sampai begini, malah terkesan sering bertengkar, tapi itulah cara keduanya mengungkapkan rasa sayang, beda halnya dengan sekarang. Keduanya telah sama sama dewasa meskipun terkadang perdebatan tak bisa mereka hindari.


"Sejak kapan bisa dandan ?" tanya Jihad.


"Sejak jaman majapahit !" jawab Ica, sontak Jihad menoyor kepalanya.


"Kalo ditanya tuh yang bener bakwan !" sarkasnya.


"Sejak keluar sekolah, ibu yang suruh...katanya cewek harus bisa make up, biar ga dikata cewek jejadian, " jawab Ica berbisik. Bukannya fokus dengan film yang tengah di tonton, keduanya malah mengobrolkan hal yang tak penting.


"Bisa ga pertanyaannya di simpen buat ntar, itu sayang kalo ga ditonton, udah kamu bayar kan tiketnya ?!" jawab Ica lagi.


"Cuma 100 ribu doang, pemandangan di samping aku tak ternilai harganya, " jawab Jihad.


"Jadi selama di London belajar gombal juga ya ?" tanya Ica.


"Cewek tuh selalu gitu, disebut cantik gombal disebut jelek marah marah, terus harus di sebut apa? ganteng ?" omel Jihad, Ica tertawa kecil.


"Serba salah ya? salah semdiri mau sama cewek, " jawab Ica.

__ADS_1


"Kalo aku ga normal mungkin saat ini yang kugombalin Milo !" ujar Jihad, semakin membuat Ica gemas. Niatan nonton malah jadi berantem berantem manja di dalam bioskop untuk keduanya.


"Kalo kamu suka, mulai besok aku kaya gini, tapi harus siap jadi donatur buat uang make up ku ya !" kekeh Ica.


"Berapapun bakal ku kasih, apalagi kalo udah jadi istri, " jawab Jihad.


"Gombal lagi ?" Ica mendelik.


"Bukan, serius !"


"Jangan serius serius lah ! masih belum larut !" jawab Ica berbisik, Jihad menyeringai, ia menundukkan kepala Ica dan memasukkannya ke dalam t shirtnya.


"Aduhhh, bee...ihhhh !" aduh Ica membuat penonton lain sedikit terganggu dengan tingkah keduanya.


Ica yang kembali fokus menonton, tak terlalu sadar jika ia sedang diperhatikan Jihad, Jihad malah sudah membalikkan badannya ke arah Ica sejak awal film diputar.


"Bee, "


"Yes honey...kayanya lebih cocok dipanggil honey buat malam ini, " jawab Jihad.


"Serah loe deh, asal jangan dipanggil bakwan aja kaya tadi !" dumel Ica.


"Kamu dari tadi liatin aku ?" tanya Ica, Jihad mengangguk.


"Kamu ga mau balik apa ?" tanya Ica,


"Ngapain balik ?" tanya Jihad.


"Ini filmnya udahan !!" Jihad baru saja menyadari jika filmnya sudah berakhir.


Ia tertawa menyadari kebodohannya.


Malam semakin menunjukkan eksistensinya, kehidupan malam di pertengahan kota malah semakin menjadi, namun semakin indah bagi penikmat dunia malam.


"Kita mau kemana?" tanya Ica, sepulang dari bioskop.


"Makan, " jawab Jihad, Ica diam tak menjawab lagi, perutnya pun memang sudah minta diisi ulang.


Bukannya ke restoran mahal ataupun atap sebuah gedung, Jihad malah membawa Ica ke sebuah warung pinggir jalan, warung ini tak asing untuk mereka, warung baso yang menjadi kenangan dimana Jihad dulu pernah menyatakan cintanya pada Ica namun hasilnya malah digangung kaya jemuran.


"Aku cuma mau mengenang masa dulu, waktu kamu gantung aku ! inget kan ?" tanya Jihad, Ica melirik ia mencubit Jihad.


"Masih inget aja, iya sorry...kenapa bawa lagi kesini ? mau digantung lagi ?" tanya Ica.


"Bukan, mau nyemilin tahu keringnya !" jawab Jihad. Keduanya duduk di tempat yang sama saat 6 tahun lalu. Lalu memesan basonya.


"Disini aku nyatain perasaan aku sama kamu, honey ! dan kamu nolak aku, sekarang aku mau ubah sejarah itu, aku mau hapus kenangan buruk itu..jadi dimanapun kita nanti..selalu ada kenangan indah buat dikenang !" jawab Jihad.


"Bee, kamu so puitis gini ga salah minum obat kan ?" tanya Ica.


"Ck, mau diromantisin malah dibilang salah minum obat, maunya apa nih cewek ! gue masukin t shirt juga nih !" jawabnya.


Jihad mengeluarkan sebuah kotak, dari dalam saku celananya.


"Apa ini?"


"Buka aja, " pinta Jihad.


Tangan Ica meraih kotak kecil bludru berwarna biru dongker itu, dan membukanya.


Sebuah kalung berliontinkan huruf A.


"Sini aku pasang, abis ini jangan digadein buat uang semesteran ya !" Jihad memasangkan kalung itu di leher Ica. Ia menarik senyumannya, Ica tergelak mendengar omelan Jihad.


"Kalo kepepet sih boleh deh kayanya !" jawab Ica terkikik.


"Done cantik, dengan kaya gini, kamu udah ada labelnya..kamu cuma punyaku honey !" ucap Jihad.


"Udah kaya guguk di pakein kalung, bee !" jawab Ica.


"Guguk cantik !" menyatukan dahi keduanya.


"Bee, ini seriusan kita makan baso ?" tanya Ica.

__ADS_1


"Untuk saat ini iya, nanti pulangnya kita beli makanan dibungkus, biar orang rumah bisa ikut makan, tapi sebelumnya aku kasih dulu serbuk pelet, biar keluarga kamu restuin kita, " jawab Jihad.


Alhasil bukan hanya perut Ica saja yang kenyang, tak tanggung tanggung Jihad membelikan semua makanan di sepanjang jalanan yang mereka lewati saat pulang. Jihad pamit karena sudah larut.


"Wowww ! ini beneran Ca?" tanya Ka Novi yang mendengar Ica pulang dan terbangun, bak ketiban durian runtuh sama pohon pohonya, kebetulan sekali malam malam begini ia ingin sekali nyemil.


"Rejeki emak sholeha ini mah !" ucapnya berseru. Ica terkikik,


"Emak sholeha gimana? loe nya aja sengaja bangun !" jawab Ica.


"Ini ga nyusahin kan ? bukan kamu yang minta kan Ca?" tanya teh Mira. Ica menggeleng,


"Ica dulu emang sering minta traktiran teh, tapi kalo sekarang tau diri, " jawabnya, Ica lebih menjaga mulutnya untuk saat ini, karena bukan tidak mungkin Jihad akan membelikan semua yang ia inginkan.


"Si Jihad lebih ngerti kalo ceweknya tuh ijo sama traktiran !" ujar Galih.


"Si Ica yang diapelin, gue yang kenyang ! bilangin besok thanks sama Jihad, besok besok lagi ya !" lanjut Galih yang sibuk mengunyah makanannya.


"Huuu, loe menang banyak !" jawab Ica.


Setelah menikmati makanan yang tadi dibelinya. Ica kembali ke kamar, ia merebahkan diri di ranjang, menatap langit langit kamarnya yang berwarna putih lusuh, hingga ia terlelap. Membawa kenangan indah apel pertamanya.


Seperti biasa, Ica meminta berhenti di tempat yang sama.


"Sampai kapan kita mau kucing kucingan terus ?" tanya Jihad.


Ica tersenyum, "aku belum siap bee, apa nanti kata orang orang kalo liat kita pacaran?"


Jihad menghela nafasnya, "ya udah turun, debat sama kamu cuma bisa bikin ngenes, "


"Maaf ya, aku turun disini..." Ica mengusap rahang tegas Jihad dan mengecupnya, sebagai obat penurun amarah Jihad.


"Hati hati, " ucap Jihad.


Tak tau kapan datangnya, Asep kembali merangkul Ica, membuat Jihad kembali meradang. Jihad menjalankan mobilnya dan menginjak gas tepat di samping posisi Ica.


"Hm, masalah...nih, gue !"


Benar saja, baru masuk ruangan kebersihan 5 menit dan menyimpan tasnya di loker, Jihad sudah masuk ke ruangan kebersihan.


Matanya menatap tajam,


"Pagi bu Warni, "


"Pagi pak Alvian, "


"Ada keperluan apa ya pak, bapak sampai datang kesini?" tanya bu Warni.


Para office boy berdiri menunduk, tak berani melihat aura kelam sang CEO.


"Humaira Khairunisa, ikut saya !" Ica yang sudah tau pasti ada sangkut pautnya dengan masalah tadi, pasrah mengekor.


"Iya pak, " jawab Ica.


"Bee, " panggilnya.


"Ga kaya gitu ko, " tambahnya.


"Ga kaya gitu gimana ?" geeutu Jihad.


"Aku ga tau kalo Asep bakalan rangkul rangkul..." jelas Ica berjalan di belakang Jihad.


Tubuh atletis yang terbalut jas itu menghentikkan langkahnya, membuat Ica terantuk punggung kokohnya.


"Awwshhh ! kalo mau berenti bilang bilang dulu kenapa, bee ! kan jadi kejedot !"


Jihad berbalik, dengan sekali hentakan ia menggendong Ica dan berlari.


"Eeehhh !!!"


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2