
Para tamu undangan mulai meninggalkan hotel di malam hari, tiket pesawat yang dipesankan di dalam undangan memang malam hari. Hanya menyisakan keluarga dan kerabat saja, itupun mereka hanya 2 hari saja.
"Bee, berat ngga ?" tanya Ica mendongak, tangannya mengalung manis di leher Jihad dengan sepasang sepatu heels yang digenggamnya.
"Lumayan. Ntar kalo aku udah ga kuat gendong, aku taro di meja dorong makanan ya, biar ku dorong sampe kamar !" jawab Jihad tertawa bersama Ica.
"Enak aja, dikira aku steak.." cibir Ica.
"Iya, dan kamu menu makan malam ku !" tatapan mesum itu baru kali ini dilihat Ica.
"Dih ! aku ko ngeri liat kamu liatnya gitu !" Ica mendorong kening Jihad pelan.
"Kalo gitu harus dibiasain, karena tiap malam aku berubah, kaya serigala, nyari mangsa semox penghuni kamarku nanti," jawab Jihad, mereka kembali cengengesan sepanjang jalan menuju kamar. Salah satu sepatu yang dipegangnya jatuh.
"Eh, sepatuku jatoh bee !" Ica melongokkan kepala ke arah belakang badan Jihad.
"Ya udah biarin aja, toh kita ga perlu sepatu buat tempur, " seringai Jihad.
"Ck, ih ! " tak tau saja wajah Ica sudah merah padam. Jihad yang dikenalnya begitu usil dan lambe turah, ternyata bisa membuatnya malu sampai ke akar akar.
"Dulu waktu kenal kamu, ku kira kamu belok ! abis gayanya kaya cowok jadi jadian, " ucap Ica.
"Hm, aku juga geli sendiri. Sengaja, buat nutupin identitas, biar pada ga kepo dan melebur sama yang lain aja, kalo aku cuek cuek dingin malah cewek nanti pada nempel, " jawabnya tertawa renyah.
"Narsis, engga ah, biasa aja ! " cibir Ica.
"Nih contohnya kamu, nempel dari dulu !" Jihad menyatukan keningnya dengan kening Ica.
"Duh penganten baru mah, cekikikan di tengah koridor gini juga bebas ! berasa dunia milik berdua ! e*e ayam aja rasa coklat !" ledek Galih.
"Apa sih bang !"
Galih menghampiri keduanya.
"Gue cuma mau nyampein pesan aja, mamah sama yang lain ikut mamah papahnya Jihad ke Sanur ! loe berdua jangan nyariin, " Galih sudah berganti pakaian dengan pakaian casual.
"Iya bang, ya udah sana pergi, kali aja nemu jodoh bule. Buat memperbaiki keturunan !" tawa Ica dibalas sentilan Galih di jidatnya.
"Aduhhhh !"
"Oke bang, have fun !" jawab Jihad.
"Ati ati Ji, dia galak ! kaya kucing hutan, ntar yang ada loe di cakar cakar !" Galih tertawa saat Ica menunjukkan kepalan tangannya di depan wajahnya.
"Tenang aja, gue pawang kucing betina ko, " jawab Jihad, sontak Ica menoleh dan melayangkan pukulan telak di dada Jihad.
Galih meninggalkan keduanya.
"Ikut yu bee, " pinta Ica.
"Ngapain, kita juga punya kesibukan sendiri, " sewot Jihad.
Glekkk....
__ADS_1
"Masih sore, "
"Emang ada aturannya, kalo unboxing harus malam ?" tanya Jihad menyunggingkan senyuman smirk.
"Ambilin kuncinya di saku jas, " pinta Jihad dengan kerlingan mata.
"Disini ?!" tunjuk Ica pada dada Jihad, ia mengangguk. Ica merogoh saku jas Jihad.
"Uuuhhh kuncinya masih anget, bee!" seru Ica.
"Anget kejepit dadamu dan dadaku," jawab Jihad tertawa bersama Ica. Diantara semua pengantin baru, hanya mereka yang tertawa tawa seperti orang gila sepertinya.
Klik !
Pintu terbuka.
"Wohooo !!" Ica berdecak kagum, saat matanya disuguhkan dengan pemandangan yang membuat mata melotot.
Hamparan kelopak bunga mawar merah segar diatas ranjangnya membuat Ica meminta Jihad menurunkannya.
"Turunin bee, jarang jarang nemu yang kaya gini, mau kufoto !" pinta Ica dengan semangat 45, bukannya menurunkan Ica dengan segera, Jihad malah terus membawanya menuju ranjang.
"Bee !! ga usah macem macem ya !" Ica melotot membuat Jihad gemas.
Jihad menaruh Ica di ranjang dan merebahkan badannya sendiri di samping Ica, Ica sontak merengut.
"Yaaaaa ! kan jadi keburu rusak kamu tiduriiinnn !"bibirnya mengerucut kesal.
"Aku mau rebahan ! emang dipikir ga cape apa gendong kamu kesini ?!" Jihad malah dengan sengaja meregangkan otot ototnya hingga beberapa kelopak mawar berjatuhan ke lantai.
Belum puas, Ica meraih bantal dan memukulkannya pada Jihad berkali kali. Dengan kepayahan akibat gaunnya yang menjuntai, Ica sampai harus berdiri di ranjang, karena lelaki ini malah semakin sengaja menggodanya.
"Sreekkkk !!"
"Haaaaa !!" Ica menghentikan pukulannya, bersama dengan diamnya kedua anak manusia ini.
"Bee, gaunnya sobek, keinjek !" ucap Ica terkejut.
"Ga mau tau, ganti ! " jawab Jihad melotot, tapi bertolak belakang dengan hatinya yang ingin tertawa melihat ekspresi Ica yang panik.
"Ntar aku bawa ke mpok Aminah deh buat di jait, di permak dikit !" jawab Ica merasa bersalah.
"Ga bisa bakwan, itu dijahit di butik mahal ! hayoo ganti, yang punya butik marah !" kembali ucap Jihad berkacak pinggang.
"Iya nanti aku ganti, " sungutnya.
"Pake apa ?" tanya Jihad.
"Pake uang lah, "
"Pake uang siapa?"
"Uang kamu lah ! kan ini gara gara kamu juga," sewot Ica.
__ADS_1
"Dih, ko aku ? yang bikin sobek siapa?"
"Aku, "
"Jadi yang harus ganti kamu juga lah !" jawab Jihad tertawa.
"Aku ga punya uang sebanyak itu," Ica merengut meminta tolong dengan menarik narik kemeja Jihad.
"Ada satu cara buat gantinya, ga usah pake uang ?!" Jihad menaik turunkan alisnya menyeringai.
"Apa ?!" tanya Ica berbinar.
"Bener mau tau sekarang ?!" tanya Jihad, radar mesumnya mulai tercium oleh Ica.
"Ga usah kaya gitu senyumnya, ngeri tau ngga ?!" protes gadis itu melotot, Jihad semakin gemas dibuatnya.
"Iya, mau tau ngga ?!" Jihad sudah bersiap siap menerkam Ica, tapi bukan Ica namanya jika ia tidak segera tau akal bulus lelaki yang sudah menjadi suaminya ini.
Jihad melompat ke arah Ica, namun Ica segera bangkit dan kabur sambil mengangkat gaunnya.
"Blugghhh !" untung saja Jihad jatuh di ranjang bagian Ica, tapi sayangnya Ica keburu menghindar.
Gadis itu tertawa puas. Tapi sejurus kemudian, ia memohon. Saat Jihad mengejarnya.
"Bee, jangan main kejar kejaran gini lah, kaki aku masih sakit..pegel !" ringisnya mengaduh duduk di sofa.
"Masih sakit ya ? sini aku liat !" Jihad mendekat dan berjongkok di bawah Ica, menarik kaki Ica ke betisnya, Jihad menelan salivanya berat saat kaki sampai betis Ica terpampang nyata di depannya, menggedor gedor jiwa kelaki lakiannya yang menggelora.
"Awsshh !" Ica sampai tersentak saat Jihad menekan bagian engkelnya.
"Sorry, sorry...direndam air hangat aja gimana ? masa mau malam pertamaan malah udah k.o duluan kan ga lucu !" gamblangnya. Ica merona malu, haruskah? tak bisa ditunda?
"Tapi ini gaunnya nanti ikut nyemplung, susah soalnya kepanjangan, " keluh Ica.
"Ya udah buka aja, sini aku bantu !" Jihad bangun hendak membantu Ica membuka gaunnya.
"Tunggu tunggu...semangat banget kalo masalah buka bukaan !" sengit Ica.
"Oh ya harus dong !"
Ica menggeser duduknya hingga memberikan ruang untuk Jihad meloloskan gaunnya.
Oke untuk yang ini Ica kecolongan.
"Bee, kamu lagi ngap..." suara indah Ica mulai memenuhi setiap sudut persenti meter kamar ini.
.
.
.
.
__ADS_1
.