
Sudah hampir seminggu Ica disini, selama itu pula Ica ditunggui oleh beberapa orang, terkadang ibunya, terkadang mamah Vivi lalu ka Novi dan Galih, akhirnya dokter mengatakan Ica boleh pulang. Dengan catatan, ia harus rutin follow up pemulihan, cek rutin 2 minggu di bulan awal dan 4 minggu sekali di bulan ketiga, tergantung kondisi kadar hCG dalam darah Ica.
"Haaaa !!! akhirnya bisa pulang, udah kangen rumah baru !" serunya.
Jihad mendorong kursi roda menuju parkiran.
"Udah dibilangin aku ga butuh kursi roda, bang ! udah kaya orang struk aja tau ngga," protes Ica dengan bersungut sungut, tapi bukannya menimpali ucapan Ica, ia malah terkikik, inilah karakter Ica yang selalu protes dengan caranya.
Ica berdiri saat Jihad membuka pintu mobil, ternyata sudah ada supir di dalam, jadi Jihad tak mengendarai mobil sendiri.
"Mau langsung pulang ?" tanya Jihad menoleh.
"Langsung pulang aja, " jawab Ica mantap, dengan mata yang mengawasi jalanan, seakan tak ingin kehilangan moment melihat pemandangan luar barang sedetik saja. Sepertinya mulai sekarang ia akan seperti Kara, menjadi tahanan rumah, akan sering berada dalam rumah.
Mobil mewah Jihad memasuki komplek rumahnya, bangunan bercat biru yang masih baru itu, sangat dirindukan Ica.
Home sweet home,
Sudah seminggu Ica meninggalkan rumah, berasa penghuni baru lagi.
"Buat setahun kedepan jadi ibu rumah tangga dulu, ya !" seloroh Jihad mengusap lembut pipi gembil Ica.
"Status mahasiswinya digantung dulu, " lanjutnya dijawab dengan anggukan.
Mobil memasuki halaman rumah yang tampak sepi, sepi karena hanya ada Jihad dan Ica, satu asisten rumah tangga yaitu bi Denok, satpam yaitu pak Eri dan supir pak Mulya. Jihad bukan gambaran seorang CEO atau pimpinan yang bergelimang anak buah hingga berpuluh puluh dengan rumah gedong mentereng bak istana, ia tak selebay itu, posisinya memang rawan kejahatan tapi bukan gembong mafia yang sering ia hadapi hingga harus memiliki penjagaan berlapis baja. Meskipun bukan tanpa persiapan, ia masih punya Milo cs.
Tak ada hartanya yang menumpuk di brangkas atau semacamnya, ia sudah pindahkan dalam bentuk investasi saham, obligasi, reksadana, properti dan tanah, begitupun uangnya ia cukup percayakan di bank. Ica juga bukan perempuan yang senang mengoleksi perhiasan berset set hingga memenuhi lemari pakaiannya.
Ica dan Jihad membuka pintunya, "assalamualaikun !"
"Waalaikumsalam, " jawab bi Denok.
"Surprise !!!!" Ica terkejut dengan hadirnya banyak orang disana. Ada Kara, Ayu dan Erwan, ada juga keluarganya dan Jihad.
"Ateu Icaaa !!!!" pekik Rara, Momo , Robi, dan Zakir.
"Ya Allah !" Ica menekan dadanya.
"Welcome home Icotttt sayang !" Kara memeluknya membuat Ica manyun.
"Sehat sehat ya sayang, " mamah Vivi memeluk Ica.
"Makasih ya mah, " mamah Vivi mengusap punggung Ica lembut, begitupun ibu Ica.
"Bu, bibi udah bikinin nasi tumpeng," seru bi Denok menunjuk meja dimana terdapat tumpeng kerucut beserta teman pelengkapnya.
"Ya allah ! bi, makasih !" jawab Ica.
"Sekalian, katanya bapak ulangtahun kan waktu 4 hari lalu, " jawabnya.
"Makasih bi," Jihad tak sungkan sungkan memeluk asistennya ini dan mengangkatnya.
"Eh, eh pak, masa bibi diangkat angkat atuh ! malu, nanti bu Ica marah, " teh Mira tertawa, kenapa orang orang dengan frekuensi yang sama seakan mengelilingi hidup Ica.
"Sehat loe ! jangan sakit sakit lagi, biar ntar kasih gue ponakan yang banyak !" Galih memeluk Ica memberikan semangat.
"Pak maaf, tolong dibawa tasnya ke rumah, nanti ikut saja bergabung sama yang lain, " ucapnya pada pak Mulya.
"Iya pak, makasih.." angguknya, tak ada batasan yang membentengi status majikan dan status untuk Jihad, semua sama baginya.
"Bulan depan Jian sudah pulang ke Indonesia, sekalian membantu perusahaan. Soalnya aku kewalahan !" ucap Jihad pada papahnya.
__ADS_1
"Atur atur saja Ji, " Ica mengambil potongan tumpeng dan berbagi satu piring berdua dengan Jihad, mengajak Jihad bergabung dengan teman temannya di halaman.
"Romantisnya !! ga nyangka pasangan sengklek bisa romantis," ujar Ayu.
"Bisa dong Yu, kalo cuma makan sepiring berdua mah udah biasa dari dulu, sepiring ber 4 juga pernah kan ?! " Jihad menarik pinggang Ica untuk lebih merapat padanya.
"Yo 75, 75...langsung jalan ! rapetin, rapetin duduknya !" pekik Kara, mengundang gelak tawa di taman belakang dekat kolam renang.
"Sue, dikira angkot !" jawab Ica.
"Abisnya loe berdua duduk mepet mepetan kaya lagi di angkot, tuh kursi masih luas, seluas cinta loe berdua " protes Kara.
"Idih sirik, ka Milo kemana ?" tanya Ica.
"Pantesan pawangnya ga ada lagi meeting sama tamu dari Singapura, hati hati Ra klien yang ini suka main curang pake bawa cewek cantik sebagai pemikat biar deal !" ujar Jihad menggoda Kara. Kara mende sah dan memicingkan matanya sengit.
"Awas aja kalo sampe macem macem, ada ka Raka juga ko ! gue percayain sama ka Raka, paling kena sentil, " jawab Kara.
"Hah, Raka mah sama aja 11 12 sama Milo, " jawab Erwan.
"Itu mah kamu, " sela Ayu mendorong pelan kepala Erwan.
"Gue doang yang jomblo disini !" jawab Kara dengan sesekali menyuapkan kue kue di depannya seraya matanya melihat ke arah dua pasang yang duduk dempet dempetan mirip kue balok yang udah merekah.
"Ka Arial sama ka Kean mana sih, gue ga ada temen jomblo disini ?!" ketus Kara.
"Mereka juga lagi ada perjalanan bisnis, " jawab Erwan melahap suapan kue dari tangan Ayu.
"Kasian baby gue yang ini, maaf daddy lagi sama kesayangan dulu Ra, " Jihad memeluk Ica erat sambil mengecup pipi Ica, membuat Kara manyun tapi mulutnya tetap menyuapkan snack di depannya.
"Busettt, mentang mentang bumil ! itu makanan loe semua Ra?" tanya Erwan, Kara mengangguk.
"Gue ga gede ka Er ! ralat ucapan loe !" sungut Kara, ditertawai yang lain, pasalnya perubahan Kara sangat signifikan, Kara adalah tipe gadis dengan sejuta image yang harus dijaga diantara kelima teman satu genknya, banyak makan bukanlah pribadi Kara dulu. Tapi semenjak mengandung, perempuan satu ini hobby sekali makan.
"Ga usah pada ketawa, bentar lagi juga kalo loe dah normal loe nyusul Ca, do'a gue anak loe setaun satu ! kalo ngga kembaran !! loe makannya lebih lebih dari gue, " sumpah Kara pada Ica.
"Aamiin, tapi ga aamiin buat makannya, " ucap semuanya dengan diakhiri Amin Ica.
"Naik berapa kilo Ra, padahal masih jalan bulan ketiga kan ?" tanya Ayu.
"Udah ah ga usah dibahas !" tepis Kara, selain ia risih, ia juga tak mau membuat Ica sedih.
"Loe berdua bersyukur dikasih waktu buat pacaran lebih lama Ca, Ji. Kayanya Allah mau ngasih waktu kalian buat honeymoon deh, iya ngga sih ?!" tanya Kara diangguki Ayu.
"Iya honeymoon di rumah Ra, " jawab Ica ditertawai Kara,
"Akhirnya merasakan yang gue alami, tahanan rumah !" imbuh Kara.
"Biar sehat cepet Ra, gue sama Milo beda, gue ga seposesif Milo, " jawab Jihad tak terima.
"Masa ?! terus yang kemaren nonjok Revan siapa ? kang cendol ?" tanya Kara, Ica dan Ayu tertawa sedangkan Jihad menjitak kepala ketiganya membuat mereka mengaduh.
Tak lama ibu Ica memanggil,
"Ca, Ji..ada yang mau nengok Ica," panggilnya.
Ica dan Jihad mengerutkan dahinya.
"Siapa ?" mereka saling bertanya.
Keduanya lalu beranjak menuju ruang tamu,
__ADS_1
"Ica !!" pekik perempuan setengah tua, dengan memakai jilbab segitiga yang ditali di bagian ujungnya. 3 orang perempuan setengah baya masuk seraya matanya yang masih menatap kagum pada seisi rumah.
"Ca rumah loe gede Ca, " seru Mak Ovi seraya mendorong dorong anaknya yang nampak ketakutan setengah malu.
"Mak Ovi ! "
"Ca, kenape loe ?!" tanya bu Eni, ini dia genk rusuh Ica lainnya yang tak diketahui Jihad, ibu ibu rt sebelah yang sering nongkrong bareng Ica.
Jihad terkesiap, begitu banyak yang peduli pada bakwannya ini.
"Abis kuret bu, " Ica duduk diantara ibu ibu rt sebelah di kampungnya.
"Bening amat laki loe Ca ! " dengan tak ada saringan, mak Ovi mengagumi ketampanan Jihad langsung di depan orangnya. Jihad tersenyum ramah.
"Eh bu, duduk di atas..jangan melantai gitu !" imbuh Jihad, Ica tertawa.
"Makanya mak, biasain masuk rumah gedong ! biar ga malu maluin !" ujar bu Eni.
"Kinclong lantainya, kaya dipakein skincare !" jawabnya, mengundang gelak tawa.
Ibu Ica menepuk pundak Jihad.
"Itu pasukan ibu ibu, rt sebelah Ji..genk demonya Ica, " ucap mamah.
"Ca, minum kunyit gede. Suka ada di tukang jamu gendong mbak Ulan, ntar gue suruh mbak Ulan jualan kesini !" ujar Bu Warsih.
"Kejauhan War ! mau naek apa kesini, ntar aja kalo si Ulan jualan gue kirimin Ca, sebotol kesini ! biar luka luka dalem bisa sembuh !" jawab Mak Ovi.
Jangankan Jihad, mamah Vivi saja takjub melihatnya, jarang jarang kan pasangan muda seperti Ica dan Jihad kedatangan genk ibu ibu heboh macam ini, bahkan ia sendiri pun jarang mendapatinya selain dari arisan kaum sosialitanya.
"Ibu ibu diminum dulu !" pinta bi Denok.
"Matur suwun !!!" jawab bu Warsih,
"Idihhhh, cangkirnya ! gue pengen beli beginian di pasar senen kaga ada, kalo ada juga mesti ngumpulin dulu 2 bulan sisa duit jajan si Ovi, ujung ujungnya keburu dibeli orang !" akunya tak malu malu.
"Hahaha, si mak ! ntar kalo mak ultah Ica kasih buat mak !"
"Nih Ca, odading kesukaan loe, gue inget loe kalo tiap kang odading lewat tiap sore !" Mak Ovi menyerahkan bungkusan berisi kue bantal manis itu.
"Wahhh ! makasih mak, "
"Nih Ca, gue ga bawa apa apa, " bu Warsih dan bu Eni pun memberikan bungkusannya, membuat Ica terenyuh.
"Sabar ya Ca, insyaallah nanti Allah kasih gantinya, loe sama laki masih muda ! masih banyak waktu, buat nganak !" ujar mak Ovi.
"Nganak, dikira uler !!" tepis bu Warsih.
"Iya mak, bu..Ica ga apa apa," jawab Ica.
"Ovi, ada Momo sama Ara di belakang main sana ! mak bawa si Ovi ke belakang, ada ka Novi sama teh Mira, " ujar Ica membujuk Ovi agar tak menggelayuti baju gamis ibunya bersembunyi karena berada di tempat asing dan ramai orang.
"Ah si Ovi mah, giliran di rumah malu maluin, disini malu malu !" sahut bu Warsih.
"Kalo emaknya kebalik ! di rumah orang malu maluin !" kikik bu Eni.
Jihad yang menemani Kara dan yang lain hanya memperhatikan Ica.
.
.
__ADS_1