Me VS Crazy CEO

Me VS Crazy CEO
Serangan jantung


__ADS_3

"Om !" sapa Milo pada om Riza dan tante Vivi.


"Bagaimana Mil ?" tanya om Riza, memapah sang istri duduk di samping Ica.


"Ya Allah Kara sampai ketiduran begitu Mil, sebaiknya kalian pulang saja, " jawab tante Vivi.


Kara menggeliat, "sayang, maaf aku ketiduran !" Kara terbangun.


"Kenapa bangun by, tidur aja.."


Ponsel Milo bergetar, ia segera meliriknya, senyumnya tersungging.


"Om, Jihad masih hidup !" ucap Milo. Seketika keempat orang ini terkejut, sekaligus ada angin segar yang menyapa.


"Dimana ka Milo ?!!" seru Ica.


"Ya Allah alhamdulillah !!" jawab om Riza dan tante Vivi.


"Yang bener sayang ? kamu ga becanda kan ?" tanya Kara.


"Dimana ka Milo, gue harus ketemu Jihad !" jawab Ica.


"Ada riwayat penarikan sejumlah uang hari ini di jam setelah kecelakaan pesawat atas nama Alvian Jihad, maaf om..Milo dan Keanu sudah lancang mengawasi akun bank Jihad dan keluarga, " jawab Milo.


"Kenapa kamu minta maaf, om yang sangat berterimakasih banyak Mil, "


"Dimana itu ?!" ada secercah harapan, dada yang terasa begitu sesak kini bisa kembali menghirup udara segar.


"Di Jogja om, "


"Penarikan itu digunakan di sebuah rumah sakit swasta, atm dan gerai makanan, " jawab Milo.


"Rumah sakit ?!!!" tanya keempatnya.


"Harusnya sih sudah sampai," gumam Milo.


Ica kembali menangis, "Jihad kenapa ka Milo, Jihad ga apa apa kan, tapi Jihad masih hidup kan ka Milo ?!" Ica beralih mengguncangkan lengan Milo.


"Apapun bakalan gue lakuin asal Jihad ga apa apa, dalam keadaan baik baik aja ka Mil, " ucap Ica di tengah sesenggukannya.


"Gue selalu berharap kalau Jihad ada disini, gue nyesel udah sia siain waktu, " lanjut Ica menunduk menangis pilu.


"Udah Ca, yang penting kita tau kalau Jihad masih hidup, "


"Gue mau susul ke Jogja !!" jawab Ica.


"Mau ngapain ?!" tanya Milo.


"Ka Milo gimana sih ! Jihad disana ka, di rumah sakit kan ?!"


"Bener kamu mau lakuin apapun buatku, Ca ?!" suara itu jelas di pendengaran Ica dan keempat lainnya.


Ica mendongak, masih tak percaya. Tante Vivi menghambur memeluk sosok itu, sedangkan Ica masih dalam keterpakuannya.


"Ya Allah Ji, " Kara menutup mulutnya.


"Iya mah, alhamdulillah !" jawab Jihad membalas pelukan ibu dan ayahnya.


Jihad berjalan menghampiri Ica.


"Blughhh !!"


Ica menabrak dada Jihad, memeluknya erat, seakan tidak mau kehilangan lelaki ini lagi, dan menangis disana.


Jihad tersenyum, "hey, aku disini !"


"Ini kamu kan ? bukan hantu ? bukan cuma mimpi ku doang ?!" tanya Ica mendongak seraya menangis sesenggukan.


Jihad mencubit pipi Ica, "sakit ?" Ica mengangguk lalu kembali menyarangkan wajahnya di dada Jihad.


"Jangan pergi lagi, " ucap Ica. Jihad memeluk Ica dan menciumi pucuk kepala gadis itu.


"Aku bau loh ! seharian ga mandi !" ucap Jihad.


"Kamu tetep wangi, "

__ADS_1


Tante Vivi mengurut dadanya, lega.


"Sebaiknya kita pulang dulu sekarang, sudah larut !" pinta om Riza.


"Mil, pulanglah ke rumah om biar Ica ada yang menemani. Bawa Ica ke rumah saja dulu Ji, sudah malam !" ucap om Riza.


"Iya pah, "


Sepanjang jalan Ica tak mau lepas dari pelukannya pada Jihad, ia tak mau ini hanya mimpi, ia tak mau saat ia kembali membuka mata Jihad tak lagi disana.


"Thanks Mil, sudah menjemput !" ucap Jihad di dalam mobil.


Milo yang sedang menyetir mengangguk.


"Sama sama, bini gue loe bikin nangis juga, karena daddy nya ilang !" jawab Milo.


Jihad melirik pelukan erat Ica, ia baru sadar jika Ica memakai jaketnya, dan masih memakai baju kantornya.


"Kamu masih pake baju kantor?" tanya Jihad. Ica masih belum bisa berkata kata, yang ia inginkan hanya memeluk lelaki ini dan tak lagi melepaskannya.


"Ica dari siang di rumahmu Ji," jawab Kara.


"Ica langsung dari kantor, " jawab tante Vivi.


"Lalu Juwita dan pak Muni ?" tanya papa Riza.


" Juwita masih menemani pak Muni di RS, sampai keluarga pak Muni datang, tapi orang suruhan Milo masih disana bersama Rayhan yang langsung terbang ke Jogja," jawab Jihad.


"Memangnya pak Muni kenapa ?" tanya mama Vivi.


"Mendadak pak Muni kena serangan jantung mah, saat pesawat mau take off, padahal kami sudah duduk dengan nyaman," jawab Jihad.


Flashback on


Para penumpang sudah duduk di tempat masing masing.


"Huwaaaaa !!! mamah Mia mau bobba, ayukk mah kita beli dulu bobba !!" tangis anak perempuan di bangku depan Jihad menangis.


Jihad merasa kasihan dengan ibunya yang sulit menenangkannya, ia merogoh saku jasnya, ada sebuah lolipop kembalian tadi saat membeli minuman.


"Eh, tuh ada om ganteng mau kasih permen !" ucap ibunya.


Anak itu berhenti menangis dan mengusap air matanya kasar, meraih permen itu ragu ragu dari tangan Jihad.


"Makasih om," cicitnya.


"Ji, minggu depan gue minta cuti, mau liburan sama Rayhan !" ucap Juwita di belakangnya.


"Oke, tapi jangan lama lama !" jawab Jihad. Pak Muni meringis, dan memegangi dadanya.


"Kenapa pak ?!" tanya Jihad.


"Dada saya pak, " pak Muni benar benar kesakitan.


Jihad kembali beranjak, "Ta, pak Muni !" saat pak Muni hilang kesadaran.


"Mbak !!!" pekik Juwita memanggil pramugari. Jihad dan Juwita dan sejumlah pramugari membawa pak Muni keluar dari pesawat.


"Pak Muni punya riwayat penyakit jantung, Ta...gue harus bawa pak Muni ke rumah sakit, sorry gue sama pak Muni batal dulu penerbangan ini, kalo loe mau balik duluan gue memaklumi."


"Gue sekertaris loe Ji, gue yang siapin semua kebutuhan loe ! gue ikut, eh tas gue Ji, hape sama dompet !" ketiganya menuju rumah sakit dengan taksi dari bandara menuju rumah sakit terdekat.


"Tas gue juga masih disana Ta, laptop, semuanya ! untunglah dompet di saku."


Jihad dan Juwita segera melarikan pak Muni ke RS.


"Gue check ini, bayar administrasi dulu !" ucap Jihad.


"Iya, gue nemenin pak Muni, " jawab Juwita.


"Mbak, pasien Muni kamar VIP, pake debit ya !"


***


Tak berselang lama, Jihad kembali dengan membawa 2 buah paper bag berisi makanan dan minuman dari gerai makanan yang ada di depan RS, masuk ke dalam ruang rawat pak Muni.

__ADS_1


"Ji !" tunjuk Juwita pada layar tv yang ada di ruang rawat pak Muni.


"Astagfirullahaladzim, ya Allah ! " gumam keduanya. Melihat berita bahwa pesawat yang seharusnya membawa mereka kembali ke Jakarta meledak diatas udara beberapa menit setelah take off.


"Orang rumah pasti khawatir Ji," ucap Juwita.


"Iya Ta, kita tunggu saja Ta..gue yakin Milo bisa nemuin debit card gue yang sudah gue pake, nih ! loe makan dulu, "


Flashback off


"Allah masih sayang loe bertiga, nih orang orang udah panik, si Ica mewek mulu tuh sampe matanya bengkak, " jawab Milo.


Jihad melirik perempuan yang ada di dekapannya, tapi ternyata Ica tertidur, ia benar benar lelah menangis seharian.


"Alhamdulillah, baru kali ini gue ngucap syukur karena seseorang sakit," jawab Jihad.


Serangan jantung yang pak Muni alami, menyelamatkan mereka dari maut. Bahkan Jihad masih bisa mengingat penumpang yang ada di depannya, seorang anak perempuan yang menangis karena ingin membeli minuman di cafe bandara, dan Jihad memberikannya sebuah lolipop.


Beberapa penumpang kelas bisnis yang bergelimang harta, tapi harta itu tak dapat menyelamatkan mereka dari maut. Ia menyenderkan punggungnya yang lelah. Padahal seharian hanya menjaga pak Muni di RS.


Ica sampai sesenggukan dalam tidurnya, betapa gadis ini sangat kehilangan dirinya, jika dirinya benar benar pergi. Tangan Jihad terulur mengusap rambut Ica dan kembali mencium kepala kekasihnya.


Kara dan Milo masuk ke kamar tamu, sedangkan Jihad menggendong Ica masuk ke kamarnya, dan ia tidur di kamar Jian.


"Have a nice dream bakwan, " guman Jihad menyelimuti tubuh Ica dengan selimutnya, Ica menggeliat, matanya yang bengkak mengerjap.


"Jangan pergi lagi, bee !" pintanya memegang tangan Jihad yang ingin pergi.


"Aku mau mandi bakwan sayang, "


"Tapi nanti balik lagi kan ?" tanya Ica. Jihad mengangkat alisnya sebelah.


"Iya, masa mau sekamar berdua ?!" goda Jihad.


"Aku mau tidur sama kamu, bee ! jangan pergi, " pintanya masih pilu.


"Kalo kena grebek ? kalo aku kelepasan?" tanya Jihad menggodanya, Ica diam.


"Ya udah, tapi aku mandi dulu. Badanku udah lengket, " Jihad melepas tangan Ica dan mengambil baju gantinya dalam lemari.


Ica terbangun, ia hanya ingin memastikan jika lelakinya ini nyata, ia sampai berjongkok menunggu Jihad di luar pintu kamar mandi.


"Bee, itu beneran kamu kan bee ! kamu masih nafas kan ?" ujar gadis ini. Jihad hanya bisa tertawa dengan kelakuan Ica, sampai mandinya selesai Ica masih disana.


Jihad menggosok rambutnya yang masih basah.


"Emang ada hantu seganteng ini ?!" tanya Jihad, Ica kembali memeluk lelaki ini.


"Jangan tinggalin aku lagi, sekarang kemanapun kamu pergi aku ikut !" Ica mendongak.


"Termasuk pas aku bok3r ?!" tanya Jihad.


"Kecuali yang itu, aku nunggu di luar kaya tadi !" jawab Ica.


"Beuhhh, " Jihad memasukkan Ica ke dalam t shirtnya.


"Kamu wangi bee, tapi aku belum mandi dari siang, " jawab Ica.


Jihad tertawa, "ya udah kamu tidur lagi, ini sudah jam satu malam ! besok aja mandinya, " ucap Jihad.


"Temenin, " pinta Ica.


"Mandi ?!" tanya Jihad.


"Maunya kamu !" Ica mendorong pelan kepala Jihad.


"Tidur bee, "


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2