
Hari ini Jihad tidak menjemput Ica, ia harus berangkat pagi pagi, dan mengerjakan sesuatu. Terpaksa Ica berangkat sendiri naik bus.
"Duh telat banget ini mah, " ucap Ica yang tergesa berjalan cepat, langkah kakinya benar benar hati hati, jempol kakinya saja sampai menekan depan sepatu hak tingginya, saking menahan agar jalannya tetap seimbang.
"Udah kaya b4nci kena razia !" Ica berlari mengejar bus yang hampir saja ia lewatkan, salahkan ia yang pagi tadi terlalu bermimpi indah, membangun sebuah istana bersama pangeran di langit, hingga pulau kapuk di bantalnya pun sudah menjadi negara republik. Hingga akhirnya ia ditinggal oleh Galih maupun Riski.
"Kena lagi omel si nene lampir kuncen tok tok ini mah !" dumelnya.
Belum usai lelahnya berlari mengejar bus, saat masuk ke dalam bus ini ia harus dihadapkan dengan ketek yang menguarkan aroma bermacam macam.
"Welcome to the jungle Ca, semua ada disini...dari yang bau buaya, uler sawah sampe bau p3singnya macan tutul ada disini, " gumam Ica. Ia bergidik geli, melihat ketiak basah para pejuang receh seperti dirinya, apa mereka tak mengenal yang namanya deodorant? Ica jadi insecure sendiri, ia mengecek ketiaknya.
"Huuffft aman, " Ica menghela nafas lega, ketiaknya tak sebasah kalo atap kena bocoran hujan, meskipun deodorant yang ia pakai adalah deodorant murah, hari ini Ica benar benar diuji kesabarannya, kakinya sampai lelah berdiri, ia merasakan rasanya bergelantungan di dalam bus.
"Nanti gue mau berguru sama yang di ragunan, biar tahan gelantungan tiap pagi !" benaknya. Meskipun penumpang sudah memenuhi bus, si supir masih saja memaksakan para calon penumpang untuk masuk. Mungkin sebelum isinya sampai tumpah tumpah dan para penumpang asma saking sesaknya keadaan di dalam, bus ini tidak akan berhenti mengangkut penumpang. Pengalaman pertama naik bus saat berangkat bekerja, membuat Ica kapok.
Macet ini membuat Ica jengkel, pasalnya kakinya sudah sangat pegal. Belum lagi aroma yang tercium, seakan pasokan oksigen disini tersendat dan tertutup. Ica mengeluarkan ponselnya saat Jihad menelfon, menanyakan posisi Ica saat ini.
"Wahhh !!! ada apa tuh rame rame ??!!!" seru salah seorang penumpang yang berada di bagian depan bus.
"Kayanya ada demo, jadinya macet !" jawab yang lain, sontak saja para penumpang berebut ingin melihat ke arah depan mobil.
Mereka berdesakan membuat Ica hampir saja terjatuh, ia memasukkan ponselnya ke dalam tas.
Para pendemo yang menuntut keinginan mereka menyebar melakukan aksi sweeping dengan berbekal balok kayu dan batu.
"Prankkk !!!!"
Teriakan histeris mulai terdengar, beberapa penumpang berhamburan ke luar mobil, situasi mendadak chaos. Ica ikut tergusur ke luar dari bus.
"Njirrr !! ini ada apaan sih ?!" Ica yang yak mengerti situasi hanya berusaha menyelamatkan diri.
"Guys ! yang belum sampe ke kantor siapa?? mending telfon deh ! di jl. Merdeka depan tuh ada demo, ga tanggung tanggung, demonya sweeping jalan raya, bawa alat ! polisi juga sampe ngeluarin gas air mata !" ucap Evi.
Jihad tak sengaja mendengar pembicaraan para karyawannya tentang demo hari ini.
"Demo dimana?" tanya nya pada para karyawan yang tengah mengobrol.
"Ada apa Ji?" tanya Juwita yang baru saja datang.
"Maaf pak, demo di jl. Merdeka, " jawab pak Muni.
"Iya pak, demo lumayan meresahkan sih, soalnya para pendemo sampe ngadain aksi sweeping jalanan, pake bawa alat segala, polisi sampe ngeluarin gas air mata, " jelas Evi.
Deg !!!
"Ica, " gumamnya. Jihad langsung menekan nomer ponsel kekasihnya itu, terakhir tadi ia menelfon Ica memang sedang dalam perjalanan kesini, di jl. Merdeka.
"Eh Sweetynya gue belum sampe kantor ?!" ucap Tio.
"Oh iya Ica !!" seru Evi berusaha menelfon Ica.
"Hape Ica malah ga aktif, " jawab Evi.
Jihad langsung berlari menuju lift.
"Ji !!"
"Pak Alvian !"
__ADS_1
Ica nya disana, di dalam keramaian dengan situasi chaos itu.
"Pak ! sebaiknya kita tunggu kabar saja !" ucap pak Muni.
"Tapi pacar saya ada disana pak !" jawab Jihad.
"Iya saya tau, tapi kalaupun kita sampai sana, sudah pasti polisi akan menghadang, kita serahkan semuanya sama polisi, saya yakin non Ica bisa menjaga dirinya sendiri,"
"Saya tidak tenang jika kekasih saya masih disana tanpa kabar pak !"
"Justru dengan bapak kesana, bapak malah membahayakan nyawa 2 orang sekaligus, termasuk itu anda, " jawab pak Muni.
Jihad tetap bersikukuh keluar dari gedung kantornya, ia hanya bisa menjangkau jalan yang tidak dihadang polisi, situasi mencekam memang terlihat dari tempatnya berdiri. Polisi tengah menghadang para pendemo dan menertibkan pendemo.
"Maaf pak, di depan sedang tidak kondusif diminta mundur !" pinta seorang polisi yang terkihat berkeringat dan terburu buru.
"Tapi pacar saya di jl. Merdeka pak !" jawab Jihad.
"Semoga baik baik saja, sejauh ini belum ada korban jiwa, " jawab polisi tersebut.
"Bubble, " gumamnya.
Ica malah kelimpungan mencari tasnya yang tergusur oleh penumpang lain.
"Ahh elah ! tas gue ! itu disitu ada atm, dompet, ktp, hape, sama duit walaupun ga seberapa !" dumelnya duduk di bahu jalan.
"Gue mau pulang atau ke kantor gimana kalo gini ? mana udah kaya odgj lagi !" ucapnya mendumel, definisi makhluk ga ada akhlak, ga ada bersyukur bersyukurnya, padahal ia masih bisa selamat tanpa kurang suatu apapun itu yang terpenting. Ica melepas sepatu yang membuat kakinya lecet, hingga ia bert3l4njang kaki.
"Awwwshh !" di tempat Ica situasi sudah aman terkendali. Dari tempatnya ia dapat melihat seorang ibu yang tengah hamil besar, meringis merasakan sakit.
"Bu ! kenapa?" tanya Ica.
"Hah??!" Ica seketika panik,
"Aduh bu, ga bisa pilih pilih hari apa? buat lahiran ! " jawab Ica.
"Mana saya tau mbak, kalo boleh milih saya juga maunya pas orang orang lagi pada santai, " jawab si ibu. Ica terkekeh, memang salahnya.
"Ibu bisa berdiri ngga? saya kalo disuruh gendong ga kuat, " ucap Ica.
"Tolonggg !!!" pekik Ica berjingkrak jingkrak meminta pertolongan.
"Pak tolong pak !! ini ibunya mau lahiran !" orang orang yang seliweran di sekitarnya sigap membantu, termasuk anggota polisi.
"Sini ke pinggir aja bu, " Ica membawanya ke pinggir trotoar.
"Adakah tenaga kesehatan disini?" tanya seorang polisi, seraya ia menghubungi rekan rekannya yang lain.
"Astaga, padahal semalem gue mimpi bangun istana sama pangeran, kenapa jadinya hari ini malah kejebak beginian ?!" gumamnya.
Salah seorang perempuan yang ikut menemani melihat keadaan si ibu.
"Ya Allah ini kepalanya sudah keluar !" ucapnya.
"Hah??!" beberapa orang menggotong si ibu ke dalam sebuah ruko, untung saja polisi berhasil menemukan tempat yang layak untuk si ibu melahirkan.
Wajah Ica langsung pucat pasi, bagaimana ia bisa pergi, tangannya saja ditahan si ibu.
"Mbak, temani saya ya ! saya takut !" ucapnya.
__ADS_1
"Apalagi saya bu, " menikah saja belum, tapi ia harus mengalami hal begini 2 kali, sekali saat bersama ka Novi, bukannya memanggil suaminya uda Dante tapi malah ia yang dimintai menemani, Ica bahkan sampai muntah.
"Saya memang bukan bidan atau petugas kesehatan, tapi sambil menunggu pihak kepolisian memanggil dokter, insyaallah saya bisa, " jawab si ibu yang ikut menemani. Mungkin ia berpengalaman melahirkan dan menemani orang lahiran.
Di dalam sana, hanya ada Ica, si ibu, dan salah seorang anggota kepolisian.
"1..2...3...dorong !!"
"Aaaaa !!" bukan hanya si ibu yang melahirkan yang berteriak.
"Rambut gue di jambak !!" keluh Ica. Baju Ica sudah seperti lap kain pel an, kotor, lusuh, basah oleh air ketuban dan sedikit bercak darah karena membantu persalinan.
20 menit sampai petugas kesehatan dan para polisi membantu. Ica akhirnya diantar oleh anggota kepolisian ke tenpat terdekatnya, yaitu kantor.
Disaat yang lain sedang sibuk mencari keberadaan Ica, Ica datang ke kantor mirip orang odgj di depan lampu merah.
"Ica !!!" pekik Evi, dari lobby kantor.
Jihad yang melihat langsung menghambur memeluk Ica di depan semuanya.
"Bee, "
"Alhamdulillah kamu ga kenapa napa, maaf aku yang salah ga jemput kamu, " ucapnya, untuk kedua kalinya ia menyesal sudah membiarkan Ica sendiri.
"Bee, itu orang orang pada bengong liatin kita, " ucap Ica melihat tatapan syok orang orang di dalam ruangan ini.
"Aku ga peduli, " jawabnya belum mau melepaskan Ica, tapi Ica dengan sekuat tenaga melepaskan pelukan Jihad.
"Pak ! saya tau bapak khawatir, tapi ga usah curi curi kesempatan juga !" sarkas Ica dihadapan semuanya. Jihad terlihat gelagapan dan pasrah.
"Maaf, " jawabnya. Mereka segera tersadar meskipun dengan segudang pertanyaan.
"Ca !!! ya Allah ! loe udah kaya anak ilang di hutan, ini kenapa berdarah darah ?!" tanya Evi, sontak saja Jihad yang baru sadar pun menarik Ica dan melihat jika kemeja Ica terdapat bercak darah.
"Ini kenapa?" tanya Jihad sepaket wajah khawatirnya.
"Panjang ceritanya, gue aus !" keluhnya pada Evi.
"Sweetyyy !!!" pekik Tio menghambur ingin memeluk Ica, tapi Ica melepas sepatunya dan mengarahkannya ke arah Tio.
"Apa loe ?! mau meluk ?! ga usah !! enak aja !!!" sarkas Ica.
"Elah sweety, gue tuh khawatir sama loe !"
"Ya udah yuk ke pantry, sekalian gue kasih baju ganti, kalo ga salah gue ada, " ajak Evi, Tio mengekor, Ica masih menatap Jihad seraya pergi meninggalkannya.
"Loe mau kemana?" tanya Ica melihat Tio yang masih mengekor.
"Mau liat loe lah, mau denger cerita !" jawabnya.
"Entar gue cerita, gue mau ganti baju dulu !" jawab Ica mengusir Tio.
"Elah ikut juga, " kekehnya.
"Minta gue lempar ke lantai bawah !!" Tio kabur.
"Ca, " panggil Evi.
"Hm, "
__ADS_1
"Gue makin kesini makin heran, ada hubungan apa loe sama pak Alvian ?" tanya Evi saat berada di pantry.