Me VS Crazy CEO

Me VS Crazy CEO
Yang ditunggu tunggu


__ADS_3

Revan bangkit dan berbalik menghajar Jihad, tapi saat Jihad ingin kembali membalas Ica yang baru saja berhenti muntah memegang tangannya.


"Ji, kamu salah paham !!" ucap Ica.


"Tunggu ! loe salah paham, gue ga ngapa ngapain Ica. Gue cuma nolongin Ica doang, ga lebih !" ucap Revan seraya memegangi wajahnya.


"Jangan pernah sentuh Ica !!" Jihad menatap tajam ke arah Revan, lalu beralih ke arah Ica.


"Kita pulang !"


"Re, sorry !" ucap Ica yang ditarik Jihad.


Jihad memasangkan seatbelt tapi Ica menepis tangannya.


"Aku bisa sendiri !!" tolaknya.


Jihad melajukan mobilnya kencang, tak ada obrolan diantara keduanya saat ini, aura mencekam begitu terasa. Mood Ica jatuh ke dasar jurang, tak tau akhir akhir ini perasaannya begitu sensitif, ia malas menjelaskannya, mengingat Jihad yang main hajar terhadap Revan tanpa mau mendengar penjelasannya terlebih dahulu.


"Harusnya aku ga ijinin kamu buat reunian !" ucap Jihad. Ica hanya menatap nyalang pemandangan di luar jendela mobil. Ia tak menyangka Jihad yang biasanya bijak, hari ini bisa berlaku arogan.


Sampai mobil menepi di parkiran rumah pun Ica tetap diam, dan memilih langsung melengos masuk ke dalam rumah, meraih gelas dan air minum karena sedari tadi tenggorokannya perih usai muntah.


"Ini gue kenapa ya ?" gumamnya, setaunya ia tak sakit, tapi mendadak ia merasakan mual yang hebat.


Tak ada tegur sapa diantara mereka dalam beberapa waktu, Jihad yang langsung masuk ke kamar mandi dan Ica yang langsung membaringkan badannya di kasur.


Ica mengetik sesuatu di ponselnya, kebetulan ia memiliki nomor Revan dari undangan yang dikirimkan teh Mira,


"Re, ini gue Ica..


Sekali lagi gue minta maaf, atas kesalah pahaman yang sudah suami gue lakuin tadi.


Tak lama terdengar suara ponsel. Balasan dari Revan.


"It's okey Ca. Gue ga apa apa, cuma luka dikit. Btw loe ga diapa apain kan ?"


Engga, thanks sudah membantu.


Sama sama.


Ica mematikan ponselnya, dan memilih memejamkan matanya, walaupun susah untuknya tertidur. Jihad masuk ke dalam kamar, ia salah, seharusnya mendengar dahulu penjelasan Ica, pekerjaan yang menumpuk membuatnya pusing, ditambah saat melihat Ica yang dipegang pegang mantannya, mematahkan niatnya untuk bersabar.


Ia bingung bagaimana meredakan kecanggungan dan kekesalan Ica. Jihad memilih ikut berbaring dan mendekat, ia memeluk tubuh Ica dari belakang.


Ica yang belum tertidur sontak berontak menolak, berusaha melepaskan pelukan Jihad. Tapi usahanya sia sia, tenaga Jihad lebih kuat darinya.


"Maaf, " bisiknya.


"Harusnya kamu bilang maaf sama Revan, Ji. Bukan sama aku !" jawab Ica ketus.


Dengan sekali gerakan Jihad membalikkan badan Ica.


"Harusnya aku dengar dulu penjelasan kamu, " keduanya tengah saling berhadapan menyamping.


"Iya, dan kamu bo*doh ! kamu emosian, kamu arogan, kamu angkuh, " jawab Ica mengeluarkan semua uneg uneg nya. Jihad tersenyum kecut.


"Iya, aku arogan, aku angkuh, aku emosian, dan aku bo*doh !" jawab Jihad mengulang perkataan Ica.


"Aku cemburu, liat kamu di rangkul orang," lanjutnya lagi.


"Kamu ga bisa bedain yang mana rangkul mesra dan yang mana yang lagi nolongin aku, waktu aku muntah, kamu sampe ga berenti dulu, liat aku yang muntah muntah !" sengit Ica.


"Iya aku salah, aku minta maaf," jawab Jihad.


"Minta maaf yang mana dulu ?" tanya Ica, Jihad menaikkan alisnya sebelah.

__ADS_1


"Emangnya kesalahanku ada berapa?" tanya Jihad.


"Tak terhingga !" tukasnya.


"Kaya kasih ibu, " seloroh Jihad. Ica memukul dadanya.


"Ck, ihh !" Ica melotot.


"Iya, iya..aku minta maaf dari lubuk hati aku yang paling dalam atas semua kesalahan aku yang tak terhingga !" ucap Jihad.


"Yang serius minta maafnya !" sengit Ica.


"Ini udah serius bakwan, " Jihad menjiwir hidung Ica.


"Kamu harus minta maaf juga sama Revan, " ujar Ica, membuat Jihad menaikkan alisnya dan menggidikan bahunya enggan.


"Ih, masa udah salah ga mau minta maaf ?!"


"Iya, aku minta maaf, mana nomornya ?!" Ica tersenyum lalu dengan gerakan cepat memberikan nomor Revan.


"Cepet banget ! disimpen pake nama apa nih, nama paling spesial ya ?!" tuduh Jihad.


"Ga usah mulai, katanya minta maaf !" sungut Ica.


"Iya iya, nanti aku minta maaf !"


"Ga ada minta maaf, kamu tidur bareng pak Wahyu !" ancam Ica.


"Eh ko ?!"


********************


Ica masih meringkuk di ranjang, tidak biasanya ia begini.


"Sayang, kamu sakit ?!" tanya Jihad.


"Huweekkkkk !!!" Ica berlari ke arah kamar mandi. Jihad berlari mengekor dan membantunya.


"Kamu dari kemarin muntah terus, kamu sakit kayanya?" ujar Jihad.


"Kita ke dokter ya ?!" ajak Jihad, namun Ica menggeleng.


"Kalo gitu ga usah ke kantor sama kampus dulu hari ini, kamu istirahat aja dulu di rumah, " Jihad membawa Ica kembali ke ranjang.


"Bi, bi Denok ! tolong buatin teh anget buat istri saya ya, "


"Oh siap pak, bu Ica sakit pak ?!"


"Kayanya masuk angin, dari kemarin muntah terus !"


"Atau hamil kayanya pak, di cek dulu ke dokter pak, atau ngga pake tespeck !" jawab bi Denok seraya menyeduh teh hangat dan mengaduknya bersama gula.


"Oh iya ya bu, kenapa ga kepikiran !" seru Jihad segera menraih kunci motornya.


"Kalo gitu saya titip istri dulu, mau ke apotik sebentar !" Jihad begitu bersemangat. Meskipun ia sudah memanggil dokter, tapi rasanya tak lengkap jika saran bi Denok tidak diikuti.


"Assalamualaikum bu, boleh bi Denok masuk ?!" salamnya.


"Masuk aja bi, ga dikunci kok, " jawab Ica dari dalam.


"Ini teh hangat, tadi bapak..ijin sebentar ke apotik, " bi Denok tersenyum penuh arti.


"Makasih bi, mau ngapain ke apotik ?" tanya Ica.


"Beli tespeck, " jawab bi Denok.

__ADS_1


"Hah ?! tespeck ?!" Ica mengerutkan dahinya, memikirkan ucapan bi Denok.


"Buat saya ?!" beo Ica.


"Ya iya atuh bu, masa buat pak Wahyu !" seloroh bi Denok, Ica tergelak.


"Kali aja pak Wahyu mau pake ! iya sih bi, Ica belum datang bulan sejak nikah, " jawabnya menerawang.


"Ibu nikah sama bapak pas abis beres tamu bulanan ?" tanya bi Denok, Ica mengangguk.


"Kayanya bi, Ica lupa !" jawabnya mengerutkan dahi.


"Wah ! berarti itu pas masa masa subur bu, " seru bi Denok.


"Oh gitu bi," Ica hanya menringis.


"Ya udah atuh, bibi masak dulu ya..mau dibuatkan bubur ?" tanya bi Denok.


"Engga usah bi, makan nasi aja !"


Dokter sudah datang, begitupun Jihad yang datang membawa beberapa buah tespeck dengan merk berbeda.


Tak dapat dipungkiri Ica dan Jihad begitu senang mendengar kabar kehamilan Ica, diperkirakan usianya baru 3 minggu. Obrolan mereka dulu untuk memiliki anak segera terwujud. Rumah ini akan ramai dengan hadirnya Ica dan Jihad junior.


"Bang, teh Mira mau kesini sama anak anaknya ! jengukin aku !" ujar Ica.


"Boleh, dateng aja biar kamu ada temen !"


"Inget kata dokter, jangan capek, jangan ngerjain hal hal berat. Di rumah ada bi Denok, ada pak Wahyu ada Mang Jana, jadi kalo ada apa apa tinggal bilang mereka." Jihad begitu protektif pada Ica. Mengingat kata dokter usia kandungan Ica masih sangatlah rawan.


Ia sampai menyuruh Ica untuk berhenti dari kegiatan bekerjanya, hanya fokus saja pada kuliah.


"Tapi aku bakalan bosen di rumah !" ucap Ica.


"Kamu masih kuliah, yank ! lagian kalo sepi sama bosen, suruh teh Mira, ka Novi bawa anak anak. Atau Kara ke rumah. Nanti juga mamah Vivi sering sering kesini !" usul Jihad.


"Iya bawel, " Ica mencibir.


"Dari dulu !" jawab Jihad.


Tak menyangka saja, Jihad yang biasanya usil, sama sama bar bar, kini semakin romantis dan posesif. Ini sisi pribadi Jihad yang baru Ica ketahui, menikah.. membuatnya semakin belajar mengenal Jihad, rupanya 7 tahun bersama belum cukup untuk menyelami diri Jihad.


"Mau ke depan ? sini ku gendong !" Ica tergelak mendorong pelan kening Jihad.


"Aku lagi hamil peakkk ! bukan korban kecelakaan !" kekeh Ica.


"Si dudul ! di gendong ga mau, takut kamu nya capek aja, " jawab Jihad.


"Cuma berapa langkah ke sofa itu, ga akan secape ngelilingin GBK !" seloroh Ica.


Tapi baru saja Ica berdiri, Jihad sudah meraih dan menggendongnya, setengah berlari menuju sofa, hingga Ica sendiri refleks mengalungkan tangannya di leher Jihad dan tertawa.


"Gendong dulu kamu, sebelum nanti kamu berat buat ku gendong !" selorohnya.


"Jadi kalo nanti perutku udah gede ga mau gendong lagi ?!" tanya Ica berkacak pinggang, saat mereka sudah sampai di sofa.


"Kayanya engga deh, kebanyakan gendong kamu nanti aku pendek ! kan ga lucu kalo pas anakku keluar aku berubah jadi segede galon air !" jawabnya membuat Ica tertawa.


"Ini bapak gue apa tabung gas melon ?!!" Ica memperagakan seolah olah jadi anaknya nanti jika Jihad mengecil.


Wajah pucat yang sudah hampir 3 hari muntah terus kini berseri kembali.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2