Me VS Crazy CEO

Me VS Crazy CEO
27 minggu 3 hari


__ADS_3

Perjalanan kuliah Ica sangatlah alot dan lamban. Semester 2 ini, Ica harus kembali mengajukan cuti, itu artinya ia harus kembali mengejar. Meskipun berat, bagi Ica tak masalah selama temannya ada. Bukan teman kampus ataupun teman satu kursus. Sejak dulu Jihad lah yang selalu ada untuk membantunya, terlebih urusan tugas tugas akademik.


27w 3d \= 27 minggu, 3 hari.


Semakin berat saja, hanya berjalan dari gerbang kompleks sampai rumahnya saja Ica sampai banjir peluh.


"Darimana ?" tanya Jihad.


"Ngejar tukang sayur !" jawab Ica tersengal sengal.


"Kamu lari ?!" Jihad menghampiri dengan mengusap peluh Ica yang membasahi sepanjang garis wajahnya.


"Engga, aku jalan ! tapi kan bawa beginian !" tunjuknya pada perut sebesar balon yang seperti diisi helium. Ucapannya lebih terdengar seperti menggerutu, membuat pipi yang semakin chubby ini menggemaskan layaknya bapau. Jihad tertawa dengan mengangsurkan segelas air putih, dan langsung diteguk Ica sampai tandas. Ketimbang jalan beberapa rumah saja membuatnya kepayahan.


"Ngapain tukang sayur dikejar ? punya salah apa ?"


"Beli sayur lah, masa beli pasir !" sarkasnya menuju dapur.


"Bi Denok minta tolong, ini di kupasin ya !" Ica menyerahkan sebungkus kresek hitam pada bi Denok. Bungkusan paling universal, di Indonesia.


Jihad menatap sosok Ica dengan senyum penuh arti, senyum jahilnya terbit. Dalam sekali hentakan ia menggendong Ica yang tengah memotong bawang dari arah belakang. Urat tangannya sontak tercetak dari lengan kekarnya.


"Eh, "


"Widihhh beratnya !" ujarnya.


"Turunin ngga ?! malu sama bi Denok !" tunjuk Ica dengan pisaunya.


"Itu pisaunya disimpen dulu bakwan, serem !"


"Makanya turunin ! malu maluin aja !" Ica kembali mengacungkan pisaunya, bukannya menurunkan Jihad malah membawa Ica ke halaman belakang.


"Eh, mau dibawa kemana ?!" serunya.


Jihad meraih pisau di tangan Ica dengan mulutnya lalu menjatuhkannya begitu saja di halaman berumput.


"Ibu hamil tuh ga baik pegang pegang piso !"


"Ini mau dibawa kemana ? mau ngapain? ga usah ngaco deh bang, aku lagi masak !" geram Ica.


"Bi Denok !!!! terusin masak ya !" pekik Jihad.


"Siap pak !" jawabnya menggelengkan kepala, sebenarnya ia sudah tak aneh dengan kelakuan majikannya ini, yang selalu jahil.


"Berenang yu, udah lama ga berenang bareng !"


"Astaga ! ini masih pagi bang, dingin !" tolaknya.


Tapi terus saja Jihad berjalan menuju kolam renang.


"Bang, yang bener aja ! aku masih pake dasteran begini !" tunjuknya pada dress selutut bercorak batik, pakaian universal emak emak Indonesia.


"Ga apa apa, yang penting bisa nyebur, twins nya abang bisa olahraga pagi bareng daddy nya !"


Blub !" tanpa aba aba Jihad sudah menaruh Ica di dalam kolam renang.


"Bang Ihhh !!!"

__ADS_1


Jika sudah berkehendak tak ada yang bisa menolak. Jihad membuka t shirtnya hingga menyisakan celana bahan selutut dan badan atletisnya, ia ikut masuk ke dalam kolam.


"Ibu hamil tuh bagus berenang sayang, " membalikkan tubuh Ica hingga Ica sekarang membelakanginya, mengusap perut buncit Ica, dibalik daster basahnya. Bukan lagi hanya getaran tapi si kembar abang dan adek sudah saling bersahutan menendang, menyikut, merespon sentuhan Jihad.


"Awssshhh, udah bang ! aku suka pengen pipis !" aduh Ica.


"Pipis aja, "


"Idihhh, masa di kolam ! jorok !"


"Bukannya dulu waktu SMA juga sering gitu kalo ada pelajaran renang ? "


Ica berbalik, dan mendorong kening Jihad, "itu mah kamu !" sarkas Ica.


Jihad membawa kedua tangan Ica mengalung di lehernya, meskipun tak bisa menempel, karena terhalang perut buncit Ica, Jihad masih bisa menempelkan keningnya dan kening Ica.


"Love you, " bisiknya


"Bosen ah, " jawab Ica.


"Ya engga apa apa, sampe kamu muntah juga, aku ga akan pernah berenti bilang itu," gidikkan bahu Jihad.


"Kerja bang, "


"Hari ini aku ga ke kantor, ada Jian yang handle, kan mau ikut nimbrung sama mamah ngurusin acara 7 bulanan, " jawab Jihad memejamkan matanya merasai hembusan nafas Ica, dan kehangatan tubuh perempuan yang sedang mengandung kedua calon buah hatinya.


"Aduh...aduh...!!!" teriakkan mamah Vivi menggelegar memecah lovely dovey keduanya.


"Masih pagi udah dua duaan, masih dasteran pula, naik naik...dingin !!" mamah Vivi menepuk nepuk tangan di pinggiran kolam, keduanya menoleh ternyata bukan hanya ada mamah Vivi, tapi ada papah Riza juga yang duduk di kursi teras belakang, menerima secangkir kopi dari bi Denok.


"Bang, " Ica menjambak rambut belakang Jihad, tapi rupanya tak berefek apapun.


Mamah Vivi yang melihat itu, sadar sesadar sadarnya, putra sulungnya tengah bucin.


"Bang, itu kasian istrinya udah kedinginan gitu, "


"Kamu dingin ? ya udah naik yu !" ajaknya.


"Awas hati hati naiknya !" mamah Vivi membantu.


*******************


2 hari kemudian rumah Jihad sudah dipenuhi oleh keluarga dan kerabat, acara 7 bulanan Ica dilaksanakan di rumah saja.


Om Braja tak lepas dari stroler Lendra, semenjak kehadiran Lendra, ia lebih sering bersama cucunya ketimbang mengurus pekerjaan.


"Pekerjaan sekarang banyak diurus Milo dan Raka, saya lebih memilih bermain sama cucu, menebus waktu yang hilang saat sama papahnya !"


"Apa nanti mas Riza pun sama ya mas ?!" seloroh mamah Vivi.


"Oh sepertinya calon calon opah sayang cucu juga, " opah tampan itu memberikan teether pada Lendra yang asik meng e muti jempol tangannya.


"Mana Lendra, Ra ?" tanya Ayu.


"Tuh ! sama opahnya !" ibu meny usui itu tak lepas dari cemilan sehatnya. Kotak makan yang tersusun di depannya saja bahkan masih penuh isinya, tapi ia sudah mencomot hidangan yang disediakan tuan rumah. Anehnya tak menjadikan badan Kara sebesar gajah.


"Lendra dikasih opahnya, bapaknya ngurusin emaknya ! kerjaan dikasih gue," imbuh Raka, ditertawai Kean, Erwan dan Arial.

__ADS_1


"Sabar babang Raka, om kesayangannya Lendra," Arial menepuk nepuk pundak Raka.


"Loe bertiga om toyib, jarang balik !" balas Raka.


"Papah yang menawarkan diri, sampe sampe gue bapaknya sendiri jarang maen sama Lendra, " keluh Milo.


"Ntar Lendra gak mau sama loe Mil, ga kenal bapaknya. Abis bapaknya sibuk ngurusin kerjaan terus, sama ngelonin emaknya !" seloroh Arial.


Acara 7 bulanan di awali dengan siraman, lalu Ica yang berkeliling jualan rujak, dan diakhiri dengan pengajian.


"Selamat ya Ji, Ca. Akhirnya musibah demi musibah berakhir membawa berkah. Semoga setelah ini rumah tangga kalian semakin kokoh, adem.." ucap Ayu.


"Makasih ya Yu, terus loe kapan ?" tanya Ica.


"Insyaallah, do'akan aja Ca, " jawab Erwan.


"Widihhh roman romannya ada yang mau lepas masa lajang lagi nih !" ledek Kean.


"Arial gimana kalo loe merit Er, " tanya Jihad.


"Gue ngikut lah ke kamar pengantin bareng mereka !" jawab Arial.


"Kan dimana ada Erwan disitu ada gue !" lanjutnya.


"Saravvv ! ngapain masuk kamar pengantin ? loe wardrobe ? apa house keeping ?! " Erwan mendorong jidat Arial.


Tangan Jihad tak pernah lepas dari memeluk perut Ica, seakan tak ingin lepas dari kedua calon buah hatinya dan Ica. Tak ingin kebersamaan mereka terpisahkan.


"Bang, bisa lepas ngga tangannya. Malu tau ngga ! kesannya nempel banget kaya prangko !" keluh Ica.


"Ga apa apa biar keliatan pasangan harmonis, biar dikira materai 6000an, " kekehnya.


"Cih,"


Hampir semua kerabat mulai meninggalkan tempat acara, dengan menyelamati dan mendo'akan kelahiran Ica. Tapi diantara euforia suka cita, ada sosok yang membuat Ica menyipitkan matanya dan tersenyum.


"Evi, " sapa Ica.


"Ca, " ia menunduk dan terlihat sendu.


"Kenapa Vi ?"


"Maafin gue, " Evi tiba tiba menangis di sela sela sendunya, membuat Ica mengerutkan dahinya tak mengerti maksud Evi.


"Loe kenapa ? sakit ? atau ada yang nyakitin loe? atau mungkin ada masalah ? ngomong sama gue, Vi..siapa tau gue bisa bantu !" Ica khawatir pada teman sekantornya itu, meskipun kini ia tidak bekerja bersama lagi, tapi Evi tetaplah temannya.


Tiba tiba dari arah belakang, Tio berlari tergesa dengan kemeja yang tidak rapi, seperti ia sangat tergesa gesa memakainya dan tampilan kusut seperti baru saja bangun tidur.


"Vi, jangan Vi !!!! laki laki itu yang salah, Ica dan pak Alvian hanya korban, mereka tak tau apa apa, hanya membantu Sari !" pekik Tio menahan Evi.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2