
"Maaf ya, kalau honeymoonnya jadi berantakan," Jihad mengusap rambut Ica saat keduanya sudah duduk dikursi pesawat.
Ica menggeleng tidak setuju.
"Makasih, kamu udah bikin aku seneng, " jawab Ica, kepalanya tak pernah bisa lepas dari bahu lelaki ini.
"Maaf juga aku ga seromantis Milo, aku ga tau caranya romantis," Jihad kembali mengecup tangan Ica yang digenggamnya. Hawa pengantin baru memang gitu, bawaanya kaya surat yang ditempelin prangko, lengket.
"Kamu ga usah jadi romantis, cukup jadi Jihadnya aku, cie elah tumben aku bijak ya !" kekeh Ica sontak dijitak Jihad sambil cengengesan. Memang sepertinya pasangan ini tidak ditakdirkan untuk jadi the most pasangan paling romantis tahun kapanpun.
Untung saja keduanya tidak sedang berada di perpustakaan Nasional, jika iya mungkin mereka akan ditimpuk rame rame karena cengengesan terus. Sampai salah satu dari keduanya diam karena sudah mengembara ke alam mimpi, tentunya bukan Jihad orangnya.
Perjalanan hanya ditempuh selama 2 jam, keduanya sudah ada di bandara. Memesan taksi online langsung menuju rumah kediaman orangtua Jihad.
"Lah ! mamah kira masih lama ?" tanya tante Vivi yang tengah duduk di kursi tengah seraya menyeruput teh.
"Tadinya mau pulang besok malam, tapi Ji lupa mah, kalo besok Nyepi, ga akan ada penerbangan. Ji, harus sampai di Jakarta besok, soalnya lusa ada rapat penting !" Jihad menyenderkan badannya di sofa.
"Ko bentar banget, baru juga jadi manten udah sibuk. Ica ditinggal tinggal dong ?!" tante Vivi mengusap punggung Ica.
"Ditinggal juga kan ga jauh mah, masih di seputaran Jakarta, " jawab Jihad.
"Ya udah, kalian udah makan ?" tanya mamah.
"Udah tadi tante...mah !" Ica menggelengkan kepalanya meralat panggilannya.
"Santai aja Ca, ga usah te gang. Mamah sama papah ga gigit !" seloroh tante Vivi, Jihad menertawakannya, sontak dihadiahi tatapan sinis dari Ica.
"Kalo gitu, istirahat aja udah malem ! awas Ji, jangan terlalu kejar target, masih ada hari esok !" tepukan ayah Riza di pundaknya membuat tante Vivi protes.
"Si papah ! kalo ngomong....suka bener !!! " selorohnya. Kedua orangtua Jihad ternyata satu frekuensi dengan Ica dan keluarganya.
"Cie ! udah tau nih kamar laki yang mana ? ga perlu ditunjukin ?!" goda Jihad.
"Tau lah, aku beberapa kali datang kesini, ga inget ?" tanya Ica.
"2 kali, sekali waktu SMA sekali lagi pas kemaren di sensus mamah," jawab Jihad.
Keduanya masuk "Hmmm, kamar laki ! dosa ga sih aku masuk sini ?!" kikik Ica.
"Dosa, " jawab Jihad.
"Kalo kamu masuknya bareng cowok lain," lanjutnya.
***********
"Sayang, ga pengen bikin memory gitu disini, bikin sejarah ?" Jihad tengah memandang Ica yang terlelap saling berhadapan.
"Engga, makasih !" guman Ica.
"Biar ada kenangan indah di kamar ini, sebelum kita pindah ?!" bujuk Jihad kini sudah beralih mengusap pipi Ica lembut.
"Ga minat, " jawab Ica lagi. Ica terpaksa membuka matanya yang sudah hampir terlelap. Ucapan Jihad tentang pindah menyadarkannya.
"Oh iya, kamu bilang kita pindah, kemana?" tanya Ica.
"Ke bulan ?!" kekehan Jihad membuat Ica mencebik.
__ADS_1
"Ish, ga pernah serius, "
"Ke rumah kita bakwan, maunya sih besok, jadi pas aku mulai sibuk lagi, kita udah nempatin rumah baru, rumah kita sendiri. Maaf ga sebesar rumah ini. Tapi itu rumah hasil menabungku, sejak sekolah dan kerja sambilan dulu. Aku cuma pengen di rumah itu ada kita dan anak anak kita, " Ica terkikik mendengar kata anak anak kita. Rasanya seperti ada banyak kepakan sayap di perutnya.
"Anak anak ? lebih dari satu dong ?" tanya Ica.
"Pastinya, aku mau bikin kesebelasan, " jawab Jihad.
Mata Ica langsung membelalak sampai hampir keluar dari tempatnya, "kalo gitu kamu aja yang hamil, kamu juga yang lahirin ! dikira pabrik tahu apa ? produksi tiap waktu !" omel Ica.
"Banyak anak banyak rejeki, bakwan, "
"Banyak anak banyak istighfar, Nyi Blorong !"
"Yu, aku buktiin !" Jihad sudah memposisikan dirinya menempel pada Ica.
"Mau ngapain tuh ?" tanya Ica waspada.
"Mau disegerakan, " jawabnya.
"Apanya yang disegerakan ?" Ica mundur.
"Ucapan aku lah, banyak anak banyak rejeki !" jawab Jihad. Lihatlah ini siapa yang sedang beraksi, anak buaya? atau anak biawak.
"Ga usah ngaco bee, aku ngantuk ! besok mama mau ajarin masak !" jawab Ica mendorong wajah Jihad yang sudah memonyonk kan bibirnya siap mendarat di bibir Ica hingga terjatuh ke ranjang bagian Jihad.
"Secelup aja yank, " pinta Jihad mengiba.
"Dikira teh !" Ica membalikkan badannya.
"Aku traktir jajan cilok deh ! sama es cendol !" rayunya.
"Eh iya bee, " Ica kembali berbalik,
"Bang Galih ada chat bilang makasih, makasih apa nih yang ga kutau ?" tanya Ica.
"Ada deh !" jawab Jihad berbalik menggoda. Ia selalu punya senjata untuk membalas Ica.
"Ihhh kepo !" rengek Ica.
"Ngasihhhh....ahhh ga mau kasih tau !" membuat wajah penuh harap Ica jadi memberenggut.
"Ya udah aku bisa tanya sendiri, "
"Tanya aja, kalo dia kasih tau. Soalnya aku udah bilang jangan sampai Ica tau !" jawab Jihad jumawa.
Jihad bangun dari ranjang dan mengambil laptopnya. Ica yang semula mengantuk kini segar lagi karena ulah Jihad.
Ica ikut beranjak, mengekori Jihad dan terus merengek menggelayuti lengan kekar Jihad.
"Bee, " Ica mendongak.
Jihad tersenyum dan menyentuh ujung hidung Ica.
"Mau barter ? " tanya nya.
"Barter apa ? ko perasaanku ga enak sih," tanya Ica yang sudah merasa tak enak hati.
__ADS_1
"Kamu tau kan kalo suamimu ini pebisnis, ada harga yang harus dibayar untuk sebuah informasi ?!" jawab Jihad menyelipkan rambut di belakang telinga Ica.
"Ga usah berbelit belit deh, to the point aja, ga usah muter muter dulu lewatin Monas terus ke Gelora Bung Karno ! bikin pusing," Jihad tertawa berhasil menjerat kembali istri polosnya ini.
Jeratan CEO gila memang dahsyat, baby.
"Aku kasih tau, imbalannya kamu ikutin apa yang kuminta !" ucap Jihad dengan wajah menyebalkan.
"Oke oke !" jawab Ica.
"Apa yang kamu minta ?"
"Aku mau malam ini satu malam full, sebelum besok besok aku sibuk ! gantinya honeymoon di Bali ? deal ?!"
"Semalam full tuh ngapain ?" tanya Ica.
"Perang dunia ke 3 !" Jihad menaik turunkan alisnya, sejak pertama kali mencoba, hal ini seakan menjadi candu dan selalu kurang untuknya. Tak tau mungkin hawa pengantin baru yang tak bisa terelakkan.
Ica memundurkan wajahnya, "kamu ga cape apa ? nanti kalo aku tiba tiba cape terus tidur, kamu kaya lagi begituan sama gedebong pisang dong ?!" Jihad tertawa.
"Gimana ?" tanya Jihad, Ica menimang nimang.
"Ya udah buruan apa infonya ?" tanya Ica.
"Oke, deal ya !"
"Jadi sebelum kita nikah, waktu kamu lagi perawatan. Kita ada ngumpul, aku kasih mahar pelangkah buat bang Galih." Ica masih menyimak dengan tangan yang digenggam Jihad.
"Maaf, bukan maksud ga menghargai kamu, bukan maksud ga bilang juga. Tapi kalo bilang kamu pasti nolak."
"Kamu kasih apa ?" tanya Ica.
"Aku kasih motor ber cc besar, "
"Maksudnya moge ?" tanya Ica, Jihad mengangguk.
"Dan..." Jihad menggantung ucapannya, padahal Ica sudah penasaran.
"Dan apa ?"
"Kalo ada acara keluarga kan suka susah kalo mau angkut keluargamu, jadi mobil kemarin yang dipake bang Riski..aku kasih buat mamah sama ayah, " Ica menegakkan kepalanya. Baru akan mangap, Jihad sudah memotong ucapan Ica.
"Kamu jangan marah, ini memang sudah jadi keputusanku, mengingat ayah dan ibu sudah menjadi tanggunganku juga, itung itung mengganti posisi kamu, menikah artinya aku mengambil kamu dari keluargamu, padahal mereka sudah membesarkanmu sejak dari kandungan hingga kamu bisa sebesar ini, belum sempat bisa membalas, aku sudah meminta kamu dari keluargamu. Sekarang ijinin aku yang gantiin posisi kamu buat bahagiain mereka !"
Jihad ingat betul ucapan ayahnya saat sebelum pergi ke Bali, saat mengobrol hanya berdua, obrolan antara man to man.
"Makasih bee, " Ica memeluk Jihad dengan dada terisak karena terharu.
"Sama sama, jadi ? sekarang giliran kamu !" jawab Jihad.
"I'm yours abangggg...." jawab Ica.
.
.
.
__ADS_1
.