
"Daddy !!!" dua orang bocah laki-laki berumur 4 tahun berlarian dari dalam mobil menuju lobby gedung membawa serta tas yang digendongnya yang satu bergambar robot dan yang satu binatang harimau.
"Eh, satu-satu dulu ! Jangan main keroyokan dong boys !"
"Daddy udah tuir boys, jangan dikeroyok nanti encoknya kumat !" ujar Ica yang mendapat sorot mata tajam namun jahil Jihad yang mendapat serangan mendadak, dipeluk para jagoan ciliknya.
"Encok tuh apa momy ?" tanya Dewa.
"Encok tuh sejenis bebek," jawab bocah bertas hewan harimau. Like son like mother, sepertinya si kecil Ganesha lebih mirip Ica yang asal bunyi.
"Itu entok Nesha !" jawab Dewa sang kakak.
"Daddy, Momy ! Masa Ganesh, dipanggil Nesha mulu sama abang kaya nama pelempuan !" dan tentu saja Dewa mirip dengan daddynya yang tukang bully lawan bicara.
"Kata om Galih, Ganesh kan be a man iya kan dad ?!" tanya Ganesha sepaket dengan wajah menggemaskannya.
"Be a man apa ?"
"Be a man itu kalo pipisnya udah bisa jauh, dari pintu sampe pager !" jawab Dewa.
"Wah, ini bang Galih ga bener nih. Bawa toxic. Dasar encang akhlakless ! Dikira anak-anak gue selang pemadam kebakaran apa !" gerutu Ica.
"Udah, masuk ruangan daddy yu masuk ! Kayanya panas bikin anak-anak daddy dehidrasi terus ngaco, oleng kaya kapal ! Daddy udah pesen es krim di sana," ajak Jihad menggiring kedua jagoannya layaknya bebek.
"Asiikkk !!!" seru keduanya.
***
"Besok Lendra ulang tahun, Kara sama ka Milo ngundang si kembar, bang !" Jihad mengangguk, tentu saja ia mengetahui lebih awal, dari dulu sampai sekarang urusan tempat acara bila mengadakan party maka Jihad lah orang pertama yang ia andalkan.
"Iya, udah siapin kadonya ?" tanya Jihad. Ica menggeleng, "bingung kalo mau kasih Lendra kado, semuanya dia udah punya !"
Benar, apa sih yang tidak dimiliki si anak mahal itu, apapun yang ia minta selalu dipenuhi sang papah Armillo. Dari mulai mainan transportasi, lego, sampai binatang semua dia ada, dari mulai bentor sampai jet pribadi bahkan sampai bajaj sekaligus mamangnya saja ia punya. Lama-lama pabrik mainan ia beli bersama karyawan-karyawannya.
🌾🌾🌾🌾
Warna biru muda, biru dongker dan putih menjadi nuansa yang dipakai Lendra layaknya pangeran muda, bocah laki-laki yang digadang-gadang akan bernasib sama dengan sang ayah tengah duduk bersama sang opa di kursi tamu sebagai pangeran sehari.
Bocah berjas itu sejak kecil saja sudah mewarisi wajah Armillo dan imutnya Caramel.
"Lendlaaaa !!!" teriak Ganesha dan Dewa. Ganesh memang masih cadel, sedangkan sang abang Dewa sudah fasih mengucapkan huruf R.
"Ganesh, Dewa !!!" sapa Lendra.
Ketiganya berpelukan bak tim sepakbola yang memenangkan pertandingan, begitu heboh, dan senang.
Tapi di tengah euforia pertemuan ketiganya datang sesosok gadis kecil imut berambut lurus panjang sepunggung berbandokan pita pink.
Dialah Cyara, teman tk ketiganya.
"Hay Lendra, selamat ulang tahun !" sapa gadis bergigi kelinci itu.
"Cya, makasih !" Lendra langsung melepaskan pelukan kedua sohibnya demi mendapati gadis kecil berlesung pipi mendekat.
__ADS_1
"Wahhh ! Bibit-bibit Milo udah keliatan !" senggol Ayu.
"Ampun gue !" tepokan di jidat Kara.
"Wah, si Lendra bisa banget. Ninggalin sohib demi cewek ! Milo banget itu," ledek Raka.
Sedangkan ayahnya hanya tertawa.
Satu persatu anak-anak tk, teman sekolah Lendra berdatangan bersama orangtuanya.
Satu orang gadis chubby, dengan perawakan berisi dan rambut dikucir kudanya datang.
"Zahra !!" pekik Cyara.
"Ihhh si gendut datang !" ucap Dewa.
"Apa kamuu ?! Kamu lagi..kamu lagi !!!" sarkas Zahra.
"Hay Zahla, " sapa Ganesh. Beda dengan Dewa yang tak suka dengan bocah berisi itu, Ganesh terlihat biasa saja, Ganesh memang selalu baik pada siapapun beda dengan Dewa yang terkesan cuek, pembully dan usil.
"Hay Ganesh, bilangin sama abang kembarmu. Jangan ngajak berantem disini, kalo mau berantem di lapangan sekolah aja. Hari ini aku udah pake baju bagus,"
"Ga usah pada belantem deh, abang Dewa jangan bilang kaya gitu, mau gendut mau engga, Zahla temen kita !"
"Bo*do amat !" jawabnya berlalu tapi sebelum pergi ia menarik rambut kucir Zahra membuat si empunya menarik kerah kemeja Dewa.
"Ehhh, anak loe Ji ! Berantem tuh !" Ica dan Meta ibu Zahra sibuk memisahkan kedua anaknya.
"Ih jadi cewek kecil-kecil udah bar-bar !!" sarkas Dewa dengan mata dan alis menukik, urat di pelipisnya sampai keluar.
Ica dan Meta saling melirik tak enak tapi kemudian tertawa.
"Kalian berdua ga usah berantem di acara ulang tahun aku deh, kalo ga mau ku usir !" ucap Lendra memasukkan tangannya ke dalam saku celana.
Sedangkan Arial benar-benar sudah tertawa.
"Jiplak Milo ! Jiplak Ica sama Jihad !"
Setelah dipisahkan, kedua anak itu saling menatap permusuhan.
"Gendut !" dengus Dewa.
"Usil, mulut perempuan !!" dengus Zahra.
"Awas aja kamu !"
"Liatin aja kamu !"
"Abang, kalo sama cewek ga boleh gitu bang," ujar Jihad.
"Abisnya dia cewek ngeselin daddy. Cewek ko doyannya ngajak gelut. Abang sebagai cowok ga bisa biarin !" sungutnya berapi-api khas anak kecil.
"Momy, abang suka gelut sama Zahla di sekolah, di kelas juga suka nalik-nalik dan usilin Zahla, kasian Zahla momy," adu Ganesh.
__ADS_1
"Yang satu baiknya kebangetan tapi aduan, yang satu galaknya kebangetan tukang bully, usil pula ! Gue harus kuat mental. Lama-lama gue rebus juga bapaknya !" dumel Ica.
"Sabar Ca, " jawab Kara.
Tapi sejurus kemudian.
"Cya, ini buat kamu. Cobain deh, ini makanan favorit aku, papahku belinya langsung dari negri Swiss loh !" meskipun bocah laki-laki itu tak tau bahwa Swiss itu dimana, apa sedekat dari Menteng ke Sarinah ? Tapi ada sesuatu yang bisa ia banggakan kepada teman teman ciwinya.
"Makasih Lendra, kamu baik deh !" jawab Cyara.
"Liat anak loe, calon playboy cap ikan cu_pang Ra,"
"Gen ka Milo ternyata kuat !"
"Malu gue, Lendra kadang tebar pesona sana sini !" Kara kembali menepuk jidatnya.
"Hay semua !" sapa gadis cilik berambut keriting gantung dan diikat dua sisi kanan dan kiri, warna kulitnya memang sawo matang.
"Kinanti, hay !" sapa Lendra.
"Noh kan !"
"Mamposs gue...mamposss ! "
"Selirnya Lendra yank," jawab Milo yang sontak mendapat pukulan di punggungnya dari Kara.
*****
"Abang, momy ga suka abang kasar gitu sama cewek ya. Abang maafan gih..sama Zahra," pinta Ica membujuk anak pertamanya, sedangkan Jihad tengah bersama Ganesh menyapa teman-teman lainnya.
Ganesha dan Dewa memang sangat bertolak belakang dalam hal sifat, Ganesha lebih banyak disukai teman-temannya karena kebaikannya, wajah rupawan dan juga ke humble annya. Sedangkan Dewa lebih satu frekuensi dengan Lendra malahan lebih pembully dan cuek.
"Abang ga mau !"
"Ga liat Ganesh, tuh banyak temennya kan kalo baik, abang ga mau ngikutin Ganesh gitu, bukan momy sama daddy lebih suka Ganesh, cuma menyayangkan...abang ganteng loh !" tunjuk Ica pada Ganesha lalu mencolek hidung Dewa dan mengecup pipi Dewa.
"Engga ! Momy ga usah peluk-peluk. Abang udah gede, udah mau di sunat, malu kalo masih dipeluk-peluk momy !" tolaknya.
"Hahahahaha anak mamah !" tawa sumbang bocah perempuan yang ia sangat hafal singgah di telinganya. Suara yang sudah sangat Dewa tandai sebagai genderang perang.
Dewa menggertakan gigi-gigi susunya.
"Sini kamu anak gendut ! Anak cewek ko kelakuannya kaya co---" Ica menutup mulut sang anak, begitupun Meta.
******
Acara begitu meriah, dengan Arial sebagai pembawa acaranya. Lendra dengan sifat tengil, playboy dan memerintahnya. Ganesha dengan sifat kalem, baik, ramah, dan humblenya. Sedangkan Dewa...yap ! ck..ck..ck....
.
.
.
__ADS_1
.