
Seketika suasana suka cita berubah menjadi mencemaskan. Jihad segera menghampiri Ica dan Evi, tapi sayang Evi mengeluarkan sebuah pistol dari dalam tasnya dan mengarahkan pada Ica yang berada di depannya.
Dalam hitungan detik, jantung Ica berdegup kencang. Apa yang terjadi dengan Evi, dan apa yang akan terjadi selanjutnya melihat Evi menodongkan pistol padanya. Tangannya hanya mendekap perut membuncitnya, dimana kedua calon buah hatinya masih lincah bergerak di dalam plasentanya. Tanpa memikirkan nasibnya sendiri, ia terus melafalkan do'a agar kedua bayi yanh ada dalam kandungannya selalu dalam keadaan baik baik saja.
Mamah Ica mengeratkan tangannya di lengan ayah Ica sambil berurai air mata, jika sampai Evi melesatkan peluru dari dalam pistol, jika bukan Ica maka twins yang ada di perutnya lah menjadi korban.
"Yah, " ayah Ica mencoba menenangkan istrinya.
"Bang, Ica .." teh Mira mendekap Momo dan Zakir agar tak melihat adegan yang tak patut dipertontonkan di hadapan anak kecil seusia Momo dan Zakir, begitupun ka Novi.
Riski dan Galih mengeraskan rahangnya demi apa yang terjadi pada adik mereka. Tapi mereka pun tak dapat berbuat apa apa, dan tak tau apa yang sedang terjadi. Keduanya tak boleh gegabah, jika sampai salah langkah, maka nyawa Ica dan kandungannya yang jadi taruhannya.
"Evi !!!! jangan Vi, " Jihad berpikir keras untuk menjauhkan Evi dari Ica. Milo menarik Kara ke dalam pelukannya, begitupun om Braja yang mengambil Lendra dan mendekapnya.
Keluarga Jihad dan teman temannya ikut terkejut dengan kejadian ini.
"Evi, apa yang terjadi sebenarnya. Jika saya yang salah, maka balaslah pada saya, bukan Ica !" Jihad mencoba mengajak Evi berbicara sementara Evi dengan tangan bergetarnya masih menodongkan senjata api itu tepat ke arah Ica dengan sesenggukan. Bahunya bergetar hebat karena menangis.
Ica sudah sangat bergetar karena takut, bukan ia takut nyawanya melayang, ia hanya takut kedua anaknya yang menjadi korban.
"Vi, " Tio yang masih diambang pintu mencoba mendekat.
"Stop !!!! jangan ada yang mendekat !" tangan Evi sudah akan menarik pelatuknya.
"Vi, gue emang ga tau apa yang terjadi, sampai sampai loe ngelakuin ini sama gue. Tapi gue berharap loe mau berbagi rasa sakit loe sama gue Vi, sama seperti dulu, kita selesaikan ini sama sama tanpa harus ada kejadian kaya gini," ucap Ica memberanikan menatap mata Evi yang sudah memerah.
"Kali ini gue yakin loe ga akan ngerti Ca, " jawabnya.
"Gue kehilangan dua orang yang berarti karena pak Alvian, maka gue akan membalasnya agar impas, " Evi mengarahkan pistolnya tepat ke arah perut Ica.
"Vi, jangan !" Jihad mengeraskan rahangnya, mengepalkan tangannya. Jika sampai terjadi apa apa dengan Ica dan kedua buah hatinya maka jangankan penjara, ia akan kejar Evi sampai lubang neraka sekalipun.
Evi sudah menarik pelatuknya, tapi dengan sigap Ica menepis lengan Evi, hingga membuat pistol itu terjatuh tepat di bawah kaki Ica.
__ADS_1
"Aww ! Ica !!" pekik Evi.
Kekuatan seorang ibu yang melindungi anaknya memang tak bisa dikukur dengan apapun. Ica dengan segera berlari ke arah Jihad. Para laki laki berlari ingin menyergap Evi. Tapi naas, Evi yang tak sempat di sergap Tio, dan yang lain karena jarak yang cukup jauh terlanjur meraih pistol itu kembali dan mengarahkannya tepat ke arah Ica. Hingga membuat mereka kembali berhenti di tempat dan mencoba menenangkan Evi.
"Tunggu..tunggu...Evi...jangan gegabah !!!"
Dorrrr !!!!
Jihad membelalakkan matanya dengan mata yang mendadak berembun, begitupun keterkejutan yang lain.
"Ica !!!" Jihad menangkap tubuh Ica yang melemas dan jatuh. Riski dan Galih segera menyergap Evi bersama Arial dan Kean.
"Ica !!!" Kara, Ayu mendekat bersama kedua mamah Ica dan Jihad.
Cairan kental merah meleleh mulai merembes deras keluar, seketika panas sakit dan ngilu menyerang Ica.
"Sayang !!!"
"Ji !!! sobekin bajunya Ji !!" tahan aliran dar4hnya pake kain !!!" hanya terdengar ucapan panik Kara dan jeritan juga tangisan kedua mamah.
Masih terdengar sayup sayup suara Milo, " Ji, mobil siap !!!" yang Ica rasakan badannya melayang di gendong Jihad dengan Kara yang menahan lengannya.
"Baby, biar aku sama Jihad aja yang bawa Ica, kamu jaga Lendra ! takutnya Lendra haus sama lapar, " Kara mengangguki perintah suaminya.
"Hati hati, " Kata menatap mobil yang menjauh hingga tak terlihat lagi.
Ica tetap mendekap perutnya sampai semua benar benar gelap untuknya, dan tangannya benar benar terkulai tak berdaya.
"Don't do this to me, babe !" wajah Ica menampakkan bahwa aliran darah mulai berkurang, hingga terlihat memucat.
Riski, bersama Raka dan Jian membawa Evi ke kantor polisi. Sementara yang lain masih menunggu.
Ica dibawa segera ke RS terdekat, dan ditangani dengan cepat. Biji timah yang menancap di lengan Ica di keluarkan.
__ADS_1
Untung saja tembakan Evi yang sembarang tidak sampai menembus area vital. Butuh waktu 1 jam untuk Ica tersadar.
Ia merasakan lengan kirinya susah untuk digerakkan, rasanya ia baru saja dihempas dari lantai 5. Ia mengerjapkan mata yang masih terasa buram.
Tangan kanannya terasa hangat dalam genggaman. Rupanya Jihad masih setia menggenggam tangannya.
Acara 7 bulanan yang seharusnya menjadi kebahagiaan semua orang malah berakhir tragis. Gerakan Ica dirasakan Jihad.
"Sayang, udah bangun ?!" wajahnya sudah kuyu, mungkin ia menangis.
"Kamu mewek bang, baru kali ini aku liat kamu mewek !" perempuan itu malah tertawa seperti tidak terjadi apa apa, padahal baru saja nyawanya di ambang kematian.
"Aku udah takut setengah mam pus kamu malah sempet ketawa, " tatapannya menyiratkan jika lelaki ini tidak sedang bercanda pasal nyawa ia dan anak anaknya.
"Iya iya...aku ga apa apa bang, twins ga apa apa kan ?" Ica membuka selimut dan meneliti keseluruhan kulit perutnya.
Jihad menggeleng, "alhamdulillah kata dokter, twins ga apa apa."
"Bang, aku mau duduk !" pinta Icameskipun badannya sangat sangat lemas tapi ia merasakan tak enak untuk terus berbaring, karena memang usia kandungan yang besar membuatnya tak enak jika berada di satu posisi dalam waktu yang lama.
"Kamu masih harus baringan, bakwan !"
"Tapi ini ga enak bang, mau nyender aja, " Jihad memijit remote untuk menegakkan ranjang rumah sakit.
"Segini cukup ?" tanya nya, Ica mengangguk.
Dokter masuk untuk memeriksa keadaan Ica sementara Jihad menerima panggilan telefon.
"Gue mau dia dihukum, hubungi pak Rosidi kuasa hukum keluarga, " tak ada lagi belas kasihan dari Jihad untuk Evi. Hari ini pandangannya untuk Evi sudah berubah 180 derajat.
Hay guys, cerita Ica dan Jihad sudah masuk konflik akhir nih !!! dan bentar lagi kita nyampe di ujung pertemuan. Nikmati part part akhir si daddy ma bakwan ya guys,
JANGAN LUPA ,mampir di karyaku lainnya bila berkenan
__ADS_1