
Bukan hanya mereka yang terkejut, Ica pun sama terkejutnya. Tak menyangka secepat ini Jihad mempublishkan namanya sebagai calon istri CEO ini.
"Sayang, aku sudah terlambat...aku harus segera pergi. Kamu hati hati disini selama aku ga ada, terutama sama laki laki, " sinis Jihad beralih menatap Tio yang masih bergulat dengan pikiran jernihnya.
"Cup !!" Jihad mengecup kening Ica. Ica mengangguk, "hati hati, ka Juwi, pak Muni titip calon imam, " kekeh Ica.
"Siap bu bos, " jawab Juwita.
Ketiganya pergi dengan menggeret kopernya.
"Vi, " bukan Tio tapi Evi yang Ica dekati.
"Gue ga apa apa Ca, " jawab Evi pergi ke pantry, Ica menyusulnya tanpa melirik Tio.
"Evi !"
Evi yang sudah sampai pantry hanya bisa menangis seraya tangannya menyeduh kopi instan untuk menenangkan pikirannya.
"Vi, " lirih Ica melihatnya menangis.
Ica tak enak hati pada Evi, tapi ia bisa apa, cinta itu sebuah rasa yang buta, tak mungkin bisa memilih.
"Bo*doh banget ya gue, Ca ! udah tau dia sukanya orang lain, tapi masih aja ngeyel, hati gue malah lancang suka dia lagi...." ucapnya miris, Ica jadi mengingat dirinya dulu. Ica menarik Evi dan memeluknya, ia tau Evi butuh sandaran dan teman berkeluh kesah sepertinya dulu saat ditemukan Kara, bukan ia yang menemukan Kara, bukan Ica yang mencari cari Kara, tapi Kara yang menemukannya, Kara yang menghampirinya, menawarkan bahu untuk menangis, hati untuk menguatkan, dan tangan untuk bergandengan. Ahhh...Kara, jika mengingat gadis itu mungkin sekarang ia sedang dikurung di kamar oleh Milo.
"Gue pernah mengalami yang loe alami sekarang, gue tau apa yang loe butuh, ikut gue yu !!" ajak Ica, kopi yang masih hangat ditinggalkan begitu saja.
Ica menekan tombol rooftop mereka memang berniat ke atas rofftop gedung ini, bukan untuk menjatuhkan diri ke bawah gedung.
Angin kencang menerpa tubuh kedua gadis ini, Ica melakukan semua yang dulu Kara lakukan untuknya, setidaknya itulah yang ia rasakan, lebih baik.
Ica memasang headset di telinga Evi, dan memutar lagu lagu patah hati. Lelehan air mata Evi deras tak terbendung, hatinya benar benar sakit, hingga membuat dadanya sesak.
Gadis itu dengan refleks mengeluarkan semua uneg uneg yang sedari lama bersarang di hatinya, sambil berteriak lantang. Ica hanya mendengarkannya dan menemaninya di belakang, siluet dirinya dulu tergambar jelas, jadi memang selucu ini ia dulu, dan ia ingin tertawa.
Hampir sejam mereka disini, Evi baru saja menyelesaikan uneg unegnya, tapi sudah tak ada air mata lagi disana.
"Udah ?" tanya Ica mencabut headsetnya, Evi mengangguk.
"Plong, " jawab Evi.
Ica memeluk Evi, "gue bisa jadi pendengar dan tukang peluk yang baik ko, kalo loe butuh, yakinlah kalo hidup loe seberuntung ini. Masih bisa makan, masih bisa nafas, dan insyaallah masih bisa jatuh cinta, patah hati ini adalah obat buat loe biar bisa lebih tegar dan tangguh, disana Allah sedang memilih dan memilah calon yang tepat buat loe, " ucap Ica, Evi mengangguk cepat dan kembali tersenyum.
"Kalo loe liat mas Tio, cuma ada masa lalu dalam gambaran otak loe, dan loe ga butuh itu untuk hidup loe ke depan..." jawab Ica.
"Belajar ikhlas memang susah, ujiannya setiap hari, setiap waktu..."
__ADS_1
Keduanya kembali ke dalam gedung,
"Makasih Ca, "
"Sama sama, " jawab Ica.
"Kapan loe married sama pak Alvian?"
"Insyaallah bulan depan, Vi..nanti kalo undangannya udah jadi bantu gue sebar ya, " pinta Ica, Evi tersenyum, "pasti. "
Beberapa orang yang ada di divisi umum yang biasanya menganggap Ica remeh, kini hanya bisa menunduk. Mereka malu, ternyata gadis yang selama ini sering mereka anggap anak baru dan tak bisa berbuat apa apa selain keributan adalah calon istri bos besar mereka. Mereka tidak sepenuhnya salah, Ica memang spesialis pencari keributan, dan Ica memang orang baru di hidup mereka, tapi tidak dengan Jihad, gadis itu orang yang sudah lama tersemat di hati dan pikirannya.
*********************
4 hari sudah berlalu, dengan hubungan ketiga orang ini menjadi canggung, Tio yang tak banyak bicara dan berkelakar, Evi yang menganggap nama Tio sudah tak ada dalam hatinya, dan Ica yang bersikap biasa saja, Ica memang gadis seacuh itu.
Ica berulang kali melirik ponselnya, belum ada kabar dari Jihad.
"Kenapa ? pak Alvian ga ada kabar? galau amat !" goda Evi.
"Tadi bilang sih pesawatnya terbang jam 6 pagi, tapi sampai sekarang belum ada kabar, masa dari Jogja ke Jakarta aja lama !" omel Ica.
"Masih di jalan kali, atau ponselnya lowbath," jelas Evi menyendok kembali makanannya. Beberapa hari ini mereka jadi sering makan di luar kantor, di warteg depan kantor. Ica mulai risih dengan tatapan orang orang kantor, gosip tersebar begitu cepat, dari yang positif hingga negatif, tapi kebanyakan gosip yang tak mengenakkan untuk di dengar.
"Bu, coba tolong besarkan volume televisinya !" pinta seorang pelanggan lainnya seorang supir angkot. Si ibu pemilik warteg membesarkan volume televisi itu.
"Prankkk !"
Sendok terjatuh di piring Ica, tenggorokannya terasa tercekat mendengar nomor penerbangan dan pesawat yang disebutkan mengalami hilang kontak dan kecelakaan.
"Apa ??!!" seketika Ica seperti dihantam palu tepat di jantungnya. Ia kembali mengecek ponselnya, memastikan jika ia salah dengar atau salah baca.
"Kenapa Ca?" tanya Evi.
"Itu Vi, itu...." Ica tak sanggup bicara, ia menyerahkan ponselnya pada Evi. Evi yang merangkul Ica yang lemas, melihat ke arah ponsel Ica.
Calon Bojo❤
Elang Indonesia
Nomor penerbangan bdkc&$^****.
"Ya Allah !" Evi menutup mulutnya.
"Kita segera cari info !" ajak Evi, sebelumnya gadis itu memberikan minum pada Ica.
__ADS_1
Ica berlari menuju kantor,
"Ca !!!" lirih Tio yang ikut terkejut mendengar kabar bahwa pesawat yang mengangkut bosnya kecelakaan.
"Vi, gue mesti ke rumahnya Jihad !"
"Mas, bisa antar Ica ?!" pinta Evi, Tio mengangguk.
Dengan cepat Ica mengikuti Tio, meskipun rasanya berat, tubuhnya berasa tak berpijak di bumi. Ica memijit ponsel menghubungi calon mertuanya. Air mata sudah tak terbendung, mendengar isakan sang calon mamah mertua, tanpa bicara pun Ica tau apa jawabannya.
Saat sampai di rumah Jihad, satpam membukakan pintu gerbang, Ica berlari dengan bert3l4njang kaki, ia mencopot heelsnya karena sulit berlari. Pintu itu terbuka memperlihatkan calon ibu mertua yang tengah memeluk bantal sofa, dan menangis.
"Tante ??! ga mungkin kan itu ?!" Ica kembali sesenggukan.
"Ica, " tante Vivi menghambur memeluk Ica. Seketika tubuh Ica meluruh di lantai. Ayah Jihad om Riza tengah mencari kabar tentang ketiga orang yang terbang hari ini termasuk anaknya di bandara bersama Milo.
"Ca !!" lirih Kara.
"Kara !!!" gadis ini memeluk sahabatnya ini.
"Jihad Ra, daddy...." tangisnya pecah lagi.
"Sabar Ca, itu belum pasti. Loe ga boleh mandahului takdir, yakin jika Jihad ga apa apa, "
"Ka Milo, papah sama om Riza lagi cari info, disana kan ada Juwita juga !"
"Tante, yakin Jihad baik baik aja tan, " Kara menggenggam tangan tante Vivi.
Jika melihat penyebab kecelakaan pesawat, mustahil akan ada penumpang yang selamat, pesawat memang meledak di atas udara.
Daftar manifest sudah dikeluarkan dari pihak maskapai, memang ada nama Alvian Jihad, Juwita, dan pak Muni tertera disana.
"Sayang gimana ?" tanya Kara meloadspeaker panggilannya.
"Di daftar manifest memang ada nama Jihad by, tapi jasad ataupun keberadaannya belum diketemukan, aku sudah suruh orang orang ku untuk memanggil tim rescue dan mencari Jihad, Juwita dan pak Muni, agar pencarian lebih maksimal."
.
.
.
.
.
__ADS_1