
Ica menjejakkan kaki tel4nj4nk nya di pasir pantai, ini bukan pertama kalinya ia menginjak pantai. Tapi ini Bali girls...semuanya nampak spesial. Karena Ica memimpikannya sudah sejak lama, tidak dengan mengasuh para keponakannya yang berisik, tapi dengan ketenangan dan kedewasaan.
Ica begitu cantik diantara kemilau air laut yang bergulung. Angin laut yang menyibakkan rambutnya ikut menguarkan aroma lembut teh hijau dari rambut Ica, sesekali Ica merapikan rambutnya, karena ingat tanda tanda merah di lehernya, dan Jihad tertawa akan itu.
Ica mendelik sinis, terkadang ia mengomel.
"Kerjaan kamu ini !"
"Bikin malu !"
"Ga usah ditutupin, kamu tambah sexy, " bisik Jihad merangkul pinggang Ica untuk merapat. Ica membungkuk meraih air laut sebisanya dan mencipratkan pada Jihad.
"Otak mesum kamu mesti dicuci pake air laut !" Ica tertawa melihat Jihad yang terkesiap saat kena cipratan air laut.
"Yang ada bau amis ikan !" Jihad membawa Ica dengan menggendongnya dan membawanya berlari menerjang air laut, membuat Ica tertawa tawa minta diturunkan. Benar Jihad menurunkannya.
"Blubhhh !" Ica seketika basah kuyup karena diturunkan tepat di air laut yang menyapu bibir pantai, hingga saat air laut kembali pulang, tubuh Ica ikut terseret, sontak Ica meraih kaki Jihad membuat si empunya ikut terjatuh dan bergulung terbawa arus air.
Keduanya merasakan perih di mata, dan asin di mulut.
"Piuhhhh pffttt....asin ! pasirnya masuk ke mulut !" seru Ica. Kelakuan mereka tak ubahnya anak anak sd yang baru pertama kali melihat pantai.
"Ini gimana kita balik ke hotel ? bajunya basah sama lengket ?!" keduanya sedang menikmati kelapa muda.
"Kita beli baju dadakan, kan katanya mau liat sunset dulu sebelum pulang, " jawab Jihad mengusap pipi Ica yang ditempeli banyak pasir pantai.
Setelah dirasa panas matahari semakin menyengat, keduanya mencari kios oleh oleh dan membeli baju ganti untuk mereka.
"Kalo mandi di hotel kejauhan bee," Ica celingukan mencari toilet umum.
"Kita sewa penginapan terdekat aja dulu, biar bisa mandi."
Keduanya masuk ke dalam mobil dan mencari peninapan terdekat, karena rencananya ingin melihat sunset seperti keinginan Ica.
Jihad memutar kemudinya memasuki jalanan ke kiri dan mengarahkannya ke deretan penginapan.
"Disitu aja bee, biar ga terlalu jauh sama pantai !" tunjuk Ica ke arah sebuah penginapan kelas melati yang lumayan lengkap fasilitasnya. Setelah reservasi keduanya mengambil kunci dan mencari ruangan.
"Aku dulu apa kamu dulu ?!" tanya Ica. Tapi Jihad justru merengkuh dan memeluk Ica erat.
"Kita, " bibirnya menyapu bibir Ica sekilas.
"Asin, " keduanya tertawa.
"Ga mau ahhh, aku masih lemes. Kalo siang siang gini malah makin panas," jawab Ica.
"Aku dulu kalo gitu, mau kucarikan makan atau kita makan di luar ?" tanya Jihad.
"Makan disini aja kayanya bee, aku cape," Ica masih duduk di kursi menunggu gilirannya, sedangkan Jihad sudah masuk ke dalam kamar mandi.
Tak lama, sekitar 15 menit Jihad sudah selesai mandi dan mengganti pakaiannya, Ica mulai terbiasa dengan roti sobek milik suaminya ini.
"Dulu ini yang bikin aku mupeng, " cubit Ica saat Jihad masih setengah terbuka di bagian atasnya. Jihad terkekeh, "waktu di hotel ?" Ica menggeleng.
"Waktu pas futsal, kamu sempet buka kaos sampai batas perut !" jawab Ica.
"Ketauan liatin, " Jihad menjiwir hidung Ica.
"Aku kirain liat kamu yang bibirnya mirip akun gosip badan kamu bakalan kerempeng terus le toy."
__ADS_1
"Tapi ternyata aku salah, kamu emejing !!" aku Ica tanpa malu, membuat Jihad tertawa.
"It's yours !" Jihad membimbing tangan Ica untuk kembali menyentuh dada dan perut yang menjadi favorit Ica darinya.
"Ji, i love you !" ucap Ica lirih. Ica memang berbeda, ia tak pernah malu mengeluarkan isi hatinya sejak dulu.
"Love you more, tapi rambut kamu bau ikan cue !" kekehnya mematahkan suasana, kebiasaan.
"Ya udah kamu mandi, kalau mau romantis romantisan nanti lagi, aku cari makan siang dulu !" Ica mengiyakan lalu masuk ke kamar mandi.
"Kamu kunci dulu pintunya, takut ada yang masuk !" pinta Jihad.
***************
Status CEO tak menjadikan Jihad mengharuskan makan diatas meja mewah melulu atau makan di restoran berkelas, ini terjadi sejak dulu...sejak mengenal gadis cantik yang kini sudah menjadi istrinya.
Duduk melantai sambil menikmati makanan khas Bali, bukan dalam piring emas, melainkan dalam sterofoam dan kotak pembungkus makanan lainnya disertai sendok plastik. Asal makan bersama orang tersayang, maka semuanya terasa mewah. Bahkan mereka tak segan saling menyuapi satu sama lain hanya untuk sekedar saling mencicipi makanan masing masing. Jihad malah lebih nyaman disuapi tangan begini oleh Ica.
"Kebiasaan !" Jihad mengusap kasar wajah Ica yang sebentar lagi menghampiri gerbang mimpi.
"Ish ! kamu tuh kebiasaan ! kalo aku lagi ngantuk berat, udah siap siap lepas landas malah ganggu !" cebiknya kesal.
"Kalo abis makan jangan langsung tidur, nimbun lemak !"
"Ga kuat ngantuk banget, udah 2 hari aku kurang tidur ! dikerjain terus !" ucap Ica setengah sadar, Jihad ikut merebahkan badannya di samping Ica menolehkan kepala menatap lekat wajah Ica yang hanya berjarak beberapa centi saja dengannya, wajah lembut dengan mata terpejam dan anak rambut bergoyang tersentuh sejuknya AC dan angin dari celah celah ventilasi penginapan. Keduanya hanya bermalas malasan saja dalam kamar sampai waktunya mendekati sore hari mereka akan kembali ke pantai seperti request Ica. Hingga hembusan teratur dari Ica menandakan jika perempuan itu sudah tertidur. Cepat untuk Ica bisa tertidur. Jihad bukanlah orang baru untuk Ica, perempuan ini sudah tidak canggung lagi, tertidur, menangis bahkan kentut di depan Jihad. Persahabatan keduanya yang memudahkan keduanya untuk berinteraksi tanpa harus mengenal kata canggung.
"Cup, " sebuah kecupan disarangkan di pipi mulus Ica, si empunya tak bergeming. Jika dulu Jihad ragu untuk mengecup pipi semulus pualam ini, padahal batinnya sudah menggebu. Tapi sekarang, ia bebas melakukannya kapan saja tanpa harus memikirkan apapun lagi. Jihad membalikkan badannya ke samping menghadap Ica, mengelus pipi Ica dengan punggung jari telunjuknya. Entah sejak kapan ia ikut tertidur dengan tangan yang sudah memeluk Ica.
Ica bergerak terbatas, rasanya badannya tak bisa bergerak bebas. Ica mengerjap, dan menyesuaikan matanya dengan cahaya ruangan. Pantas saja, ia tertidur dalam dekapan lelaki ini, yang menganggapnya seperti guling.
"Bee, " seraknya.
"Hm,"
"Ga tau, " jawabnya singkat tidak ingin segera membuka matanya.
"Bee ih, takut keburu sore, " jawab Ica berusaha lepas dari pelukan anak kurawa satu ini. Jihad menggeliat tapi bukannya melepaskan, ia malah mendengus menghirup aroma leher Ica, membuat si empunya meremang.
"Bee ih, " aduhnya ingin menghindar.
"Apa, "
"Lepasin, jangan kaya gini ! aku geli.." Jihad menggigit cuping kuping Ica sebelum bangun dan meraih ponselnya.
"Jam 3, " gumam Jihad.
"Jalan sekarang yu bee, " ajak Ica.
"Aku ke toilet dulu, " jawabnya beringsut dari ranjang.
Ica sudah kembali fresh, energinya tercharge full.
"Ayo bee, " ia membelitkan lengannya di lengan Jihad.
"Sun dulu !" tunjuk Jihad di pipinya, Ica menurut, meskipun malu karena berada di tempat umum.
"Yang satunya nanti iri, " tunjuknya di pipi satunya lagi, Ica kembali menurut.
Tapi kembali Jihad menunjuk bibirnya, "ininya ?!"
__ADS_1
Ica mencebik, bukannya menurut kali ini ia malah mendorong kening Jihad.
"Tuh !!! mau yang mana nya lagi, aku tempelin sama sendalku juga nih ?!" Jihad tertawa, my Ica...
"Let's go daddy !!!" Ica masuk ke dalam mobil. Tapi Jihad malah diam, tak juga melajukan mobilnya.
"Ayo jalan bee, ntar keburu macet !" ujar Ica mengangkat alisnya sebelah.
"Bensinnya belum diisi full !" jawabnya.
"Itu penuh !" tunjuk Ica ke arah jarum tangki bensin.
"Bukan bensin mobil, tapi bensin pengemudinya," Ica menyipitkan matanya, ia tau kemana arah pembicaraan ini.
"Engga, " sengit Ica.
"Ya udah ga akan jalan, " tantang Jihad memutar dan mematikan mesin mobil.
"Ish !" dengusnya melipat kedua tangan di dada.
Ica melirik Jihad yang tak berniat mengalah, malah ia menyenderkan kepalanya di sandaran bangku dan memejamkan matanya dengan santai.
Ica melepas lipatan tangannya, ia membuka seatbeltnya dan mencondongkan badannya ke arah Jihad, lalu meraih kedua rahang tegas Jihad dan mengecup bibirnya. Tanpa diduga Jihad malah memang sengaja sedang menunggu umpan dimakan mangsanya. Dengan gerakan secepat kilat menekan tengkuk Ica agar lebih dalam lagi menjelajah bersama, menarik pinggang Ica agar bisa tetap duduk dan tak lemas. Membuat otak Ica jadi blank, tak bisa memikirkan apapun selain gelora yang begitu membara dari keduanya, hanyut terbawa arus aliran as mara yang begitu melenakan, hingga ia terkesiap saat dengan gemasnya Jihad menggigit bibir bawahnya, panas yang ia rasakan tak terasa lama, karena Jihad menyapunya berulang kali dengan lidah tak bertulang miliknya, meskipun setelah keduanya kembali tersadar rasa nyut nyutan seperti digigit semut kembali terasa.
"Sempurna, " gumamnya mengusap bibir Ica yang basah dan sedikit bengkak dengan jempolnya.
"Sakit ngga ?" tanya Jihad.
Ica sontak memukul dada Jihad.
"Jangan digigit peakk !!! sakit !" desis Ica, yang menghasilkan ledakkan tawa Jihad.
"Yu jalan yuu !!! aku obatin deh pake sunset ! sama belanja !" bujuknya.
"Ga mempan !" ketusnya.
"Biasanya kan kamu paling semangat sama traktiran ?" tanya Jihad seraya melajukan mobilnya.
"Owwwwhhhh istri CEO, usah ga mempan dirayu pake traktiran nih yeee !" goda Jihad menyipitkan matanya.
"Ish, diem ah ! aku marah !" ketus Ica malah membuat Jihad gemas.
Baru saja keluar dari penginapan, laju mobil harus terhenti, di jalan depan sana ternyata sedang diadakan acara, Jihad menepuk jidatnya.
"Kenapa sampe lupa !" ucapnya.
"Kenapa ?!" tanya Ica.
"Besok Nyepi, jadi sekarang masyarakat Bali ngadain pawai Ogoh ogoh...itu !" tunjuk Jihad ke arah keramaian di depan mereka, Ica melihat boneka makhluk makhluk seram berukuran sangat besar sedang diarak oleh warga.
"Bee, itu serem banget ! gede banget !" seru Ica takjub melihat patung / boneka besar berwujud manusia namun, memiliki tanduk dan berbulu, sepaket dengan wajah monsternya, jika Momo melihat sudah dipastikan gadis kecil itu akan menangis, lebih besar berkali kali lipat dari ondel ondel.
"Sayang, kayanya kita ubah jadwal penerbangan pulang, aku cek sebentar !" Jihad meraih ponsel di dalam sakunya dan mengetik sesuatu. Sementara Ica masih takjub dan terkagum kagum dengan pawai di depan, jarang jarang ia menemukan acara seperti ini. Bagaimana jarang ia bahkan tidak pernah, karena ini lertama kalinya ia melihat tradisi masyarakat Bali.
"Bee, liat itu !!! yang itu serem, ini keren parah sii, " Ica tak berhenti berdecak kagum, ia sudah memposisikan ponselnya untuk merekam moment langka ini.
"Done, bakwan sayang..maaf kita pulang malam ini ya, "
.
__ADS_1
.
.