Me VS Crazy CEO

Me VS Crazy CEO
Bubble bee...


__ADS_3

Rasanya Ica ingin mengereseki saja wajahnya saat ini. Tidur tak nyenyak, makan pun tak nikmat, ternyata orang yang ia cemburui adalah orang dekat.


"Beg*o banget gue !" Ica mengetuk ngetuk kepalanya, merasa bodoh. Cemburu memang selalu membuat mata manusia menjadi buta.


"Emang, malu kan ?!" suara itu berasal dari belakang Ica. Ica tak berani melirik, pasti pacarnya ini akan meledeknya habis habisan.


"Engga, " jawab Ica seraya tangannya membereskan barang barang di depannya, so sibuk.


Jihad memeluk Ica dari belakang membuat si empunya terjengkat kaget.


"Eh, takut ketauan orang !" Ica berbalik badan hingga wajah keduanya hanya berjarak beberapa centi saja, tangannya hendak melepaskan tangan Jihad.


"Siapa ? Juwita? pak Muni?" tanya Jihad.


"Ji, " Ica salting.


"Siang ini gue ada meeting ke luar bareng Juwita, bakalan kangen loe Ca, " ucap Jihad.


"Kan ntar juga balik, "


"Sebagai gantinya nanti malem kita ngedate, gue mau ajak loe nonton !" jawab Jihad.


"Oke, "


Kebetulan hari ini adalah malam minggu. Cocok untuk keduanya ngapel, ditambah Ica yang libur ngampus, esok pun hari minggu, jadi kantor libur.


Juwita mengetuk pintu, Ica yang masih dalam pelukan Jihad berusaha melepaskan tangan lelaki ini.


"Ji, lepasin ! itu ada orang, " Ica sudah panik.


"Palingan itu Juwita, "


"Masuk, " ucap Jihad, Ica membelalakkan matanya, melepaskan tangan Jihad paksa.


"Ekhem, ganggu ga nih ?" tanya Juwita.


"Ka Juwi, engga ko kak !" Ica tersenyum kaku karena sedari tadi tangan Jihad sudah merangkul rangkul pinggangnya.


Juwita tertawa, "Pak Alvian, siang ini kita ada meeting. Jadi mari bersiap siap !" ucapnya.


"Oke, berkasnya?" tanya Jihad.


"Sudah siap, " Juwita memang bisa diandalkan, ia pun memenuhi kriteria sebagai sekertaris idaman, dan wanita idaman. Melihat Jihad berjalan bersama Juwita, rasa tidak percaya diri itu datang lagi.


"Bye sayang, " Jihad mengecup pipi Ica. Keduanya berlalu, Ica ikut keluar. Kenapa akhir akhir ini ia begitu sensitif dan tak seperti dirinya yang dulu lagi.


Belum lagi kupingnya mulai kembali memanas, gosip jika pak Alvian mendapatkan sekertaris muda yang cantik, mendapatkan sambutan baik, mereka bahkan menjodoh jodohkan Jihad dengan Juwita. Baru saja berjalan berdua untuk yang pertama kalinya keduanya sudah menjadi pasangan idaman disini.


"Ca ! makan yu !" ajak Budi. Ica menggeleng, "ga n4fsu !"


Setyani dan Asep mengangkat kedua alisnya, rekor untuk Ica mengucapkan tak n4fsu makan. Sepertinya hari ini akan menjadi hari bersejarah. Gadis itu malah menelfon Kara, temannya.


"Ra, loe bisa kesini ngga? makan siang bareng yu, anak itik butuh emaknya nih !"


*************

__ADS_1


Kara duduk melipat kedua tangannya memperhatikan gadis yang tak kenal kata galau kini malah sedang merengek seperti sadgirl.


"Kalo loe cemburu sama ka Juwi, kayanya otak loe mesti di setting ulang Ca, ya oke ! gue setuju ka Juwi memang kriteria wanita idaman. Tapi please deh, buat rebut Jihad dari loe?? impossible ! ya engga impossible impossible banget sih !" jawab Kara.


"Loe dukung atau mau jadi kompor peak !" jawab Ica yang menumpukkan dagunya di atas meja, sepertinya tulang lehernya sudah kehilangan kekuatannya.


"Kayanya mulai sekarang loe mesti pikirin penampilan dan attitude deh Ca, meskipun gue tau..Jihad suka loe apa adanya, tapi keluarganya? kalau kalian berjodoh? bukan cuma cinta 2 orang doang Ca, setidaknya loe rubah bukan buat siapa siapa. Tapi buat diri loe sendiri, " memang kata kata Kara selalu bisa jadi obat untuk demamnya, meskipun di awali dengan hinaan.


Ica menunduk, "gue memang tau Ca, ka Juwi ga mungkin kaya gitu, tapi gue juga ga bisa menyalahkan kalo mereka sering bareng bareng ? gue aja sama Jihad bisa pacaran karena keseringan bareng,"


"Singkirin deh ketakutan loe, sejak kapan sih Ica jadi pesimisan orangnya ! ngapain loe denger kata kata orang di luaran sana ! tetap jadi diri Ica yang kita kenal !" jawab Kara.


"Ra, loe mau kawin ya ?!" tanya Ica, Kara tersedak jus yang sedang ia minum.


"Uhukk, kata siapa ?" tanya Kara.


"Kata Jihad, mas sayang loe yang ngomong."


"Belum gue jawab, gue masih pengen nyobain dunia kerja Ca, sebenernya sih udah gue jawab yess i will, waktu di London...tapi kapan kapannya gue belum tau !" jawab Kara.


"Tau sendiri kan Milo, kalo gue nolak dulu, gimana ntar ! bisa bisa London dia obrak abrik kaya club malam tempat si Gladys bawa gue dulu !" lanjutnya.


"Hm, " Ica menganggukkan kepalanya.


"Eh Ca, yang waktu kemaren kata loe karyawan yang suka sama Jihad sesama og yang mana ?"


"Oh mbak Sari ?! tadi pagi aja abis berantem sama gue, abisnya dia sindir sindir gue mulu, kaya gue abis rebut lakinya aja !"


"Tuh Ra, " tunjuk Ica pada mbak Sari,


"Tuh yang mukanya paling boros, paling oon, paling songong !" jawab Ica. Kara tergelak, "hahahaha sue njirr, sampe segitunya !"


Memang benar wajahnya songong, ia pun terlihat menyebalkan.


"Ra, laki loe tuh, ampe segitunya nyusul nyusul, takut gue culik calon istrinya !" ujar Ica.


"Hahaha, pelet gue terlalu kuat Ca !"


"Baby, keasyikan sama Ica, telfonku sampe ga diangkat. Ngapain aja sama Ica ?" tanya Milo ikut duduk.


" Abis godain dulu duda ka Milo, elah ! abis ngapain, cuma ngobrol doang ! ka Milo emangnya mesti nempel terus ya, baru juga Kara gue pinjem 1 jam, ka Milo kemana dulu kek...keliling Monas dulu kek atau ngitungin kacang ijo gitu !" omel Ica, tak terima kini ia harus berbagi sahabatnya ini.


"Dipikir gue tuyul !" jawab Milo.


*****************


Sepulang Kara dan Milo, Ica sempat berfikir, mereka terdengar sweet saat memanggil satu sama lainnya. Selama ini, ia dan Jihad tak ada romantis romantisnya. Yang ada terus saja bertengkar dan berdebat, akan seperti apa nantinya hubungan mereka.


Kara benar, ia memang harus sedikit memberi perubahan pada hubungannya dan Jihad. Setidaknya perdebatan akan menjadi bumbu bumbu hubungan keduanya.


Jihad sudah kembali ke kantornya bersama Juwita. Sebuah pesan masuk, Ica merogoh ponselnya. Jihad menunggunya di parkiran mobil.


Ica bergegas turun ke basemment.


"Gue kangen sama loe !" ucap Jijad bermanja manja pada Ica.

__ADS_1


"Ji, kita pacaran tapi ga ada sweet sweetnya ya, berasa kaya temenan biasa gitu !" Ica menunduk. Jihad mengerutkan dahinya lalu mendongakkan dagunya.


"Salah makan ?" tanya Jihad.


"Ck ! engga lah !"


"Oke, jadinya mau gimana ? mau tiap hari cipika cipiki biar mesra ?" tanya Jihad.


"Enak di loe ga enak di gue !"


"Gimana kalo kita mulai dari hal yang paling kecil, misalnya manggil ?!" tanya Ica.


"Serius ? nanti loe bilang geli lagi, gue panggil sayang aja, loe kaya abis kena ulet bulu !" jawab Jihad. Ica terkekeh, memang benar ia belum terbiasa.


"Oke gue...aku bakal coba, " jawab Ica meralat perkataannya, namun bukannya ia yang bergidik malah Jihad yang tertawa.


"Wah salah makan ini mah !" kekehnya. Ica merengut, mau romantis malah dibilang salah makan.


"Ck, dah lah !" ia benar benar tak mood lagi.


"Iya, elah..gitu aja marah !" Jihad menjiwir hidung Ica.


"Apapun panggilan kamu sama aku, bakalan terdengar indah di kupingku, "


"Cih, gombal ! terus kalo ku panggil tenyom masih kedengeran indah gitu ?!" tanya Ica kesal.


"Kalo manggilnya itu, berarti loe bininya tenyom !" jawab Jihad. Ica berbalik menoleh pada Jihad, ia mengusap rambut depan Jihad yang masih rapi.


"Loe sibuk banget ya, " Jihad mengangguk, Jihad masih belum mau menghidupkan mesin mobilnya.


"Karena loe sibuk kaya lebah, gue panggil loe bee..."


"Oke, karena pipi loe kaya gelembung gue panggil loe bubble, " jawab Jihad.


"Bee, "


"Yes bubble, "


"boleh jujur, "


"Apapun ?"


"Aku cemburu, "


.


.


.


.


.


Maaf ya sebelumnya, kalo para readers dibikin pusing liat sampul Ica sama Jihad robah robah, itu artinya mimin belum menemukan yang cocok sebelumnya, atau banyak yang sama, maklum lah aplikasi gratis πŸ™ŠπŸ™Š

__ADS_1


__ADS_2