Me VS Crazy CEO

Me VS Crazy CEO
Pose memeluk istri


__ADS_3

Kedatangan mamah Vivi seperti semangat baru untuk Ica.


"Coba gelar aja disini pak ! enak nih di deket kolam renang, bawaannya tenang gitu !" tunjuk mamah Vivi mengintruksikan pak Eri untuk menaruh karpet senamnya di taman kecil samping kolam renang.


"Disini bu ?!" tanya nya.


"Sip !" mamah Vivi memberikan jempolnya.


"Sini bi, ikutan yoga !" ajak Ica, namun bi Denok menggeleng.


"Yang bibi tau, Yoga mah anak tetangga," imbuhnya membantu Ica menuruni 3 anak tangga menuju taman. Ica sudah memakai legging dan t shirtnya.


"Sini nak !" Ica di belakang mamah. Kegiatan yang dibawa mamah Vivi setidaknya bisa mengesampingkan pikiran Ica tentang Jihad.


"Sebagai pemula, kita ambil yang mudah aja dulu, sebenernya yoga ada tahapannya Yama, Niyama, Asana, Pranayama, Pratyahara, Dharana, Dhyana, Samadhi, dilakukannya pun tak bisa di sembarang tempat. Tapi kita ambil yoga pemula saja ya !"


Jangankan tau artinya, mengingat istilah istilahnya saja yang barusan mamah Vivi sebutkan Ica sudah lupa. Yang ia tau hanyalah senam aerobik dan zumba yang biasa dilakukan ibu ibu di kampungnya kalo lagi ada pasar kaget, di depan indoapril, yang kalo beli kupon ada doorprizenya.


Suasana pagi ini begitu hening, mendukung untuk menenangkan pikiran, hanya ada bunyi gemericik air kolam saja.


Mamah Vivi membimbing Ica melakukan gerakan peregangan.


"Ini namanya posisi Mountain pose !" tubuh Ica lurus dengan kedua tangan lurus ke atas. Seraya merasakan sinar matahari yang masih hangat di kulit. Setelah beberapa menit, mamah Vivi mengganti gerakan.


"Downward facing dog, tarik nafas dan buang nafas !" Ica mengikuti bentukan tubuh mamah Vivi yang seperti bentuk segitiga, dengan telapak kaki menempel di karpet, begitupun kepalanya yang membungkuk dengan kedua tangan lurus dan telapak tangan menyentuh menempel di karpet.


"Warrior !" ucapnya, Ica melirik dan kembali mengikuti ibu mertuanya dengan kembali mengatur nafasnya, membantu sirkulasi oksigen dan darah ke otak agar otak kembali rileks.


"Tree pose !" kini badannya seperti pose pohon lurus dengan kaki kanan di tempatkan di paha kiri dan kedua tangan lurus ke depan dalam posisi berdo'a,"


"This is cobra pose !" lirih mamah Vivi, membentuk badannya seperti salah satu jenis ular, dengan berbaring telungkup di lantai meluruskan kaki, hingga kedua punggung kaki menempel di karpet, mengangkat kepala sampai ke perut dengan tumpuan kedua telapak tangan menempel di karpet.


Mamah Vivi baru mengajarkan kelima gerakan ini, dan meminta Ica mengulangi semuanya dengan menjelaskan seraya merelekskan otak dan pikirannya.


Ica melakukannya dengan baik seraya mulutnya yang membuang nafas.


Jihad yang baru saja datang dengan wajah lelahnya, tertarik untuk melihat dan mengganggu istrinya yang sedang diajari ibunya.


Awalnya ia hanya mengintip di ambang pintu, tapi hatinya tergerak untuk mengacaukan usaha Ica untuk yoga. Sehari saja ia tak mengusili istrinya ini hidupnya terasa hambar.


Saking fokusnya Ica sambil memejamkan matanya, ia sampai tak sadar jika kini suaminya sudah ada di sampingnya. Padahal siapapun akan tau karena parfum maskulin Jihad akan terasa dari jarak jauh.


Mamah Vivi yang melihat niat usil Jihad, menjewer putranya dari samping sambil menggelengkan kepalanya, tapi Jihad mengatupkan kedua tangannya di depan memohon.


Mamah Vivi melepaskan tangannya lalu masuk.


"Tree pose !" ucap Ica.


Cup !

__ADS_1


"Ini pose melukin istri !" Jihad memeluk Ica dari belakang dan mengecup pipi Ica, sontak Ica membuka matanya.


"Dih, mamah mana ?!" tanya Ica menurunkan tangannya.


"Aku hilangin dulu, tring ! " jawabnya berseloroh,


Pukk !


Ica memukul dada Jihad saat membalikkan badannya.


"Cie, lagi yoga nih ?!" tanya Jihad.


"Hm, kalo gini mamah berasa nyamuk !" ucap mamah Vivi di ambang pintu dengan memegang gelas, rupanya mamah Vivi mengambil air minum.


"Kalo kaya gini pose apa mah ?!" tanya Jihad memekik menggendong Ica ala bridal style.


"Eh, " Ica refleks mengalungkan tangannya di leher Jihad.


"Itu mah pose siap siap..."


"Siap siap apa mah ?"


"Siap siap bawa ke ranjang panas ! inget ! jangan dulu ! Ica baru aja sembuh !" mamah menunjukkan kuasa jari ibunya.


"Abang udah makan ?!" tanya Ica, Jihad menggeleng.


"Boleh, "


"Mamah dari jam berapa kesini ?" tanya Jihad.


"Tadi jam 7, abis papah berangkat, nebeng papah kesininya, " mamah Vivi duduk di meja makan dan mengupas buah buahan. Sedangkan Ica mengambilkan makanan untuk Jihad.


"Mamah udah makan ?" tanya Jihad sudah bersiap menyuapkan nasi.


"Udah tadi bareng mantu, " Ica tersenyum.


"Makasih mah, Ica berasa ada temen, pas ga ada abang !"


"Sama sama, kebetulan mamah lagi free, "


"Gaya banget bahasanya lagi free," ledek Jihad.


"Aku ke atas dulu deh mau mandi, " ucap Ica, diangguki mamah Vivi dan Jihad.


Hanya berselang 15 menit Jihad sudah selesai makan, dan menyusul ke kamar. Selalu dalam keadaan kebetulan. Ica baru saja keluar dengan handuk yang masih membalut tubuhnya dan rambut basahnya.


"Hm, aku harus stok banyak banyak sabar ! " Jihad membuka kemeja kotornya. Ica terkekeh, godaan pasangan yang sudah menikah memang tak bisa disepelekan.


Ica menghampiri dan menarik tengkuk Jihad menyatukan wajah keduanya. Wangi sabun dan sampo Ica menguar memenuhi penciuman Jihad. Seperti dr*ugs merk pribadi, wanginya membuat Jihad candu. Bibirnya tergerak menyentuh bibir kenyal Ica. Tangannya menarik pinggang Ica untuk lebih merapat.

__ADS_1


"Kalo aku ga bisa berenti gimana bakwan ?!" tanya Jihad parau.


"Aku yang bakal nolak, " jawab Ica terkekeh.


"Coba tolak aku !" Jihad malah menjatuhkan Ica ke atas ranjang, dan menyesapnya semakin rakus, hingga turun ke leher mulus Ica, meninggalkan jejaknya disana.


"Bang, " ucap Ica susah payah.


"Hm, " Jihad masih asyik disana.


"Semalem ada masalah apa ?" rupanya ini adalah trik Ica agar Jihad mau mengatakan masalahnya. Jihad melepaskan leher seputih susu yang kini ada jejak atas nama dirinya, menjauhkan wajahnya tetap dalam posisi diatas Ica, tapi tidak meni ndih.


"Ada karyawan yang bunuh diri, " pas di lantai 25 lantai divisi keuangan !" jawab Jihad.


"Hah ?! siapa ?!" tanya Ica ia refleks langsung bangkit hingga membuat kening keduanya terbentur.


"Dukk !!"


"Awww !!"


"Kamu kalo mau adu banteng di arena sana, jangan sama kepalaku !" Jihad bukannya mengusap jidatnya saja, tapi jidat Ica juga.


"Kaget aku !"


"Aku lebih kaget, kamu bentur gitu !"


"Iya maaf ih, ga sengaja !" Ica tertawa.


"Aku kira kening kamu sekeras beton, ternyata tetep aja batok kepala manusia, " jawab Ica lagi tertawa.


"Dipikir aku robocop, semuanya serba baja, " keluh Jihad.


"Karyawan bo*doh mana bang yang bunuh diri ?!" Ica tak menyangka ada orang sebo*doh itu melakukan tindakan konyol. Seberat apakah masalahnya hingga memilih mengakhiri hidupnya sendiri.


"Kamu inget office girl yang waktu itu kita ikutin di toilet ?" tanya Jihad, Ica mengangguk.


"Mbak Sari !!!" seru Ica melotot, Jihad mengangguk.


"Ya Allah !!!" Ica menutup mulutnya.


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2