
Ica memakaikan lotion di kakinya, setelah mandi di sore hari. Tapi tiba tiba Jihad merebut botol lotion dan beralih, ialah yang memakaikan Ica lotion, ia menyapukan lotion ke seluruh permukaan kaki mulus Ica.
"Udah kaya pegawai salon !" tawa Ica.
"Ga apa apa asal salonnya ++, " jawab Jihad.
"Dih ! ga enak ujungnya !" cebik Ica, dan benar saja, sejurus kemudian Ica sudah ada di bawah kungkungan Jihad diatas ranjang. Kimono tidur tipis berwarna merahnya sudah teronggok di lantai. Setelah matanya mengelam gelap berkabut, Jihad lalu mengangkat sedikit tubuhnya yang sudah berada di atas lawan dan siap bertempur, ia membuka laci meja di samping ranjang, meraih benda berbungkus merah, dengan isi jas hujan berbahan elastis, tapi Ica menahan gerakan tangan Jihad yang ingin menyobek bungkusnya.
"Bang, ga usah pake itu lagi !" ucap Ica, Jihad mengangkat sebelah alisnya.
"Emangnya ga pengen punya anak gitu ?" tanya Ica.
"Astaga, aku lupa tadi kamu ijin ke dokter, apa kata dokter ?" Jihad menyimpan kembali benda itu di meja, lalu kembali meraih Ica dalam belaiannya.
"Kata dokter...aashhh..."
Ica tak bisa meneruskan ucapan dengan serangan yang dilancarkan oleh Jihad bertubi tubi di titik sensitifnya. Tak sempat menjawab, Ica semakin terbuai, dan mereka kembali mengarungi panjangnya malam bersama tanpa penghalang dan batasan hingga keduanya sama sama tertidur dalam dekapan.
"Hari ini aku lembur, " Jihad sudah terlihat segar, dengan rambut yang masih basah.
"Oke, mau aku bawain makan siang ?" tanya Ica menyiapkan sarapan.
"Boleh, kapan mau daftar ulang buat semester 2 ?" tanya Jihad.
"Emh, hari ini sekalian anter Kara yang mau belanja perlengkapan. Udah masuk bulannya !"
"Oke, maaf aku ga bisa anter, kantor lagi sibuk banget !" sesal Jihad menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.
Jihad memang tengah sibuk sibuknya, ia sengaja tak ingin berleha leha agar tidak menumpukkan pekerjaan, agar hari weekend ia bisa free, komunikasi dan quality time dengan Ica adalah prioritasnya setelah pekerjaan.
***************
"Ra, ko gue ngilu ya liat cara jalan loe ! seberat itu ya ?" tanya Ica meringis.
"Udah ganjel Ca, udah ga enak jalan.." Kara mengusap usap perutnya yang sudah turun, ia sampai harus mengeluarkan keringat besar dan kecilnya saat berjalan, beberapa kali ia mengusapkan tissue di dahi mungkin jika dikumpulkan sudah habis satu plastik.
"Gerah Ca, " jawab Kara.
"Ada satu cara yang bikin kita ga gerah Ra, " Ica menaik turunkan alisnya menarik tangan Kara ke sebuah supermarket yang ada di mall ini, berjalan ke deretan minuman di dalam showcase.
Kara tertawa sambil memegang perut bagian bawahnya dan merasai dinginnya hawa dari dalam kulkas yang berisi berbagai jenis minuman itu. Melihat kelakuan absurd temannya satu ini, namun sekaligus terharu karena saking perhatiannya, mungkin jika pengunjung lain akan melihat dua pengunjung supermarket tak waras tengah memainkan showcase, padahal jika di lihat lagi Ica tengah membuat Kara merasa nyaman.
"Setelah belanja kita mendingan nonton deh Ra, di dalem theater kan dingin !" usul Ica.
"Ide bagus," jawab Kara.
"Cabut yu, ntar diseret satpam ! dikira mainin showcase," ringis Ica. Beberapa lantai mereka lewati menaiki escalator. Dari ujung tangga berjalan ini sudah terlihat satu sudut dengan dinding dan pintu kaca tebal bertuliskan XXII.
"Nonton apa Ra ?" tanya Ica saat keduanya sudah ada di dalam gedung bioskop, dengan beberapa paper bag belanjaan.
"Ini seriusan, belanjaan mau dibawa ke dalem ?" tanya Kara.
"Ntar gue suruh pak Mulya kesini buat bawain belanjaan ke mobil," jawab Ica.
__ADS_1
"Oke, " jawab Kara, mereka memilih film yang akan ditonton dan membeli cemilan.
Terlihat dari luar pintu kaca bioskop pak Mulya melambaikan tangannya.
"Pak ! maaf ngerepotin ya !" Ica dan Kara menyerahkan sejumlah paper bag belanjaan pada pak Mulya.
"Ga apa apa bu, "
"Bapak makan aja atau jajan dulu deh, soalnya kita mau nonton dulu, lama...biar nanti billnya saya yang bayar !" ujar Ica.
"Iya bu, makasih.." jawab pak Mulya lalu ia keluar dari bioskop.
"Theater 3 sudah dibuka..."
"Yu Ra !" ajak Ica.
"Yu, " Ica tertawa melihat Kara, di tangan kirinya minuman porsi extra large, dan tangan kanannya adalah pop corn dengan ukuran yang sama, belum lagi sejumlah coklat dan permen dalam tas selendangnya.
"Astaga, ckckck ! udah kaya kurawa takut keabisan jatah makanan dari dewata, loe mau ngungsi dimana Ra ?" tawa Ica.
"Terus loe apa kabar ?" tunjuk Kara, melihat Ica menyelundupkan sejumlah keripik, roti dan coklat di dalam tasnya.
"Kenapa ga sekalian rendang sama ayam goreng loe masukkin kesitu !" tawanya. Kedua istri CEO muda ini sama sama gilanya.
Ica dan Kara masuk ke dalam ruangan dengan suhu dingin, kursi nyaman dan layar besar, lampu ruangan dimatikan tanda film sudah akan dimulai.
"Ca, lucu ga sih...kita duo kamvreet dapetin cowok tajir, keren pula !" ucap Kara tertawa, padahal film yang mereka tonton adalah film action romantic, tak ada yang lucu disini.
"Ini AC nya mati apa emang pinggang gue yang panas sih, ko kursinya kaya kurang nyaman gini ya !" Kara gelisah, ia tak bisa duduk dengan nyaman.
"Loe kenapa sih Ra, masa dingin gini loe bilang panas sih ! kalo dibandingin bangku sekolah ni kursi 100 kali lipat lebih empuk !" dumel Ica.
"Pinggang gue panas Ca, pengen pipis gue, ehh..pingin bok3r dehh !" ujarnya tak menentu.
Ica menoleh, demi apa ! ia melihat keringat Kara semakin membasahi wajah cantik Kara.
"Aslinya panas Ra ?" tanya Ica mulai khawatir dengan keanehan Kara.
"Asli Ca, sumpah ! mules pengen ke air gue nya !" Kara berdiri membuat penonton belakang berseru.
"Sorry ya ! gue lewat dulu !" ucap Kara, keluar dari bangku menuju keluar, Ica mengikuti Kara karena khawatir dengan keadaan Kara.
"Ra, " Ica beberapa kali menggedor gedor pintu toilet.
"Bentar Ca, "
"Wushhhh !"
terdengar suara air yang mengaliri toilet, tak lama pintu terbuka.
"Ahhh lega, " jawabnya mengusap perutnya.
"Udah kan ? mau lanjut lagi nonton ?" tanya Ica, Kara mengangguk.
__ADS_1
"Sayang, tiketnya tuh dibayar pake keringet laki gue Ca !"
"Dih, itungan !!" sungut Ica.
"Tapi gue juga, sih !" Ica kembali berucap menyetujui ucapan Kara tertawa.
"Sue, njirr !" umpat Kara.
"Aduh Ca, mules lagi !" Kara memegang kembali perutnya.
"Hah ?! loe diare Ra ? abis makan apaan barusan, apa tadi loe colek sambel di rumah makan ?" tanya Ica.
"Engga Ca, belakangan gue ga kiat makan sambel, saos mie aja udah ga doyan !" jawab Kara.
"Pinggang gue panas Ca, pegel !" kembali ucapnya.
"Wah, ini sih kayanya loe mesti ke dokter deh Ra, hpl loe tanggal berapa ?" tanya Ica.
"Seminggu lagi, makanya gue masih bisa belanja ! mules perut gue, kayanya masuk angin deh !" Kara kembali masuk ke toilet.
Ica merogoh ponselnya saat Jihad menelfon.
"Hallo bakwan, masih bareng Kara ?" tanya Jihad.
"Iya, lagi nonton tapi tiba tiba bumil kebelet terus, kayanya diare deh ! soalnya bolak balik ke toilet terus !" jawab Ica.
"Ca ! "
"Ka Milo ?! loe lagi bareng Ji ?" tanya Ica.
"Iya abis meeting, Kara mana ? kenapa ponselnya ga bisa dihubungi, ga diangkat angkat ?!"
"Lagi di toil...."
"Ica !!!! ko gue berdarah Ca !!" pekik Kara dari dalam toilet.
"Hah ?!!!"
"Ca, Kara kenapa ?!!" panik Milo.
"Ini gimana sih, gue mesti ngapain ?!" Ica ikut panik.
"Perut gue mulesnya ilang timbul, "
"Kita ke dokter sekarang Ra, loe kuat jalan kan ? mana ini lantai 7 lagi !" Ica menggaruk tengkuknya.
"Ca, jangan dimatiin telfonnya, biar gue bisa denger kalian ! sambil gue jemput sekarang !" pinta Milo segera meraih kunci mobil.
.
.
.
__ADS_1