
Sesaat setelah makan, mereka memilih kesibukannya masing masing. Ica melihat sekeliling hotel, lalu menetapkan tempat untuknya berdiam, di sebuah dak hotel bergaya outdor. Dari sini ia baru bisa melihat hotel ini secara keseluruhan.
"Ko gue baru ngeuh ya, apa gue tadi masih ngigo ?!" Ica bergumam lirih, lalu mengeluarkan ponselnya dan memotret setiap sudut yang menurutnya menarik. Kapan lagi ia datang kesini, impiannya satu persatu dapat terwujud.
Kebanyakan pohon yang ada disini kamboja, beberapanya ada yang diikat kain kotak kotak hitam putih atau biasa disebut Saput Poleng.
Seorang pegawai hotel pun berlalu lalang, mata Ica menyipit melihat seorang perempuan berpusung gonjer (sanggul bagi perempuan yang masih lajang), disertai kebaya dan memakai kamen (kain penutup bagian bawah tubuh) yang diikat oleh sabuk prada (ikat pinggang prnahan kamen), ia membawa canang sari atau kotak yang dibuat dari daun kelapa berisi bunga dan yang lainnya. Ia menyimpannya di bawah salah satu pohon, dan berdo'a dengan khusyuk, Ica tersenyum melihatnya. Moment ini tak luput dari jepretan kamera ponsel.
"Cantik, " gumam seseorang dari atas kamarnya, meskipun seharusnya ia tak boleh melihatnya dulu, jangan salahkan jika ketidaksengajaan terjadi. Setidaknya bisa mengobati rindunya yang menggumpal.
Tepukan Riski mengejutkannya, hingga Riski terkekeh.
"Kaget gue bang, loe dateng kaya tuyul !" sungutnya kembali mencari sudut hotel yang menurutnya bagus untuk di abadikan.
Riski menyenderkan p4n*tat nya di pagar kayu pinggiran dak, "besok, setelah ijab diucap Jihad. Loe bukan adek kecil gue lagi. Yang mesti gue terus ikutin dan awasin gelagatnya. Loe seneng Ca ? "
Ica mengerutkan dahinya, "seneng apa ? seneng bisa lepas atau seneng nikah ?"
"Apa loe akhirnya bahagia ? karena gue, bakalan ikhlas lepasin loe kalo loe bahagia ?" tiba tiba saja haru menyeruak di dada tak dapat dielak. Pelupuk yang sudah hampir tak kuat menanggung beban air yang hampir jebol sejak kemarin, mampu meneteskan beberapa butir air mata, sebelum akhirnya Ica menumpahkan semuanya di dada Riski.
"Makasih bang, " Riski mengusap kepala adik bungsunya itu.
"Semoga loe bisa selalu menemukan kebahagiaan loe sama Ji, Ca.." hanya terdengar sesenggukan yang teredam dada Riski dengan badan Ica yang bergetar membuat Riski mengusap usap punggung Ica.
"Ini makanya, gue ga mau ada acara siraman siraman segala, " omel Ica.
"Gue ga mau ada mewek mewekan," suara yang teredam masih lirih terdengar Riski.
"Oon !" Riski menepuk kepala Ica mendengus.
"Disitu letak kesakralannya, disitu letak kita merenungnya, " sungutnya melanjutkan ucapan.
"Gue masih bareng kalian, gue ga mau kemana mana.." Ica mengeratkan pelukannya di baju sang kaka.
"Sesekali pulang kalo loe kangen rumah," pinta Riski, tak menyangka akan sesedih ini melepas adik bungsu yang biasanya jadi bulan bulanannya bersama Galih. Hampir saja Riski pun melelehkan yang sudsh ditahannya dari hari hari kemarin. Ia membalas pelukan erat adiknya dan mengangkat badan Ica beberapa centi.
Riski mengaduh dan berkelakar, "buseett adek gue berat banget, " sengaja ia melakukan itu agar tak terus menerus memancing air matanya untuk jatuh, pantang baginya untuk menangis. Ica terkikik di bahu Riski.
"Gimana si Jihad ngangkat loe, ga akan ada adegan bridal style dong," Ica kembali tertawa meskipun suaranya masih terdengar parau.
"Katanya gue mau digelindingin aja, kalo ngga di angkut pake odong odong," Ica masih setia memeluk kakanya.
__ADS_1
"Udah ah, ntar gue digetok Mira, kalo tau lakinya dipeluk peluk cewek lain !" seloroh Riski.
"Biarin, gue mau lama lama melukin loe ! kapan lagi liat loe digetok teh Mira, " Ica malah sengaja mengeratkan tangannya di punggung Riski.
"Ck ck...oyyy ! kaya bocah loe berdua !" sengit Galih melihat kedua adik kakanya ini saling berpelukan.
"Sirik si jomblo !" sungut Ica, tapi sedetik kemudian ia tertawa. Galih yang tak terima menghampiri Ica dan memasukkannya ke lipatan ketiaknya, membuat Ica berontak dan memukul mukul punggung Galih yang tertawa tawa. Ica yang manyun sambil berteriak teriak memancing tawa Riski dan ka Novi yang melihatnya.
"Mesranya loe bertiga, " imbuh Novi.
Galih memang tak meminta apapun sebagai pelangkah, tapi siapa tau Jihad malah sudah menyiapkan sebuah motor ber cc besar untuknya.
Di tengah keasyikan para adik kaka ini melepas masa kekanakannya, seorang karyawan hotel memanggil Ica.
"Permisi, Humaira Khairunisa ?" senyumnya ramah.
"Iya ?!" keempatnya menoleh.
"Kami dari salon yang dipesan W.O, sudah waktunya buat perawatan, "
"Seriusan ? ini masih sore ?!" beonya, karyawan itu mengangguk sambil tertawa melihat wajah polos Ica.
Jihad mengajak keluarga Ica untuk menikmati camilan sore di cafe hotel.
"Ica sudah masuk ke spa ?" tanya tante Vivi yang duduk dengan anggun.
"Sudah, " jawab ka Novi antusias. Tante Vivi mendelik usil pada Jihad, dan menyenggol bahunya.
"Apa sih mah, " Jihad tau jika ibunya memang sedang menggodanya yang sedang kangen berat.
Galih dan Riski baru saja duduk dan bergabung.
"Wah Momo, menang banyak ! seminggu disini Momo jadi gendut !" Galih menahan bibirnya yang gemas pada keponakan gemoynya ini.
"Ish ! om Galih ! Momo ga gendut, kata ayah juga Momo cuma semox, " jawab Momo membuat semuanya gemas.
"Emang bapaknya kurang akhlak ini mah, " desis Galih.
"Semox apa Mo ?" tanya Galih lagi.
Momo menyimpan sendok di mangkuk ice creamnya lagi.
__ADS_1
"Ga tau," jawab Momo polos, Rara ikut menertawakan adik sepupunya, karena ia sudah mengerti apa arti kata itu.
"Mo..mo...semox tuh..." belum gadis berusia 8 tahun ini berucap, ka Novi sudah mengunci mulutnya dengan pelototannya.
"Aduh maaf ya bu, pak.." ibu Ica meringis malu, melihat anak cucunya yang bercanda tak tau tempat.
"Tak apa bu, rame.." jawab papah Jihad sedangkan tante Vivi sendiri sudah terkikik kikik.
Jihad merogoh sebuah kotak dari dalam saku celananya, lalu mendorongnya ke hadapan Galih.
"Bang, tolong diterima !" ujar Jihad mantap.
"Eh, apa nih ?!" Galih mengernyitkan dahinya.
"Mungkin ini tidak seberapa dengan rasa ikhlas abang terlangkahi. Buka aja bang, " pinta Jihad meminta.
Galih menoleh ke arah Riski dan ayah ibunya, meminta persetujuan. Mereka mengangguk sebagai jawabannya.
Tangan Galih terulur meraih kotak kecil berwarna biru, ia membukanya.
"Sepulang dari sini, barangnya siap diantar ke rumah, " lirih Jihad.
"Ini berlebihan Ji, gue ga minta apa apa. Gue ikhlas kalo Ica bahagia, " ada raut haru di wajah mereka semua.
"Saya juga ikhlas bang, " jawab Jihad tak kalah tulus.
"Thanks Ji, do'a dan restu gue buat loe berdua, titip Ica..." sebenarnya bibirnya sudah bergetar, tapi tak mungkin ia beradegan melow disini, bisa bisa habis diolok olok para keponakan bocilnya.
"Om Galih mau nangis ?" tanya Momo yang memperhatikan Galih. Galih segera merubah rautnya, saat mulut keponakannya ini tak bisa di rem,
"Si Momo peka banget, " batinnya.
"Engga lah ! masa nangis kaya Momo aja !" tepis Galih segera.
.
.
.
.
__ADS_1