
Ica terbangun, sepertinya dia sudah lama tertidur. Mendapati dirinya sudah diselimuti, Ica mengernyitkan dahi. Terakhir ia ingat ia sedang menangis di dada Jihad.
Ia masuk ke dalam kamar mandi, tak sampai berapa lama sudah kembali. Ica berniat pulang saja, dari kemarin ia tidak pulang ke rumah, jadi kangen juga sama rumah, pikirnya.
Ia duduk di meja rias dan meraih sisir, matanya agak sembab, dan kuyu.
Tanpa sadar di belakangnya, Jihad sudah berdiri memperhatikannya, dari pantulan cermin saja wajah Ica sudah berubah jengah, tak tau kenapa sejak kedatangan Catherine ia sangat jengkel dan malas bertemu Jihad.
"Udah bangun ?" Jihad mengecup pipi Ica, mengambil alih sisir dari tangan Ica dan mulai menyisiri rambut sepunggung Ica.
"Aku mau pulang, " jawab Ica ketus.
"Iya, nanti kita pulang. Tapi makan dulu ya !"
"Maaf momynya twin, masih marah ?" mereka saling bertatapan lewat pantulan cermin. Bukan ucapan Jihad yang ditangkapnya, Ica malah menutup hidungnya saat Jihad mendekat.
"Kamu pake apa sih ?! bau tau ngga ! bau kemenyan, bau eneg !" gidik Ica. sontak Jihad mengernyitkan dahi.
"Kemenyan dimana ?" lelaki itu malah sudah mengendus endus aroma tubuhnya sendiri demi mendapati aroma tubuhnya.
"Parfum biasa, " jawab Jihad memastikan.
"Bau tau ! husss sana sana ga usah deket deket, kamu bau !" Ica mendorong Jihad agar menjauh.
Bau ? parfum semahal ini disamakan dengan wangi kemenyan, yang benar saja !
"Idung kamu ditaroin apa sih yank, masa segini harumnya. Lalat aja pada nempel, kamu malah bilang bau ?!"
"Lalat mana yang nempel ? lalat dari London ?" tanya Ica sewot, sepertinya apapun akan salah sekarang di depan Ica.
Jihad menghela nafas banyak banyak, untuk mendapatkan stok sabar yang melimpah.
"Ya udah aku salah, ga usah dibahas ya, nanti kamu nangis lagi," Jihad mengalah.
"Emang, emang kamu yang salah, "
__ADS_1
"Iya aku salah, makan yu ! kasian twins, belum dikasih makan."
"Ga nav su !" Ica melanjutkan aktivitas menyisir rambutnya. Jihad tak menyangka Ica akan semenyebalkan ini jika hamil. Ia mengulum bibirnya
"Ngapain ? mau ketawa, ketawa aja ! ga usah so so an ditahan !" sengit Ica yang ternyata masih memperhatikannya.
"Engga yank, ya udah maunya makan sama apa ? biar aku siapin ?!" tanya Jihad.
"Aku mau makan sama capcay, tapi wortelnya di potong bentuk love, udah gitu pake campuran tofu. Sama ayam goreng. Tapi rasa ayam gorengnya harus kaya yang di warteg depan kantor. Kuah rendang sapi nya juga enak!" Ica sampai meresapi betapa nikmatnya bayangan makanan yang barusan dia sebutkan, tapi tidak dengan Jihad, permintaan macam apa itu, jangan menyusahkan orang yang memasak, bagaimana membentuk wortel jadi love ?
"Ya udah abang beli ayam goreng yang depan kantor dulu kalo gitu ya, mau ?" tawar Jihad, demi Ica dan twin ngusapin pala orang botak ataupun nyari jarum di tumpukan jerami sekalipun Jihad mau. Ica mengangguk, yang penting Ica tidak menolaknya. Kan repot kalau Ica terus terusan marah, lalu bagaimana nasib si entongnya beberapa bulan ke depan.
Jihad menyambar jaketnya, lalu meraih kunci motor, ia memutuskan untuk memakai motor saja demi memangkas waktu tempuh.
Jihad sampai di warteg depan kantornya, suasananya sudah tak seramai saat jam makan siang. Ia turun dari motor dan masuk ke dalam warteg, selama ini ia baru tau tempat Ica biasa menghabiskan makan siangnya.
Jihad mengedarkan pandangan, menyapu setiap menu yang tersaji dari balik etalase, mencari ayam goreng dan rendang dengan kuah yang dimaksud Ica.
"Pesan apa mas ?" tanya si mbok yang berjaga.
"Bu, mau ayam goreng satu sama rendang dipakein kuah, " jawabnya.
Astaga ! ujian apa lagi ini, jangan sampai nasib juniornya benar benar di ujung tanduk, jangan sampai keharmonisannya yang baru saja tercipta harus kembali hancur gara gara ayam goreng. Bila perlu ia akan membeli semua menu dan memberikannya pada si bapak tadi agar mau menukarnya dengan ayam goreng.
"Pak maaf," sapa Jihad, si bapak itu menoleh.
"Ya mas,"
"Istri saya sedang hamil, ngidamnya mau makan ayam goreng disini. Tapi ayamnya hanya tinggal satu, itu pun yang sedang dipesan bapak. Kalau boleh saya mau tukar dengan uang atau dengan menu lain, biar makan bapak, saya saja yang bayar," baru kali ini Jihad menggunakan kemampuannya sebagai CEO dan pelaku bisnis, yang biasanya melakukan pertukaran dan perjanjian bisnis dengan tender besar yang tak main main nominalnya. Hari ini ia melakukan pertukaran bisnis hanya demi sepotong ayam goreng, wow ! emejing !!! benar benar gila. Jika om Braja dan papah Riza tau mungkin keduanya akan menertawakan CEO muda ini.
"Oh gitu mas, monggo mas ga apa apa ambil saja, biar saya ganti dengan menu lainnya," untung saja si bapak barusan baiknya tak ketulungan. Beruntungnya ia dikelilingi orang orang baik.
"Mbok ! ayam goreng saya buat si mas ini saja, biar saya diganti pake telur balado saja, " pinta si bapak.
"Nggeh pak, " jawab si mbok.
__ADS_1
"Alhamdulillah, " jawab Jihad mengelus dada.
"Makasih banyak pak, "
"Bu, menu si bapak barusan tambah saja pake rendang, lalu makan si bapak biar saya saja yang bayar, " ujar Jihad sedikit berbisik, si mbok itu mengangguk.
"Pak, makasih ya !" seru Jihad tersenyum bahagia, nasib si entong masih cerah.
Tak lama Jihad sampai kembali di rumah, turun dengan membawa keresek hitam, tapi baru saja berjalan menuju meja makan, ia terkesiap saat menemukan Ica sudah dengan piringnya yang isinya hampir bersih. Itu artinya Ica sudah makan.
"Sayang, " Jihad sampai specchless, tau apa yang ia rasakan, jika Ica adalah partner bisnisnya, mungkin Ica sudah ia tuntut. Jika Ica adalah lawan bertandingnya mungkin saat ini Jihad sudah memukulnya bertubi tubi, sampai k.o.
"Ini ayamnya gimana ?" wajah Jihad keruh dan frustasi.
"Abisnya kelamaan, aku keburu laper ! kamu makan aja ayamnya, oh ya bang, aku mau rujak yang di deket taman kota !" dengan mudahnya Ica berucap. Mamah Vivi yang tau apa yang terjadi tanpa Jihad bercerita saja, tertawa renyah.
"Dulu papah juga kaya gini waktu mamah hamil abang, yang sabar ya cuma 4 bulan !" mamah Vivi berlalu menuju dapur.
"4 bulan ? cuma ?!" hatinya mencelos.
Jihad duduk di samping Ica menatap lama lama dan lekat wajah Ica, menghela nafasnya lelah.
"Masih mual ?" Ica mengangguk.
"Makanya buruan, aku mau rujak !" pintanya sengak.
"Oke, aku penuhin tapi nanti malam gantian, kamu yang penuhin kewajiban kamu, " Jihad menyeringai. Ica melirik, "ga usah senyum senyum kaya gitu, kaya Joker tau ngga. Nyeremin !"
Jihad tertawa, "sayang, sehat sehat ya, ngidammu bikin hati menjerit, " gumam Jihad merapikan rambut Ica ke belakang telinganya.
.
.
.
__ADS_1
.
.