Me VS Crazy CEO

Me VS Crazy CEO
Rombongan hajatan


__ADS_3

Salah satu hotel milik keluarga Milo dipilih sebagai tempat berlangsungnya perhelatan akbar pernikahan Milo dan Caramel.


"Ini kita mau berangkat rombongan pake motor apa gimana?" tanya ka Novi.


Ica tergelak, "ampun emak emak ! dikira kondangan hajat anak rt, malu maluin, kalo ga rombongan motor pake angkot gitu, kaya orang lagi anter jenazah ke tpu ?!" sarkas Ica, Jihad hanya menggelengkan kepala mendengar debat panas antara kubu rakjel dan kaum hedon.


"Pake kolbak sekalian !" jawab Galih.


"Ini nih susah kalo ngomong sama rakjel, " jawab Ica.


"Njirrr ! " umpat ka Novi sambil memasukkan suapan besar ke dalam mulut Robi.


"Busettt ! dasar emak tiri, loe suapin si peter gede amat, kenapa ga sekalian pake sendok tembok aja ! biar satu piring sekali lahap, anak loe muntah tuh !" protes Ica. Jihad memang lebih sering apel, apalagi hari ini keduanya akan pergi ke hotel dimana tempat acara, seorang bridesmaid sudah harus siap dari pagi buta di tempat acaranya. Itu makanya, Milo dan Kara menyiapkan beberapa kamar hotel untuk teman temannya.


"Biar cepet abis, ga dikira cacingan !" alibi ka Novi.


"Cah, berangkat sekarang ?" tanya Riski.


"Iya, gue kan itu..." Ica menggaruk garuk kepalanya lupa akan menyebut apa, padahal kata kata itu tidak akan dilahapnya.


"Apa sih bee ? lupa !"


"Bridesmaid, " jawab Jihad.


"Iya itu, harus siap..jadi kita udah mondok di hotel, " jawab Ica.


"Ini lagi mondok ! dikira pesantren ! ampun gue...punya sister dua duanya ga ada yang up to date," jawab Galih yang fokus matanya pada layar ponsel, namun telinga dan bibirnya ikut nimbrung.


"Ga usah so sibuk, suka suka gue, bang ! kalo maenan loe kaya si Ara kapan loe dapet ceweknya ?!" tanya Ica.


"Cewek mah banyak, udah tinggal gue jemput aja, mau dia.." sombongnya.


"Cih, udah kaya sepatu cuci gudang di pinggir jalan aja, 50..bungkusss bang!! itu cewek apa marmut di pasar kaget ?" tanya Ica.


"Kamvrettt, bawel banget punya adek ! Ji, do'a gue kalo kalian kawin semoga loe tahan sama mulut dia !" jiwir Galih di hidung Ica, Jihad tergelak.


"Gue sumpal aja pake bibir bang, " jawab Jihad.


"Good job ! dia mah bar bar juga katrok !" Galih bertos ria bersama Jihad.


"Pukkk ! pletak !" sendal selop milik ibunya mendarat mulus di punggung Galih.


"Njirrr !!! yang kaya gini mah sumpel ampe sesek Ji, gemes gue sama adek sendiri, dia galak ga sih sama loe, ko gue jadi malu sendiri !" ucapan Galih sontak mendapat pelototan dari Ica.


Jihad tergelak, justru hanya ialah pawang Ica. "Galak galak gemesin bang, pengen bawa ke ranjang !" Ica membekap mulut tak tau saringan ini. Bisa bisanya membicarakan topik random, bahkan disaat keduanya belum merasakan yang namanya panasnya ranjang pengantin.


"Si Icot kan udah di sana, jadi kita naik apaan? masa iya pake motor, yang datang ga mungkin pake motor bebek, " ucap ka Novi menyambung obrolan yang sempat tertunda tadi, karena harus mengejar anaknya.


"Ga usah pusing ka, bang..pake aja mobil punya gue.." ucap Jihad.


"Bang Riski bisa ngendarain mobil kan ?" tanya Jihad. Riski mengangguk.


"Ya udah pake aja, biar gue sama Ica pake mobil yang biasa gue pake aja, " jawab Jihad memberikan solusi.


"Nah ini yang namanya solusi, loe berdua malah berantem ga jelas !" jawab Novi.


"Bentar gue itung dulu umatnya !" jawab Riski.


"Mobil loe berapa kursi Ji, "

__ADS_1


"Mini bus bang, cukup buat 7 orang lah, "


"Mobil mana?" tanya Ica.


"Mobil yang dulu sering kupake ke sekolah," jawab Jihad, Ica berohria.


"Galih loe jaga nene sama kake ! mobil ga muat kalo ada loe !" jawab Riski.


"Ko gue ?! ogah ahhh ! bisa ayan gue jagain nene, " Ica tergelak.


"Timbang timbang iya doang juga, kualat loe, gitu gitu nene gue, nene loe juga ! jadi bujangan tua loe !" jawab Ica.


"Gue juga pengen kondangan, bareng cem ceman, loe bertiga liat ya cewek gue ga kalah... !" Galih memeragakan lekukan tubuh wanita.


"Apaan ?! cewek loe ban serep?" tanya Riski.


"Byurrrrr !!!" Ica menyemburkan minuman berbobba nya.


"Uhuukk...uhukk !!" dan Jihad sudah tertawa sambil menepuk nepuk punggung Ica.


"Itu kan gerakan tangan loe kaya gitu, mirip ban serep !" tambah Riski.


Pekerjaan yang menumpuk membuat kepala Jihad stress akhir akhir ini, dengan datang kesini seketika rasa stress itu hilang. Entah daya tarik apa yang dimiliki Ica dan keluarganya hingga mampu membuat Jihad seakan betah berada disini.


"Punya abang 2 ga ada yang waras satupun, " decak Ica.


"Nene sama kake ga apa apa ditinggal, toh mereka masih sehat, ada banyak tetangga juga disini," ibu Ica menyela obrolan anak anaknya.


"Ya udah syukur deh, " jawab Ica.


"Loe mau bawa cewek loe naik apaan bang ? pake motor loe yang selalu abis bensinnya di tengah jalan ?" tanya Ica.


"Pake aja motorku, " usul Jihad.


"Ga usah, keenakan !" potong Ica.


"Jangan Ji, ga apa apa..ga usah repot repot, " jawab Riski.


"Bukannya nolak Ji, tapi kan loe sama Ica belum sah, ga etis rasanya kalo kita pake semua punya loe, apa kata orang nanti ?!" jawab Galih.


"Tak usah ga apa apa nak Ji, makasih...mobil saja sudah cukup," jawab mamah Ica.


"Lagian motor gue keluaran terbaru, ga malu maluin kaya motor bang Riski !" Galih berlari masuk ke dalam rumah sebelum si raja kingkong ini ngamuk.


"Kamvreett ! gue sumpahin tuh motor kempes di tengah jalan !"


"Nah kan nah kan ! kalo udah berantem gini !" ujar ibunya Ica.


Acara Milo dan Kara menjadi ajang pertemuan keluarga Jihad dan Ica juga ajang reuni teman teman SMA.


Jihad menyuruh sopirnya mengantarkan mobil miliknya ke rumah Ica, sebelum benar benar pergi ke hotel.


"Bang, ini stnk dan kuncinya, pake aja !" ucap Jihad.


"Thanks Ji, "


"Kalaupun nanti abang ga nyupirin kayanya uda Dante pulang Ca, " jawab Riski.


"Iya bang, semoga uda pulang, biar bisa ngumpul bareng."

__ADS_1


***********************


"Bee, "


"Hm ?"


"Apa nanti setelah menikah kita tinggal di rumah mamah sama papah ?" tanya Ica. Tangan kiri Jihad tak pernah lepas menggenggam tangan Ica.


"Sementara kita tinggal di apartmentku, sampai rumah baru siap kita tinggali, " jawab Jihad.


"Rumah ?"


"Aku sedang menyiapkan rumah untuk kita, untuk keluarga kecil kita nanti, " jawab Jihad lagi membawa tangan Ica dan mengecupnya.


Waktu sudah menunjukkan pukul setengah 9 malam saat mobil Jihad sampai di hotel, disini semuanya sibuk.


"Mau ku anter ke kamar Kara ?" tanya Jihad.


"Kamu masih punya kerjaan ya ?" tanya Ica, keduanya sudah berada di depan kamar hotel yang akan Ica tempati malam ini.


"Heem, masih harus cek kesiapan semuanya, " Jihad memijit pelipisnya pelan.


"Capek ?!" tanya Ica, mengusap pipi Jihad lembut.


Ya iyalah beg*o ga usah ditanya lagi, jawab benak Ica sendiri.


Jihad meraih tangan Ica dan kembali mengecupnya, melihat jari Ica yang terpasangi 2 buah cincin, senyumnya lebar.


"Masih dipake ?" tanya Jihad.


"Kata daddy ku waktu SMA, dia minta aku jaga sampai dia balik..aku yakin dia bakalan balik buatku, " jawab Ica.


Jihad tersenyum mendengar jawaban Ica. Cintanya tak bertepuk sebelah tangan, Jihad mendongakkan dagu Ica dan mendorongnya ke belakang, langkah mereka membawa keduanya masuk ke dalam kamar.


Jihad memajukan wajahnya, hingga sapuan nafas masing masing dirasakan keduanya. Lelaki itu mengecup bibir kenyal Ica, bibir yang membuatnya ketagihan dan candu, entah kenapa akhir akhir ini ia selalu tersihir dengan semua milik Ica, apa mungkin kesabarannya sudah diambang batas, padahal hanya tinggal selangkah lagi, toh Ica akan sepenuhnya menjadi miliknya.


Melihat wajah gemas Ica, seakan membuat Jihad semakin dilanda rasa ingin menyentuhnya lebih dari sekedar mengecup. Gila memang !


Bukan hanya mengecup, Jihad menggigit bibir yang biasa mengeluarkan kata kata absurd ini, hingga si empunya membuka bibirnya yang merapat, membuat Jihad lebih bisa leluasa masuk unruk mengeksplore mulut Ica.


Jihad menjelajahi rasa yang tak bisa ia ungkapkan dengan kata kata, m3lu*m4t, dan menyes4pnya. Meskipun Ica terkesan kaku dan tak berpengalaman dalam hal ini, tapi ia tidak menolak. Jujur Ica menikmatinya, otaknya tiba tiba kosong, Jihad membawanya melayang menyusuri taman langit, gadis itu hanya bisa menerima setiap permainan lidah Jihad.


Hingga suara langkah kaki dari luar menyadarkan keduanya untuk segera mengakhiri fr*ench kiss itu, Jihad menjauhkan wajahnya dan mengusap lembut ujung bibir Ica yang basah oleh ulahnya dengan jempolnya.


"Aku ketemu Milo dulu, kalo disini terus, aku ga bisa jamin buat ga minta lebih, " ucapnya. Ica mengangguk.


"Hati hati,"


"Jihaddd !!!!!" pekik ketiga gadis yang sudah berdiri di luar saat Jihad membuka pintu, membuat Ica yang juga berada di dalam melongo dibuatnya.


"Ica ?!!!"


"Loe berdua ngapain berdua duaan di kamar ?!!" tanya Ayu.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2