Me VS Crazy CEO

Me VS Crazy CEO
Mabuk


__ADS_3

"Assalamualaikum !!!"


Pintu terbuka, menghamburlah Momo, Robi dan Zakir. Berlarian memeluk Ica.


"Ateu Ica !!!" pekik ketiganya.


"Mo, Obi, Zakir !!" kedatangan ketiga keponakannya setidaknya menjadi hiburan tersendiri untuk Ica.


"Ya allah ! adik ipar teteh, meni pucet gini !" teh Mira mengeluhkan wajah Ica yang sepucat mayat. Ditambah kulit Ica yang putih menambah kesan horor baginya.


"Meni horor eyy !" selorohnya.


"Tadi si mamah titip ini, katanya nanti siangan kesininya. Soalnya ada posyandu dulu !" teh Mira menaruh rantang berisi makanan kesukaan Ica.


"Nuhun teh (makasih teh) !" jawab Ica.


"Kamu sakit apa, udah periksa?" tanya teh Mira duduk di sofa sedangkan Momo, dan Robi sudah berlarian ke halaman belakang, yang belum banyak Ica bereskan.


"Hamil teh, " jawab Ica.


"Alhamdulillah, sehat sehat utun !" teh Mira mengusap usap perut Ica yang masih kempes.


"Teh, itu anak anak awas pada nyebur ke kolam renang, " Ica mewanti wanti seraya tangannya membuka rantang.


"Iya, " teh Mira menghampiri anak anak di halaman belakang.


"Bi Denok yang cantik mbohay, minta tolong pindahin ini ke piring ya !" pinta Ica menciumi aroma masakan ibunya.


"Mo, Obi..awas jangan motah teuing !" (awas jangan terlalu antusias mainnya/ pecicilan).


"Nanti jatoh kejebur ke kolam renang !" teh Mira menunjukkan telunjuknya, jika yang mulia bunda sudah begitu maka anak anak ini sudah pasti menurut, hebatnya kuasa jari seorang ibu.


Baru saja Ica melahap makanan, mual sudah nenyerangnya. Ica benar benar memuntahkan semua makanan yang masuk ke dalam perutnya tanpa terkecuali.


"Ca !!" Teh Mira membantu Ica memijat tengkuknya.


"Teteh bikinin susu jahe ya ?!" tanya teh Mira, Ica hanya pasrah saja.


"Sini, bawa selimut ke sofa aja, biar tiduran di sofa aja !" pinta teh Mira. Bi Denok membawakan selimut ke lantai bawah.


"Teh, emang separah ini ya ngidam ?" tanya Ica, teh Mira mengoleskan kayu putih di kaki dan punggung tangan Ica.


"Ya ada juga sih, udah periksa belum, usg ?" tanya teh Mira, Ica menggeleng.


"Bulan besok aja teh, soalnya masih kecil."


"Kamu kurusan Ca, padahal baru 3 hari kan mabuknya ?" tanya Teh Mira. Tapi selama 3 hari itu Ica sama sekali kesulitan masuk makanan.


"Bi, bikinin bubur aja ya !" ujar teh Mira.


Bukan hanya Mira, ibu Ica, Novi dan mamah Vivi yang datang setuju dengan Mira.


"Ya allah, kota ke dokter aja ya Ca, biar diperiksa !" pinta mamah Vivi.


"Kayanya nanti bakal dikasih infusan mah, soalnya kata bi Denok dari 3 hari yang lalu Ica susah masuk makanan, mual muntahnya parah, " jawab Mira pada ibunya dan mamah Vivi.


Jihad yang tengah mengadakan pertemuan, merasakan getaran di sakunya, ponselnya berbunyi.


"Pertemuan saya cukupkan dulu untuk hari ini, " ucap Jihad. Ia lantas menjauh dan mengangkat panggilan dari ibunya.


"Ji, kayanya Ica harus dibawa periksa ke dokter, ini mualnya parah deh, Ica ga bisa masuk nasi ya ?" tanya ibunya.


"Ya udah Ji pulang sekarang mah, " jawab Jihad.


"Ta, gue balik dulu. Mau bawa Ica ke RS, "

__ADS_1


"Ica kenapa Ji ?"


" Sakit, ga tau ngidam !" jawab Jihad berjalan menuju pintu lift.


*******************


Ica sudah berbaring di ranjang RS, ia terpaksa menerima cairan infusan karena mual muntahnya benar benar membuat tubuh Ica tak dapat menerima asupan nutrisi.


Ica juga sudah melakukan pemeriksaan usg, kehamilannya memang memasuki minggu ke 4 masih dini untuk melihat bentuk janin, hanya memang terlihat kantung janin saja.


"Kata teh Mira aku horor, padahal baru 3 hari," kekeh Ica. Jihad menggenggam tangan Ica.


"Masih cantik, apalagi kata orang.. perempuan hamil itu makin glowing nantinya !" jawab Jihad.


"Boong banget, kata siapa? guugle?" tanya Ica.


"Cih, ga caya !"


"Kamu ga kerja lagi ? aku ga apa apa disini, ada mamah Vivi ada mamah !" Ica mengusap pipi, hingga ke rahang tegasnya.


"Ga banyak kerjaan hari ini, bisa di handle sama karyawan, " jawab Jihad.


"Aku mau pulang, ga mau disini, " keluh Ica merengek.


"Nanti kalo dokter bilang boleh, kita pulang !" jawab lelaki ini.


Terhitung 2 hari Ica di RS.


"Saya kasih vitamin ya, kalau nasi masih mual, bisa diganti sama karbo lainnya, " ucap dokter.


Untunglah mabuknya Ica tak berlangsung lama. Tidak seperti Kara yang sudah usia kandungan 9 minggu tapi masih saja mabuk.


"Bang daddy, aku ngampus hari ini ya ?!" Ica memasangkan dasi di leher kerah baju Jihad.


"Udah sehat ?" tanya Jihad.


"Jangan cape cape, biar nanti pak Wahyu yang antar jemput, " imbuh Jihad.


"Siap bos !" seru Ica.


"Aku juga pengen ketemu Kara, udah lama ga ketemu !" ucapnya berbinar.


"Iya, temuin..kasian dia mabuk terus ga bisa kemana mana sama Milo, dipenjara !" kekeh Jihad.


Ica meraih punggung tangan Jihad dan mengecupnya, "hati hati,"


"Pak ! ke rumah Kara dulu ya, "


Ica masuk ke dalam rumah Kara, mendapati temannya ini sedang duduk tak manis di pinggiran kolam karena duduknya ini setengah bersila dsngan kaki menggantung satu ke bawah seraya mengubek ubek isi kolam sampai ikan ikan yang ada di dalamnya pusing. Belum lagi beberapa toples cemilan setia menemaninya.


"Ya Allah, kasian banget tuh keluarga ikan. Dibeli cuma buat dibikin sama sama mabok !" Kara menoleh.


"Ca !!!" Kara menghambur dan memeluk Ica.


"Apa kabar loe, katanya samaan ngidam ?!" tanya Kara, Ica mengangguk.


"Yee, samaan dong !" seru Kara.


"Loe ngapain Ra ?!" tanya Ica.


"Say hay to Meisyi, Ca !" tunjuknya pada ikan koi berwarna oren, putih dan hitam.


"Hah ?! loe kasih nama tuh ikan ?" tanya Ica, Kara mengangguk, "yang itu namanya Dewa ! soalnya gue pengen ikan dari Bali, " Ica tergelak, menghadapi Kara seperti sedang bicara dengan Momo.


"Kesemsem sama ikan loe Ra, " Ica ikut duduk di tepian kolam.

__ADS_1


"Daripada gue bosen di rumah Ca, ka Milo ga biarin gue keluar kalo ga bareng doi !" Kara meraih keripik dari dalam toples.


"Bi, bikinin minum buat Ica ya !" pinta Kara.


"Ca, umur kandungan loe berapa ?" tanya Kara.


"jalan minggu ke 4 !" jawab Ica duduknya beralih ke ayunan kursi.


"Tapi ko gedenya sama kaya gue ya ?! atau karena badan gue aja yang kurus ?" tanya Kara.


"Mungkin loe aja yang kurus Ra, jadi masih kempes !"


"Iya kali, ko berasa perut loe aga melendung gitu Ca, dari gue !"


"Loe suka apa Ca, gue pesenin makanan ya ! gue lagi ga bisa makan nasi, " jawab Kara.


"Gue mah apa aja Ra, udah bisa masuk ko !"


"Eh loe mau ke kampus kan Ca ?" tanya Kara.


"Iya Ra, ntar siangan !" Ica meraih gelas berisi orange jus.


"Yahhh bentar dong disini ! gue kesepian Ca, " Kara memberenggut.


"Ra, gue pengen ke toilet dulu, " Ica melenggang masuk ke dalam rumah, sudah terbiasa ia datang ke rumah ini.


"Oke Ca, "


"Eh, apaan nih ?!" Ica mengerutkan dahinya saat menemukan flek berwarna kecoklatan di ****** ********.


Ica segera menyelesaikan kegiatannya.


"Ra, gue mau nanya !" Ica kembali duduk.


"Bayar tapi, " kekeh Kara.


"Si anj4yyyy, serius Ra !" cebik Ica.


"Ya lagian mau nanya aja pake ijin, biasanya juga sikat aja !" Kara masih sibuk memilih milih cemilan yang terbaluti bumbu keju.


"Loe ada keluar flek coklat ga sih ?" tanya Ica.


Kara mendongak, "ada..pas belum ketauan lagi hamil malah. Mungkin ada usia janin semingguan, Ca !"


"Oh, udah gitu, ada lagi ?" tanya Ica.


"Engga, kata dokter sih wajar, itu pun flek coklat dikit sih, " Kara kembali mengunyah camilannya.


"Sejak kapan camilan loe jadi yang kaya gini, yang menurut loe cemilan ga sehat ?!" tanya Ica.


"Sejak....hamil !" seru Kara.


"Gue males mandi Ca, suerr !! sekarang aja jam segini gue belum mandi !" aku Kara.


"Dih, jorok banget. Masa calon momy jorok...loe kalo hamil jadi kaya gue dulu.." Ica tertawa.


"Ga apa apa lah, toh kata ka Milo gue tetep wangi sama gemesin !" jawab Kara menyebalkan, Ica tertawa saja mendengar pengakuan Kara.


"Cuman buat nyenengin loe itu mah, biar ga di suruh tidur di luar !" sarkas Ica berseloroh.


"Widih, lebih pengalaman yang sering nyuruh Jihad tidur di luar !" balas Kara.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2