Me VS Crazy CEO

Me VS Crazy CEO
Undangan reuni


__ADS_3

"Ohhh, jadi ini kalo dah di taroin ini ga usah pake ini lagi ya mah ?!" Ica memperhatikan setiap langkah langkah memasak yang dilakukan oleh ibu mertuanya.


"Bang Ji, ga manja ko. Apapun dia suka, yang penting ada sambel aja," mamah Vivi mengaduk aduk masakannya. Ica mengangguk mencatat setiap perkataan mertuanya dengan seksama di otak ceteknya. Kelak itu akan jadi tips and trik merayu Jihad.


"Bang Ji tuh, sukanya yang ga terlalu mahteh alias ga terlalu bikin enek, kaya sayuran, kalo opor juga yang ga terlalu kental santannya, kalo masakan berbumbu juga jangan terlalu manis, " Ica berohria.


"Sini sama Ica, mah !" Ica berusaha mengambil alih, ia bukan tidak bisa memasak, tapi tidak terbiasa. Maklumlah sehari hari ia bekerja banting tulang, tak ada waktu untuk belajar masak, kecuali masak mie instan dan telur dadar.


Ica sudah memindahkan masakan ke dalam piring.


"Cieeee, masak bareng !" goda Jian.


"Iya dong, biar kompak !"


"Nanti istrimu juga disini ! biar samaan, " imbuh Ica.


"Ahhh, masih lama ka !" jawab Jian.


"Kalo gitu Ica naik dulu ya mah ! mau mandi, " ijinnya.


"Iya Ca, " jawab mamah Vivi mengusap punggung Ica. Ica masuk ke dalam kamarnya, terlihat Jihad yang masih bergelung dalam selimut, sekarang siapa yang jadi putri tidur.


Ica duduk di ranjang samping Jihad.


"Ga pengen bangun nih ?!" tanya Ica menggoncangkan lengan kekarnya. Jihad hanya menggeliat saja tanpa berniat bangun.


"Aku udah masak loh ! mau coba ngga ?!" bujuk Ica, tapi tetap tak ada tanggapan, hanya saja saat ia membalikkan badannya ke samping, dengan gerakan cepat tanpa sepengetahuan Ica, Jihad merengkuh badan Ica, hingga ikut terbawa jatuh ke ranjang dalam pelukannya.


"Eh !" serunya.


"Apa apaan nih ?!" tukas Ica, bibir Jihad malah tersenyum dan auto maju mengendusi dan menyesapi aroma leher, badan Ica.


"Dih !! apa nih mulutnya !"


"Insting, kalo ada kamu !" gumamnya parau. Dengan mata yang masih tertutup dan rambut yang masih berantakan.


"Aku baru selesai masak sama mamah, masih bau bawang !" ucap Ica, yang berada di dalam dekapan Jihad.


"Tetep wangi ko, emang wangi istri rumahan ya harusnya kaya gini !" jawab Jihad.


"Ya udah awas dulu, aku mau mandi !" pinta Ica.


"Kata passwordnya dulu !" pinta Jihad mulai menyebalkan.


"Apa ?! minta dilepasin aja harus ada kata password ?!" tanya Ica tak percaya.


"Hm, "


"Apa ? aku ga tau !"

__ADS_1


"kata sandi salah !" Jihad lantas mengecupi seluruh inci wajah Ica hingga Ica tergelak kegelian.


"Awas ih, aku mau mandi. Katanya kita mau pindahan ?!" lirih Ica.


"Aku maunya kamu, " ucap Jihad.


"Kamu masih mimpi ya ?!" tanya Ica.


"Udah awas !! aku mau mandi !" dumel Ica sudah kesal.


"Bareng ?!" Jihad membuka matanya.


"Boleh !" jawab Ica, Jihad mengangkat kedua alisnya, tak percaya semudah itu Ica akan mengiyakan, biasanya ia akan menolak mentah mentah. Jihad bangun dan melepaskan Ica.


"Ya udah yu !" ajak Jihad.


Ica turun dari ranjang, tapi belum Jihad melangkah, Ica sudah mendorong badan Jihad hingga kembali terjengkang ke atas ranjang dan ia sendiri berlari ke dalam kamar mandi duluan sambil tertawa, karena sudah mengelabui lelaki itu.


"Awas kamu bakwan !" Jihad menggelengkan kepalanya.


"Aku jegal kamu di depan pintu kamar mandi ya !" pekik Jihad berdiri di depan pintu kamar mandi.


"Ih kaya begal !" jawab Ica.


"Kamu ga tau aku begal sekarang, begal istri cantik plus semox kaya kamu !" balas Jihad.


"Berarti bukan aku doang dong !" jawab Ica.


Jian yang melintas di depan kamar Jihad, tertawa renyah seraya menggelengkan kepalanya, apakah menikah membuat kewarasan seseorang hilang ?


"Lagi ngapain sih mereka, teriak teriak kaya lagi di stadion aja !" gumam Jian.


Ica keluar dengan memakai kimono handuknya, bergerak waspada. Setelah melewati drama penjegalan dari Jihad, akhirnya ia bisa memakai pakaiannya. Ia meraih ponselnya, ada pesan dari teh Mira, Ica mengkliknya.


Ternyata sebuah foto undangan reuni smp.


"Siapa ?" tanya Jihad yang baru keluar dari kamar mandi dengan handuk menggantung di lehernya.


"Undangan reuni smp abanggg ! kayanya mereka kirim ke rumah, " jawab Ica, Jihad duduk di samping Ica, merebut ponsel Ica dan membaca undangan yang di screenshot kan oleh teh Mira.


"Mau datang ? tapi kayanya aku ga bisa anter, " ujar Jihad.


"Ga tau, " jawab Ica.


"Datang aja kalo emang mau, siapa tau mau reunian sama alumni hati," goda Jihad, Ica mengangkat alisnya.


"Emang boleh ?!" tanya Ica.


"Ya engga lah !" Jihad beranjak menaruh handuknya.

__ADS_1


"Asal bisa jaga diri aja. Tau diri kalo dah punya suami, aku ijinin !" jawab Jihad.


"Kara diundang ?" tanya Jihad.


"Ga tau, soalnya kan Kara pindah pas kelas 2, " jawab Ica lagi.


Jika Ica datang maka kemungkinan besar ia akan bertemu dengan Revan, secara...tertulis disana Revan salah satu panitia yang menjadi contact person tahun angkatan Ica.


"Siapa namanya ?" tanya Jihad.


"Siapa?" tanya Ica mengerutkan dahinya.


"Mantan kamu,"


"Ka Revan ?!" tanya Ica.


"Cie masih manggil kaka, manggil suami aja nyi Blorong !" Jihad berbalik seraya mengambil laptopnya dan keluar dari kamar.


"Dih apaan sih, " tukas Ica menggerutu.


Tak tau saja, ini adalah salah satu ciri ciri Jihad yang sedang dilanda cemburu. Cemburu yang tak beralasan hanya karena panggilan saja.


Ica mengekor keluar kamar, "bee...sarapan dulu, " ajak Ica.


"Nanti aja, ngurusin dulu kerjaan !" jawab Jihad duduk bersila di sofa.


"Bee, ko gitu sih ! marah ?" tanya Ica menggoyang goyangkan lengan Jihad.


"Engga, " jawabnya singkat.


"Iya maaf, ya udah aku ga akan ikutan reuni, " ucap Ica.


Jihad mengusap tangan Ica, "aku ijinin, maaf ya ! tiba tiba panas aja kamu manggil dia pake sebutan kaka !"


"Oh, jadi cemburu ceritanya ? maaf deh, kan aku juga udah panggil kamu bee...abang...sayang...mau dipanggil apa lagi? hubby, suamiku? lagian masa lalu ga usah diinget inget lagi, " tukas Ica.


"Iya aku cemburu, ga suka ?!" tanya Jihad malah ngegas. Ica tertawa, "suka ko ! suka, tapi kalo cemburu ataupun ada hal yang bikin kamu marah dan ga suka, bilang aja, biar aku ga bingung kalo kamu marah marah ga jelas kaya gini !" jawabnya.


"Kalo gitu kuliat jadwal dulu, biar bisa anter !" Jihad menscroll laptopnya, menghubungi Juwita untuk mengosongkan jadwalnya pada hari dimana Ica akan mendatangi acara reuni.


Mulailah drama suami suami posesif sekarang.


"Udah clear (beres/bersih) kan masalahnya? makan yu !" ajak Ica.


" Yu !" jawabnya.


"Gandeng terussss kaya gerbong kereta !" ledek Jian.


"Ga usah sirik, ntar juga loe akan indah pada waktunya !" cibir Jihad duduk menggandeng Ica.

__ADS_1


"


__ADS_2