
Senja dilewati dengan indahnya, seperti di dalam kisah dongeng. Milo membukakan tali yang mengikat Kara.
"Maaf ya, jadi ikut bohong sama kamu, udah bikin pingsan juga."
"Abisnya kalo disuruh pura pura loe suka ketawa, Ra.." ucap Jihad.
"Iya, ga apa apa.."
"Ntar kalo malam pertama dia kabur, bikin pingsan aja lagi Mil, " ujar Jihad tertawa yang langsung dihadiahi pelototan sinis dari Kara.
"Sebelum pingsan, dia udah pingsan duluan liat kepunyaan gue !" jawab Milo tanpa sensor.
"Mulut loe berdua bisa disensor ga sih, loe berdua santai ngomongnya muka gue yang panas, malu !!" sarkas Ica. Jihad menjiwir hidung Ica yang berada dalam rangkulannya.
"Iya nih, gue kan jadi pengen ikut ikutan nikah," seru Jian.
"Kuliah dulu yang bener, cah !" Jihad mengacak rambut adiknya itu.
"Kapan balik Singapur ?" tanya Jihad.
"Lusa, ntar gue balik lagi kalo loe meritt !" jawab Jian.
"Astaga Ra !" Ica baru ingat.
"Kenapa ?" Kara mengusap usap pergelangan tangannya yang pegal karena tali.
"Kenapa?" tanya Jihad.
"Tadi kan pas loe di culik gue lagi nyomot minum di warung pinggir jalan, gue lupa bayar !" seru Ica.
"Jadi minum yang tadi loe ambil belum dibayar ? si peakkk !" jawab Kara.
"Lupa gue, lagian gue panik lah ! loe nya pingsan main diangkut ke mobil ! kalo tiba tiba loe dibuang di jalan tol gimana ? " jawab Ica.
"Si dudul !" Jihad mendorong pelan kepala Ica.
"Loe mah kebiasaan, bukan lupa lagi ! lupa nya loe dah akut, dulu juga suka lupa bayar bakwan di bu kantin, gue yang bayar sama Jihad, jangan sampe ntar lupa pake daleman !" jawab Kara lagi.
"Sat, dikira gue odgj, elah ga usah bawa bawa kejadian masa lalu. Masa lalu mah buat dilupakan ! "
"Makanya sering sering nelen bon utang, biar loe inget terus !" jawab Kara.
"Iya, ntar gue seduh pake kopi !" jawab Ica.
"Ck, kebiasaan kalo ketemu. Loe berdua mau pisah mau engga, tetep aja kalo dah ketemu pasti kaya gini ! " Jihad menjewer kedua telinga gadis ini dan mengajaknya turun dari lantai paling atas ini.
Jian dan Rayhan melihat interaksi mereka hanya bisa menggelengkan kepala.
"Ini emang kaya gini bang ?" tanya Jian.
"Dari dulu, " jawab Milo.
"Loe ga marah calon istri loe di jewer bang Ji ?" tanya Jian.
"Enggak, udah biasa. Abang loe sugar daddy nya 3 cewek kamvrett itu, satu lagi ceweknya Erwan."
Jian mengangguk anggukkan kepalanya mendengar penjelasan Milo.
***********************
__ADS_1
Kara sudah mengirimkan paket pakaian kepada teman temannya yang akan menjadi bridesmaidnya. Ica, Ayu, Vanya, Amel sudah menerima pakaian seragaman mereka.
"Mah, nih !" Ica menyerahkan 4 buah kartu undangan, masing masing kepala keluarga mendapatkan satu, karena pesta pernikahan mereka memakai undangan untuk bisa masuk.
"Jangan sampe ilang, ga akan bisa masuk kalo ga ada undangannya !" Ica kembali mengambil keripik dari dalam tempatnya.
"Ini buat loe bang, dan ini buat ka Novi, " undangan yang dibalut dengan tampilan mewah berwarna merah maroon itu Ica berikan juga pada Riski, Novi, dan Galih.
"Semua ada pasangan, loe jangan bawa bon cabe bang, " ucap Ica pada Galih. Galih menendang kaki Ica yang sedang selonjoran pelan.
"Kamvreet ! ga akan, gue mau bawa bintangnya kantor !" jawab Galih.
"Dih, kaya yang dia mau aja sama loe !" dibalas tawa oleh kedua kakaknya.
"Njirrr ! ga tau pesona gue loe bertiga, " jawab Galih. Sepertinya adik dan kakanya salah meremehkan Galih, ia gila hanya di hadapan mereka saja. Ketiganya semakin tertawa mendengar itu bagai lelucon di malam hari.
"Pesona,,, denger loe ngucapinnya aja gue geli !" jawab Riski.
"Liat aja entar, cewek yang gue bawa body nya beuhhhhh kaya gitar spanyol ! bibirnya aja..." Galih memeragakan lekukan tubuh si perempuan.
"Kirain kaya bass betot ! " jawab Novi. Ibunya hanya bisa tertawa mendengar kelakar keempat anaknya, dengan tangannya yang lembut mengusap rambut Ica, Ica memang tengah rebahan berbantalkan pahanya, sedangkan tangan satunya lagi mengusap punggung Galih.
"Kenapa bibirnya? dower?" tanya Ica.
"Sat ! tipis tipis kaya aktris Korea lah !" jawab Galih Mengelitiki Ica yang berbaring sampai Ica menumpahkan keripik yang sedang ia makan, sambil tertawa tawa dan terbatuk batuk.
"Keselek gue !!!"
Galih tak sengaja memegang dan melihat cincin lamaran Jihad di jari manis Ica.
"Cieeee, udah dikasih cincin lamaran !" godanya. Pandangan keempat orang ini beralih ke arah jari manis Icot mereka.
"Astaga !!! ini kenapa makanan dibuang buang, " melihat keripik berhamburan dan sedang dicomoti keponakan keponakan Ica.
"Momo, Zakir...itu udah jatoh ! kotor !" larang Ica lembut menepuk nepuk tangan kedua keponakannya itu.
"Bang, Teh...gimana sih anaknya nyomotin makanan jatoh malah dibiarin, " sewot Ica.
"Ga apa apa lah belum 5 menit," jawab bang Riski, sedangkan teh Mira memunguti bagian keripik yang dirasa masih layak dimakan.
"Njirr ! ini nih bapak dudul ! salah pemahaman, 5 menit mah kuman udah menjalar ke semua bagian keripik oyyy !" jawab Galih.
"Ini lagi si peter ! malah ikut ikutan ! beli deh beli aja !" suruh Ica.
"Robi Ca, anak gue Robi...tuh bapaknya udah nyembelih kambing 2 buat namain Robi, loe seenaknya ganti nama anak gue !"
"Tuh dek, kaka !!! ateu Ica kasih duit, cepet ngantri !!" pinta bang Riski, sontak anak anak itu senang dan berseru bukan main, begitupun Ara yang fokusnya pada ponsel, mendengar kata duit, radar kupingnya menyala begitu kencang.
"Ini si Ara, ijo bener denger kata duit ! anak loe ka !" jawab Ica.
"Siapa dulu, emaknya !" ucap ka Novi jumawa.
Ica terpaksa mengeluarkan uang 20 ribu dari saku celananya dengan pecahan 5 ribuan 4 lembar.
"Nih, tuh goceng (5 ribu) satu orangnya !" ucap Ica menempelkan setiap lembarnya di jidat para keponakannya seperti vampir China yang ditempeli kertas mantra, otomatis anak anak ini berjalan seperti vampir, melompat lompat dengan tangan lurus ke depan. Pemandangan ini yang mungkin akan dirindukan Ica nantinya jika ia pindah dan diboyong Jihad.
"Makasih ateu Icotttt !" mereka langsung kabur ke arah luar rumah ditemani teh Mira yang menggendong Zakir.
"Mah, ayah, abang abang gue yang ga ada akhlak, kaka gue yang mukanya sebelas dua belas kaya mpok alpa !" ucap Ica.
__ADS_1
"Wahhh !!! wah !!! minta dikeroyok masaa !" sarkas ketiga kakanya ini.
"Denger dulu !" pinta Ica. Ica meraih boneka bocah perempuan berkerudung pink milik Momo dan mengusapnya lembut lalu mendekapnya untuk mengurai suasana hatinya.
"Tadi Jihad udah lamar Ica, orangtuanya pun sudah mendesak untuk segera membicarakan pernikahan, " tak tau kenapa bila membicarakan tentang keluarga hati Ica seperti tahu cibuntu, lembut dan lembek juga berair.
"Ica belum bisa ngasih keputusan kapan sebelum ngomong ini sama bang Galih, "
"Gue sangat sangat menghormati loe bang, gue ga akan melangkahi loe kalo memang loe ga ikhlas, " ucap Ica melirik Galih.
Galih menarik senyumannya, "gue bahagia kalo loe bahagia Ca, kalau memang jodoh loe sudah dekat kenapa harus ditunda tunda, gue ga bisa menjanjikan kapan gue akan menemukan jodoh, " jawab Galih.
Galih menarik adiknya itu ke pelukannya, "gue ikhlas, restu gue buat kalian, " ucapnya di telinga Ica.
"Makasih bang, tapi loe jangan minta mahal mahal buat mahar pelangkahnya ! gue ga punya banyak duit !" jawab Ica.
"Cowok loe tajir ! gue mau minta pulau pribadi pun, dia bakalan kasih !" jawab Galih yang sudah mengurai pelukannya.
"Itu mah bukan minta, tapi loe mau ngerampok brangkasnya !" jawab Ica.
"Jadi kapan keluarga Jihad ngajak keluarga kita untuk bertemu ?" tanya ayahnya.
"Gue minta jangan disini lagi, entar ada kejadian kaya kemaren, si Kamvreet Diki bikin ulah !" ucap Galih dan Riski.
"Nanti gue info kan lagi, secepatnya.." baru saja dibicarakan Jihad sudah menelfon, bukan suara Jihad yang berbicara melainkan mamahnya, Ica menyerahkan ponselnya pada ibunya juga. Keduanya malah tampak asyik berbincang lupa waktu, seperti sepasang sahabat yang baru saja bertemu.
"Perasaan yang pacaran anaknya, ini yang lovely dovey emaknya, " ujar Novi.
.
.
.
.
Waktu itu mimin belum kasih visual daddy yang lagi galau di pesawat pas mau pulang ke Indo, nih mimin kasih...Daddy galau kangen Ica
Daddy jangan rapi rapi, lebih ganteng kalo pake casual
Yang dikangenin malah meletin lidah
Yuu ngampus
Ada yang kepo sama bang Galih ngga?
__ADS_1