Me VS Crazy CEO

Me VS Crazy CEO
Pengharapan terakhir


__ADS_3

"Ca, makan dulu," Kara sudah memegang sepiring nasi, sendok pun sudah terisi dengan nasi beserta lauknya. Mata Ica sudah benar benar bengkak. Hanya gelengan kepala yang Kara dapatkan.


Ica benar benar kacau, ia masih berada di kediaman Jihad.


"Gue mau nyusul ke bandara !" Ica beranjak meninggalkan sofa yang sudah ia duduki selama hampir 5 jam. Tante Vivi selaku ibu kandungnya pun tak sekacau Ica. Ia benar benar melihat kesungguhan Ica pada putra sulungnya.


"Tunggu aja disini !" kini nada bicara Kara terdengar tegas.


"Gue mesti jemput Jihad, Ra ! dulu gue yang nolak dan enggan untuk mengejar ! gue ga mau kehilangan buat yang kedua kalinya !! gue harus jemput Jihad !"


"Loe mau apa disana ?! toh ayah Jihad, ka Milo, abang abang loe juga lagi disana, pasti ngabarin ! loe mau disana terus desek desekan cuma biar bisa baca nama Jihad doang di data manifest ? loe belum makan, loe kacau ! kalo loe pingsan ataupun lemah, siapa yang mau nolong ?! loe cuma bisa repotin disana !"


"Tapi gue mau lebih dekat sama Jihad !!" Ica ambruk di atas karpet di bawah kursi. Tante Vivi menangkup kedua bahunya dan memeluk Ica.


Kara menelfon Milo, karena Ica dan tante Vivi yang memaksa ingin ke bandara.


Kara mengangguk, "tapi loe mesti makan dulu !" pinta Kara, Ica mengangguk, hanya beberapa suap, Ica merasa makanan itu hambar untuknya.


"Tante, boleh aku pinjem jaket punya Jihad ?" pinta Ica, tante Vivi mengangguk.


"Boleh sayang, mau ambil sendiri atau tante ambilkan ?" tanyanya.


"Ica mau ambil sendiri, "


"Kamar Jihad di atas sebelah kanan, " jawab tante Vivi. Begitu gontai langkah Ica menuju kamar sang kekasih. Ica meraih handle pintu kamar dan membukanya, air matanya kembali meleleh, aroma parfum Jihad tadi pagi masih memenuhi kamar ini, matanya menangkap satu figura foto yang menunjukkan potret dirinya bersama Jihad di meja samping ranjang. Ica meraih sebuah jaket dari gantungan, jaket yang Jihad pakai sebelumnya. Ica memeluknya dan membaui aromanya rakus, gadis itu lantas memakainya, meskipun tubuhnya tenggelam, setidaknya ia merasa Jihad dekat dengannya. Ia merasa bahwa saat ini daddy satu itu tengah memeluknya. Ica lalu keluar dan menuruni tangga.


"Ayo, Ra !" pinta Ica parau, terlalu lama menangis membuat suaranya tercekat habis, keluarganya di rumah pun sudah mengetahuinya, Riski dan Galih bahkan sudah ada di bandara, ikut peduli pada calon adik iparnya.


"Pak ke bandara !" pinta Kara pada supirnya.


Waktu menunjukkan pukul 7 malam, jangankan memikirkan mandi, Ica masih memakai pakaian kantornya hanya berbalut jaket Jihad.


"Ca ! ngapain ikut kesini ?" tanya Riski, saat dirinya tengah berkumpul dengan pihak keluarga Jihad dan Milo.


"Mana om Riza, Mil..mas Braja?" tanya tante Vivi.


"Om lagi dipanggil dan diambil sampel DNA di pos antemortem bersama ayah Juwita dan anak pak Muni," jawab Milo penuh penyesalan. Kembali Ica menangis, seakan air matanya tak pernah habis. Mendengar kata DNA dan pos antemortem membuatnya merinding, ia merasa Jihad semakin jauh dengannya. Ica mengeratkan pelukannya di jaket berwarna merah maroon itu.


"Ca !" Kara mengusap usap punggung Ica yang memeluk erat jaket Jihad yang dipakainya.

__ADS_1


"Sabar Ca, berdo'a lah Jihad baik baik saja, "


"Ada kabar terbaru apa sayang ?" tanya Kara.


Ica dan tante Vivi ikut mendongak dengan cemas, berharap ada kabar baik yang didapat, tapi seakan Tuhan menguji mereka lebih dalam lagi. Milo terlihat gugup dan gelagapan, entah apa yang harus disampaikan pada ketiga wanita ini.


Milo melirik Riski dan ayahnya untuk meminta pendapat, keduanya mengangguk.


Milo menscroll ponselnya, foto ini ia dapatkan dari tim rescue dan ia memotretnya sendiri saat melihat barang bukti bersama om Riza.


"Ya Allah !!! itu tas laptopnya Jihad !" jawab Ica. Ia ingat betul jika sebelum pergi, Ica membeli tas, begitupun Jihad yang membeli tas laptop baru atas pilihan Ica.


"Ca...Ca..!!" Riski dan Galih menangkap adiknya yang meluruh di lantai bandara, dan om Braja membantu tante Vivi, Kara memeluk Milo.


"Ini ga mungkin kan sayang ? " tanya Kara ikut menangis.


"By, ini punya Juwita.." tunjuk Milo pada tas jinjing milik Juwita, begitupun isinya ada identitas, ponsel, dompet dan barang barang lainnya yang mengambang di atas permukaan laut. Rayhan tak kalah terpuruknya, rencananya ia akan melamar Juwita setelah urusan bisnisnya selesai. Tante Vivi seketika oleng dan pingsan.


"Tante !!!" Milo dan Galih membantu mengangkat dan membawanya ke ruang kesehatan yang tersedia di bandara.


Ica tak percaya, hanya akan merasakan manisnya hubungan bersama Jihad hanya sebentar.


"Gue nyesel Ra, " gumamnya dengan wajah getir dan pandangan kosong.


"Ca, loe mau pulang sekarang ?" tanya Riski dan Galih, Ica menggeleng.


"Gue masih mau disini, nungguin Jihad bang, " mereka melirik Kara.


"Biar Ica gue yang urus bang, abang pulang aja, bang Riski sama bang Galih dari siang udah disini, " jawab Kara.


"Thanks Ra, "


"Ca, gue sama Galih balik dulu, nanti kalau ada apa apa telfon aja, gue sama Galih ntar balik lagi kesini !" ucap Riski, Ica mengangguk.


"Yang sabar Ca, gue tau loe kuat, loe adek gue yang paling kuat !" kecupan singkat di kening Ica sebagai bentuk peduli dan kekuatan dari Riski dan Galih.


"Ra, gue titip Ica ya, kalo ada apa apa telfon aja, "


"Iya bang, hati hati !" jawab Kara.

__ADS_1


Milo memakaikan jasnya di bahu Kara, dan memeluk istrinya ini.


"Ajak Ica makan di cafe, kamu juga belum makan kan ? nanti sakit," ucap Milo mengusap pipi Kara.


"Aku belum lapar, " jawab Kara.


"Siapa sih yang lapar waktu kaya gini, tapi kalian harus makan !" ucap Milo, sorot mata tajamnya tak ingin dibantah oleh sang istri.


"Iya sayang, "


"Ca, kita duduk di cafe yu, biar bisa lebih tenang !" tunjuk Kara di salah satu cafe yang ada di bandara, Ica mengangguk, perutnya memang terasa sangat lapar, tapi seleranya seakan sudah mati rasa.


Kara memesan 2 cangkir coklat panas, dan satu cangkir coffe latte.


"Sayang, " Kara membawa pesanan dan menyajikannya untuk Milo dan Ica.


"Ca, minum dulu ! kalo loe mau lanjut nangis silahkan, tapi isi dulu tenaga loe buat mewek !" kelakar Milo, tapi Ica tak menanggapinya, malah Kara yang meninju pelan bahu suaminya itu.


"Ca, gue yakin Jihad pasti baik baik aja, daddy kita kan tangguh Ca. Nyawanya aja ada 9, kaya kucing !" jemari yang sudah terpasang cincin pengikat dari Milo itu menggenggam tangan Ica.


"Papah mana sayang ?" tanya Kara.


"Papah udah ku suruh pulang diantar supir, om Riza nemenin tante Vivi di ruang kesehatan."


Sudah pukul 10 malam, tapi tak ada kabar berita lagi, Kara sampai tertidur di kursi tunggu. Milo memeluknya dengan balutan jas miliknya.


"Thanks, kalian sampe rela nungguin kaya gini, " ucap Ica.


"Sebelum kenal sama loe berdua, Jihad udah kaya abang gue sendiri Ca, " jawab Milo.


Suara ponsel Milo berdering, Milo sedikit kesusahan mengambil ponselnya dari dalam saku celananya karena menahan tubuh Kara.


"Hallo !"


"Oke kapan, dimana ? kirim datanya sekarang !"


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2