Me VS Crazy CEO

Me VS Crazy CEO
Motto hidup konyol


__ADS_3

"Ko bisa, ga nyangka !" Ica masih mengatur nafasnya, berasa baru kemarin ia memergoki mbak Sari sedang menangis.


"Dia hamil 4 bulan, " jawab Jihad lagi.


"Kenapa ?" tanya Ica.


"Polisi sedang mendalami kasusnya, makanya di kantor masih dipasangi garis polisi, " Jihad memijit pangkal hidungnya.


"Sabar ya bang, kantor tutup ?" tanya Ica.


"Untuk 2 hari kantor tutup, tapi setelahnya dibuka lagi. Hanya untuk memberikan polisi keleluasaan penyelidikan, tentunya dibawah pengawasan Juwita sama pak Ridwan."


Jihad membaringkan badannya yang lelah.


"Puk...puk...."


"Sini, tidur di sampingku, cape banget !" pintanya, Ica yang baru saja mandi dan berpakaian berbaring sesuai permintaan Jihad, mengusap usap garis wajah Jihad.


"Kamu terlalu cape daddy, sleepwell, " ucap Ica, sentuhannya mengantarkan Jihad menuju alam mimpi.


Ica beringsut turun perlahan dari kasur, lalu turun dari kamar.


"Mah, lagi nonton apa ?!" tanya Ica ikut bergabung. Mamah Vivi terkejut hingga mengusap dadanya, tak ingin Ica tau, tapi rupanya ia terlambat memindahkan channel tv.


"Ya Allah, mah itu kantor kan ?!" rupanya berita ini sampai masuk berita di tv.


"Sayang, " panggil mamah Vivi.


"Ga apa apa ko mah, abang udah bilang tadi. Ica kenal cewek itu mah. Terakhir Ica ketemu tuh waktu sama abang ngikutin dia mah, dia lagi nangis nangis mah !" jawab Ica.


"Kenapa ? lagi ada masalah ?"


"Itu mah ! itu !" Ica menunjuk saat berita memasukkan motif kenapa mbak Sari bunuh diri.


"Hamil diluar nikah ?!" Ica mengangguk.


"Kata temen temen ob disana sih, katanya pacarnya ga tanggung jawab, "


"Siapa Ca ?! astaga, teganya !"


"Ica ga berani nuduh dulu mah, tapi ko kebetulan banget ya, dia bunuh diri di lantai divisi keuangan, pas banget dulu tuh pacarnya pak Bayu dari divisi keuangan, kata temen temen beliau itu memang palyboy, genit, "


"Astaga, banyak banget gitu pacarnya " Mamah Vivi berdecak sambil mengurut dada.


"Mungkin, "


"Semoga anak anak mamah dijauhkan dari sifat sifat buruk seperti itu, " do'anya.


***********


Peristiwa mbak Sari rupanya mempengaruhi bursa saham di kantor. Selalu saja ada orang orang yang iri dan dengki ingin melihat perusahaan Jihad jatuh. Ditambah Jihad merasa ada kecurangan di dalam perusahaannya.


Hari hari semakin berat dilalui, tapi Ica selalu ada untuk mendukung Jihad.


"Sini aku pijitin !" Ica menarik tangan Jihad ke arah sofa, menyimpan tas laptopnya, dan menarik dasi Jihad.


"Kata guggle, cara paling ampuh buat relax ! " ucapnya terkikik.

__ADS_1


"Oh jadi kata guugle ! bilangin makasih buat guugle," Jihad mengangguk angguk sambil merasai pijatan Ica.


"Oke, Makasih guuglee !!!!" pekik Ica di tengah rumah, membuat Jihad yang sudah memejamkan mata lantas membuka matanya lebar lebar dan menjitak kepala Ica.


"Inget ga, dulu waktu SMA, kamu minta dipijitin gara gara taruhan waktu camping ?!"


"Yang kamu taroin parem kocok, banyak banget sampe kulitku merah merah, karena panas ?!" tanya Jihad, keduanya tertawa.


"Salah liat bang, ku kira itu kaya sejenis lulur tradisional, lagian si Kara ma Ayu ngasih taunya gitu. Taunya sama sama oon !" Ica tertawa lagi mengingat dulu Jihad sampai kewalahan karena panasnya ddngan keringat sebesar besar biji jagung, ujungnya Ica yang dimasukkan ke tong sampah oleh Jihad.


"Maaf tadi ga bisa anter ke RS, apa kata dokter Gina ?" tanya Jihad menarik Ica dan memposisikan Ica di pangkuannya.


"Coba tebak !" Ica menempelkan dahinya di dahi Jihad.


"Emh, ga tau !" jawab Jihad mengeratkan pelukannya di pinggang Ica.


"Hm, abang payah !" jawab Ica.


"Alhamdulillah kadar hCG aku sudah turun, ya walaupun belum sampai batas normal," jawab Ica.


"Alhamdulillah, baru 2 bulan kita berjuang, jangan letih ya ?!" imbuh Jihad. Ica menggeleng, "Never, buat kamu aku ga akan pernah lelah !"


"Ada sesuatu yang lain ?!" tanya Jihad melihat Ica yang masih senyam senyum sendiri.


"Kamu udah boleh buka puasa, " cicitnya membuat Jihad tertawa terkekeh.


"Pake caps ?!" tanya Jihad, Ica mengangguk.


"Aku takut kalo harus kb, nanti kalo udah saatnya aku hamil, malah banyak efek sampingnya dari kb, " jawab Ica.


"Tapi pake kaya gituan katanya ga enak, "


"Kaya pake jas hujan !" Jihad meledakkan tawanya, bersama Ica yang menyusul tertawa geli.


"Ih kamu mah !" Ica memukul mukul dada Jihad, topik random seperti ini memang geli untuk dibicarakan. Tapi setidaknya merelekskan otak yang penat.


"Anggap aja lagi musim hujan !" jawab Ica terkekeh.


"Tadi di kantor gimana ?" tanya Ica seraya tangannya cekatan membukakan kancing kemeja Jihad.


"Ga ada kamu ga rame, " jawab Jihad.


"Kalo mau yang rame kerjanya di pasar, apa perlu aku bakar kantor kamu biar rame ?!" jawaban jawaban seperti inilah yang selalu dan akan selalu Jihad rindukan. Hiburan tak seberapa bagi dirinya yang dilanda stress, Ica selalu bisa menjadi partner yang asik untuk bicara.


"Aku balik lagi kerja kalo gitu, " tambah Ica menelusuri dada Jihad.


"Ga usah, biar kamu jadi wanita penghiburku aja, " Ica manyun Jihad menyebutnya wanita penghibur.


"Dikira lont3 apa ! bahasa anda tuan !" Ica menjitak kening Jihad.


"Ini apa maksudnya ?!" tanya Jihad melihat kemejanya yang sudah terbuka hanya menyisakan kaos singlet dalam saja.


"Bantuin ganti baju, " jawab Ica menggigit kuku jarinya.


"Kenapa ga bilang dulu, kalo disini bi Denok bisa liat !" Ica hendak turun dari pangkuan Jihad, tapi Jihad menahannya justru ia sekarang menggendong Ica menuju kamar mereka di lantai atas, sontak membuat Ica melingkarkan kakinya di pinggang Jihad dan mengalungkan kedua tangannya di leher Jihad. Bi Denok sudah biasa dengan pemandangan gendong gendongan mbah surip ala mereka, alias tak gendong kemana mana. Bahkan jika masih muda ia akan sirik dengan kebersamaan mereka, dalam kondisi apapun selalu saling mendukung dan mesra. Tiba tiba rindu melanda pada mendiang suaminya.


"Aku kangen roti sobek kamu !" kekeh Ica, pengakuan istrinya ini membuat Jihad selalu bisa tertawa.

__ADS_1


"Kalo ternyata selama 2 bulan roti sobekku udah berubah jadi tahu bulat gimana ?" tanya Jihad menaikkan alisnya.


"Aku kempesin, biasanya kan kalo tahu bulat suka kosong isinya cuma angin doang !" Ica membuat gerakan menusuk nusuk perut Jihad, dari kaosnya saja terlihat bentukan 6 cube disana.


"Hari minggu Kara ngadain acara 4 bulanan di rumahnya," Ica turun dari gendongan lalu mengambilkan t -shirt untuk Jihad diantara lipatan t -shirt dalam lemari, ia menarik t- shirt warna hijau.


"Oke, tadi Milo juga udah bilang, "


"Aku bikinin teh chamomile ya, " Jihad mengangguk. Ica turun menuju dapur, ia sudah telaten membuat minuman satu ini. Selama di rumah dalam masa pemulihan, Ica memanfaatkannya dengan belajar memasak, terkadang mamah Vivi yang datang ke rumah, atau ibunya dan kaka kakanya termasuk teh Mira. Ica memang jarang bepergian, tapi ia tak pernah kesepian. Halaman belakang dimana terdapat kolam renang juga selalu di ramaikan oleh keponakan keponakannya. Rumahnya sudah disulap bak daycare. Dan Jihad tidak keberatan atas itu, justru ia berterimakasih pada keluarganya karena selalu hadir untuk mereka.


Secangkir teh chamomille sudah di tangan. Ica menghembuskan nafasnya lelah, melihat Jihad sudah kembali berkutat dengan laptopnya.


"Bisa ga sih bang, kalo di rumah jangan terlalu sering ngajakin laptop mojok, aku udah kaya istri kedua.." keluh Ica. Jihad menoleh dan meraih teh dari tangan Ica lalu meminumnya.


"Enak, makasih..."


"Bursa saham di kantor turun, masih efek kejadian kemarin."


Ica menaikkan alisnya sebelah duduk di samping Jihad, dan menumpukkan dagunya di pundak Jihad.


"Hem, lambat laun juga orang bakalan lupa, semangat ya.."


"Aku harus merangkak dari awal, ya walaupun ga awal banget. Terpaksa minta bantuan Milo sama papah, "


"Jian ?"


"Jian kan asistenku, kita sudah sepakat buat minta tolong Milo dan papah, tapi ada yang aneh, meskipun turun. Turunnya tidak signifikan ! ada yang janggal sama pemasukan perusahaan, kaya ada yang memalsukan dokumen keuangan, makanya aku mau minta papah sama Milo buat bantu, ada Raka sama Kean juga !" Ica mengangguk angguk.


Jihad menoleh, "kalo aku jatuh miskin apa kamu tetep mau sama aku ?" tanya Jihad tiba tiba saja Jihad mengingat motto konyol Ica saat SMA, sekolah, lulus dapet ijazah, nikah sama orang kaya, masuk surga.


"Dih, ko ngomongnya gitu, kamu ga mau bantu aku apa ?!" Ica sewot.


"Bantu apa ?!"


"Ga inget motto aku ?!"


"Motto konyol kamu ? mana lupa aku sama hal absurd gitu ?!" Jihad terkikik.


"Sekolah, lulus dapet ijazah, nikah sama orang kaya, mati masuk surga !" ucap keduanya.


"Nah itu, sekolah udah, lulus dapet ijazah udah, nikah sama orang kaya udah juga ngerasain, tinggal mati masuk surga..."


"Surgaku sekarang ada di kaki kamu, jadi kalo aku ninggalin kamu, tiket surgaku ilang dong !" jawab Ica.


"Aku ga seikhlas itu bang, enak aja !" memang terdengar konyol tapi ucapan Ica memang benar, meskipun ucapannya terkesan absurd.


"Wah kayanya gaul sama emak emak rt sebelah bikin kamu inget mati, "


"Njirrr !" umpat Ica yang langsung mengatupkan mulutnya, keduanya kembali tertawa mengingat umpatan legend yang sudah sekian lama tak keluar dari mulut Ica.


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2