Me VS Crazy CEO

Me VS Crazy CEO
Liat aku, sentuh dia


__ADS_3

Ica terkesiap, mendadak tubuhnya menegang hebat, seperti terkena sengatan listrik, ucapannya tertahan di udara saat Jihad sudah menangkup kedua pipinya dari belakang, dan menengadahkan kepala Ica, menyatukan dan membenamkan wajah keduanya. Padahal hal seperti ini sering Jihad lakukan padanya, tapi tetap saja Ica merasa terkejut dan membeku, ditambah glenyer aneh yang ia rasakan saat tangan besar Jihad menyusuri tulang punggungnya, memberikan kesan sens*ual, bukan lagi meremang, seluruh rambut halus di tubuhnya ikut bereaksi. Hembusan angin sore hari ikut masuk ke celah celah jendela seakan ingin ikut menambah suasana syahdu, hanya terdengar suara memohon Ica dengan mata sayunya, saat kedua tangan Jihad bermain di sekitar titik titik sen sitif.


"I want you, " bisik Jihad.


"Now.."


Seakan tak memberikan Ica kesempatan untuk menjawab, Jihad meloloskan keseluruhan gaun putih Ica. Ia memutar tubuhnya, lalu menggendong Ica ke arah ranjang yang masih terhampar kelopak mawar. Mengungkung tubuh Ica, memandanginya lekat dan intens, seakan tengah menyimpannya di memory terdalamnya. Saat Jihad mengambil sikap membuka kemejanya, Ica mengalihkan tatapannya ke samping, membuat Jihad semakin gemas akannya. Ia pun tak berani melihat ke arah badannya sendiri yang sudah setengah tertutup.


Jihad tau Ica sudah gugup dibuatnya. Kini terpampanglah badan sixpeck dan otot otot bisep yang dulu pernah ia tampakkan di depan orang orang saat mereka masih SMA, dan itu masih terjaga sampai sekarang, malah semakin liat sepertinya, dulu Ica yang sempat mupeng dibuatnya, kini itu milik Ica seutuhnya, jika dulu Ica belum memiliki ijin untuk menyentuhnya, mulai detik ini semua itu miliknya hanya untuknya.


Jihad meraih kedua pipi Ica untuk mengarah kepadanya.


"Liat aku, sentuh dia.." Jihad mengarahkan tangan Ica menyentuh dada hingga perutnya., degupan jantungnya semakin tak menentu. Jihad ingin membuat pengalaman pertama ini berkesan untuknya dan Ica, bukan kepuasan satu pihak saja.


Jihad meraih dagu Ica lalu kembali menenggelamkan wajahnya, membawa Ica kembali di mabuk asm ara, soul kissing yang begitu memabukkan, dengan tangan yang tak pernah diam menjelajah, meninggalkan rekam jejaknya di setiap inci permukaan kulit halus Ica, hingga dengan senang hati Ica membiarkannya untuk melakukannya lebih dan lebih. Sen sasi baru yang mereka dapat membuat keduanya menggebu meskipun bukan sedang berlomba dan memperebutkan piala, berdegup kencang meskipun bukan tengah menanti sebuah pencapaian. Saat tangan besar Jihad sampai di sumber penghidupan seorang manusia milik Ica, Ica benar benar seperti dibawa melayang dan terbang ke nirwana bertabur jutaan bintang, seakan tak ingin kembali. Membawa Ica meraup sebuah ke nik matan yang tak bisa dijelaskan hingga membuat punggung Ica melengkung, dan kembali... suara merdu nan serak memohon untuk segera dituntaskan itu menggema membuat otak Jihad semakin diserbu kabut yang mendera memberinya energi yang berkali kali lipat untuk mengayun bersama ke dermaga cinta, dar ah nya berdesir sampai membuatnya panas dan gerah. Jihad merenggangkan jarak wajahnya dan Ica, membuat Ica meraup udara dengan rakus, Ica terlihat kacau dengan mata sayu dan tak berdaya di bawah kungkungan Jihad yang menundukkan kepalanya, membuat jarak diantara keduanya benar benar tak ada, bahkan kehangatan satu sama lain begitu terasa, deru nafas yang saling bersahutan, dan mata yang sudah benar benar menggelap karena kabut meminta untuk segera ditunaikan begitu terlihat.


Ica hanya mengangguk, tak ada kata kata yang keluar dari mulut yang biasa cerewet ini. Entah karena begitu menikmati sen tuhan yang diberikan Jihad atau memang ia terlalu malu, yang jelas sen tuhan itu begitu membuat Ica menjadi wanita yang begitu beruntung, begitu dihargai dan dihormati. Jihad bukanlah pro player, ia justru masih sangat pemula, tapi itu semua bisa terjadi secara alami bermodalkan ingin saling mem uaskan.


Jihad tau untuk sama sama mencapai puncak ia dan Ica harus sama sama terlena dan melayang, entah detik ke berapa, kini kain terakhir yang menempel sudah teronggok di lantai kayu bersama beberapa kelopak bunga mawar, begitupun selanjutnya Ica sudah tak bisa mengontrol lagi mulutnya yang meracau dengan sesekali berkata


"Aku pengen pipis,"


"Bee, awas !"

__ADS_1


"Udah ga kuat, "


Bukannya menjauh Jihad malah bertualang semakin jauh memasuki Ica, setiap inci dia kecup dan dia cecap, menikmati yang katanya menu makan malamnya ini malah menjadi menu sore harinya.


Ica me leng uh, berkali kali jemari lentiknya mere mas sprei.


"Sekarang bee, " pinta Ica dengan suara seraknya dan tatapan memohon.


Jihad tersenyum, "you will get it, baby.." bisiknya.


Ica tersentak saat sesuatu memasuki dirinya, ada rasa perih dan mengganjal disana. Tapi tak sampai membuatnya memekik dan menangis. Jihad mengecup keningnya lembut dan lama, lalu petualangan mereka dimulai, rasa asing yang mampu membuat keduanya terlena dan lupa akan dunia, keduanya mengembara bersama ke atas langit penuh keindahan, terombang ambing di lautan penuh kasih, memacu di lautan as mara, tergulung ombak has rat hingga akhirnya meraup puncak kepu asan bersama.


Bahkan sepertinya setelah petualangan pertama mereka, Jihad enggan untuk berhenti, hingga nafas Ica sudah tersengal sengal pun lelaki itu seakan tak pernah kehabisan energinya, melihat Ica yang semrawut malah membuatnya semakin semangat.


.


.


"Magribnya kelewat, " Ica memberenggut. Jihad menggaruk tengkuknya tak gatal, karena again nya yang beberapa kali, mereka jadi melewatkan sholat maghrib.


"Ya udah mandi dulu deh, badan kamu lengket."


"Mau digendong atau bisa sendiri ?" Ica yang baru saja mengumpulkan serpihan nyawanya, sekembalinya ia dari bulan melirik jam di ponsel, ternyata sudah lewat dari magrib. Ica menepuk bahu Jihad, benar kata Kara sakitnya baru sekarang, tadi saat bertualang bersama tubuhnya serasa di angkat melayang ke atas awan, tapi setelah semua selesai tubuhnya yang berada di atas awan dihempaskan sampai ke dasar jurang hingga remuk redam, apalagi di bagian inti.

__ADS_1


Jihad menyingkapkan selimut membuat Ica menahan selimut bagiannya di dada agar tak ikut tersingkab.


"Alvian Jihadddd !!! ga tau malu, " pekik Ica saat melihat tubuh toples suaminya, Jihad tertawa renyah dan meraih celana miliknya, melangkah begitu saja tanpa dosa dengan hanya memakai celana bo xer saja, ke sisi ranjang Ica, Ica terkesiap saat tubuhnya tiba tiba terangkat dari ranjang menuju kamar mandi, dan sontak mengalungkan tangannya di leher Jihad, menjambak sejumput rambut Jihad yang sama sama sudah acak acakan.


"Kamu mandi disini, berendem dulu, biar sakitnya bisa reda. Kalo masih belum bisa jalan, nanti aku balik lagi ke kamar ko, aku mandi di kamarku yang sebelumnya, " ucap Jihad menaruh Ica di bathtub.


"Jangan lama lama, " jawab Ica ketus.


"Iya, kenapa ? masih belum puas ?" kekeh Jihad sontak dihadiahi pelototan Ica.


Jihad keluar dari kamar mandi, dan memunguti kemeja dan celana panjangnya lalu keluar dari kamar. Ica berendam beberapa saat, ia memicing saat melihat luka merah di dadanya.


"Ini kenapa nih dada gue ?! kapan gue garuk, tau tau merah aja !" ia kemudian menguatkan diri memegang pinggiran bathtub dan melangkah menuju cermin di kamar mandi.


Ica melotot tak percaya, merah yang sama terdapat di sepanjang leher, dada dan bagian bagian tertentu yang pasti titik titik sen sitifnya, ia terkesiap, "astaga ! banyak banget !" Ica mengingat ingat luka seperti ini pernah ia lihat saat sarapan di leher....


"Jihadddd !!!!"


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2