
Ica menggeret kopernya bersama keluarganya. Pengalaman pertama menaiki pesawat sudah pasti membuat ia dan keluarganya sedikit hectic.
Jihad sudah berada di Bali sejak kemarin. Sebenarnya jika sesuai rencana, seharusnya kemarin Ica dan keluarga sudah terbang ke Bali, tapi berhubung karena acara open house yang diadakan oleh keluarganya, keberangkatannya jadi tertunda.
"Udah ga ada yang ketinggalan kan ?" tanya Riski dengan alis terangkat mengisyaratkan kekhawatirannya, disaat acara penting keluarganya, sebagai anak laki laki paling besar di keluarga Ica, Riski selalu mengambil peran yang bertanggung jawab atas keluarganya.
"Udah Ki," jawab mamah.
"Asikkk Momo naik pesawattt !!" seru anak itu excited bersama Rara dan Robi yang juga melakukan hal yang sama.
"Udah minum obat anti mabok kan ? jangan sampe malu maluin muntah di pesawat ?" sela Galih dengan malas.
"Loe yang harusnya makan tuh obat, bawa kresek ngga? gue ga mau suruh nangkupin muntahan loe !" ledek Ica menyunggingkan senyumannya.
"Kamvreettt, loe pikir gue Momo atau nene."
Tawa Ica sedikit keluar hari ini, sudah dari kemarin rasanya mulutnya kaku tak dapat tertawa, tak disangka kegugupannya bisa mematikan urat saraf kekonyolannya.
Panggilan pengeras suara di bandara sudah terdengar mengharuskan mereka semua untuk masuk ke pesawat.
Ica menatap langit kota Jakarta yang sedikit mendung. Sekembalinya ia ke Jakarta, statusnya akan berbeda, bukan gadis kampung biasa yang bisa seenak jidat bertindak, ataupun sebebas merpati lagi.
Ica menyeret kopernya dengan sling bag yang setia ia sampirkan di bahu, setelah sebelumnya mengecek notif di ponselnya, yang rata rata menanyakannya sudah berangkat apa belum ? ia hanya memotret Momo dan para keponakannya yang melangkah masuk menuju pesawat dan membubuhkan tulisan, # say good bye to Jekardahh, say good bye to nona for nyonya...sebagai jawaban dari semua chat, daripada harus membalas satu satu. Mungkin hanya chat dari Jian saja, agar Jian tau jam berapa harus menjemput rombongan keluarga Ica di bandara.
Ica duduk bersebelahan dengan Galih yang sudah bersiap terbang menuju alam mimpi dengan menyenderkan kepalanya di sandaran kursi dan memejamkan matanya. Ica mematikan ponselnya, mengeratkan pegangan di kursi saat pesawat take off dan mulai tak menjejaki tanah lagi. Bersamaan dengan pikirannya yang melayang bersama nasihat ayah kemarin sore.
"Ica sudah memutuskan untuk menikah dengan Jihad, saat ijab sudah di qabulkan, Ica sudah bukan lagi anak gadis ayah, sudah bukan lagi tanggungan ayah. Samawah adalah do'a paling pertama yang akan diucapkan oleh ayah dan semua orang, tapi ayah hanya bisa bilang jadilah istri yang baik, menantu yang menjaga nama baik keluarga, dan tetap menjadi anak yang membanggakan. Surgamu kini ada di dalam keridhoan laki laki yang menjadi suamimu."
Tanpa sadar Ica pun ikut tertidur, melihat awan putih di balik bulatnya kaca pesawat membuatnya serasa berada di dalam gulungan bantal putih.
Hampir 2 jam Ica melakukan perjalanan menggunakan pesawat terbang, akhirnya ia sampai di Denpasar.
Kedatangannya ternyata memang sudah disambut oleh Jian, adik Jihad.
"Macet ga ?" tanya Jian terkekeh berbasa basi.
"Jian, maaf ya merepotkan ," imbuh ayah.
"Tidak apa apa pak, sudah tugas Jian, ayo ! mobilnya disana, " lirih Jian menyalami orang orang yang lebih tua darinya.
"Ga ada yang mabuk kan ?" tambahnya menoleh kembali.
"Ga ada alhamdulillah, " Riski menggendong Momo yang masih mengumpulkan nyawanya, saat baru saja dibangunkan sang ayah. Anak itu begitu excited sampai sampai Riski dan Mira kewalahan menanggapinya, tapi saat setengah perjalanan suaranya mulai senyap karena anak perempuan itu yang tertidur.
"Udah sampe ?" alisnya mengernyit dan mengucek mata.
__ADS_1
"Udah, sekarang kita ke hotel ya, nanti Momo lanjut tidur di hotel, " jawab Riski, teh Mira memutar segel air minum dan meminumkannya pada Momo.
Galih membantu Riski dan ayahnya juga Ica memasukkan koper milik mereka ke dalam bagasi mobil yang dibawa supir. Karena jika hanya satu mobil saja, dirasa tak akan cukup untuk mengangkut keluarga Ica.
"Gue bareng supir aja bareng koper !" ujar Galih sudah membuka handle pintu dan masuk ke dalam mobil sebelah supir.
"Oke ! " jawab Riski.
Jian memutar stir kemudi meninggalkan bandara, bersama mobil satunya di belakang mengekor.
"Seumur umur baru kesampaian ke Bali, " seloroh ka Novi menatap kagum dan terkekeh.
"Kesian, sama dong gue juga !" imbuh Riski ikut tertawa. Mata mereka disuguhkan bangunan dengan ciri khas gapura mirip seperti pura, yang dinamakan angkul angkul, salah satu daya tarik Bali.
Semua sibuk dengan pikirannya masing masing, hanya diselingi suara keponakan keponakan Ica yang tingkat kekepoannya mulai meninggi menanyakan setiap benda yang dilihatnya.
Mobil kembali berbelok ke kanan melewati bentangan pesawahan luas, bersama lalu lalangnya para warga, lengkap dengan pakaian khas mereka. Rupanya hotel itu sengaja di bangun dekat dengan pemukiman. Jian memutar stir kembali ke kiri memasuki area bertuliskan Starsky hotel, meskipun namanya Starsky hotel, tapi bangunannya tak setinggi bangunan bangunan hotel pada umumnya. Cenderung seperti letak villa yang banyak.
Ornamen dan struktur bangunan adat Bali sangat kental.
"Mama kita mau kemana, Ma ?" Momo kembali bertanya dengan alis terangkat keduanya.
"Mau nginep, " tak banyak jawaban teh Mira.
Ucapan selamat datang dan welcome drink seperti es kuwut (seperti es teler dengan isian buah kelapa dan blewah yang diserut) dan es daluman (cincau dengan siraman gula merah dan santan) di sajikan oleh para pegawai hotel dan managernya.
"Malu maluin, " sengitnya.
Dari arah pintu kanan, mamah dan papah Jihad menyambut rombongan calon besan.
"Ica, dah sampai ?!" tante Vivi merentangkan tangannya memeluk Ica yang mengangguk, dan mamahnya.
"Alhamdulillah bu, mendarat dengan sempurna. Mungkin pikirannya yang masih mencoba berkumpul," selorohan mamah Ica.
"Gugup ya ?" tebak tante Vivi cipika cipiki.
"Gimana ? dari Jakarta jam berapa?" tanya Ayah Jihad masih bersalaman dengan Riski dan Galih, lalu kembali merangkul ayah Ica.
"Jam 9, kayanya ya Ki ?" balik ayah Ica menanyakan pada Riski, Riski mengangguk.
"Kalau begitu langsung saja, istirahat, pasti cape !" senyum tulus yang tak pernah lepas dari keduanya adalah tanda mereka excited dengan acara pernikahan ini.
Ica memasuki kamarnya sendiri, sementara Galih sudah menghambur ke atas ranjang miliknya sendiri. Jika Momo, Ara dan Robi sudah jangan ditanya lagi. Anak anak itu bahkan sudah melompat lompat, membuat teh Mira dan ka Novi bersungut sungut melarang.
"Momo, nanti jatoh !!" desis teh Mira.
__ADS_1
"Robi, Ara !!" lengkingan tertahan khas ka Novi. Tapi tak menjadikan anak anak itu tak segera menghentikan kegiatannya. Bukannya ikut membantu menghentikkan anaknya. Riski malah ikut menjatuhkan diri di ranjang menggoda Momo.
"Awas ! ayah mau terjun !" ucapnya bersiap siap menjatuhkan dirinya dengan sedikit melompat ke ranjang. Momo tergelak, karena ayahnya adalah partner bermain yang asik.
"Ish, malah ikut ikutan gila nya !" desis teh Mira.
Ica merebahkan diri di atas ranjang king size, bertiraikan kain putih di setiap sudut tiang ranjang.
Kamar dengan warna putih dan aksen coklatnya begitu pas menyatu dengan alam sekitarnya.
Ica kemudian beranjak melihat ke arah luar jendela, dengan view pesawahan warga yang membentang luas.
Ia memeluk lengannya sendiri, merasakan suasana ini sampai pintu kamarnya diketuk dari luar.
"Ca, tidur ngga ? siap siap makan siang dulu !" pekik suara ka Novi.
"Iya ka, ntar ke sana !" jawab Ica.
Drrttt....drrttt....
"Udah sampe?"
"Miss you so.."
Senyum Ica tersungging, jempolnya mengetik untuk membalas pesan yang seseorang kirimkan.
"Udah, baru aja."
"Kangen berat juga, "
Ponselnya kembali bergetar saat Ica kembali menatap ke luar jendela.
"Bisa ketemuan diam diam ngga ?"
Gadis itu mendengus terkekeh.
"Besok juga ketemu di pelaminan,"
Ica menaruh ponselnya di dalam saku celananya dan berjalan menuju cafe hotel.
.
.
.
__ADS_1
.
.