
"Aduh aku mules !"
"Makan apa sih barusan !"
"Lemes gue !"
Sudah ke berapa kalinya Ica mondar mandir antara toilet dan ruang tunggu bersalin, membuat Jihad mengerutkan dahinya hingga menyerupai cucian kusut, berkerut kerut.
"Kara yang lahiran aku yang bolak balik kamar mandi," keluhnya duduk di samping Jihad. Lelakinya itu meraih tissue demi menyeka wajah Ica yang terdapat tetesan air keringat.
"Ga salah makan ?" tanya nya, Ica menggeleng, seingatnya ia dan Kara hanya makan makanan cepat saji, makanan yang dibelinya di bioskop pun belum sempat dimakannya.
"Kara gimana ya ?! sakit ga ya ?!" jika ditanya seperti itu, Ica saja tidak tau, apalagi ia. Yang ia tau adalah berapa harga saham perusahaannya, index saham beserta update an bursa saham saat ini dan satu lagi, yang ia tau...caranya melakukan something wonderful di tengah malam bersama Ica di atas ranjang panas.
Seiring keluarnya Milo dari ruangan bersalin dengan mata berkaca kaca, rasa mulas Ica pun hilang.
"Cowok bruh !"
"Alhamdulillah !!" Ica dan Jihad berucap bersamaan.
"Gue jadi papah !" gumam Milo setengah tak percaya.
"Terus ka Milo ngapain disini ? bukannya nemenin Kara sama adzanin debay ?" tanya Ica.
"Udah gue adzanin Ca, "
"Mau telfon ibu, ayah, sama papah !" jawabnya lagi.
"Biar gue aja, loe temenin Kara di dalem !" ujar Jihad merogoh ponselnya.
**********
Ica menatap kagum, bayi berpipi merah dan gembul itu, hampir saja brojol di toilet bisokop, jika ia tak segera membawa Kara ke rumah sakit bersama pak Mulya.
"Hay boy, welcome to the world ! ini tante Ica !" sapa Ica belum berani menyentuh nyentuh bayi Kara yang sedang terlelap di samping Kara. Ada rasa haru sekaligus sedih di mata Kara, seharusnya mereka memiliki anak dalam jarak bersamaan, tapi Allah menggoreskan sedikit tinta hitam di hidup kedua sahabatnya ini, semoga setelah ini hanya akan ada warna warna lain di lembaran hidup Ica dan Jihad.
"No boy, this is your mommy...mami Ica...daddy Ji, " ralat Kara menatap Ica dan Jihad yang berdiri memperhatikan keduanya.
Ica sampai menitikkan air mata, kenapa terasa sangat menyentuh sekali.
"Terharu sampe nangis gini si bakwan, " Jihad mengusap usap pucuk kepala istrinya.
"Aku bukan nangis karena terharu aja bang, tapi Kara bilang aku mami, ko aga kurang srek gitu sama panggilan mamih, jadi inget waktu SMA, " Jihad dan Kara terkikik.
"Gladys ?"
Ica mengangguk lemas.
"Soalnya gue yakin, anak gue pasti diajarin hal aneh aneh sama loe !" Kara tertawa.
"Selamat ya Ra, hidup loe makin lengkap, "
"Syailendra Dana Aditama, "
***********
1 month
__ADS_1
"Andra !!!" Ica sedang menggoda Lendra kecil, di atas bouncernya.
"Andra...Andra...Lendra Ca," memang hanya Ica lah orang yang suka sekali mengganti ganti nama anak orang, termasuk keponakan keponakannya sendiri.
Ica terkekeh melihat mamah muda ini memberenggut saat ia mengubah nama panggilan anaknya.
Drrtttt....drrtt....drrttt....
"Ck, "
"Kenapa ga loe angkat aja si, gimana kalo penting ?!" Kara membuka beberapa kancing baju busuinya, sudah bersiap mengASIhi Lendra.
Ica menaruh kembali ponselnya di meja. Kara hanya menghela nafasnya.
Cobaan apa lagi ini ?! yang satu manjanya kebangetan kaya anak kucing, yang satu cueknya kebangetan kaya bebek abis bok3r ditinggal begitu aja.
"Ntar loe berdua berantem lagi ! " lanjut Kara.
"Bosen gue Ra, selalu di curigain...mesti nempel terus, Jihad kan tau, gue paling ga suka ditempelin terus, masa di rumah aja gue lagi masak aja mesti ditempelin ?! paling paling nanya lagi ngapain, sama siapa, kangeeeen...ujung ujungnya cemburu, pengen rasanya gue jedotin kepala ke bantal yang empuk aja Ra, " keluhnya, Kara hanya mengusap usap punggung Ica. Jihad seperti bukan Jihad yang biasanya kalem, bijak dan dewasa menjelma jadi Momo.
"Mami Ica jangan malah malah !!" Kara menirukan suara anak kecil.
"Masa katanya gue mesti nunda lagi kuliah, terus gue kapan wisudanya, baru juga semester satu !" Ica meneguk sisa jus strawberry nya hingga tandas tak bersisa, sampai es batunya pun ia kunyah hingga berbunyi gemelutuk.
"Widihhh, mami Ica serem kalo lagi ngamuk, kaya kuda lumping !" seru Kara pada Lendra yang malah tersenyum senyum gemas.
"Apa alasannya ? setau gue Jihad tuh yang paling semangat sama paling mengutamakan pendidikan !" kening ibu muda ini berkerut.
"Alasannya ga logis Ra, katanya takut tiba tiba kangen aja, "
Demi apa ?!! Kara sampai tersedak salivanya sendiri.
"Bukan lagi, tapi 100 rius !" sungut Ica.
Ia melirik jam di tangannya, hari pun terlihat masih terik. Sebenarnya ia malas untuk pulang, dan masih ingin tetap disini. Tapi apa daya, ia harus pulang jika ia masih ingin rumah Milo dalam keadaan aman damai sejahtera, karena sudah pasti Jihad akan menyeretnya pulang dengan caranya sendiri.
"Gue balik deh Ra, udah jam 2 siang..bentar lagi Ji pulang, " pamitnya masih menyenggol nyenggol pipi Lendra yang semakin tembem.
"Kirain mau jadi istri durhakim ?" kekeh Kara.
"Selucknut luck nut nya gue, ga berani gue Ra, " jawab Ica.
"Bye Indra ! mami pulang dulu, " pamitnya menyentuh pipi gemoy itu dengan ujung hidungnya.
"Bye mamiiii sengklek !!" suara Kara menggoyang goyangkan tangan Lendra yang sesekali masih mengepal.
"Mau kemana lagi bu ?" tanya pak Mulya.
"Pulang aja pak, udah jam segini..abang pasti lagi di jalan mau pulang, kalo sampe telat..ntar pecah deh ! world war ke 3 pak. Gelas, sendok, piring pada terbang !" Ica tertawa miris menertawakan dirinya sendiri.
Sekitar 15 menit Ica sudah sampai di rumahnya, jarak dari rumah Kara ke rumahnya tidak terlalu jauh.
"Bi Denok !!" sapa Ica.
"Ko ibu langsung masuk dapur ?" tanya bi Denok, biasanya jika begini pastilah ada menu yang ingin dimasaknya dadakan kali ini atas permintaan yang mulai raja rimba.
"Biasa bi, ada yang request ! katanya pengen dibikinin udang saus padang yang pedes banget kaya omongan tetangga !" jawab Ica mengikat rambutnya cepol satu dan mengikat celemek.
__ADS_1
Tak terhitung dalam seminggu sudah berapa puluh menu yang Ica buat secara DADAKAN.
Anggap saja lelaki itu ulang tahun setiap hari, apapun permintaannya harus dilakoni.
"Bi Denok bantu ya bu, " Ica mengangguk dan meminta bi Denok membersihkan udangnya di wastafel, sementara ia menyiapkan bumbunya.
"Ibu jadi kuliah minggu besok ?" tanya bi Denok, Ica masih gamang, pasalnya surat perijinan belum di acc sang pemilik dana dan pemilik surganya itu.
"Ga tau bi, insyaallah do'ain aja lah !" Ica meraih toples selai kacang dan membukanya, memakan selainya langsung tanpa roti ataupun kue lain. Seperti kebiasaanya sewaktu kecil.
Ia bersenandung sambil memasak, setidaknya bisa mengurangi pikiran pikiran jengkel yang bercokol di hati karena sikap Jihad akhir akhir ini. Jika Jihad sedang menyebalkan, maka ia yang harus bersikap dewasa disini.
"Kayanya Jihad lagi ketempelan s3tan nyebelin !" benaknya.
Sampai sepasang tangan melingkar di perutnya, begitupun aroma kayu basah campur lemon yang tengah menempel di sebagian badan belakangnya.
Yap ! ini dia tersangka maling ayam, yang bikin hari harinya selama sebulanan ini menjadi suram dan keruh.
Cup...
Cup...
Cup....
Basah, kenyal...menjejaki kulitnya dari bahu sampai ke leher dan belakang telinganya.
"Tuh ! makan tuh keringet ! asin...asin deh !" gerutu Ica, seperti tak ada tempat dan waktu lain saja, o..my..to the good ! Ica sudah melihat bi Denok yang melengos karena kelakuan Jihad yang bikin jiwa jomblonya bergejolak.
"Udangnya sudah bersih bu, bi Denok masuk dulu siap siap ashar," senyum terkikik.
"Wangi ko, " bisiknya.
"Astaga ! bang ih, bisa diem dulu ngga ?! katanya tadi pengen dimasakin udang saus padang ?!" Ica sudah menggertakkan giginya menahan kesal.
"Mau ku cuma kamu, " Ica menatap Jihad geli, sejak kapan Milo menempel di badan Jihad.
"Bang, geli ih !" tolak Ica.
"Itu kumis kamu udah mau numbuh tuh, cukuran sana !" omel Ica.
"Mandi dulu sana !" untuk kesekian kalinya pinta Ica tak digubris.
"Bang !!"
"Ini nanti gosong, kalo kamu gangguin terus akunya," rengek Ica.
Jihad malah tertawa,
"Aneh deh, abang kenapa sih. Akhir akhir ini tuh manja banget, " ucap Ica.
"Emang ga boleh manja sama istri sendiri ? lagi pengen dimanja !" jawabnya, tak salahkah mata dan telinganya saat ini, sejak kapan iron man jadi anak alay 45an.
.
.
.
__ADS_1
.
.