Me VS Crazy CEO

Me VS Crazy CEO
Jangan meminta maaf


__ADS_3

Obat anestesi yang ada di dalam tubuh Ica sudah habis reaksinya. Matanya mengerjap, tak tau berapa lama ia sudah tertidur. Yang jelas tenggorokannya terasa kering sekarang.


Ica melihat tak ada Jihad di sampingnya, ia kira akan seperti di novel novel atau sinetron tv. Saat si pasangan terbangun karena tak sadar maka orang yang menungguinya akan ada di samping ranjangnya hingga si pasien mengusap kepalanya.


"Udah bangun ?!" Ica dikejutkan dengan suara bass milik Jihad. rupanya Jihad baru saja melakukan shalat malamnya, jangankan untuk bisa tertidur nyenyak sambil duduk. Yang ada ia tak bisa tidur, jika Ica belum sadar. Ica hampir 6 jam tak sadarkan diri, entah reaksi obat atau memang dilanjut dengan tidur karena lelah.


"Hey, udah bangun ?!" tanya Jihad sekali lagi.


"Belum, masih tidur !" Ica terkekeh seperti tak menunjukkan bahwa dirinya baru saja kehilangan sesuatu yang berharga.


Jihad bukan duduk di kursi, ia memilih merebahkan diri di samping Ica, mendekap perempuannya itu.


Keduanya saling berhadapan, "makasih, jamnya bakalan kupake terus, dan bakalan jadi jam favoritku !" ucap Jihad. Ica tersenyum manis, tangannya yang masih dibungkus rapi plester tertempel selang meraba ujung rambut hingga ke ujung dagu Jihad.


"Pibesdey," imbuh Ica.


"Peluk boleh kan ?" tanya Jihad, Ica terkikik, tapi Jihad menahan mulutnya dengan menempelkan telunjuknya di depan mulut Ica.


"Shutt ! ga boleh ngikik malem malem, nanti dikirain aku lagi pelukan sama kunti, " seloroh Jihad.


"Jangan ngajak ketawa, perut aku masih sakit, " Ica menahan tawanya ngilu.


"Haus, " keluh Ica, Jihad segera bangkit.


"Minumnya ga boleh banyak banyak dulu, bukan karena aku pelit loh, tapi kata dokter karena abis puasa lama, terus operasi jadi minumnya dikit dikit dulu !" ucap Jihad seraya tangannya mengambil gelas cangkir dan sendok.


"Iya pa dokter, cuma biar tenggorokanku ga kering aja, " jawab Ica serak.


Jihad memutar tuas pada samping ranjang agar bagian atas Ica bisa sedikit terangkat.


Sedikit sedikit Ica minum dari sendok.


"Berapa lama aku ga sadar ?" tanya Ica ?"


"Ga sadar apa dulu nih, ga sadar aku cinta sama kamu apa ga sadar kalo ternyata suami kamu ini gantengnya kebangetan?" Jihad menaik turunkan alisnya.


"Ga usah mulai ngajak berantem deh, aku masih sakit ini..kalo dah pulih sih ayo aja !"


"Di ranjang panas ya ?!" Jihad mengedipkan matanya.


"Iya, ranjang di atas kompor, sambil nyemilin batu bara ! biar lebih polll lagi panasnya !" jawab Ica kecut.


Jihad mendekat dan mendekap Ica," cepet sembuh sayang..aku ga ada temen berantem yang tangguh, ga mungkin aku berantem sama Kara, yang ada Milo melotot !" bagi Jihad, Ica adalah teman segalanya, teman hidup, teman berbagi, teman bertengkar, teman ranjang, dan teman hidup.


Bughhh !!

__ADS_1


Meskipun baru saja sadar dari obat anestesi, meskipun baru saja menjalani operasi, tenaga Ica cukup kuat untuk memukul dada Jihad. Matanya menatap memicing.


"Kamu nyebelin, kamu jahat !" sengitnya lalu manyun.


"Ih, aku kenapa?"


"Semua orang dikasih tau tapi aku engga," Ica melayangkan protes.


"Maaf, bakwan...aku ga pandai berkata kata. Aku ga tau gimana caranya biar kamu tau, tapi ga bikin kamu sedih. Aku ga bisa liat kamu jatuh, " ujarnya.


"Tapi satu yang kulupa, kalo istriku ini, bakwannya abang ini...wanita paling tangguh," tambahnya menyatukan kedua hidung mereka.


"Maafin aku, " cicit Ica.


"Ssshhhhh ! kamu ga salah, ngapain minta maaf. Kamu tau aku paling ga suka kalo kamu minta maaf sama aku?!"


Ica tersenyum miring, "dari dulu.."


"Yup ! dari dulu !!" ulang Jihad.


"Karena permintaan maaf dari kamu, selalu ngingetin aku sama perpisahan kita, " jawab Jihad.


"Kalo gitu aku mau bikin salah terus ahhh, mumpung ga usah minta maaf !" seru Ica yang dihadiahi jiwiran di hidungnya.


"By the way, aku udah pesen kue tart. Masa ultah ga ada tiup lilin ! aku maunya dirayain tapi cuma sama kamu, berdua !" ucap Jihad duduk di ranjang samping Ica.


"Iya, nanti aku pesenin, kalo jam segini kang satenya masih nangkep ayam sama sapinya !" jawab Jihad.


Ujian mereka belum berakhir cukup sampai di proses kuret Ica, usaha mereka masih panjang. Dokter mengatakan setelah Ica operasi ada usaha yang harus mereka jalani, yaitu follow up pemulihan, menurunkan kadar hCG dalam darah Ica. Dan bukan waktu sebentar untuk melewati itu, kesetiaan Jihad dan Ica berhak diacungi jempol jika untuk orang ketiga, tak ada celah untuk mereka masuk. Tapi Allah memberikan ujian lain untuk hubungan keduanya.


Ica kembali menahan perutnya yang ngilu, dan memukul Jihad tiap kali dia membuat Ica ingin tertawa.


"Pukul aja aku yank ! pukul !!! mentang mentang lakinya kaya samsak, kesempatan banget, " keluh Jihad.


"Aduh pengen pipis !!" tawanya.


"Nih, pake ini !" Jihad memberikan sebuah pis pot. Ica menggeleng tak mau.


"Berasa pipis di panci sayurnya mamah !" jawab Ica, Jihad menoyor kepala istrinya pelan.


"Mari saya antar nona ke toilet, " jihad beringsut dari kasur.


"Kamu ga akan ngapa ngapain kan ? aku ga akan kamu jorokin ke closet kan ? " tanya Ica yang mengalungkan tangannya di leher Jihad saat Jihad menurunkannya.


"Engga, paling ku lelepin ke bathtub, " Ica meringis menahan tawanya. Memang paling seru menikah dengan teman berantem.

__ADS_1


"Sakit ngga? atau mau pake kursi roda?" tanya Jihad, Ica menggeleng seraya di bantu Jihad.


"Makasih, " jawab Ica, saat duduk di closet duduk.


"Aku bantu ?!" tanya nya, Ica mengangguk walaupun mukanya sudah memerah, ia juga menitikkan air matanya saking terharu. Sampai sebegininya Jihad mengurusnya.


"Harusnya aku yang ngurus kamu, tapi malah kebalik !" Ica sesenggukan.


"Hey, ko nangis ?! shhhh !" Jihad mendekap Ica, mengusap kepalanya.


"Ga ada yang lebih berhak ataupun lebih wajib mengurus siapa, kita menikah berdua, sudah seharusnya saling mengurus...kamu manusia, yang bisa sakit, bisa rapuh dan kewajiban aku untuk mengurusmu..inget ?! aku udah janji sama Allah loh !"


Ica semakin menyembunyikan wajahnya di perut Jihad, bahunya bergetar tanda ia masih belum mau mengakhiri tangisannya.


"Kalo kamu masih mau nangis aku ga larang, tapi bisa ngga jangan disini ? kaki ku pegel, kelamaan berdiri !" ucap Jihad.


Ica kembali melayangkan pukulannya di pinggang dan punggung Jihad.


"Kamu mah orang lagi melow juga !" protes Ica.


"Kamu dorong tiang ini, aku gendong ya ?!" pinta Jihad, Ica mengangguk.


Suster datang bersama dokter untuk memeriksa. Ica harus datang ke RS setiap 2 minggu atau 4 minggu sekali, sampai kadar hCG nya normal kembali, selama itu pula ia akan merasakan berbagai keluhan, Ica dan Jihad saling melirik.


Jihad menggenggam tangan Ica, menguatkan.


"Kita berjuang sama sama, "


Makanan rumah sakit sama sekali tak ia sentuh, ia lebih memilih makan sate taichan sesuai keinginannya.


"Karena kamu yang harus pulih dan membutuhkan istirahat total, terpaksa aku bakalan minta kamu cuti kuliah untuk waktu yang lama, kamu masih bisa terusin di semester 2 sayang..." Jihad ikut menyesal untuk itu.


Ica mengangguk paham, usahanya mati matian untuk kuliah harus tertunda lagi mungkin 6 bulan sampai satu tahun ke depan.


"Maaf ya, " Ica menggeleng.


"Ga apa apa, yang penting aku bisa nerusin kuliah !" seru Ica, Jihad tersenyum, beruntung ia memiliki Ica, perempuan yang tangguh, ceria dan tak patah semangat.


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2