Me VS Crazy CEO

Me VS Crazy CEO
CEO gila, antimainstream


__ADS_3

Jihad seperti orang yang baru saja kembali dari kematian. Orang orang menatapnya tak percaya.


Begitupun Ica, mereka tak lagi menyepelekan gadis itu, setelah Jihad mempublish hubungan mereka.


"Apa harus saya panggil ibu ?" tanya bu Andar.


"Ica aja bu, " jawab Ica, ini yang ia tak mau, orang orang jadi canggung terhadapnya.


"Ica !!!" pekik Setyani.


"Setya ?!" Ica menoleh.


"Woahhh ! calon bu bos, ga nyangka Ca ?! gimana kabar pak bos ? sehat kan ? beneran kemaren pak bos lolos dari maut ?" ternyata gosip cepat sekali menyebar.


"Baik, Setya..." senyum Ica.


"Kapan kapan mampir dong ke ruang kebersihan !" jawab Setyani.


"Iya ya, udah lama gue ga main kesana ! gimana masih sama ?" tanya Ica masih menggenggam satu tumpuk laporan di tangannya.


"Masih aja, gosipnya katanya mbak Sari deket sama salah satu karyawan disini !" jawab Setyani.


"Widihhhh, keren ! ada peningkatan, terus loe apa kabar?" tanya Ica.


"Masih gini gini aja Ca, "


"Nanti istirahat mampirlah, gue traktir makanan warteg, gue lagi ultah ! masih suka sama makanan murah kan Ca ?" goda Setyani.


"Oh ya ?! pibesdey Setya, ck..jangan gitu ! gue mah masih suka apalagi yang berbau gratisan !" tawa Ica.


Ica memang sudah berubah status, tapi tidak dengan sifat dan pribadi sahajanya.


"Baru nemu gue modelan calon istri CEO, doyannya gratisan makanan warteg !" jawab Setyani, Ica tergelak.


"Ya udah gue kerja dulu ya ! perut gue masih butuh jajan, kampus gue masih butuh buat dibayar, " jawab Ica.


"Semangat pejuang receh !!" jawab Setyani, Ica tergelak.


"Recehnya gue sekarang lembaran merah sama biru, Setya !"


Jihad masih berada di rumah untuk ijin, begitupun pak Muni dan Juwita.


"Hallooooo ferguso, cabelita dan bulgozooo !!!!" Ica membuka pintu ruang kebersihan dan berseru dengan sekeresek penuh minuman dan cemilan.


Di dalam ada Asep, Budi dan Setyani.


"Hahahahaha, ga ada yang lain apa panggilannya ! berasa di film marimar gue !" jawab Budi.


"Ada yang kangen sama biduan ruang kebersihan ?!" tanya Ica melepas heelsnya.


"Kangen banget gue !!!" jawab Asep dan Setyani.


"Apa kabar guys ?!"


"Well well...ini dia si upik abu yang berubah jadi Cinderella, " jawab Asep.


"Hahahaha, mana ada lah ! julukan loe kurang asem lah !"


Ica bergabung duduk melantai dan makan dari bungkusan coklat nasi rames.


"Hemmm, gue dah lapar lah !" Ica mengangguk anggukan kepala.


"Gue kira kalo dah jadi calonnya istri CEO makanan loe kaya mbak Sari mesti di kantin kantor ?" tanya Asep yang menyuapkan tiap butir nasinya menggunakan tangan.


"Mahal ! cekak dompet gue kalo akhir bulan, balik lagi ke warteg sama mie instan !" jawab Ica.


Mereka tertawa, calon istri CEO pun manusia, rupanya ia tak memanfaatkan kebaikan dompet Jihad. Ica bukan manusia aji mumpung.


"Enak makan tuh kalo ada calon laki, kalo dia cuti gini auto cekak lah !" jawab Ica.


"Emang ga pernah dikirimin duit Ca ? duit jajan gitu ?" tanya Budi.

__ADS_1


"Gue yang nolak, kartu atm yang dia kasih ga pernah gue pake, masih utuh, masih diplastikin, ga etis lah ! gue masih calon, kalo sampe ga jadi terus loe suruh mulangin duitnya, loe mau ? setidaknya gue masih punya harga diri yang dijunjung tinggi, gue belum jadi tanggung jawabnya dia. Kecuali kalo ditawarin, dijajanin itu beda lagi !"


Mereka mengangguk angguk setuju dengan prinsip so suci Ica.


"Kapan loe married ?"


"Bulan depan, "


"Wahhh, bentar lagi gue mesti nyiapin baju baru !" jawab Setyani.


Di tengah tengah obrolan santai mereka, mbak Sari masuk dengan wajah kacaunya. Keempatnya terdiam.


"Mbak, makan ?!" tawar keempatnya.


"Sini gabung mbak !" ajak Ica.


"Engga, ga usah so baik !" jawabnya ketus, matanya sembab dan bengkak, ia mengambil tasnya.


"Bilang sama atasan saya ijin sakit, huweekkk !" ia menutup mulutnya berlari ke kamar mandi.


Mereka masih bengong.


"Dari ucapan gue ada yang salah ngga sih ?" tanya Ica.


Rasanya apapun yang ia ucapkan selalu salah di mata mbak Sari. Mereka menggeleng.


"Ga usah di masukkin ke hati, Ca ! dia kan emang gitu orangnya !" jawab Setyani.


"Ngerasa ngga sih, akhir akhir ini mbak Sari sering murung sama sering ijin sakit ?!" tanya Asep berbisik.


"Hah ?! ada apa, ada apa?? apa ada yang gue lewatin ya ?" tanya Ica menjilati jari jarinya yang terbalut sambal.


"Banyak oneng, " sarkas Asep.


"Semenjak pacaran sama pak Bayu ?" tanya Budi.


Rupanya teman teman ob nya adalah mata mata terbaik disini. Maklumlah, mereka bisa berada dimanapun yang mereka mau, dengan alasan bersih bersih.


"Pak Bayu yang mana ?" tanya Ica.


"Ih pak Bayu itu mah udah terkenal playboy tua, duda..aku aja sering digodain !" jawab Setyani.


"Hah ?! ada juga ya karyawan begitu disini ?" tanya Ica.


"Ada lah, dikira yang kerja disini dewa semua ?!" jawab Asep.


"Terus ?!" Ica kembali menyuapkan nasi ke dalam mulutnya.


"Mereka sering jalan jalan, tapi minggu minggu ini mereka sering berantem di koridor, sampe mbak Sari nangis nangis !" jawab Setyani.


"Elah ketimbang diputusin sama bandot tua aja sampe segitunya ! cowok masih banyak kaliii !" jawab Ica.


"Pernah aku liat pak Bayu jalan sama cewek lain, " jawab Budi.


"Terus ?!" tanya Ica penasaran. Ketiga temannya seketika diam saat melihat ke arah belakang Ica.


Orang itu berjongkok di sebelah Ica, "kamu ngapain kepo sama urusan orang, "


"Astagfirullahaladzim !" seru Ica terkejut.


"Bee, kaget aku.." nyengir Ica.


"Tuh cabe nyempil di gigi !" jawab Jihad yang memakai baju casualnya menyusul Ica.


"Kamu ngapain disini ? kan masih istirahat ?" tanya Ica. Tanpa malu ataupun takut kotor, Jihad ikut duduk melantai bersama mereka. Ada rasa segan dari ketiga teman ob Ica.


"Aku cariin buat makan siang bareng, tapi kamu ga ada di ruangan divisi umum, katanya kamu ada di sini ! pas aku liat kamu lagi buka forum ghibah !" jawab Jihad.


"Maaf pak Alvian, " ucap Setyani menelan makanannya susah.


"Tidak apa, tak usah sungkan !" jawab Jihad.

__ADS_1


"Biasa aja, ga usah kaya lagi berhadapan sama presiden, " jawab Ica.


"Kamu jauh jauh kesini mau ngajakin makan siang ?" tanya Ica, Jihad mengangguk. Ica mencomot dan mengepal nasi beserta lauknya.


"Buka mulutnya ! aaa !" Ica menyuapi Jihad layaknya anak kecil, bahkan ketiga orang ini saja menganga dibuatnya, pacaran mewah macam apa ini. Jaman sekarang orang miskin saja ingin terlihat kaya, lalu mereka ?


Ica dan Jihad sudah selesai makan di ruang kebersihan, Ica dan Jihad keluar dari ruangan.


Tapi langkahnya terhenti saat mendengar suara tangis perempuan dari kamar mandi.


"Bee, denger ngga ?!" tanya nya.


"Apa ? suara perut kenyang kamu ?" tanya Jihad.


"Bukan, kaya ada yang nangis !" bisik Ica. Ica masuk ke kamar mandi, Jihad mengikuti.


Ica menempelkan telinganya di setiap bilik kamar mandi membuat Jihad ikut penasaran.


"Mbak Sari deh kayanya !" gumam Ica, saat handle pintu itu bergerak, Ica dengan refleks menarik Jihad masuk ke kamar mandi sebelahnya yang kosong untuk bersembunyi. Jadinya keduanya malah bersembunyi di dalam kamar mandi.


"Kamu ngapain narik aku masuk ke kamar mandi ? cuma buat ngupingin orang nangis ?" tanya Jihad, Ica membekap Jihad mendengarkan suara keluh kesah Sari. Keduanya tanpa jarak, membuat debaran di jantung Jihad semakin memompa dengan cepat, darahnya berdesir.


"Kalo tau bakalan begini aku ga mau nyerahin sama kamu mas, kamu br3ngs3k !!!" Sari akhirnya keluar dari kamar mandi, setelah dirasa aman, Ica menghela nafas lega.


"Kamu ngapain senyum senyum ?" tanya Ica.


"Kamu ga mau bikin scandal sama CEO gitu, yank?" tanya Jihad.


"Ga usah ngacoo !!" Ica mengusap kasar wajah Jihad dan membuka handle pintu kamar mandi.


"Tangan kamu masih bau sambel ! sembarangan !!" omel Jihad, Ica tertawa, bisa sekamvreet itu mereka, sejak dulu tak pernah berubah.


"Bener bener si bakwan ! baru kali ini seorang CEO sampe ngumpet di kamar mandi cuma buat ngupingin ob nya mewek ! jatuh sudah harga diri CEO, " omel Jihad.


"Kapan lagi bee, kan kamu CEO gila, antimainstream !" seru Ica.


Ica melihat sesuatu yang ditinggalkan mbak Sari di pinggiran wastafel. Sebuah benda pipih dan panjang bergaris merah 2.


"Bee, itu apa !" tunjuk Ica meraih benda itu.


"Ini..."


"Ini tespeck kan ? alat yang suka dipake teh Mira atau ka Novi kalo mau tau hamil apa engga," ucap Ica.


"Apa jangan jangan...mbak Sari ?!"


"Hamil kali, biarin aja..yang penting ada bapaknya. Repot ! ayo keluar nanti dikira kita ngapain di kamar mandi, kalo mau ngajak ngumpet berduaan tuh di hotel, di penginapan sekalian ! ga berkelas ngajak berduaan di kamar mandi, kaya anak SMA yang kere aja !" omel Jihad.


"Maunya kamu itu mah !"


Ica menghentikan langkahnya, "bee, waktu aku nginep di rumah kamu tempo hari, kita tidur satu ranjang..kamu ga ngapa ngapain aku kan ?!" tiba tiba saja Ica kepikiran dan memegangi perutnya. Jihad tertawa kecil, timbul ide usil di otaknya


"Ga tau, kayanya sih cuman...."


"Cuman apa bee ?" tanya Ica panik mengguncangkan lengan Jihad.


"Kenapa ? kamu belum datang bulan ?" tanya Jihad semakin menggoda Ica.


"Kita ngga itu ngelakuin itu kan bee, anu loh !" jawab Ica ambigu.


"Anu apa sayang ?!! emang pas kamu bangun, ga sakit apa ?" tanya Jihad.


"Apanya yang sakit ?!" Ica sudah panik, tak kaci lah jika mereka melakukannya saat belum sah, terlebih Ica tak ingat.


Jihad malah berjalan semakin menjauh.


"Beee !!!! rese ihhh !"


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2