
Ica menyuruh si sopir berjaga jaga saja, ia mensave nomer si supir di ponselnya, ia juga menyuruh si supir mensave nomor Jihad.
"Pak, jika setengah jam saya belum kembali, tolong hubungi nomor ini, dan kasih tau keadaan saya sama orang ini !" pinta Ica pada si supir, supir itu mengangguk.
Ica keluar dari dalam mobil, ia meninggalkan tasnya di dalam mobil, hanya membawa ponselnya di saku celana jeansnya. Tampilan Ica selalu sederhana saat akan ke kampus, hanya memakai celana levis yang sobek di bagian lutut, tank top hitam dan kemeja kotak kotak merah.
Ica mendongak ke arah gedung tua yang sudah dirambati tanaman liar.
"Gilaakk ! angker banget ! ini disini ada hantunya ga ya ?! ko gue ngeri sendiri," Ica masuk ke dalam dengan pelan pelan, agar tak terdengar oleh para penculik.
"Kalo tiba tiba ada pocong yang lompat lompat gimana?" gumamnya pelan, lebih seperti menggerutu, sepanjang anak tangga yang ia pijaki.
"Atau ada tuyul nyasar, mukanya putih putih kaya kue mochie !" gumamnya lagi, memang mulut gadis ini tak pernah bisa diam.
Ica melongokkan kepalanya dulu di setiap lantai yang ia masuki.
"Ko gue gemeter ya ! kalo mereka bawa pistol gimana?" gumamnya, nyalinya hanya tersisa sebesar kacang tanah.
Jantung Ica berdegup kencang, tangannya sudah mendingin.
"Elah, giliran kaya begini...tuh manusia ga ada yang bisa dihubungin lagi ! kaya minta ditimpuk rame rame !" dumelnya.
"Ya Allah kalo gue sama Kara bisa selamat dari sini hari ini, gue janji deh bakalan belajar buat ga ngumpat !" janjinya.
Ica langsung menarik kakinya dan berlari menuju tembok di sampingnya bersembunyi.
Kara yang masih tak sadarkan diri masih terikat diatas kursi kayu.
"Ya allah cuman engkau yang bisa menolong hamba !" gumamnya. Ica menghitung kembali jumlah penculik, memang berjumlah 4.
"Krekkk !" Ica melotot.
"B4ngkeeee !!!" umpatnya, ia mengutuk ranting dan plastik snack yang ia injak.
Ia menepuk jidatnya sendiri, saat para penculik itu mengetahui Ica ada disana, tak ada gunanya untuk kabur.
"Woyyy !!!"
"Apes !!! apes !!!" gumamnya, Ica berjalan maju. Mengumpulkan keberaniannya. Jika sampai ia terpojokkan maka ia akan mendorong tubuh keempat penculik ini hingga mereka jatuh ke bawah. Ia memang tak memegang senjata, tapi keberaniannya patut di beri penghargaan.
"Gue minta lepasin temen gue, gue ga tau masalah kalian berempat apa, tapi yang jelas lepasiiinn temen gueee ! bukan cuma kalian yang bakalan disikat lakinya, tapi gueee !!!" Ica menghentak hentakkan kakinya, menggembungkan pipinya.
"Ga semudah itu !" salah seorang penculik maju ke arah Ica, suaranya tak ia kenali.
"Loe maju gue mundur ! maksud gue loe maju gue tendang, elahhh !" Ica sampai salah berucap.
"Apa yang loe mau, uang, tahta ?!" tanya Ica.
"Gue ga butuh itu, gue cuma mau loe ikutin semua perintah gue !" ia memajukan lagi langkahnya.
Ica refleks melawan, Ica menendang perut si penculik dan memberikannya bogeman di rahangnya sampai topinya terbuka.
Penculik itu membuka maskernya, sungguh ia tampan, tapi Ica tak mengenalinya.
__ADS_1
"Gue rasa loe bukan orang sembarangan !" Ica masih dengan kepalan tangannya di depan.
"Hahahah, untuk ukuran cewek loe tangguh juga !" jawabnya. Si penculik itu menarik Ica, dan melawan.
"Adududuhhh !!" Ica mengaduh saat ia mulai kalah. Tangan Ica sudah dipiting ke belakang dan dikunci. Mau tidak mau Ica hanya menurut.
"Maju !!" bentaknya.
"Loe tau ! gara gara loe, gue ga pergi kuliah, loe tau ! biaya kuliah tuh mahal !! gue laporin sama cowok gue baru tau rasa loe !" omel Ica.
"Gue ga takut !" jawabnya.
Ica maju sampai di depan Kara yang masih pingsan.
Laki laki itu mendorong Ica sampai dekat ujung tepian gedung.
"Eeehhh ! loe mau ngapain ?!" Ica sontak berontak.
"Mau dorong loe !"
"Enak aja ! gue jatoh kalian juga ikut jatoh, " Si laki laki itu terus mendorong Ica.
"Eh bentar bentar ! loe ga mau suruh gue buat ngucapin permintaan terakhir gitu, kaya di tv tv !" ucap Ica.
"Ga usah drama !"
"Gue mau dibawain bakwan ibu kantin sekolah gue, gue juga mau es cendol depan kantor ! jangan lupa kalo gue mati loe bayarin utang utang gue, gue ngutang sama warung depan rumah ! gue ngutang hape sama cowok gue !" cerocos Ica.
Kara sadar,
"Ra !! Kara !!! gue takut Ra, loe lama banget pingsannya !" adu Ica.
Kara menggerakkan tangannya yang diikat, "ini gue dimana? diapain ?" Kara ikut panik.
"Loe diculik peakkk ! amsyong kan ! loe punya musuh Ra? apes banget idup gue, baru ngerasain enak udah mau meninggoy aja !" keluhnya merengek.
"Ga usah kebanyakan b4cot kalian !" bentak si penculik.
Kara beralih menatap penculik yang bicara, tapi sedetik kemudian ia tertawa.
"Dih ga waras nih orang !" sarkas Ica pada Kara.
"Loe yang ga waras !"
"Elah buruan lah ! pegel tangan gue !" ucap Kara.
"Loe denger kata kata gue !!" bentak salah satu penculik pada Ica.
"Loe sama temen loe bakalan selamet kalo loe nurut !" ucapnya lagi. Ica mengernyitkan dahinya, suara ini begitu familiar, tapi karena kepanikannya ia tak begitu peka.
" Ragane mulo sing luwung, Ca. Tapi, ajak gelae tiang meraso nepukin hidup tiang, sesubane ngerasaang pejalane kisah...tiang tetep milih gelae..." (kamu memang bukan wanita sempurna, Ca. Tapi bersamamu aku merasa menemukan hidupku, setelah mengalami perjalanan kisah, aku tetap memilihmu). Angin senja seketika membawa suasana romantis, anak rambut Ica yang terbawa angin melambai lambai menutupi sebagian pipi dan pandangannya. Si penculik yang berbicara itu membuka topi dan maskernya, Ica melongo menatapnya, laki laki yang ia harapkan se sorean ini ternyata ada dihadapannya, lelaki yang katanya tadi sibuk mengurus proyek bersama Juwita ternyata pria misterius komplotan penculik Kara. penculik yang lain pun membuka masker dan topinya ternyata mereka adalah Milo, Jian dan satu yang memegang Ica, pria yang tak dikenali Ica adalah Rayhan, Ica memang belum pernah bertemu Rayhan, dulu sempat melihat di arena track pun tak begitu jelas.
Ica diam mematung, Jihad berlutut di depan Ica mengeluarkan kotak cincin berwarna merah.
__ADS_1
"Ngantennah ajak tiang, Kanti tuo ajak tiang..."(Menikahlah denganku, menualah bersamaku) ucap Jihad.
"Cieeee !!!!" Kara yang masih duduk disana tertawa.
"Buruan Ca, jawab !" pekik Milo yang mengakungkan tangannya di leher Kara.
"Gue bukan ga mau jawab ! tapi gue ga ngerti !" jawab Ica polos. Jian dan Rayhan tertawa lepas.
"Gue udah nahan kencing dari tadi oyyy !" jawab Jian memegang perutnya geli.
"Katanya mau liburan ke Bali tapi ga ngerti bahasa Bali, gimana sih ?!" jawab Jihad.
"Jadi gimana? apa maksudnya?" tanya Ica.
"Itu ngelamar peakk !" pekik Kara.
"Menikahlah denganku, menualah bersamaku ?!" lirih Jihad.
"Sorry, " jawab Ica, semua wajah terlihat terkejut.
"Sorry gue ga bisa..." Jihad berdiri, terlihat raut wajah getir dan kecewa darinya.
"Oke ga apa apa, " jawab Jihad.
"Sorry gue ga bisa nolak, " kekeh Ica. Jihad mendongak memastikan pendengarannya.
Ica mengangguk meraih cincin itu dan memasangnya sendiri di jarinya.
"Kamu udah 7 tahun kenal aku, jelas tau ukuran lingkar jariku !" ucap Ica lalu Ica berjinjit dan mengecup pipi Jihad.
Jihad sontak memeluk Ica. "Utang kamu banyak banget bakwan."
"Dasar crazy CEO !!" ucap Ica.
"Beuhhh kasian nih jomblo !" ujar Jian.
"Kamu tega sayang, aku diiket gini ! pegel !" Kara baru saja sadar jika ia masih terikat.
"Astaga lupa by, tapi ga apa apa..ga akan aku lepas dulu !" Milo menyeringai, Kara menautkan alisnya, merasa akan ada yang mencuri kesempatan dalam kesempitan.
"Ga usah ngaco ! ini banyak orang !" Kara melotot mencoba berontak, tapi sayangnya tangan dan kakinya terikat.
"Ji !!! Ray !!! tanggung jawab !!!" pekik Kara malah dihadiahi tawa dari mereka. Milo sudah menyarangkan kecupannya di setiap inci wajah Kara, tanpa terkecuali.
"Miloooo !!!!"
"Iya baby," jawabnya masih tersenyum jahil.
.
.
.
__ADS_1
.