Me VS Crazy CEO

Me VS Crazy CEO
Office girl senior


__ADS_3

Kabar tertangkapnya Bayu membuat keluarga Sari lega, bukan hukuman atas tindakannya yang menyebabkan Sari bunuh diri, tapi hukuman berat atas korupsi dan penipuan. Ia terjerat pasal berlapis, jika hukuman atas kematian Sari hanya menjeratnya dengan 3 tahun kurungan penjara, maka penipuan dan korupsi menambah hukuman 4 tahun kurungan lagi tanpa remisi.


Aset atas nama Bayu ditarik sebagai barang bukti, dan dikembalikan pada perusahaan, bursa saham kembali melonjak naik.


Ica mengembangkan senyuman, saat dokter Gina, dokter obgynnya mengatakan jika kadar hCG dalam darahnya sudah kembali normal, dari hasil cek darah dan urine Ica.


"Selamat bu, mulai sekarang bisa melakukan program kehamilan lagi, tapi selalu check up rutin ya," senyum wanita paruh baya berjas putih ini.


"Makasih dok, " Ica keluar dari ruangan bertulis


Gina Aisyah, Sp.OG


Berasa baru kemarin ia merasakan pahit, masuk dengan diantar Jihad dalam keadaan pingsan, dan kandungan yang bersifat palsu. Baru kemarin ia merasakan sakitnya kuret, dan menjalani pemulihan selama hampir 7 bulan di rumah sakit ini. Semua itu terasa baru kemarin.


Setelah ini, Ica akan pergi ke kantor. Mengunjungi Jihad membawakannya makan siang dan mengikuti tebar bunga. Yup ! tepat 5 bulan yang lalu, mbak Sari ditemukan tewas di kursi kekasih sekaligus ayah dari janin yang dikandungnya. Miris memang... Tepat tgl 11 ini selalu diperingati dan diadakan do'a bersama di kantor untuk mengenang mbak Sari.


"Ka, bucket mawar putih ya !" Ica masuk ke dalam florist memesan sebuah bucket mawar putih, baru bulan ini ia bisa menghadiahi mbak Sari dengan mawar.


"Ini uangnya, makasih !" Ica membawa bucket bunga dan kembali ke masuk ke dalam mobil.


"Pak Mulya, ke kantor ya !" pinta Ica.


"Oke bu, "


Mobil sejuta umat ini menembus kemacetan kota menuju gedung kantor pencakar langit dimana Jihad berada.


Dress putih polos dengan bahu terbuka menjadi pilihan Ica dan high heels 5 cm, gaya sederhana istri CEO ini sukses membuat para karyawan meliriknya.


Ica berjalan ke arah lift dan masuk ke dalamnya bersama para karyawan lainnya menuju lantai 25.


"Ca, !" sapa Setyani.


"Setya !!"


"Widih !! kemana aja ?! lama ga kesini makin kinclong aja bu bos kita ini !" Ica menepuk bahu Setyani.


"Bisa aja ! gue masih sama kaya dulu, gini gini aja !" jawab Ica.


"Mau tebar bunga juga ?!" tanya Asep ikut bergabung, Ica mengangguk.


"Ca, ntar ke ruang kebersihan dong !" ajak Budi.


"Oke siap ! asal sajen nya ga lupa !" Ica menaik turunkan alisnya.


"Cih, kirain kalo bu bos udah ga suka makanan warteg !" Budi menumpukkan sikunya di pundak Asep.


"Si*alan tangan loe nih ! mentang mentang gue pendek !" tepis Asep.


"Gue lebih suka makanan warteg, eh bentar ya gue mau kasih do'a dulu !" ujar Ica pamit.


"Oke, kita tunggu di ruang kebersihan ! si Budi naik pangkat nih ! party !!!"


"Asikkk !!" seru Ica.


"Nasi rames pake ayam serundeng sama tempe orek !!" pekik Ica, karyawan yang melihat Ica dan beberapanya tau jika Ica adalah istri Alvian Jihad hanya melongo, ia tidak seperti istri CEO lainnya, yang teman temannya rata rata adalah kalangan sosialita yang hobbynya plesiran ke luar negri dan makan di restoran mahal.


Perempuan itu datang ke ruang divisi keuangan, dimana masih banyak karyawan yang sama sama meletakkan bertangkai tangkai bunga. Foto Sari berbingkai figura kayu berwarna coklat terpampang di pojok ruangan berteman bunga.


"Ica, " sapa Juwita.


"Hay ka Juwi, " rambut Ica bertambah panjang dari sebelumnya, hampir 7 bulan di rumah membuatnya menyibukkan diri merawat tubuh.

__ADS_1


"Makin cantik aja Ca, " puji Juwita.


"Ah ka Juwi, idung gue udah terbang tuh nembus genteng !" jawab Ica.


Ica berjalan menuju pojok ruangan, dan meletakkan bucket mawar putih,


"Hay mbak Sari, maaf baru ngunjungin..yang tenang disana, maafin kalo Ica ada salah ya ! sering ngajak berantem, alfatihah..." Ica memejamkan matanya melafalkan do'a.


Akhir akhir ini Ica sering sekali melow, kali ini ia meneteskan air matanya, demi mengingat setiap pertemuannya dengan Sari yang kebanyakan adalah pertikaian.


Ica menyerut lelehan ing us nya.


"Melow banget gue akhir akhir ini, keseringan nontonin drama korea," gumamnya.


"Tissue mana tissue, maskara gue ntar luntur !" ia merogoh tasnya mencari tissue, tapi tiba tiba seseorang menyodorkan tissue dari sampingnya.


"Makasih, " ucap Ica menghapus air mata dan ing us nya.


"Sama sama cantik, " Ica menoleh.


"Abang, "


"Ko ga kasih tau dulu, mau kesini ?" tanya Jihad menarik tangan Ica untuk ke ruangannya.


"Sengaja mau kasih surprise, malah aku yang kaget !" jawabnya.


"Tapi aku udah ditungguin yang lain bang, di ruang kebersihan ! Budi baru diangkat jadi kepala ob, mau ditraktir nasi rames !" jawab Ica.


"Hemm, jadi istri ku kalo di kantor jadi milik temen temennya nih ?" tanya Jihad.


"Bentar aja bang, ga enak udah pada nungguin," mohon Ica.


"Tapi sebentar aja ?!" Ica mengangguk.


"Bentar ya, " Ica kembali mengangguk.


Jihad memperhatikan punggung perempuan yang disayanginya semakin menjauh dan menghilang masuk ke dalam lift.


"Hay gengs !!!"


Seperti biasa ibu CEO ini duduk melantai, berteman sebungkus nasi rames dan teh kemasan. Hanya bedanya jika dulu stelan yang ia pakai adalah seragam ob dan celana hitam.


Ica mengikat rambutnya, bersiap makan bersama ketiga teman ob senior dan melepas heellsnya. Mereka kini menjadi ob senior, para ob yang baru masuk hanya bisa melongo dengan kedatangan Ica. Wanita cantik yang tiba tiba masuk duduk melantai sambil makan nasi warteg, mereka tak tau siapa yang sedang mereka lihat ini. Seharusnya dengan pakaian seperti ini, ia lebih pantas duduk di kursi mewah dengan menu makanan caviar. Bukan duduk melantai di ruang kebersihan, membicarakan hal receh dan tertawa bersama para ob, dengan jari dipenuhi lumuran bumbu balado.


"Sutt, mas Budi ! itu siapa ?" tanya Andi, ob yang baru bekerja 2 bulan.


"Itu cewek gue !" jawabnya asal.


"Ahhh bohong banget !"


"Ga mungkin ah, " ragu Yani.


"Dia office girl paling senior !" jawab Setyani dan Asep saat Ica pamit mencuci tangannya.


"Masa sih ? kerjanya apa sekarang, gayanya hedon !" tanya Yani penasaran, tapi belum sempat dijawab Ica sudah kembali.


"Wah, banyak ob baru ya Setya ?" seru Ica mengelap tangannya dengan tissue.


"Yoi, Ca !" jawab Setyani.


"Ica, " Ica memperkenalkan dirinya.

__ADS_1


"Yani..."


"Andi..."


"Mulus tangannya," bisik Andi, sontak dihadiahi toyoran oleh Asep.


"Mulus lah, tangannya di rendem di pelembut satu drum !" seloroh Budi.


"Ica kerja disini juga ?!" tanya Yani.


"Dulu, sekarang udah engga..ga terlalu betah, CEO nya aga gila, genit pula !" jawab Ica.


"Masa sih, perasaan pak Alvian mah model model lelaki perfect malahan !" aku Yani, Ica tertawa renyah, ternyata Jihad tetap jadi idaman para karyawannya.


"Loh kenapa ? disini kan gajinya lumayan gede, fasilitas kebersihan juga lengkap, kesejahteraan karyawan diperhatiin lagi. Orang orang pada rebutan pingin kerja disini !" jawab Andi.


Ica mengangguk angguk tersenyum, testimoninya ternyata memuaskan, Jihad adalah pimpinan yang baik sekaligus idola para karyawan perempuannya.


"Ohh, syukur deh kalo betah, di do'ain semoga kerjanya pada semangat !" seru Ica menyedot sisa teh kemasannya.


"Sekarang kerja dimana ?" tanya Yani.


Asep, Budi dan Setyani hanya mengulum bibirnya ingin meledakkan tawanya dari tadi.


"Gue pengangguran sekarang, tuh makan aja minta ditraktir Budi !" jawab Ica enteng.


"Emmhh, sayang banget !" Yani tetap meneliti Ica dari atas sampai bawah, hampir tak percaya seorang pengangguran tapi dengan tampilan semuanya merk branded.


"Ga usah heran, ini mah dapet dikasih orang semua !" jawab Ica seakan tau jika dirinya sedang diperhatikan.


Yani dan Andi menggaruk tengkuknya tak gatal. Mereka terkejut saat tiba tiba pintu diketuk, dan yang lebih membuat mereka terkejut adalah melihat siapa yang mendatangi ruang kebersihan.


Seorang Alvian Jihad, CEO tempat mereka bekerja.


"Sayang, udah selesai reuniannya ?!" tanya Jihad.


"Udah, aku udah kenyang ! nanti kamu bayar bekas makanku yang barusan sama Budi, Setyani sama Asep !" jawab Ica. Yani dan Andi hampir menjatuhkan mata dan jantungnya.


"Eh, ga apa apa Ca...itung itung traktiran naik jabatan !" tukas Budi.


"Sayang ??!"


"Budi, selamat ya !!!"


"Setyani, Asep makasih banyak ! gue pamit ya, dan buat kalian berdua yang semangat kerjanya ! " imbuh Ica dengan senyuman ramah, lalu memakai sepatu yang sempat ia copotkan tadi saat duduk melantai.


Ica merangkul lengan Jihad dan keluar dari ruangan kebersihan.


"Hahahaha !!!" tawa ketiganya pecah melihat ekspresi kedua ob baru ini.


"Ihhh, mas Budi, a Asep, ka Setyani !! kenapa ga bilang itu istrinya pak Alvian ?!" tukas Yani dan Andi.


"Muka loe berdua lucu banget !"


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2