Me VS Crazy CEO

Me VS Crazy CEO
Jangan sakit nanti aku sedih


__ADS_3

Jihad tak datang dengan sebuah kado berpita ataupun berbungkus kertas warna warni. Seusai acara tiup lilin dan potong kue, lelaki ini masih setia memangku Momo, seolah ialah ayah biologis Momo. Atau jangan jangan dia adalah ayah yang tertukar ?


Hampir semuanya sudah mengosongkan rumah, tersisa sampah sampah kertas krep warna warni yang tercecer dan sampah bekas makanan.


"Momo," colek Jihad di hidung Momo yang pesek seperti kucing Persia. Tangan mungil Momo terhenti dari aktivitasnya membuka kado, lalu beralih menatap Jihad.


"Ko gue cemburu sih !" ucap Ica yang sontak dihadiahi toyoran kepala dari Riski dan Galih.


"Aku punya kamu seutuhnya honey," seloroh Jihad, membuat yang lain tertawa geli, termasuk Ica.


"Iya daddy, " jawab Momo gemas.


"Daddy Ji punya hadiah buat Momo, tapi yang ini hadiahnya ga bisa disentuh ataupun dimakan, " jawab Jihad, lantas Momo mengerutkan dahi mungilnya lucu.


Jihad kemudian mengeluarkan beberapa tiket wahana wisata Duf4n.


"Wuihhhh, mau dibawa jalan jalan !!" decak Galih mendekati Momo dan meilirik tiket yang diserahkan Jihad.


"Astaga Ji, ga usah repot repot..." seru Teh Mira dan bang Riski tak enak.


"Ga apa apa bang, teh...biar Momo seneng," jawab Jihad.


Bukan Momo yang berseru tapi Rara, "Ara mau ikutttt !!!!"


"Ini punya Momo, ka Allaaaa !" jawab Momo berdebat.


"Oyy..oyyy ! ini tiket ada banyak, ga usah rebutan, " lerai Galih saat kedua keponakannya ini berdebat.


"Asikkk Momo yang ultah gue yang kecipratan, " lirih Galih mengecup tiketnya.


"Dih, malu maluin...masa kecil ga bahagia, " ledek Ica.


"Kaya yang loe ga sama aja, loe juga kalo maen paling di gorong gorong !" jawab Galih.


"Emang dipikir gue cu*rut !!" sungut Ica melempar Galih dengan bekas gelas plastik.


"Loe berdua sama aja ! masa kecil kurang piknik !" jawab Riski.


"Kapan kamu beli tiketnya bee ?" tanya Ica mengangkat alisnya sebelah seraya menunjukkan salah satu tiketnya.


"Oh, itu tadi pagi nyuruh orang dalem," jawab Jihad, sedangkan Ica ber oh panjang sebagai jawaban.


"Tante nya Momo ga dapet daddy ?!" Ica menampilkan senyuman lebar dengan memainkan kedua telunjuknya kepalanya ia condongkan merayu Jihad.


"Tante Momo mau hadiah apa, eh tapi hadiahnya tante Momo udah di depan mata ko, " jawab Jihad.


"Mana ?"


"Me, " bisik Jihad di telinga Ica, membuat wajah Ica memanas seketika seperti sedang diatas kompor.


Dan esok paginya mereka memang pergi ke tempat itu, Momo yang baru tau apa itu Duf4n, melompat lompat kegirangan. Bang Riski tersenyum melihat wajah senang anaknya,


Ia menepuk pundak Jihad, "thanks,"


"Sama sama bang, " jawab Jihad.


Seharian itu mereka menghabiskan waktu seperti keluarga pada umumnya, dengan Jihad yang sudah bisa masuk ke dalam keluarga Ica. Beberapa wahana mereka masuki, ditambah dengan perdebatan Ica dan Galih yang selalu ingin menang satu sama lain.

__ADS_1


"Ini yang bocah Momo apa Ara sih, yang malah pada berantem mereka ?" tanya ka Novi menggelengkan kepalanya. Riski yang berjalan bersampingan dengan Jihad menepuk bahu Jihad.


"Yang sabar kalo menghadapi Ica ya Ji, dia emang kaya gitu. Makasih sudah mau menerima Ica apa adanya, " lirih Riski sarat akan makna.


"Terimakasih juga sudah percaya sama saya, bang."


Riski mengukir senyuman tipis pada Jihad lalu mengajak Momo ke arah istana boneka.


Waktu pernikahan mereka hanya tinggal menghitung hari saja, Jihad masih disibukkan dengan pekerjaannya yang tak pernah ada habisnya, begitupun Ica dengan segudang aktivitas dan kuliahnya, sampai sampai ia sering melewatkan waktu makan.


"Ca, loe sakit ?" tanya Evi, melihat wajah Ica yang tampak pucat dan lemas.


Ica hanya meringis, "kayanya gue lagi ga enak badan aja deh Vi," imbuh Ica memegang keningnya yang mulai terasa berputar.


Ica baru saja teringat dengan kejadian tempo hari saat ia dan Jihad memergoki mbak Sari menangis di kamar mandi. Ia bahkan masih menyimpan alat tespeck milik mbak Sari di dalam tasnya.


Ica merogoh tasnya, niat hati ingin memberikannya pada mbak Sari dan mengajaknya bicara, siapa tau ia bisa membantu, meskipun selama ini ia dan mbak Sari bagai musuh abadi.


Baru saja ia berdiri, sesuatu dirasa olehnya, perutnya terasa di kocok dan kepalanya semakin pusing.


"Uhuuk huwek, " Ica menutup mulutnya yang tak mengeluarkan apapun, hingga sontak saja Evi melihatnya.


"Gubrakkkk !!!"


Tubuh Ica ambruk seketika,


"Ica !!!" Evi dan para staf divisi umum menolong Ica yang tak sadarkan diri.


"Pak ! Ica....!" Tio berlari dan memaksa masuk ke dalam ruangan Jihad.


Langkah besar Jihad menuju ruang divisi umum, ia tergesa melihat Ica masih tak sadarkan diri di sofa dengan di selimuti jaket milik Tio.


"Ica kenapa ?" tanya Jihad duduk di samping Ica, mencoba menepuk nepuk gadis itu.


"Ica tadi pingsan pak, kayanya lagi sakit. " jawab bu Andar.


"Biar saya bawa ke ruangan saya, " jawab Jihad.


"Tunggu pak, saya ikut !" pinta Evi dan Tio.


"Ya Allah, Ica kenapa Ji ?" tanya Juwita ikut panik.


"Ta, minta ob bawakan air hangat dan kayu putih, " pinta Jihad, Juwita mengangguk. Jihad membuka jasnya lalu ia pakai untuk menutupi bagian rok Ica yang terkesan pendek agar tak tersingkab. Jihad membuka dan menaruh botol minyak kayu putih di depan hidung Ica, hingga alis Ica mulai berk3dut. Gadis itu perlahan lahan membuka matanya.


"Sayang, minum dulu !" pinta Jihad menyodorkan segelas air putih. Ica berusaha bangun dengan memijit kepalanya, ia masih mengumpulkan nyawanya.


"Pak maaf, kalo saya lancang !" ucap Evi mengawali obrolan.


Jihad menoleh, "iya ada apa ?"


Tio dan Evi yang duduk bersebelahan saling menyenggol, dengan wajah gugupnya Evi berdehem mengusir rasa tak nyaman di hati.


"Ca apa loe hamil ?" tanya Evi worry.


"Hah ?!" Jihad mengerutkan dahinya berlipat lipat, begitupun Juwita yang masih di dalam.


"Uhukkk ! gue ? hamil ?!!" Ica yang baru saja kembali dari alam bawah sadarnya langsung melotot dan tersadar 100 persen.

__ADS_1


"Hah ?! loe berdua ?" tunjuk Juwita menghakimi. Ica dan Jihad menggeleng.


"Ini, " Evi menunjukkan sebuah tespeck dengan keadaan yang bergaris merah dua pada Ica. Tapi sejurus kemudian Ica tertawa.


"Gue cuma sakit biasa aja Vi, kayanya gara gara kecapean, bukan hamil. Ini bukan punya gue !" jawab Ica.


Evi dan Tio mengurut dadanya lega, sekaligus meringis malu.


"Bee, ini loh ! punya mbak Sari, tadinya aku mau kasih sama orangnya," jelas Ica.


"Lagian kamu ngapain masih pegang barang punya orang, Jadinya orang orang salah paham," jawab Jihad.


Juwita tertawa dengan kekonyolan yang selalu dibuat Ica.


"Suka bikin heboh !" tawa Juwi.


"Mana mungkin Ica hamil, gue unboxing aja belum, sah juga belum !" jawab Jihad tak terima.


"Heheheh, maaf Ca..pak Alvian..sudah suudzon duluan, kalo gitu kita pamit balik kerja dulu !" jawab Evi, Tio lebih banyak diam sekarang, setelah kejadian ia yang mengungkapkan perasaannya pada Ica waktu lalu. Ia masih belum berani membuka mulut di depan Jihad kecuali hal genting seperti tadi.


"Ya sudah kalian kembali saja bekerja, biar Ica disini saja."


Sekembalinya ketiga orang itu, Jihad menatap Ica menyipit.


"Kamu sakit ? kenapa ga bilang ?" tanya Jihad memegang kening Ica dengan punggung tangannya.


"Baru kerasa, " jawab Ica singkat.


"Kita ke rumah sakit ya ?!" ajak Jihad, tapi Ica menggeleng. Jika di rumah dengan obat sachetan di warung saja sudah cukup.


"Ga usah, lebay banget cuma ga enak badan aja sampe harus ke RS," jawab Ica menggeleng.


"Ya udah mau dianter pulang atau disini ?" tanya Jihad mengusap rambut Ica.


"Disini aja dulu, liatin kamu kerja, " jawab Ica manja menggelayuti lengan Jihad.


"Wah kayanya bener kata Evi, kamu hamil nih ! sejak kapan jadi ketularan Momo ?" Jihad terkikik membuat Ica memukul bahunya.


"Enak aja ! kita kan ga ngapa ngapain, "


"Masih yakin aku ga ngapa ngapain ?" tanya Jihad kembali menggoda Ica.


"Yakin !"


"Jangan sakit, nanti aku sedih !" ucap Jihad menirukan gaya Dilan.


"Dih jiji, " gidik Ica. Meskipun wajah Ica pucat tapi setidaknya ada segaris senyum mesem mesem disana.


"Ko jiji, belajar romantis lah bakwan, sebentar lagi kita jadi partner hidup, masa ga ada romantis romantisnya, kalo ga romantis gimana mau bikin baby..." goda Jihad lagi, wajah gadis ini memerah seperti udang kukus mendengar kata baby, Ica yang tak terbiasa dengan gombalan dan rayuan Jihad jelas menghadiahi Jihad dengan cubitan cubitan di pinggang lelaki ini. Ia tak menyangka jika lelaki yang dulu ia kenal biang gosip di sekolah, beranjak menjadi sahabat dan teman bertengkarnya, tiba tiba akan menjadi teman ranjangnya nanti, membuat Jihad kecil dan Ica kecil.


"Udah makan kan ? aku pesenin makanan, biar nanti kamu ga bosen nunggu aku kerja, " lirih Jihad.


"Iya," cicit Ica.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2