Me VS Crazy CEO

Me VS Crazy CEO
Perhatian Mertua


__ADS_3

Mendadak semua kembali sepi saat orang orang sudah kembali pulang.


"Biar sama bibi aja bu, " bi Denok mulai membereskan piring piring kotor, melarang Ica untuk ikut bergabung membereskan rumah.


"Ga apa apa bi, cuma ikut beresin dikit aja, " tapi baru saja mengangkat gelas dari taman belakang, ia dikejutkan dengan kelakuan Jihad yang menggendong tubuhnya.


"Eh !"


"Istirahat, " bisik Jihad.


"Ini nanti pecah bang, " Jihad membawa Ica masuk ke dalam rumah.


"Taro aja, biar nanti aku yang bantu bibi beresin rumah !" jawabnya, tapi Ica menggelengkan kepalanya.


"Kalo gitu aku bantuin liatin, " jawabnya.


Jihad yang akan membawa Ica ke kamar, malah menaruh Ica di sofa.


"Sesuai permintaan nyonya, " Ica tertawa. Sesorean ini ia melihat lelaki tampan itu membantu bibi dengan sesekali bercanda ringan.


"Itu belum rapi tuh !" tunjuk Ica.


"Iya nyah !" Jihad membungkuk dengan lap meja di pundaknya.


"Cocok tuh bang, jadi pegawai warteg !" jawab Ica tergelak, Jihad mencebik, dengan usilnya ia memasukkan potongan kue ke dalam mulut Ica, membuat Ica terdiam dan mendelik tajam.


Begitupun malam harinya, Ica menumpukkan dagunya di pundak Jihad, melihat lelaki ini mengerjakan pekerjaan kantornya.


"Aku bikinin kopi, " Ica memiringkan wajahnya menghadap Jihad.


"Untuk ngurusin kamu please jangan suruh bibi, " pintanya, Jihad mengangguk.


"Ya engga atuh, masa nanti bibi ikut ke kamar nyiapin baju sama daleman aku, pas aku lagi toples," kikik Jihad di balas tawa Ica. Benar kata Jihad, benar kata orang orang...Allah sedang menyuruh keduanya untuk menikmati waktu bersama, entah Allah sudah menyiapkan ujian ke depannya atau mungkin malaikat kecil diantara keduanya, yang jelas Allah sedang ingin keduanya lebih saling memahami satu sama lain.


Tiba tiba saja ponsel Jihad berdering. Raut wajah Jihad yang asalnya segar dan tersenyum berubah kaku dan menajam.


(..)


"Oke, saya kesana sekarang !" jawabnya begitu dingin.


"Ada apa bang ?" tanya Ica ikut terlihat khawatir.


"Kamu tunggu di rumah, jangan kemana mana sampai aku pulang," ujar Jihad beranjak menuju kamar, berganti pakaian dengan kemeja putih dan celana sopannya.


"Bang !!" Ica memanggil, Jihad berbalik.


"Jangan lupa pake jaket, ini malem !" Ica menyambar jaket yang ada di sofa memakaikannya pada Jihad.

__ADS_1


"Hati hati, " Ica meraih punggung tangan Jihad dan mengecupnya.


"Iya, " melihat dari air mukanya, sepertinya ada masalah serius di kantor, begitulah Jihad, jika berhadapan dengan karyawannya masalah pekerjaan maka ia akan terlihat serius dan tak main main tapi ia akan menjadi Jihad yang hangat saat bersama keluarga dan kerabat.


Ica segera menelfon Juwita, lama perempuan itu tak mengangkat panggilan dari Ica. Ica terus mencobanya. Akhirnya Juwita mengangkat panggilan dari Ica.


"Hallo Ca, "


"Ka Juwi, maaf gue mau tanya. Ada masalah kah di kantor ?" tanya nya ragu.


"Hem, iya Ca, tapi insyaallah masih bisa di handle, " jawab juwita, ia tau keadaan Ica masih dalam masa pemulihan.


"Gue boleh tau kak ?" tanya Ica.


"Aduh gue bingung, takut salah ngomong. Kayanya loe tanya sama Ji aja deh Ca, emangnya Ji ga ngomong apa apa ?" tanya Juwi.


"Engga kak,"


"Gue harus nanya Ji dulu Ca, takut ternyata gue salah bicara, gue tau.. loe baru operasi Ca, maaf ya ! nanti coba loe tanya baik baik deh, kalo masalah kantor dah beres, " jawab Juwita.


"Oh gitu, ya udah deh kak..makasih !" jawabnya.


Rumah terasa sepi, hanya terdengar suara detakan jam dinding, begitupun suara volume tv yang Ica kecilkan menambah keheningan malamnya. Jam sudah menunjukkan pukul 10 malam. Tapi belum ada tanda tanda Jihad pulang.


"Bu, sudah malam..tadi pas sebelum bapak keluar, dia titip pesen sama bi Denok, ibu jangan tidur kemaleman. Jangan lupa juga minum obatnya !" ucap bi Denok yang baru saja keluar dari kamarnya dan mengunci pintu.


"Tapi nanti kalau abang pulang, Ica ketiduran ga ada yang buka pintu bi, " jawab Ica.


"Ya udah deh bi, Ica ke atas dulu kalo gitu !" Ica melirik sekejap sebelum benar benar naik ke lantai atas, Ica meraih obat dan meminumnya. Lalu merangkak ke atas ranjang dan menarik selimut.


Pagi pagi sekali Ica sudah terbangun, tapi tetap ranjang sampingnya terasa dingin, itu berarti Jihad tak tidur disana.


Mual kembali menyerang Ica, membuktikan jika kadar hCG masihlah tinggi, baru seminggu saja sudah terasa jenuh. Ica memuntahkan isi perutnya yang belum terisi apa apa, sampai cairan kuning ikut keluar, terasa pahit di lidahnya. Pinggulnya juga terasa sangat pegal.


Ica mencuci wajahnya dan menatap nanar wajahnya di cermin kamar mandi, ia harus kuat..tak boleh manja.


Ia segera kembali, ternyata flek masih keluar dan belum terhenti sejak beberapa hari kemarin, meskipun hanya tinggal sedikit. Ia sedikit membungkuk merasakan kram pada perutnya.


Setelah dirasa mulai membaik Ica menuruni tangga untuk turun ke lantai bawah.


"Bi, abang ga ada pulang ya ?" tanya Ica.


"Belum bu, mungkin urusannya belum selesai. Ibu mau dibikinin susu atau teh manis hangat?"


"Teh manis aja bi aga panasan dikit ya, perut Ica kram lagi !" jawabnya mendudukan diri di kursi meja makan.


"Iya, bi Denok buatkan dulu ya bu, " Ica meraih biskuit dan buah di meja makan. Mengikuti saran dokter memang tidak mudah, tapi setidaknya membuatnya lebih baik. Ica hanya ingin segera pulih.

__ADS_1


"Assalamualaikum !" mamah Vivi pagi pagi sudah datang.


"Waalaikumsalam mah, " jawab Ica mengecup pipi kanan dan kiri mertuanya.


"Kenapa sayang ?!"


"Engga mah, biasa mungkin efek masih tingginya hCG, " keluh Ica.


"Sabar ya Ca, mamah yakin Ica bisa, semangat ! makanya mamah kesini, kita olahraga ringan ?!" ajak mamah Vivi.


"Mau nurunin kadar hCG, harus jaga berat badan juga, ketentraman pikiran, kita yoga sayang ! kita menghirup udara segar ! abang mana ?" tanya mamah Vivi.


"Abang dari semalam ngurusin urusan kantor kayanya mah, darurat, soalnya dadakan !" wajah mamah Vivi sedikit terkesiap, ada apa lagi yang menimpa putra sulungnya.


"Ya sudah, mamah percaya abang pasti bisa handle ! tinggal Ica bantu dengan do'a dan bisa jaga diri sendiri, oke ?! udah sarapan belum ?" mamah Vivi datang dengan sepaket perlengkapan olahraga dan makanan sehatnya. Ica tersenyum terharu, melihat mertuanya begitu sayang, peduli dan perhatian padanya.


Mamah Vivi terkesiap saat menerima pelukan Ica yang tiba tiba,


"Eh, " tapi tak ayal membalasnya.


"Makasih ya mah, mamah mertua paling best !!" senyum Ica merekah, begitupun mamah Vivi.


"Sama sama sayang, ini bentuk dukungan mamah buat kalian !"


"Bu, maaf ini teh panasnya !" bi Denok menyerahkan secangkir teh panas pesanan Ica.


"Loh ko panas bi, " tanya mamah Vivi.


"Permintaan Ica mah, barusan Ica mual jadinya minta teh panas, sakit pinggang juga !" adu nya.


"Oh oke, "


"Mamah sarapan dulu deh, Ica mau sarapan roti aja dulu sama buah ! Ica ga mau nasi, eneg !" jawabnya menggidikkan bahunya. Keadaan Ica tak ubahnya seperti ibu hamil pada umumnya.


"Oke deh, kalo kamu maksa ! bi sudah masak apa ?" tanya mamah Vivi.


"Ada nasi, ada ayam bu, ada tumisan sayur juga atau mau dibikinin apa ?" tanya bi Denok.


"Yang ada aja !" jawab mamah Vivi tak muluk muluk.


Ica tersenyum, mamah Vivi bukanlah gambaran ibu mertua yang jahat, angkuh, sombong dan galak. Justru ia baik, teramat baik.


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2