Me VS Crazy CEO

Me VS Crazy CEO
Ujian cinta


__ADS_3

Langkah kaki Ica terhenti di ambang pintu ruangan, otaknya kembali sadar, ia baru ingat jika ia meninggalkan kelima makhluk itu di koridor sepaket dengan wajah kebingungan yang berbeda. Ditambah, 2 temannya itu pasti akan menganggapnya karyawan tak tau diri.


"Plak !"


"Be*go, gue lupa kalo disini bukan area bebas berekspresi, " Ica menepuk jidatnya sendiri. Ia kembali berbalik, ia menunduk sopan pada Jihad, Juwita dan pak Muni.


"Maaf pak, bu. Saya sudah lancang main nyelonong saja, saya tidak mau melangkahi pak Fajar untuk berbicara, sekali lagi maaf. Permisi," Ica kembali ke ruangan.


"Pffftt, " Tio dan Evi menahan tawanya melihat kebo*dohan Ica.


"Ca !" Evi masuk.


"Ada apa sih Ji?" tanya Juwita, Jihad menggelengkan kepalanya.


"Pak, untuk rapat audit kali ini, bapak saja yang pimpin, kebetulan saya ada sesuatu yang terlupa, " ucap Jihad pada pak Muni.


"Baik pak, " Pak Muni dan Juwita masuk ke dalam ruang rapat. Sedangkan Jihad masuk ke ruang divisi umum.


"Hahahah, Ca ! masih sempet sempetnya loe balik lagi ! untung ga ditampol sama pak Alvian !" Evi tertawa.


"Sweety, loe ada ada aja !" ucap Tio yang duduk dengan mengarah ke sandaran kursinya.


"Sekali lagi loe panggil sweety, gue beliin loe popok buat sumpal mulut loe !" jawab Ica.


"Hahahah, gemes deh gue sama loe !" jawab Tio.


"Humaira, bisa ke ruangan saya ?" pinta Jihad pada Ica. Sontak Ica, Evi dan Tio langsung terdiam dan kembali ke mejanya masing masing.


"Iya pak, " jawab Ica segera berdiri.


"Sweety??" gumam Jihad mendengus.


Jihad membuka pintu ruangannya


"Jadi si sweety ini kenapa?" tanya Jihad menyenderkan pan*tatnya di tepian meja kerjanya.


"Cih, " decih Ica.


Tak mungkin juga, Ica mengadukan hal ini pada Jihad, Ica bukanlah tipe gadis pengadu.


"Engga apa apa, cuma kesel aja sama bu Andar," jawab Ica.


"Masalah kerjaan?" tanya Jihad. Ica mengangguk ragu.


"Lain kali harus lebih teliti sebelum kamu kasih berkasnya, bakwan.." ucap Jihad menarik pinggang Ica untuk mendekat, tangan Jihad meraih kedua tangan Ica dan membawanya ke leher kekar miliknya.


"Tapi bukan salah gue, " cicit Ica hampir tak terdengar.

__ADS_1


"Kerja bikin capek? mau yang kerjanya ga capek ?" tanya Jihad menaik turunkan alisnya.


"Apa?!" mata Ica berbinar, jemarinya memainkan ujung bawah rambut Jihad yang tercukur rapi.


"Tungguin aku di rumah, siapin makan, baju sama air hangat buatku mandi !" jawab Jihad. Raut wajah gadis itu berubah drastis.


"Ga mau air comberan aja sekalian? biar kulelepin juga di selokan depan rumah? Yeee pauk...itu mah aku juga tau jadi ibu rumah tangga !" jawab Ica.


Jihad menoyor jidat Ica, "ga usah nyolot juga !" kekehnya pada kekasihnya ini.


"Biar ga kesel lagi, nanti malem aku ke rumah !" ujar lelaki ini.


"Mau ngapain ?!" polos Ica dengan menautkan kedua alisnya, membuat Jihad kesal.


"Mau ikut makan ! ya mau ngapel lah, masa mau ikut mandi !" Ica tertawa renyah melihat wajah ngegas Jihad.


"Biasa aja dong, ga usah ngegas kaya dipakein NOS !" tawa Ica. Posisi mereka masih sama, namun bisa bisanya saling mendorong pelan kening masing masing.


"Abisnya kamu oon nya kelewatan, bikin orang naik darah, "


"Gimana rasanya naik darah, enak ga ?" salah Jihad memperpanjang masalah ini, membuat Ica semakin menggodanya, tapi tak apa ia rela demi melihat wajah ceria itu lagi.


***************


Jihad tidak memakai mobilnya, ia memakai motor, agar dapat masuk ke dalam gang rumah Ica.


Tapi belum juga ia sampai di depan daun pintu rumah Ica, ia sudah menemui pemuda kampung yang mencegatnya.


"Sorry bro, bisa berenti bentar !" tahan Diki, pemuda ini sudah keluar dari kantor polisi, ayahnya menjadi penjamin untuknya, dan ia hanya menjadi tahanan kota saja juga wajib lapor.


Sebatang rokok kretek di sesapnya, celana levis yang luntur dan kaos kusut menjadi ciri khasnya. Diki menatap Jihad dari atas sampai bawah. Gayanya tak bisa disamakan dengan pemuda kampung biasa.


"Bukan anak kampung sini ?!" tanya nya dengan gaya slengean.


"Bukan, " jawab Jihad singkat.


"Ada keperluan apa datang kesini ? malem malem ?!" tanya nya, Jihad menatap 4 orang lainnya. Pria pria yang begini harusnya di ruqyah, bukannya mencari kerja ataupun membantu orangtua di rumah, tapi malah nongkrong nongkrong tak jelas dan meresahkan. Seharusnya pria seusianya sudah mampu menjadi tulang punggung keluarga, jangankan untuk menanggung hidup orang lain, untuk hidupnya sendiri saja masih mengandalkan orangtua.


"Rumah pacar saya di kampung sini, " jawab Jihad. Diki dan keempat temannya ini tertawa.


"Siapa ?" tanya Diki, pasalnya hebat sekali anak kampung sini bisa menggaet lelaki modelan Jihad, dari gayanya saja tak bisa disamaratakan dengan pemuda biasa, alias orang kaya tampan pula, dan yang jelas wanginya berbanding terbalik dengan Diki, wangi tubuh Jihad dari jarak 10 meter saja kaum hawa akan berebut menempel seperti koyo, beda dengannya yang bau sarung bantal apek.


"Ica, Humaira Khairunisa, " jawab Jihad.


"Apa??! neng Icanya gue ?!"


"Sejak kapan Ica jadi kepunyaan loe?" tanya Jihad.

__ADS_1


"Sejak masih nempel ari arinya !" jawab Diki, bukannya membiarkan Jihad lewat, Diki malah menantang CEO muda ini untuk duel, tidak akan mudah mendapatkan Ica,


"Jangan mimpi bisa pacaran sama neng Ica gue, sini hadepin gue ! langkahi dulu mayat gue !" jawabnya membuang rokok yang masih menyala itu ke sembarang arah. Jihad hanya menyunggingkan senyumnya, penampilan rapi yang akan ia pamerkan pada orangtua Ica mungkin akan rusak gara gara cecunguk nakal.


Diki melayangkan bogeman mentahnya pada Jihad, lengan kerempeng bertatto mawar berduri itu mengarahkan kepalan tangannya tepat ke arah wajah Jihad, tapi Jihad dengan mudah menangkapnya, justru Jihad memitingnya hingga ke belakang. Diki mengaduh, Jihad menekuk lutut Diki hingga ia berlutut di jalanan.


"Awww, kurang aj4r ! cuyyy, sikat !" pintanya pada teman temannya. Niat tepat waktu malah jadi ngaret, Jihad tertahan di pos ronda. 5 lawan 1 memang tak sebanding. Tapi bagi Jihad itu bukan apa apa, badan mereka tak se seram tatto mereka, serangan mereka tak se angkuh ucapannya. Dalam waktu 15 menit Jihad membuat kelimanya terkapar. Ia melangkahi tubuh Diki yang sedang merintih kesakitan.


"Nih, udah gue langkahin kan, badan loe !" jawab Jihad. Tanpa di sadari senyum seseorang di balik tembok itu mengembang bak kerupuk yang digoreng di minyak panas. Jihad jadi teringat kata kata abangnya Ica, jika memang ingin bersama Ica banyak sekali rintangannya, mungkin inilah salah satunya.


"Ujian pertama lolos, dia bisa lewatin si kamvreett," kekehnya, ia menatap kresek hitam berisi makanan ringan dari warung untuk anak anaknya bersama sebungkus rokok miliknya.


"Darimana bang ?" tanya Ica.


"Dari warung, si Momo kepengen wafer yang ada coklatnya ! sambil beli amunisi buat pagi, " jawabnya duduk bersama Ica di bangku depan teras, Ica kembali berkutat dengan pulpen dan kertas. Sambil menunggu kekasihnya yang tak kunjung datang, ia memilih mengerjakan tugasnya.


"Ihhh, ngaret !" dumel Ica.


"Loe lagi nungguin orang ya ?! udah kaya cacing kremi..ga bisa diem, bikin orang gatel pengen garukin !"


"Ishhh, iya ! lagi nungguin pujaan hati !" jawab Ica.


"Pujaan hati..pujaan hati.. kerjain tuh tugas dulu, ntar loe dihukum dosen !!" sarkasnya mengacak rambut Ica.


"Eh, tapi bang ! di rumah kan berantakan banget, tuh maenan si Momo ma Zakir masih berantakan. Anak anak loe tuh ! malu kan sama Jihad, rumahnya udah jelek berantakan pula, " omel Ica.


"Kalo masalah rumah loe ngomongnya ma bini gue ! bo*do amat, yang malu kan loe !" jawab Riski.


"Dih, laki ga ada pengertian.." omel Ica.


"Galih mana?" tanya Riski.


"Lagi galau, cewek yang bener bener dia suka ditembak duluan sama sohibnya !" bukannya ikut prihatin Ica malah tertawa diatas penderitaan abang ketiganya ini.


"Njirr ! ga guna, ga ada ceritanya buaya galau sama cewek ! cewek mah masih banyak, apa kabar sama cewek dia yang numpuk kaya berkas pengajuan sktm di kecamatan ?!" tanya Riski setuju dengan Ica.


"Disimpen di lemari, biar jamuran !" jawab Ica, kedua adik kaka ini malah menghibahi orang yang tengah berduka, karena cintanya kandas. Tak lama motor Jihad terdengar dari jauh.


"Tuh yang ditunggu datang, gue masuk dulu, Momo udah nangis nangis tuh, " ucap Riski hendak masuk saat Jihad membuka helm fullfacenya.


"Bang, " Jihad mengangguk pada Riski, begitupun Riski.


"Gue masuk dulu ," pamit Riski.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2