Me VS Crazy CEO

Me VS Crazy CEO
Tindakan sulit


__ADS_3

8 minggu bukan waktu sebentar untuk Ica, dengan segala keluhannya. Bukannya semakin merasa terbiasa dan ringan. Ia justru makin merasa banyak keluhan.


Seperti hari ini, ia kembali mengalami pend4r4han saat sedang berkuliah.


"Bang, aku pend*arah an lagi..ini lagi di toilet kampus," Ica panik.


"Aku kesana !" Jihad segera melesat menuju kampus Ica, untung saja pekerjaannya sudah tak terlalu padat.


Ica meringis kesakitan, pang gulnya terasa sakit dan nyeri saat ini. Tangannya meremas handle pintu toilet.


Jihad menginjak gasnya, tujuannya satu, sampai di kampus Ica secepat mungkin.


Wajah Ica sudah pucat pasi, menahan sakit, ditambah mual yang kembali menyerangnya.


"Toilet sebelah mana ?" tanya Jihad dengan tergesa.


"Toilet...deket fak..."


Gubrak..!!!


"Hallo...hallo !!"


"Sayang !!"


Ica tak sadarkan diri di dalam toilet, ponselnya jatuh ke lantai toilet.


"Shitttt !!!"


Jihad sudah sampai di kampus Ica, ia berlari mencari toilet. Tak peduli pandangan para penghuni kampus, seorang CEO tampan berlarian di kampus mereka, sedang apa?


"Maaf, toilet sebelah mana ?" tanya Jihad pada sekumpulan mahasiswa disana.


"Di samping kantin ada, di belakang fakultas hukum juga ada, di dekat mushola dan...."


"Makasih, " terlalu banyak toilet di kampus ini, salahnya yang menanyakan toilet tanpa mendetail. Di tengah kepanikannya, Jihad mengusap peluh di keningnya.


"Alvian ?!" panggil seseorang.


"Yunita, syukur deh..."


"Pasti cari Ica ?!" Jihad mengangguk.


"Ica tadi ke toilet di deket fakultas hukum, di sana !" tunjuk Yunita.


"Alhamdulillah, makasih Yun.."


"Eh, iya Ica dari tadi ke toilet belum keluar keluar, katanya ngeluh mual sama sakit perut !" jawab Yunita khawatir.


"Ica barusan telfon, dia pend4r4han Yun, " jawab Jihad, keduanya menuju toilet yang dimaksud.


"Apa ?! ya Allah !" seru Yunita teman satu fakultas Ica.


Jihad dan Yunita masuk ke dalam toilet, mencari bilik mana Ica berada, Jihad mencoba menghubungi ponsel Ica, dan getaran di rasakan di bilik tengah.


"Disini, Al !" tunjuk Yunita, Jihad segera mendobrak pintu.


"Ca, bangun sayang !" pekik Jihad. Dengan sekali dobrakan, pintu berhasil dibobol Jihad.


"Astaga Ica !!" seru Yunita, menutup mulutnya melihat Ica tergeletak di bawah


"Yun, kasih tau pihak kampus kalo saya yang rusak nih pintu, biar nanti saya ganti !" Jihad menggendong Ica keluar toilet bersama Yunita.


"Iya Al, "

__ADS_1


Sontak kampus mendadak geger melihat seorang mahasiswinya pingsan dan tengah dibawa menuju mobil di parkiran.


"Mau aku antar Al ?!" tanya Yunita.


"Biar saja Yun, ga apa apa terimakasih banyak !" jawab Jihad segera membawa Ica setelah memakaikan seatbelt di badan Ica.


Jihad membawa mobilnya agak ngebut menuju RS terdekat, dengan sesekali melirik dan menyentuh pipi Ica yang mulai mengurus karena sering muntah lagi dan mengeluhkan sakit di bagian pang gul.


***********


Ica dibawa memakai blangkar, yang di dorong menuju UGD, dokter menyarankan melakukan serangkaian pemeriksaan termasuk usg.


Jihad mengusap wajahnya kasar, membuka jas dan dasinya.


"Pak, bisa bicara sebentar ?!" pinta seorang dokter kandungan.


Baik ataupun buruk akan Jihad hadapi, asal Ica nya akan baik baik saja. Lelaki itu berulang kali mengucap kata istighfar, dan mengusap wajahnya.


Hatinya seketika hancur dan tubuhnya seperti tak bertulang. Baru akan meraup kebahagiaan, sudah harus dihadapkan dengan duka dan kehilangan. Apa yang akan terjadi pada Ica nanti jika tau yang sebenarnya, apa yang akan terjadi dengan mamah Vivi yang mengidam idamkan menimang cucu.


Tangannya masih bergetar, ini lebih sulit berkali kali lipat dibanding menandatangani surat perjanjian kerja sama tender milyaran rupiah.


"Dok, bisa kah saya melihat istri saya dulu ?!" tanya Jihad.


"Boleh pak, " jawab wanita berjas putih itu. Jihad keluar dengan kertas persetujuan dari pihak keluarga atau suami, atas tindakan kuret atau tindakan pembersihan, dokter akan melakukan pelebaran ser viks dan mengangkat jaringan abnormal dengan alat khusus.


"Bang, " Ica sedikit lebih bertenaga.


"Apa kata dokter ? bayi kita ga apa apa kan ? aku ga apa apa kan ?" tanya Ica. Jihad mengusap pipi Ica, dengan wajah tersenyum getir.


Apa yang harus ia katakan pada Ica, ia lebih memilih mengerjakan proyek besar yang menguras otak dibanding harus mematahkan semangat kedua wanita kesayangannya.


"Lapar ngga ?" tanya Jihad mengalihkan pembicaraan.


"Dikit, hari ini aku mual..tapi ga muntah loh !" adu Ica.


Jihad memalingkan wajahnya ke arah lain, "aku beliin makan mau ? " tanya Jihad.


"Mau, aku mau sate taichan ! ada ngga sih jam segini ?!" tawa Ica semakin membuat Jihad tak kuasa menahan kesedihannya.


"Tunggu dulu disini ya, " pinta Jihad mengecup kening Ica. Tapi belum Jihad pergi, kedua orang perawat datang.


"Pak, pasien atas nama Humaira Khairunisa, pindah ke ruang rawat VVIP, " ucapnya, Jihad mengangguk.


"Tunggu, bang ! ngapain aku dirawat?" tanya Ica mengerutkan dahinya.


"Biar pulih, biar fit !" jawab Jihad.


"Oh !" jawabnya singkat, Ica menyerahkan tangannya untuk dipasangi jarum infusan.


"Sayang, aku keluar dulu mau telfon orangku sebentar ya !" ijin Jihad.


"Iya, "


Jihad bingung, siapa yang harus ia telfon. Akhirnya ia berinisiatif memanggil teh Mira.


*************


"Eleh eleh ! ini calon momy, meni betah di rumah sakit !" seloroh teh Mira.


"Teteh, tau darimana Ica disini ?!"


"Ya dari Jihad atuh, masa dari laki orang !" teh Mira tertawa.

__ADS_1


"Hallo utunnya uwa !! senengnya main di rumah sakit nih," teh Mira yang belum tau perihal kondisi Ica mengusap perut Ica.


"Teteh sama siapa ke sini ?!" tanya Ica.


"Sama abang, tuh lagi di kantin RS, sama Ji !" jawabnya.


Tak lama mamah Vivi menyusul, dan bergantian berjaga bersama teh Mira.


Raut wajah teh Mira dan bang Riski mendadak berubah mendung, mendengar kabar duka ini.


"Ji, harus ngomong apa bang, teh ?!" tanya Jihad.


"Kamu sudah tanda tangani perijinan kuret Ji ?" tanya teh Mira.


"Udah teh, "


"Ya sudah, pahit pahit pun harus kita telan, insyaallah semua hal pahit tidak selalu berujung buruk dan ketir, Ica dan kamu masih bisa memiliki anak Ji, yang terpenting kesehatan Ica, masalah penyampaian pada Ica ataupun mamah Vivi, pilihlah kata kata yang tepat dan singkat saja," jawab Riski.


"Insyaallah kita bantu Ji, kamu tidak sendiri.." tambah teh Mira.


"Makasih teh, bang !" Jihad kini merasa lebih lega.


Ketiganya kembali ke ruang rawat Ica, menemukan Ica sedang bercerita dengan mamah Vivi dan ibunya.


"Bang, udah makannya ?!" tanya Ica, Jihad mengangguk.


"Udah barusan ditemenin bang Riski sama teh Mira, "


"Ih ga ajak ajak !" cebiknya.


"Mah, mamah ga bareng papah ?" tanya Jihad.


"Papah di rumah, tadi mamah ijin sebentar, " jawabnya.


"Ica udah banyak yang nungguin ko mah, kasian papah ditinggal sendiri" seloroh Jihad.


"Ck, ga apa apa lah udah gede !" jawab mamah Vivi.


Jihad menunggu bicara dengan mamah Vivi hanya berdua, kebetulan mamah Vivi sudah berniat pulang.


"Sayang mamah pulang dulu, sehat sehat ya, jaga calon cucu mamah !" mamah Vivi mengecup pipi Ica yang mengangguk dengan senyuman.


"Mah, Ji anter !"


Setelah keduanya keluar dari dalam ruangan.


"Mah, Ji ada mau ngomong sesuatu sama mamah tentang keadaan Ica, " hatinya mencelos beberapa kali, sungguh ia tak sanggup.


"Apa ? kenapa Ica ?" tanya mamah Vivi mengerutkan dahinya.


"Ji minta mamah duduk sebentar, dan tenangkan pikiran, Ji minta mamah ikhlas, insyaallah Allah akan beri gantinya, " pinta Jihad meminta ibunya duduk di bangku koridor rumah sakit.


"Ada apa, kayanya serius banget ?!" kekeh ibunya.


"Mah, kandungan Ica mesti dikuret," dengan lirih namun sedikit bergetar Jihad mengucapkannya.


"Apa, ga mungkin ?! kenapa?! Ica kenapa?! "


"Ica mengalami Mola hydatidosa atau yang biasa kita sebut kehamilan anggur, " jawab Jihad lesu.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2