Me VS Crazy CEO

Me VS Crazy CEO
Kalo emak bumil sudah berkunjung...


__ADS_3

Sudah 2 bulan kejadian itu berlalu, tapi kasus Mbak Sari belum bisa menjerat pelakunya karena ia terbukti bunuh diri, termasuk barang bukti seperti ponsel Sari yang tiba tiba hilang sim cardnya. Sebenarnya polisi sudah mengantungi satu nama, tapi belum kunjung mereka tangkap atas permintaan Jihad sendiri. Bukan bermaksud untuk melindungi, tapi karena ada sesuatu yang ingin mereka ungkap.


"Pak Yasa sudah bersiap menangkap Bayu, Ji !" Milo berkunjung bersama Kean dan Raka.


" Iya, tapi hanya tinggal sebentar lagi Mil, satu langkah lagi kita akan dapat bukti konkrit kalau Bayu sudah mencurangi dan mengubah nominal pemasukan perusahaan untuk keuntungan pribadinya, " jelas Jihad.


"Tenang aja, Bayu tidak akan kabur kemana mana, pak Yasa sudah menahannya dengan mencekalnya pergi ke kota lain, ia tak akan bisa keluar kota, kita sudah mempersempit ruang geraknya."


"Orang orangku juga selalu mantau Bayu, " tambah Kean.


"Gue cuma kasian aja sama korban, sama keluarganya !"


"Gue sudah kasih santunan, masalah saham yang menurun gimana ?" tanya Kean.


"Sudah gue tanggulangi, tenang aja !" ucap Milo meraih gelas kopinya lalu berdiri dari kursi.


"Mau kemana ?" tanya Jihad.


"Kangen calon mommy ! Kara makin bulet, bikin gue greget !" jawab Milo dikekehi Jihad dan Kean.


"Gimana perkembangan pemulihan Ica ?!" tanya Milo.


"Udah ada peningkatan, "


"Siap nyusul bruh ?!" tanya Milo.


"Ini teman teknisi kita gimana ? " tanya Jihad pada Kean.


"Gue masih betah ngumpulin duit dulu, cewek ribet...ntar kalo brangkas penuh, baru cari cewek !" jawab Kean mengangsurkan kaca matanya.


"Ka, loe ga niat nikah apa ?" tanya Milo.


"Si*alan pertanyaan loe !" sarkas Raka melempar kertas pada Milo yang sudah berdiri melihat ke arah jendela lantai 40 ini, Milo tertawa terbahak.


"Dorong loe dari lantai sini enak kayanya Mil, " senyum Raka miring.


******************


"Ovi, jangan nung ging nung ging ! kecebur kolam baru tau, mak kagak bisa berenang !" pekiknya, duduk melantai di teras belakang rumah Ica.


"Ga dalem ko mak, kalo mak kecebur masih bisa nafas ! lebih dalem juga kali sebelah kampung mak," jawab teh Mira.


Mak Ovi sering bertandang ke rumah Ica. Kebetulan hari ini ada Kara, teh Mira dan mak Ovi.


"Bu, ada paket !" pekik bi Denok.


Kara langsung berdiri dan melangkah setengah berlari, menyambut paper bag bening bertuliskan J.ho sebuah gerai donat ternama di Jakarta.


"Anak anak !! donatnya udah datang !" pekik Kara bumil satu ini sudah seperti bocah, suka jajan. Momo, Ovi, Robi dan Zakir berlarian ke arah Kara.


"Ca, ntu temen loe jajan terus dari tadi, makanan mahal pula, kagak takut kantong jebol, apa lakinya marah gitu duit belanja abis dipake jajan ?" bisik mak Ovi.


Ica tertawa, "engga mak, duit dia ga akan abis 7 turunan, " jawab Ica berseloroh.


"Kenapa mak ? curhat ?! si mas suka marah kalo duit belanja kepake jajan ?" tanya teh Mira.


"Laki gua suka marah, lah ntu duit belanja 150 rebu kemana peginya ?" tanya mak Ovi memperagakan gaya suaminya berkacak pinggang jika marah.


"Terus mak jawab apa ?" tanya Ica mulai tertawa.

__ADS_1


"Gua bilang aja, si Ovi mesti bayar buku gambar, "


"Percaya mak ?" tanya teh Mira.


"Percaya satu, dua kali mah !"


"Emang duitnya kemana mak ?"


"Duitnya gue bayarin kredit baju daster !" tawanya di balas tawa Ica dan teh Mira, Ica patut bersyukur dirinya tak harus berbohong ataupun membeli daster dengan cara di kredit.


"Neng, si Ovi mah jangan dikasih makanan mahal, ntar ngelunjak, minta ma bapanya ga masuk dompet, " ucap mak Ovi, saat Kara mendekat membawa box donat di depan mereka.


"Hahaha, hayoo mak ! nanti si 'mas rewas (kaget) kalo si Ovi minta jajan ! hayang donat siga di rumah bu Ica cenah ! ( pengen donat kaya pas di rumah bu Ica katanya)" ujar teh Mira.


"Langsung sawan mak !" ucap Ica, Kara ikut tertawa.


"Auto kejang laki gua, besoknya gua ngutang beras di mpok Salma !" jawab mak Ovi.


"Engga lah mak, nanti aku kirim buat Ovi ya, sampe Ovi bosen !" dengan enteng Kara melahap donat, begitupun Ica yang nafsu makannya sama dengan Kara, Ica melewati pemulihan bukan tanpa rintangan, tapi ia tak pernah memanjakan keluhannya hingga kadar hCG turun dengan drastis.


"Teh, aku tuh lagi ngidam pengen seblak !" ucap Kara masih dengan mulut penuh donat.


"Boleh, mau teteh bikinin ?!"


"Nah kalo itu mak juga bisa tuh ! lebih masuk di kantong emak emak rebahan kaya gua !" serunya.


"Yuu ! seblakan !!" ajak Ica dengan semangat.


"Terus itu anak anak, siapa yang liatin ?" tanya teh Mira.


"Biar bi Denok aja, " usul Ica, melihat bi Denok pun asik tertawa bersama Momo dan Zakir, ia teringat cucu nya di kampung.


"Boleh sok atuh, dititip dulu !" imbuh teh Mira.


"Boleh bu, biar anak anak sama bibi aja, "


"Ateu ! liat dong tenda Momo ! walnanya pink !" seru Momo.


"Bagus Mo, " Ica menunjukkan jempolnya.


Beda usia, beda lingkungan, beda kebiasaan. Jika teh Mira dan mak Ovi langsung hajar setelah mencuci tangan, lain halnya dengan Ica dan Kara yang refleks memasang celemek.


"Ribet amat Ca, pake begituan !" ia mengupas bawang putih dan kencur. Sementara teh Mira membuka lemari buffet dan kulkas mencari bahan bahan.


"Takut baju kotor mak, " jawab Ica.


"Halah baju gua udah lewatin banyak musim Ca, musim pilek musim batuk, " Ica dan Kara mengangkat alisnya sebelah.


"Musim apaan itu mak ?!" tanya Kara, teh Mira tertawa.


"Maksud mak Ovi, jangankan bumbu dapur, bajunya udah dipake lap ing us si Ovi udah pake nutup mulut kalo si Ovi batuk juga !" jelas teh Mira, Ica dan Kara berohria. Ilmu baru untuk mereka.


"Oh iya kaya ka Novi, teh ?!" seru Ica.


Kuah merah seblak meletup letup, Ica dan Kara langsung mengambil sendok dan merasai dari wajan yang masih panas.


"Emh, udah cukup !" jawab Ica.


"Kurang pedes, " jawab Kara. Ica melongo, pasalnya rawit yang dipakai sudah menyamai geprek level 10.

__ADS_1


"Seriusan Ra, ini udah pedes loh, ntar perut loe sakit, peakk !" sewot Ica.


"Kurang Ca, ga berasa jos gitu !"


"Dih, salah salah loe diare, ka Milo nyalahin gue Ra, "


"Anak loe ntar botak !"


"Cih, teori darimana makan pedes rambutnya botak ?"


"Teori gue, barusan bilang !" jawab Ica.


"Mitos !" jawab Kara tak percaya.


"Jangan pedes pedes neng, nanti bolak balik ke toilet, " jawab mak Ovi.


"Punya gue pisah deh, pengen ditambahin pedesnya, " Ica menggeleng cepat.


"Engga ! ga boleh ! ntar ada apa apa sama kandungan loe, " Kara manyun.


"Dikit lagi Ca, ini mah hambar, "


"Busettt, lidah loe mau kebakar Ra ?"


"Engga gitu juga markonah, "


Di tengah perdebatan keduanya mak Ovi dan teh Mira hanya jadi penonton saja.


"Assalamualaikum, "


"Waalaikumsalam, "


"Ini lagi debat sengit bapak bapak, jangan diganggu !" ucap teh Mira pada Jihad dan Milo, Teh Mira dan mak Ovi kembali ke halaman belakang menemani anak anak mereka seraya membawa seblak masing masing.


"Ini nih emak emak hamil rese banget ngidamnya, " seru Ica mendesis.


"Cih, ini emak emak calon bumil juga ga bisa rasain, lidahnya kelamaan berendem di larutan basa, "


"Apa sih by, kamu makan apa itu nyengat banget bau pedesnya ?!" Milo melongokkan ke arah wajan.


"Tuh kan laki loe aja bilang tu seblak dah bau rawit, masih bilang ga pedes juga, heran tuh seblak apa omelan si Vio !" Kara tertawa.


"Kamvrettt gue lagi bunting jangan bawa bawa lambe turah fansnya ka Milo, jadi pengen muntah kan !" ringis Kara. Jihad sesekali tertawa dan menggelengkan kepalanya, heran..setiap hari bertemu, tapi di setiap pertemuan ada saja hal yang mereka ributkan.


"Awas loe benci banget, anak loe mirip Vio atau ngga Gladys !" Kara semakin tertawa sekaligus mencebik.


"Kenapa jadi bawa bawa Vio sama Gladys, Ji..apa hubungannya sama muka anak gue ?" tanya Milo membeo.


"Ga tau gue, mitos yang dipercaya kaum hawa, " bisik Jihad.


"Amit amit ! gue ga kuat lah nahan pipis, ya kali Ca, anak gue anak tetangga !" Kara beranjak menuju kamar mandi.


"Hati hati by, takut licin ! aku temenin ya !"


"Ga perlu ! tiba tiba aku kalo liat kamu jadi inget Gladys !" jawab Kara dari balik pintu kamar mandi.


Ica dan Jihad tertawa diatas penderitaan Milo, padahal mungkin mereka lah calon calon Milo Kara selanjutnya.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2