
Kemeja Evi pas body di badan Ica, maklum lah Evi sedikit lebih kurus dibandingkan Ica.
"Ini jatohnya gue jadi kaya wanita wanita penggoda laki orang !" omelnya melihat kemolekan tubuhnya, Evi tertawa.
"Semox !" kikik Evi.
"Ca, loe belum jawab," Evi masih penasaran.
Ica tau, cepat lambat mereka pasti akan bertanya tanya, Jihad pun sudah, bilang sepandai pandainya mereka menutupi suatu hubungan toh akan terendus juga. Mungkin tak ada salahnya jika Evi saja yang tau. Dengan bibir menyeringai Ica berniat mengusili teman barunya ini.
"Pak Alvian itu sugar daddy gue Vi," cicit Ica tertawa.
"Byurrrr !!" Evi yang tengah meminum kopi instan menyemburkan kopi yang baru dibuatnya itu, hingga tumpahannya sampai ke meja pantry.
"Serius?!!" Evi membelalakkan matanya, Ica mengangguk.
"Sejak kapan? ahh loe becanda ! ga nyangka gue, pak Alvian kan masih muda," jawab Evi masih belum percaya.
"Emangnya yang jadi sugar daddy harus tua? lagian yang namanya sugar ya manis lah ! manis uangnya manis juga wajahnya, kaya di Korea, " Ica semakin tergelak melihat wajah Evi.
"Shittt ! ga caya gue mah !" jawabnya menepuk bahu Ica.
"Ya udah kalo ga percaya, percaya sama gue mah musyrik !" jawab Ica terbahak, membuat Evi mengerucutkan bibirnya.
"Yang bener Ca ? loe belum diapa apain kan ? ko gue ga percaya sama jawaban loe ya !" Evi menyipitkan matanya. Tak tau saja Ica adalah makhluk terusil sepanjang sejarah, ia adalah titisan dewa Loki.
"KEPOO !!" jawab Ica.
"Dah ahh, gue sebenernya lapar, tapi gue masih eneg...tau ngga tuh noda darah, gue bantuin ibu ibu lahiran tadi !"
"Apa??" Evi tertawa.
Keduanya sudah masuk ke dalam ruangan, disana Tio sudah menunggu.
"Humaira ! kamu terlambat hampir 2 jam !" ucap bu Andar.
"Maaf bu, tapi kan ibu tau sendiri kondisinya, toh yang terlambat bukan cuma saya aja, " seniornya ini baru menjadi senior belum jadi CEO saja sudah seenaknya.
"Lain kali kamu berangkat dari awal, " ucapnya pergi dari hadapan Ica.
"Iya bu, besok besok saya nginep aja di kantor biar ga telat, " jawab Ica. Bu Andar mendelik sinis tak suka dengan jawaban juniornya itu.
"Dih, gue sumpahin ntar dia yang kejebak diantara pendemo !" dengusnya tapi sedetik kemudian Ica baru sadar, "astaga !!!! gue sampe lupa tas gue ilang ! hape gue, masih kredit tuh !" ujar Ica merengek.
"Pantesan ditelfonin ga diangkat, malah ga aktif, " ucap Evi.
"Sweety, ko bisa loe kejebak disana ?!" tanya Tio.
"Takdir, " jawab Ica sekenanya. Ica malah menenggelamkan kepalanya di lipatan tangannya.
"Hape gue !!" rengeknya.
"Humaira, dipanggil ke ruangan pak Alvian, " ujar pak Fajar.
"Sweety, dipanggil bos tuh !" ucap Tio.
"Gue ke ruangan sugar daddy gue dulu ya, " bisik Ica pada Evi, gadis itu menyipitkan matanya, benarkah yang dikatakan Ica.
"Hapeeee, " rengeknya seraya berdiri tak semangat. Evi menertawakan kepolosan Ica.
"Yang disini khawatirin dia, dia malah khawatirin hapenya, sabl3ng.." gumam Evi.
"Ca, loe ga apa apa kan ?" tanya Juwita keluar dari ruangannya, melihat Ica melintas, ia segera bangkit.
__ADS_1
Juwita meneliti Ica, "ada yang sakit?" tanya Juwi, melihat wajah suram Ica.
"Ada, "
"Mana? loe kenapa? jatoh kah ? kepukul kah?"
"Hati gue, " jawab Ica.
"Hah??! nih anak waras ga sih ? pala loe kepentok ya?" tanya Juwita.
Jihad yang menunggu lama, tak sabar keluar dari ruangannya, perempuan kalo di suruh kemana beloknya malah kemana.
"Hape ka Juwi, hape gue dimana, dompet, tas semua ilang. Nasib hape gue gimana? mana masih kreditan lagi, belum sebulan !" rengeknya.
"Astaga !!! orang orang disini khawatirin kamu, kamu malah rengek karena hape ilang ?!" ujar Jihad.
"Hape ku disana gimana nasibnya bee, keseret orang..kalo diinjek orang atau dijual orang gimana ?" rengek Ica. Juwita yang tadinya khawatir, kini bernafas lega, gadis ini dalam keadaan apapun selalu baik baik saja.
"Peakkk ! " Jihad mengacak rambut Ica dan menariknya ke dalam pelukannya.
"Kamu ga apa apa kan ?" Jihad mengecup pucuk kepala Ica.
"Ga apa apa gimana, separuh jiwaku ilang bersama dompet, " jawab Ica.
"Maksudnya?" Jihad merenggangkan pelukannya.
"Uang makan, jajan semuanya ada di dompet, atm..kan uang gajiku nanti perusahaan transfer ke sana, otomatis separuh jiwaku ilang !" jawabnya, Juwita meledakkan tawanya.
"Ish ka Juwi, kalo gue ga jajan gue mati lah !" jawab Ica.
"Terus orang yang ada di depan loe apa gunanya ? cuma buat pajangan ?" tanya Juwita.
Ica melirik Jihad yang menatapnya menyeringai.
"Ka Juwi, gue mau nanya !" tanya Ica.
"Apa?"
"Di cafe kantor bisa ngutang dulu ga sih ?" tanya Ica.
"Bisa, " jawab Jihad.
"Kalo gitu aku mau kasbon, bee ! atau aku kasbon gaji dulu deh !" jawab Ica.
"Boleh, mau kasbon berapa, 1 bulan 2 bulan atau setahun kedepan ?" tanya Jihad.
"Gaji aku bulan ini aja, "
"Tapi gantinya besok jadi mantunya mamahku, " jawab Jihad.
"Tuh kan ka Juwi, ga mau rugi banget dia mah orangnya ! dasar CEO gilakk !" dengus Ica, Jihad tertawa mencubit pipi Ica.
"Apa ? ngatain aku gila?" Jihad memasukkan Ica ke dalam jas di bagian ketiaknya.
"Bee, ihhh ! rambutku baru sisiran ! ini nanti make up ku nempel di kemeja kamu !" Ica memukul mukul Jihad.
"Hahahah pasangan saravvv, " jawab Juwita.
Jihad melepaskan pitingannya,
"Bee, "
"Hm," Jihad merapikan rambut Ica.
__ADS_1
"Nanti kalo Evi liat kamu aneh ga usah dilayanin ya !" Ica mengulum bibirnya.
"Kenapa?" tanya Jihad.
"Ini juga gara gara kamu, tadi maen peluk peluk aja !" jawab Ica.
"Emang loe berdua backstreet?" tanya Juwi, Ica mengangguk.
"Maunya si bakwan nih, "
"Disini ga ada yang tau kita pacaran ka Juwi," jawab Ica.
"Kenapa sama Evi ?" tanya Jihad masih menautkan alisnya.
"Soalnya..."
"Kubilang....."
"Kamu sugar daddynya aku..." Ica langsung mengambil jurus langkah seribu keluar dari ruangan Juwita.
"Parahhh si Ica !" pagi pagi Juwita sudah kram perut oleh tingkah Ica yang membuat Jihad tak pusing 7 keliling, setelah sebelumnya ia hampir frustasi karena Ica yang terjebak demo.
"Bakwan !!!" pekik Jihad.
"Byee !!! aku kerja dulu !" pekik Ica memeletkan lidahnya.
"Minta di gantung, " gumam Jihad, ia pun ikut tertawa dengan tingkah ajaib Ica.
"Nanti dikira CEO kita ini cassanova sama karyawannya, parah !" Juwita masih tertawa.
"Ga niat bawa Ica ke rumah Ji, ketemu tante Vivi sama om Riza ?" tanya Juwita.
"Maunya sih, tapi Ica selalu nolak, katanya belum siap, " jawab Jihad.
"Mungkin dia takut Ji, "
"Takut apa ?"
"Takut tante Vivi sama om Riza ga bisa menerima hubungan kalian, terutama Ica, "
"Bagi mamah latar belakang keluarga memang penting, tapi mamah bukan penggila harta, kekuasaan dan kasta, sama seperti om Braja.. " jawab Jihad.
"Apa loe udah ketemu sama keluarga Ica ?" tanya Juwita lagi Jihad duduk di kursi depan Juwita, terhalang meja kerjanya.
"Udah, gue malah udah punya sugar baby baru, " kekeh Jihad, ia selalu tertawa jika mengingat keluarga Ica, terutama keponakan keponakan Ica.
Juwita mengerutkan dahinya, "sugar baby gimana?"
"Iya sugar baby, keponakan keponakan Ica yang nganggap gue daddynya buat dipalakin !" jawab Jihad,
"Hahahahah, kayanya seru !"
"Terus gimana keluarganya Ica sama loe?"
"Welcome, mereka hangat. Abangnya cuma nitipin Ica, mereka ga minta muluk muluk, katanya sih syaratnya cuma masuk aja ke kehidupan Ica, biar gue tau dan ngerasain gimana kehidupan Ica, biar lebih mengenal lagi Ica dan keluarganya, katanya doi ga mau nanti jika setelah jauh sama Ica dan memutuskan untuk melangkah ke jenjang yang lebih serius, ga akan ada kata ternyata kamu, ternyata keluargamu... "
.
.
.
.
__ADS_1