
Punggung itu sehalus sutra, selembut kulit bayi. Jihad masih memandangi punggung Ica yang terlelap di sampingnya. Tak tau keduanya tidur pukul berapa. Yang jelas, ia merasakan seperti baru tidur beberapa menit yang lalu.
Sebenarnya ingin berlama lama lagi disini, tapi pekerjaan sudah menantinya di kantor.
"Hey, putri tidur ! katanya mau ke pantai ?!" Jihad mengguncang guncangkan tubuh Ica.
Aroma maskulin segar menguar di penciuman Ica. Tapi matanya seakan enggan untuk terbuka, sungguh sangat malas.
Butiran air masih mengucur dari rambut lelaki ini mengenai bahu putih Ica. Perempuan itu menggeliat.
"Dingin," paraunya.
"Bangun, subuh dulu..katanya mau ke pantai, besok kita udah pulang loh !"
Sudah seperti kepompong yang menggeliat di dalam kantungnya, Ica meregangkan otot ototnya. Badannya sudah benar benar hancur dan remuk.
"Kuat bangun ga ?!" tanya Jihad terkekeh. Ica mengerjap dan terduduk, tapi tangannya masih memegang selimut. Semoga tidak sampai masuk angin, dari sore kemarin ia selalu tertidur tanpa pakaian.
Rambut Ica acak acakan, heran saja..mereka melakukannya apa sampai saling jambak ?
"Kamu kaya korban kdrt bakwan, " kekeh lelaki ini.
"Iya ih !" Ica meraih cermin di nakas yang selalu ia bawa sejak kemarin sore, niat hati untuk mengomel dan mengadukan tanda merah di sekujur dada, leher dan tempat tempat tertentu pada tersangka, tapi bukannya merasa bersalah, merah merah di badan Ica malah semakin bertambah.
"Bilang aja abis kerokan, ga biasa pergi jauh jadi masuk angin," Jihad menyugar rambut basahnya.
"Masih sakit ngga?" tanya Jihad, Ica menggeleng.
"Gendong !! lemes !" Ica merentangkan kedua tangannya dengan manja, minta digendong membuat selimut itu merosot bebas, mempertontonkan hal yang sekarang menjadi spot favorit mulut Jihad buat mojok.
"Ga usah ngarep, aku mau mandi !" Ica kembali menarik selimut saat pandangan Jihad mulai tergiur untuk menenggelamkan dirinya lagi.
Jihad tertawa, "tau aja, apa yang ada di otak aku."
Lalu dengan sekali hentakan menggendong badan Ica ke dalam kamar mandi.
Sekembalinya dari kamar mandi, Ica kebingungan memilih baju. Padahal sebelum pergi ke sini, Kara sempat mewanti wantinya untuk membawa baju dengan kerah leher, kini ia tau apa maksud Kara. Ica meraih dress floral berkerah namun tanpa lengan.
Hari ini keluarganya pulang, Ica meraup nafas rakus. Akhirnya ia bisa keluar kamar juga hari ini.
"Ateu Ica !!!" pekik Momo dari cafe hotel.
"Momo !!!" Ica merentangkan tangannya pada keponakannya.
"Hmm, ini pengantin baru, seharian ga keluar. Gimana ada suara kucing kejepit engsel ngga semalem ?" ledek Riski.
"Ish, " desis Ica yang ditertawai Novi dan Dante.
"Daddy Ji !!" Momo beralih pada Jihad yang ada di belakang Ica.
"Hay princess !" Jihad langsung menggendong Momo.
"Mama hari ini pulang Ca, " mereka duduk di cafe.
"Iya mah, hati hati di jalan !" Ica memegang tangan ibunya.
"Ji, kalian pulang besok kan ?" tanya tante Vivi, Jihad mengangguk.
"Iya mah, "
__ADS_1
"Oke, sepertinya liburan kita harus berakhir, kerja..kerja...kembali ke rutinitas, " ujar ayah Jihad semangat yang mulai membuka balutan tissue di sendok dan garpu untuk segera melahap makanan di depannya.
"Betah ya pak, " kekeh ayah Ica.
"Iya, pak. Kalo sudah libur maunya ga balik lagi buat kerja, maunya melukin istri tiap waktu !" seloroh ayah Jihad, yang sontak di sikut tante Vivi di sebelahnya, sedangkan yang lain ikut tertawa.
"Kapan mau pindahan Ji ?" tanya tante Vivi terlihat memberenggut.
"Padahal mamah maunya Ica sama bang Ji di rumah aja bareng mamah, " adu nya. Ica mengerutkan dahinya, semalam rasanya Jihad tak membicarakan apapun tentang rumah ataupun pindahan.
"Mah, bang Ji kan sudah menabung lama untuk ini, masa mau ngikut orang tua terus," jawab ayah Jihad. Jihad memejamkan matanya tak berkutik dan hanya bisa memelas saat rencana surprisenya untuk Ica digagalkan ibunya.
"Mamah, " lirihnya.
"Astaga ! mamah lupa, " ibunya langsung mengunci mulutnya rapat rapat.
Jian mengulum bibirnya saat Jihad menghela nafas, "gatot ya bang ?!" godanya.
"Rumah apa bee?" tanya Ica.
"Nanti aja kita bicarain, sekarang mendingan makan dulu deh !" jawab Jihad.
Suasana makan dipenuhi dengan candaan, bahkan terselip kata cucu di dalamnya, Milo dan Kara yang baru bergabung ikut berbaur.
Ica dan Jihad tak sempat melihat sunrise, karena mereka mengantarkan kedua keluarganya ke bandara untuk pulang ke Jakarta.
"Ko ate Ica sama daddy ga ikut pulang ?" tanya Momo dan Robi.
"Tante Ica masih ada keperluan disini, jadi pulangnya nyusul," jawab Teh Mira pada anaknya.
"Kepeluan apa mah?" tanya nya lagi.
"Jangan lupa stamina harus kuat bang, mamah mau yang kaya Momo !" pesan ibunya berbisik tapi lirih, membuat Ica kikuk setengah mati, dan Jihad yang terkekeh.
"Mamah, " decak ayah Jihad.
"Apa sih pah ? mamah udah ga sabar mau punya cucu, " omel tante Vivi.
"Ca, Ji..kalo gitu kita pulang duluan !" pamit Riski.
"Ati ati loe berdua, awasin dia Ji..dia mah suka ilang ilangan kalo liburan kaya tuyul lagi nyari duit !" seloroh Galih, Ica lantas meninju bahu Galih.
"Enak aja ! " sungutnya.
"Tenang bang, gue iket pake borgol biar ga ilang, " kelakar Jihad bertos ria dengan Galih, membuat Ica terkejut dibuatnya, sejak kapan suaminya bisa cs an bareng abang lucknutnya.
"Ca, ayah pamit ya ?!" ayahnya memeluk Ica, lantas gantian memeluk Jihad.
"Hati hati, " mendengar penerbangan menuju Jakarta akan segera take off, mereka langsung berpamitan dan berpelukan. Hingga badan mereka masuk dan tak terlihat lagi.
"Mau ke pantai sekarang ? masih jam 6 masih keburu biar ga panas banget ?" tanya Jihad, Ica mengangguk.
"Bareng Kara !"
Sesaat sampai di hotel, Milo malah sudah siap dengan kopernya. Ica dan Jihad lantas mengernyitkan dahinya.
"Loe berdua mau kemana?" tanya Jihad.
"Balik, Ji..tiba tiba Kara mewek pengen ketemu ibu, " jawab Milo pasrah, keinginan Kara adalah perintah untuknya.
__ADS_1
"Ko bisa dadakan gini ka?" tanya Ica.
"Loe udah periksain Kara, Mil?" tanya Jihad.
"Kemaren sore udah, Kara memang lagi hamil Ji, Ca.." senyum Milo merekah.
"Wahhh !! cepet banget, sekarang mana tuh anak ?" tanya Ica.
"Tuh ! liatin ikan di kolam ! masa ikan di sini pengen di bawa pulang, gue tawarin beli nanti di Jakarta sekalian ma toko tokonya gue beli, malah ga mau, katanya bukan ikan Bali !" Milo setengah mendumel dan pasrah dengan keinginan Kara yang aneh aneh akhir akhir ini.
Jihad dan Ica tertawa, baru kali ini Milo terlihat pasrah begini.
Ica mendekati Kara yang tengah asyik menyenggol nyenggol badan ikan koi, "Ra, loe mau balik sekarang ? loe mau ninggalin gue ?" Ica merangkul Kara.
"Iya Ca, tiba tiba gue kangen sama ibu, pengen dielusin gitu sama ibu !" jawab Kara.
"Selamat ya bebs, loe mau jadi seorang ibu bentar lagi. Jaga kesehatan, calon momy !" Ica memeluk sahabatnya ini.
"Iya Ca, makasih. Selamat juga buat loe, akhirnya menemukan yang loe cari selama ini, samawah...semoga loe cepet nyusul kaya gue, biar kita bisa barengan lahirannya !" seru Kara, keduanya tertawa membayangkan betapa hecticnya jika mereka lahiran saat berbarengan.
"Baby !!! mobil udah di depan, ayok !" pekik Milo.
"Ca, mobil gue udah di depan, gue pamit ya !"
"Huhuhu...bye bye ikan !!" Kara memasukkan tangannya menyentuh ikan ikan yang ada di kolam air mancur di lobby hotel.
Ica tertawa, "aneh loe Ra, ikan mah dimana mana juga sama kali."
"Beda Ca, kalo disini ikannya disebut beli, di Jakarta mah ikannya abang abang !" pernyataan Kara lebih mirip seperti pernyataan yang dilontarkan dari mulut Momo, bukan dari mulut seorang sarjana.
"Wah, hamil bisa bikin sarjana mendadak jadi anak paud !" tawa Jihad.
"Ck !" decak Kara.
"Janji ya sayang, di Jakarta beli ikan yang kaya gitu !" pinta Kara sarat akan ancaman.
"Iya baby, nanti aku langsung beli dikirim ke rumah, sekalian ma abang abangnya kubeli !" Milo merangkul bahu Kara dan menyeret koper mereka ke dalam mobil.
"Ca, Ji.. gue pamit !"
.
.
Kini tinggal mereka berdua,
"Jadi ngga?" Jihad menaikkan alisnya sebelah.
"Nanti nyesel kalo ga kesampean ?"
"Ya udah ayok !" jawab Ica.
.
.
.
.
__ADS_1