Me VS Crazy CEO

Me VS Crazy CEO
Setelah ketegangan terbitlah kekonyolan


__ADS_3

Jihad dan Ica berdiri, setelah acara sungkeman. Keduanya hendak melempar bucket bunga ke arah tamu, rata rata yang bersiap siap menangkap adalah teman teman sekolah dan kantor berstatus single, termasuk Galih yang ikut masuk ke dalam kerumunan.


"Om Galih, Momo ikuttttt !" seru gadis cilik itu turun dari kursi ingin berlari, namun di tahan oleh ayahnya.


"Mo, Momo ga boleh ikut, itu mah buat deretan jomblo akut !"


"Plak !" clutch bag mendarat mulus di punggung Riski oleh teh Mira.


"Ayah, masa anaknya diajarin ga bener ih, kalo ngomong yang bener ntar di cepret ( jepret ) sama aku."


"Jom...jomblo apa ayah ?!" Momo kebingungan. Riski hanya meringis seraya mengusap tengkuknya.


"Buat orang gede Mo," ralatnya.


"Kalo gitu Ara aja mah !!" Rara sudah ingin berlari tapi ditahan uda Dante.


"Haaa ayah !" rengut Ara kecewa.


"Mau kejepit kamu nak, " ayahnya tak kalah sengit.


"Bee, pegangin aku...kaki ku udah berasa kaya jelly dari tadi..." adu Ica. Inginnya sih buka heels lalu memakai sendal jepit saja.


Jihad merengkuh pinggang Ica agar tak jatuh, "kalo kaya gini aku yang kaya jelly, aneh..padahal dari dulu sering melukin kamu..tapi baru kali ini melukin bikin lemes !" ternyata bukan hanya Ica yang merasa bergetar, gugup, sampai lemas seperti agar agar. Bila biasanya mereka berdekatan bahkan sampai berpelukan biasa saja, tapi moment ijab tadi sudah merubah semuanya.


Jihad dan Ica memegang bucket bunga bersamaan dan bersiap mengayunkannya ke arah belakang mereka (para audiens).


"Sedih ihhhh !! huwaaa !" Vanya merengut mewek, dengan Amel yang menepuk nepuk pundaknya.


"Kenapa Va ?" tanya Kara mengernyit melihat Vanya yang sendu.


"Abis putus Ra, padahal udah niat mau serius."


"Yahhhh, sayang banget..mungkin belum jodohnya Va, sabar ya !" peluk Kara dan Ayu.


"Ca, Ji !! lempar sini !!" Kara berebut dengan Ayu, Amel dan Vanya yang masih merengut, ngenes sekali nasibnya.


"Mau kemana ?!" Milo sudah menatap sinis menahan Kara, membuat Kara mati kutu.


Arial menertawakannya, hingga Kara berdecih.


"Mau nangkep bunga sayang," jawab Kara.


"Biarin aja napa Mil, biar disegerakan ya Ra ?!" tawa Arial.


"Loe udah bulan kemaren, biarin pasangan ono noh !" tunjuk Kean pada Erwan dan Ayu juga Juwita dan Rayhan.


"Siapa tau kan aku bisa nikah lagi..." jawab Kara, sontak Milo mendelik tajam.


"Sama kamu yank, lagian ini mah cuman seru seruan aja !" tambah Kara.


"Duduk !" pinta Milo sarat akan ancaman.


"Iya ah, " Kara mencebik lalu kembali duduk.


1...


2....


3.....


Bucket bunga mawar merah dilempar ke arah belakang, tapi rupanya bukan pasangan pasangan yang berharap dapat, tapi malah Vanya yang dapat, semakin ia mewek merutuki nasibnya.


"Cieeee !!! Vanya !!! sama siapa nih ?!"


"Huwaaaa !!!! makin ngenes hidup gue, Icaaa !!! tanggung jawab cariin gue jodohnya !" Vanya cemberut, sedangkan Amel, Ayu dan Kara sudah tertawa menepuk nepuk dan memeluk Amel.


"Selamet ya Ca !!!!" pekik mereka berpelukan.


"Daddy !!!!" keempat lainnya pun ikut memeluk Jihad.


"Thanks !!" jawab Ica yang mrmilih langsung duduk, kakinya terasa sudah copot karena berdiri terus dengan heelsnya.


"Kaki aku sakit, pegel.." keluh Ica pada Jihad.


"Ya udah duduk aja, nanti kalo ada tamu yang mau salaman baru berdiri, nanti ku pijet kalo udah di kamar.." Ica melotot dengan wajah memerah, beda kasus sekarang jika membicarakan kamar.


Ica, otak loe udah geser tau ngga !! Ica mengetuk ngetuk kepalanya sendiri. Jihad yang memperhatikannya tertawa renyah.


"Kenapa ? otaknya udah sinkron ke situ ya kalo ngomongin kamar ?" goda Jihad.


"Ihh !! kamu kali !" sewotnya manyun, menepuk lengan Jihad.


"Emang, " kekeh Jihad lirih, membuat Ica kembali menyarangkan cubitannya di pinggang Jihad.


"Ate Ica !!! daddy Ji !!" Momo berlari bersama Robi dan Rara. Ini dia genk rusuh Ica, buntut bebek Ica dan Jihad.


"Hay !!!"

__ADS_1


"Tante cantik, Ara mau juga kaya gitu !" ujar Rara. Momo ada dalam gendongan Jihad, sedangkan Robi ada di pangkuan Ica bersama Rara yang duduk di samping Ica.


"Aduh, maaf ya bu..pak !" maklum lah Ica banyak keponakannya, " ringis mamah Ica pada besannya.


"Tak apa bu, itu artinya Ica dan Jihad sudah pantas dikasih keturunan, buktinya anak anak suka," jawab tante Vivi.


Ica harus kembali bersabar dan bertahan, karena partner bisnis Jihad dan papah Riza berdatangan silih berganti.


Kara hanya meringis sekaligus tertawa mengingat pengalamannya sebulan yang lalu, Milo sampai harus membantunya mengompres betisnya dan memijit kakinya yang serasa copot.


"Uhhh, siap siap aja udah ini kompresan, " matanya menyipit ngilu.


"Malam pertama kita malah kompresan by, " tawa Milo mengingat malam pertamanya yang konyol walaupun akhirnya bisa gol.


"Ah masa sih ?! sampai segitunya Ra ?" tanya Ayu menyendok kembali pudingnya. Kara mengangguk membenarkan.


"Beneran, ga liat apa kalo di depan rekanan bisnis tuh harus tampil sempurna udah gitu ngobrolnya lama, mestinya latihannya tuh upacara, atau ngga narik becak !" jawab Kara, membuat Milo tertawa seraya mengacak pucuk rambut dan mengecupnya.


"Nah, ntar tuh calon calonnya ka Raka, ka Kean...yang banyak partner bisnis nya, siap siap aja rajin rajin ngikut upacara sekolah !" lanjut Kara. Raka dan Kean hanya mengangguk angguk saja.


"Besok jalan jalan yu ! mumpung kita di Bali !" ajak Amel.


"Gue ayo aja lah cari pengalihan perhatian, biar ga inget terua si dia," jawab Vanya.


"Kuyyy, gaskeun !" seru Ayu.


"Gue nanya dulu yang mulia raja !" jawab Kara melirik Milo, membuat ketiga gadis ini tertawa.


"Pasti boleh lah Ra, sama kita kita ini perginya, " imbuh Amel.


"Asal ga dibawa buat cari lagi cem ceman, " jawab Milo.


Terlihat Ica turun dari pelaminan, menghampiri teman temannya.


"Kalian ngobrol ga ajak ajak ih !" Ica cemberut, duduk di kursi samping Kara merebut ice cream yang sedang dimakan Kara.


"Dih manten, disono Ca. Masa loe biarin daddy sendiri diatas pelaminan !" sungut Kara.


"Cape gue Ra, pegel kaki gue ! ga liat tuh betis gue udah kaya talas Bogor !" jawabnya mencebik menjejakkan kakinya hingga betisnya sakit.


"Loe berempat mau kemana besok ?" Ica berbinar mendengar kata jalan jalan, memang tujuannya selain menikah di pulau Dewata karena keindahannya, ia juga ingin menjajal surga wisatanya.


"Loe ga usah ngikut ! gue ramal, loe besok ga pengen keluar kamar seharian, sekalinya pengen keluar pun loe ga akan bisa !" tebak Kara menyipitkan matanya seperti seorang paranormal, membuat Ayu, dan Amel tertawa sedangkan Ica dan Vanya yang dudulnya kebangetan kurang paham dengan maksud Kara.


"Apaan sih ! udah jauh jauh ke Bali ga jalan jalan, ga mungkin lah Ra !" tepis Ica kembali mengambil ice cream yang direbut Kara lagi. Mangkuk ice cream sudah seperti piala bergilir saja.


"Acara udah selesai Ra, sebentar lagi juga Jihad kesini liat deh !"


Kara melihat jam di arlojinya. Memang sudah hampir pukul 3 sore. Pantas saja pengantin ini mulai rese.


"Liat sunset yuukk ! dari sini kan deket cuma jarak berapa kilo ?" ajak Vanya.


" Boleh tuh ! ide bagus yu, gue ikut !" jawab Arial.


"Huuu, loe mah pengen liat cewek bule lagi berjemur, " sungut Erwan yang setia menggenggam tangan Ayu dan sesekali mengecup punggung tangannya.


"Ga tau gue, tanya yang sering kesini deh, " jawab Amel.


"Emang dikira deket kaya ke Ganjur, pake ngomong sering !" cebik Vanya.


"Mau ikut ga om Kean, bang Raka ?!" tanya Arial.


"Ikut lah !" seru Keanu.


"Gue mah ayo aja !" jawab Raka.


Para tamu hanya tinggal beberapa saja yang ada disini, keluarga besar Ica dan keluarga Jihad juga malah sedang berjalan jalan di sekitaran hotel, menemukan sesuatu yang menyenangkan masing masing.


Jihad duduk di sebelah Ica, begitupun Milo yang baru kembali membawa makanan, ia ingat betul istrinya itu belum makan, hanya makanan makanan pembuka dan dessert saja yang Kara makan dari pagi.


"By, makan dulu !" Milo sudah menyendokkan nasi beserta lauknya di depan mulut Kara, tapi perempuan itu malah menggeleng seraya menutup mulut dan hidungnya.


"Ga mau !!"


"Tumbenan amat Ra, biasanya loe sama gue duet maut kalo makan ?!" tanya Ica keheranan.


"Loe sakit Ra ?" tanya Jihad.


"Udah dari minggu lalu, kaya gini. Ayo dong by, masa tiap hari cuman makan roti doang, banteran karbo juga jagung ?" Milo membujuk Kara.


"Kamu jauhan deh yank, bau tau ngga !" Milo bahkan mengernyit sudah 3 hari ke belakang Kara seperti ini, tak mau dekat dekat dengannya. Padahal sejak dulu parfumnya tak pernah ganti. Arial, Erwan tertawa melihat Milo yang diusir Kara.


"Aneh tau ga Ji, " keluh Milo menurunkan tangannya.


"Kayanya loe ngisi deh Ra, setau gue dulu teh Mira sama ka Novi juga gitu, " jawab Ica, sontak Jihad dan Milo melirik Ica cepat.


"Iya lah ! kaka ipar gue juga gitu ! walaupun ga separah Kara sih, tapi dia ga bisa makan nasi, " tambah Amel memberikan pendapatnya.

__ADS_1


"Hah ?! masa sih ?!" Kara mengerutkan dahi tak percaya. Sedangkan Milo tersenyum dan antusias.


"Ko gue ngeri ya, kalo sampe ga mau dideketin. Itu tandanya anak loe ga mau deket deket bapaknya Mil, " Jihad tertawa.


"Udah periksa belum Ra ? atau tespeck?" tanya Ayu.


"Udah sepi kan ini ?! cuma tinggal kita kita doang ?!" tanya Kara celingukan. Bukannya melahap makanan yang dibawa Milo, Kata malah melihat ke arah panggung.


"Kenapa emangnya ? sshhhh !" tanya Ica yang meringis membuka heels nya, lalu ia menghela nafas lega.


"Pegel beneran ?!" tanya Jihad menengok ke arah kaki Ica, diangguki Ica.


"Ga usah aneh aneh ya by, " ucap Milo sarat akan ancaman. Kara tersenyum.


"Bentar ya !" Kara beranjak menuju depan panggung.


"Tes !!!" suara Kara nyaring dari speaker. Berhubung hanya tinggal mereka saja disini, Kara baru bisa membuka jati dirinya, jaim sebagai istri CEO memang merepotkan.


"Buat dua sahabat gue yang baru aja melangsungkan pernikahan, happy weeding ya ! samawah !" ucap Kara.


"Si be*go !" tawa Ica melihat Kara yang sudah mulai panas mode absurdnya.


"Buat temen gue Vanya yang lagi putus cinta semoga setelah ini loe bisa nemuin cinta sejati loe !" ucap Kara.


"Njirrr ! si Kara pake disebutin, " omel Vanya, yang ditertawai semuanya.


"Manten ! mau ikut nyanyi gak?!" ajak Kara.


"Nyanyi...nyanyi...nyanyi !!!" termasuk Jihad yang menyorakinya, Jihad pun sudah menanggalkan jasnya.


"Ayo nanti aku sawer !!" Jihad malah menyemangati Ica.


Sebenarnya Ica merasa kakinya pegal, tapi tawaran Kara boleh juga biar ga stress.


Ica beranjak tanpa menggunakan alas kaki.


"Heran gue, si Ica sama si Kara udah jadi istri bos tapi kelakuan masih begitu, gue kira dah insyaf !" tawa Vanya.


"Lagu apa Ra ?!" tanya Ica. Kara membisikkan sesuatu pada wedding bandnya, ia juga sudah membawa gitar, memilih gitar akustik yang tak terlalu berat.


"Oke semuanya ! selamat menikmati suguhan penampilan dari duo biduan kampung berkah, " tawa Kara, membuat wajah wajah lelah ini sontak tertawa termasuk Ica sendiri.


Saat Kara memetik senar gitar begitupun wedding band mengiringinya, Ica terbelalak sekaligus tertawa. Termasuk para penonton bayaran yang siap menyoraki mereka. Hanya ada Milo cs, dan Kara cs, termasuk wedding band dan karyawan hotel sebagian.


"Mendung tanpo udan, ketemu lan kelangan, kabeh kui sing diarani perjalanan.


Awak dewe tau duwe bayangan, Besok wes yen omah omahan, Aku moco koran sarungan, kowe belonjo dasteran." (Mendung yanpa hujan, perjumpaan dan kehilangan, itu semua dinamakan perjalanan. Kita pernah punya impian, Kelak jika telah berumah tangga, aku baca koran sambil memakai sarung, kamu belanja pake daster).


"Njirrr, dangdut jowww !" tawa Arial, dibalas tawa Kean, Raka dan Erwan.


"Ini mah cuma bini Milo sama bini Jihad yang punya, kelakuan kaya gini mah !" tawa Keanu.


Ica yang awalnya terbahak bahak melanjutkan. Seraya asyik berjoget ala kadarnya bersama Kara.


"Nanging saiki wes dadi kenangan, aku karo koe wes pisahan, aku kiri kowe kanan, wes bedo dalan." (Namun kini tinggal kenangan, Kau dan aku telah berpisah, aku ke kiri kau ke kanan, jalan kita berbeda).


"Semangat ya Va !!"


"Njirrr, nyesek !!" Vanya mewek. Ica berjalan turun dan menarik Jihad untuk ikut berjoget bersama, sedangkan Kara menarik Milo dan Vanya sekaligus.


"Somplak emang !" Ayu tertawa.


"Astaga !!! " tante Vivi melihat di ruangan acara, ternyata acara belum benar benar berakhir.


"Pah liat deh pah !" tawanya.


Jian yang ikut bergabung sontak meledakkan tawanya.


"Itu bang Ji, kan mah ! seumur umur Jian ga pernah liat abang jogetan dangdutan gitu, " ucap Jian masih memegang perutnya merasa geli.


Tante Vivi bahkan menyuruh salah satu kameramen yang tadi mendokumentasi pernikahan Ica dan Jihad untuk mengabadikan moment langka itu.


"Ceo muda pada menggila, " gumam ayah Jihad sambil tertawa tanpa suara.


"Aku ga bawa uang saweran yank, ntar aja sekalian malem deh ku sawer, " tawa Jihad merengkuh pinggang Ica.


"Gue ngerasa bukan lagi di kawinan bos, tapi berasa lagi di nikahan anak rw tau ngga ?!" omel Vanya.


"Soalnya bos nya kawin ma anak Menteng, " jawab Kara.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2